Bagi saya....impor limbah ini juga menjadi tantangan bagi LSM untuk mampu
mengembangkan "masyarakat kritis" yang peduli terhadap lingkungan. Saya
pikir LSM tidak akan bisa berbuat banyak bila masyarakatnya sendiri
mendukung program itu...Dengan berbagai alasan politis saat ini sering
muncul kebijakan yang berbau populis (konon untuk kesejahteraan masyarakat)
jangka pendek namun merusak lingkungan....Bisakah kita membangun masyarakat
kritis yang tidak mudah terbuai oleh kebijakan-kebijakan populis semacam itu ? 

Edy Marbyanto

At 03:45 PM 9/28/00 +0700, you wrote:
>Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, wakil dari LSM lingkungan
>setempat perlu diberangkatkan ke Jepang untuk mengambil sampel (contoh)
>"debu" yang akan dikirimkan ke Sangatta, selanjutnya dilakukan analisis
>laboratorium lengkap untuk menguji apakah "debu"  tsb. termasuk limbah B3
>atau tidak; test TCLP, LD50; konsentrasi total toxic heavy metal dll.nya.
>Kalau sudah lolos uji laboratorium, selanjutnya perlu dipastikan bahwa
>"debu"  yang dikirimkan nantinya, sama persis dengan yang diambil sampelnya,
>waktu "debu" akan dikirim perlu ada saksi dari LSM lingkungan setempat.
>Semua biaya untuk keperluan tsb. ditanggung investor Jepang atau Pemda
>Kaltim tanpa suatu ikatan apapun.  Cara yang paling mudah dan cepat adalah
>langsung saja menolak program tersebut.  Salam#sugiarto
>
>               -----Original Message-----
>               From:   [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
>               Sent:   29 September 2000 1:10
>               To:     [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
>[EMAIL PROTECTED]
>               Cc:     [EMAIL PROTECTED];
>[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
>[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
>[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
>[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
>[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
>[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
>[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
>[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
>[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
>[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
>[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
>[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
>               Subject:        [Lingk] Awang Faorek Restui Jepang Buang
>Limbah di TN Kutai ??
>
>               Suara Kaltim, 28 September  2000 
>               (Berita Headline, Halaman 1)
>
>               Jepang Mau Buang Limbah 3 Juta Ton ke Sangatta
>
>               Kalau tak ada aral melintang, 10 Oktober nanti Pemda Kutai
>Timur akan
>               membuat nota kesepakatan dengan investor Jepang, menyangkut
>pembuangan 3
>               juta ton debu dari negeri Sakura. Warga desa girang, LSM
>lingkungan dongkol
>
>               SAMARINDA: Menjelang paripurna masa tugasnya sebagai
>penjabat Bupati Kutai
>               Timur di Sangatta, Awang Faroek Ishak punya cara dan
>gebrakan tersendiri
>               memancing investasi. Investor Jepang diberi lampu hijau
>membuang limbah
>               seberat 3 juta ton ke Sangatta, dengan kompensasi antara
>lain dibangunkan
>               bandar udara (bandara).
>
>               Tapi, para pendekar lingkungan di Samarinda justru mengecam
>jurus Pemda
>               Kutai Timur itu. Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup
>(Walhi) Kaltim
>               Abrianto Amin mengaku risau terhadap kemungkinan dampak
>buruk dari limbah
>               yang akan digotong dari negeri Sakura ke Sangatta itu.
>"Kalau limbah itu
>               banyak sisi positifnya, logikanya Jepang tak mau repot-repot
>buang duit ke
>               Sangatta," kata Abrianto Amin kepada Suara Kaltim, kemarin.
>
>               Di kalangan sejumlah penduduk Desa Sangkima, Sangatta, kabar
>itu direspons
>               secara bagus dan antusias. Mereka terbayang, desanya yang
>tak jauh dari
>               komplek Pertamina Km 13, dan masih tergolong terisolir, akan
>segera maju.
>               Mereka mendengar, investor Jepang yang akan "mengekspor"
>limbah ke Sangatta
>               tersebut akan membangunkan bandara eks milik Pertamina yang
>diserahkan ke
>               Pemda, termasuk membangun fasilitas pantai Teluk Lombok,
>juga di Sangkima.
>
>               Karena itu sejumlah warga mulai bergairah mengurus
>tanahtanah garapan
>               mereka, siapa tahu kelak bernilai investasi tinggi. Lokasi
>itu masih berada
>               di areal Taman Nasional Kutai (TNK). Ini makin membuat
>Abrianto Amin jadi
>               jengkel. 'Kalau ditebar di areal TNK, mau jadi apa nanti?
>Siapa tahu limbah
>               itu beracun." kata Abrianto Amin. Menurut sebagian warga
>desa. limbah yang
>               akan dikirim ke Sangatta itu berupa pasir letusan gunung
>berapi. Mereka
>               berasumsi, jika pasir dari gunung berapi itu yang dibuang
>Jepang, maka akan
>               bermanfaat positif untuk menyuburkan lahan pertaniannya.
>Karena itu tak
>               sedikit para warga di sana justru mendukung kebijakan Pemda
>setempat. Hanya
>               saja, Abrianto mengingatkan semua pihak, tak mustahil limbah
>itu nanti
>               justru beracun. Apa pun alasannya, Walhi cenderung menolak
>kerja sama
>               tersebut.
>
>               Keterangan lain yang dikumpulkan Suara Kaltim menyebutkan,
>jenis limbah
>               dari Jepang itu berupa debu. Tapi sejumlah sumber yang
>dihubungi media ini
>               belum berani memastikan apa dampak positif dan negatif bagi
>lingkungan,
>               Menurut rencana, nota kesepakatan antaraa Pemda Kutai Timur
>dengan investor
>               Jepang itu akan diteken 10 Oktober mendatang.
>
>               Belum dapat di konfirmasi mengenai lokasi pembuangan maupun
>rencana armada
>               yang akan dipakaai mengangkut.Rapaat-rapat antaraa pejabat
>pemda, investor
>               dan para pihak terkait lain di Sangatta menyangkut soal ini
>sudah digelar
>               intensif beberapa kali. Namun ada sumberlain yang menyatakan
>nota
>               kesepahaman antara Pemda dan investor Jepang belum pasti
>terwujud. Pihak
>               pemda kutai timur sendiri masih pelit memberikan konfirmasi.
>Kepal bagian
>               humas, Johansyah Ibrahim hanya menyatakan belum tahu detil
>soal ini "kami
>               belum dengar rencana itu" katanya (yat)
>
>
>
>
>
>
>               -------------------------- eGroups Sponsor
>-------------------------~-~>
>               Get a NextCard Visa with rates as low as 2.99% Intro APR!
>               1.  Fill in the brief application
>               2.  Get approval decisions in 30 seconds!
>               http://click.egroups.com/1/9336/12/_/2390/_/970111207/
>       
>---------------------------------------------------------------------_->
>
>               ===== Petunjuk Milis Lingkungan ===========
>
>               Gunakan bahasa yang sopan dan bersikap dewasa
>               Berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
>               Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
>
>               ===== Motto:Lestari dan berseri Indonesiaku ======
>               


--
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/





Kirim email ke