Teman-teman, ini reportase singkat dari seorang teman di KONPHALINDO yang
menghadiri acaranya Patrick Moore. 


Pada Senin 11 September 2000, berlangsung diskusi tentang Gerakan
Lingkungan di Abad 21, yang diadakan oleh Perhimpunan Bioteknologi
Pertanian Indonesia dan ISAAA. Diskusi yang berlangsung di Magnolia
Ballrom, Hotel Grand Mahakam menghadirkan Dr. Patrick Moore, pendiri Green
Spirit, yang juga menyebut dirinya sebagai mantan pendiri Greenpeace.
Beberapa diantaranya:
1. Dalam diskusi Dr Moore, mengatakan saat ini telah terjadi information
disorder atas bioteknologi modern, sehingga terbentuk persepsi dalam
masyarakat bahwa teknologi ini buruk dan berbahaya, seperti frankenfood,
mutan dll.  Padahal, bioteknologi modern adalah jawaban untuk memberi makan
umat manusia yang jumlahnya naik dengan cepat dan dapat menyelamatkan
lingkungan, salah satu contoh yang diberikan adalah nanti hutan tidak lagi
ditebang untuk konversi lahan, karena dengan bioteknologi modern dapat
meningkatkan produktivitas tanpa perluasan lahan. Berulangkali ia
mengatakan tidak melihat potensi negatif dari teknologi ini, tidak seperti
rokok yang benar terbukti,  yang ada hanyalah perang dagang belaka.
Information disorder tentang bioteknologi adalah hal menarik. Saat ditanya
siapa yang pertama kali menciptakan kondisi ini? Siapa pemilik bioteknologi
modern dan ketika pertama memperkenalkan di negara kita, hanya memberikan
satu sisi dari teknologi, yaitu keuntungan, keuntungan dan keuntungan Dr.
Patrick Moore, hanya menjawab bahwa, dia tidak melihat bahaya apapun dari
bioteknologi, tidak ada bukti ilmiah tentang hal ini, tandasnya.

2. Ada khabar yang mengagetkan.  Jika selama ini, Deptan dengan keras
berkata bahwa mereka belum melepas satupun produk transgenic dan bahwa
jagung yang beredar adalah hibrida, bagaimana dengan kapas Bt? Para petani
dari Sulawesi Selatan (tempat uji coba kapas Bt) yang sepertinya khusus
dibawa hadir dalam diskusi ini, mengatakan bahwa panen kapas Bt sangat
memuaskan (hal ini belum terjadi selama 10 tahun terakhir), bahkan salah
seorang mengaku dapat keuntungan hingga 6 juta rupiah setelah membayar
berbagai macam kewajiban, seperti benih yang dipinjamkan (mereka menanam
kapas bt selang-seling dengan jagung yang benihnya berasal dari perusahaan
yang sama). Para petani ini, menanyakan mengapa penanaman kapas bt secara
besar-besaran tidak jadi (salah seorang petani ini adalah adalah staff
pertanian). Jika Departemen Pertanian berkeras mengatakan belum boleh
dilepaskan, kenapa hasil panen petani dapat diperjual belikan. Padahal luas
lahan uji coba yang 500  ha masih belum jelas.  Siapa yang mendistorsi
informasi? Tahukah TTKHP tentang hal ini? (Dalam pertemuan ada Dr. Sugiono
Moeljopawoiro).

3. Dalam salah e-mailnya teman dari NGO internasional, disebutkan bahwa
Patrick Moore, bukan pendiri Green Peace, ya benar dia bekerja di GP
Kanada, dengan tujuan yang sama, mempromosikan teknologi rekayasa genetika.
 Sebelum datang ke Indonesia,  dia sudah mempromosikan hal yang sama di
Bangkok. Mengkaitkan nama Dr. Patrick Moore, selalu dengan bahwa dia adalah
mantan Greenpeace, yang orientasinya lingkungan, bukan tidak mungkin dapat
menggiring masyarakat untuk menyimpulkan bahwa Greenpeace adalah organisasi
yang mendukung bioteknologi modern. Padahal Tidak, beberapa berita dari
website green peace memperlihatkan kegiatan bagaimana mereka membantu
petani mencabut tanaman transgenik yang ditanaman tanpa sepengetahuan
petani atau greenpeace menolong menahan pengiriman jagung transgenik. Jadi
siapa yang melakukan distorsi informasi.  




--
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/





Kirim email ke