Kawan-kawan,

Apa yang disampaikan Tuti dan hasil-hasil penelitian tentang Bt tentu
mengengatkan kita terhadap apa yang disebut sebg revolusi hijau (RH).  Yang
disebut produktifitas tinggi sebetulnya hanya mitos saja.  Yang benar adalah
benih dengan respon yang tinggi terhadap input.  benih Bt mungkin tidak jauh
berbeda.  

Berikut ini saya kutipkan sedikit tentang RH dari sebuah paper yang dibuat oleh
Mustafa Alwy dari LATIN.  Sekedar mengingatkan catatan sejarah.

Salam,


Rahmad.-

=========

.....
"Kata Revolusi Hijau (RH) atau �Green Revolution�tidaklah asing bagi peneliti,
akademisi dan birokrat yang bergelut dibidang pertanian.  RH adalah salah satu
contoh dampak dari paham modernisasi yang paling dramastis.  Program ini
dimulai di negara-negara Dunia Ketiga sekitar dua setengah dasawarsa yang
lalu.  Sepanjang program RH, empat puluh abad pengetahuan pertanian rakyat
Dunia Ketiga mulai disingkirkan dan dimusnahkan.  RH, sebagai bentuk
pembangunan pertanian dan perdesaan yang dirancang oleh perusahaan-perusahaan
transnasional dan partriarki Barat, menghomogenkan keberagaman alam dan
keberagaman pengetahuan manusia.  Program semacam ini dikembangkan dari
berbagai pusat penelitian transnasional seperti IRRI (international Rice
Research Institute) di Filipina, CIMMYT (International Maize and Wheat
Improvement Center) di Meksiko.  Saat ini ada 16 lembaga semacam itu yang
bernaung dibawah Consultative Group on International Agricultural Research
(CGIAR).  

Pendapat yang sama dikemukakan Morgan, bahwa selama lima ribu tahun, para
petani  telah menyimpan dan menanam kembali, seiring dengan arus alam
sekitarnya.  Namun RH mengkomersialkan dan menswastakan benih, mengalihkan
kontrol sumber genetik tanaman dari petani perempuan Dunia Ketiga dan
menyerahkannya kepada teknokrat laki-laki Barat di CIMMYT, IRRI dan perusahaan
benih transnasional.  Benih menjadi sumber keuntungan dan kontrol. Benih
�ajaib� hibrida pada dasarnya lebih merupakan keajaiban komersial, karena
setiap tahun petani harus membeli pasokan baru dari mereka.  Para petani kini
tidak lagi menghasilkan benih mereka sendiri, karena RH telah merampasnya. 
Mulanya benih para petani dinyatakan sebagai benih�primitif� dan �rendah� oleh
ideologi RH, tanaman pangan dinyatakan �bermutu rendah� dan tidak produktif. 
Hanya ahli pertanian bias yang dapat menyatakan tanaman tradisional bergizi itu
dianggap bermutu rendah.

Dalam kenyataannya strategi IRRI sebenarnya bukanlah yang terbaik bagi petani
Asia.  Jenis padi unggul IR-8, yang diperkenalkan pada tahun 1966, ternyata
hancur oleh serangan hama sekitar tahun 1968 sampai 1969.  Pada tahun 1970-71,
hama padi �tungro� menghancurkan jenis padi unggul IR-8 diseluruh Filipina. 
Lalu mereka menciptakan jenis IR-20 untuk menggantikan IR-8 pada tahun 1971-72,
yang katanya merupakan jenis padi unggul untuk melawan hama tungro.  Ternyata
pada tahun1973, �wereng coklat� menghacurkan IR-20 tersebut disebagian propinsi
Filipina.  Dan ketika tahun 1976 diperkenalkan jenis padi baru lain, yakni
IR-36, juga mendapat serangan hama baru, yang dikenal sebagai �hama penggerek�
dan �kutu loncat�.

Hasil kuantitatif RH di Indonesia dilihat dari segi produktivitas yang membawa
Indonesia dari negara pengimpor beras terbesar menjadi berswasembada beras
(sejak 1984).  Namun prestasi RH memperhebat ketimpangan.  Menghasilkan benih
yang tinggi mengharuskan pemanfaatn kredit, pupuk, pestisida dan irigasi yang
berhasilinput yang dapat dimiliki secara tidak proporsional oleh petani
kaya.      

Kirim email ke