Suara Kaltim, Rabu, 4 Oktober 2000 Bupati Farouk Usahakan Rekomendasi Menteri LH Kepala TNK tolak debu dari Jepang SAMARINDA : Peringatan Menteri Lingkungan Hidup (LH) Sonny Keraf terhadap rencana Pemda Kutai Timur mengimpor 3 juta ton debu eks gunung berapi Jepang dan berhadiah sekitar Rp 4 00 milyar itu, tak mematahkan semangat Bupati Awang Farouk Ishak. Kendati mulai dikecam kirikanan, khususnya dari kelompok peduli lingkungan, DPRD Kutai dan Menteri LH sendiri, Awang Farouk terus memainkan jurus supaya idenya itu terlaksana. Beberapa kalangan birokrasi di Pemda Kaltim dan Pemda Kutai Timur secara informal kemarin menyebutkan, Awang Farouk kini berupaya memenuhi prosedur untuk mendapatkan rekomendasi dari kantor kementerian LH. Namun, Kepala Bagian Humas Pemda Kutai Timur Johansyah Ibrahim yang dikonfirmasi terpisah tak berani memastikan agenda kepergian Bupati ke Jakarta apakah mengurus rekomendasi ke kementerian LH atau urusan lain. Menyangkut rencana Awang Farouk mendatangkan debu dari gunung berapi Miyake Oyama dalam kerjasama dengan pemerintah metropolitan Tokyo itu, email Suara Kaltim berdatangan surat protes. Antara lain dari Faisal Salim, karyawan Vico Indonesia dan Muhammad Firdaus, mahasiswa Kaltim yang berkuliah di Fakultas Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Faisal Salim mengaku merasa waswas mendengar rencana impor debu tersebut mengingat dampaknya terhadap lingkungan hidup. "Apakah yang akan dikirim dari Jepang tersebut adalah benarbenar debu gunung? Bagaimana seandainya debu tersebut adalah limbah berbahaya (beracun) yang akan membahayakan lingkungan sekitarnya ? Ini akan menjadi mata rantai dari kerusakan lingkungan dan mengganggu kesehatan m anusia yang terkena mata rantai tersebut secara berkelanjutan," katanya. Dia juga mempertanyakan, apakah Bupati Kutai Timur sudah berpengetahuan cukup mengenai asalusul debu yang dikatakan sebagai debu atau pasir gunung dari Jepang ini. "Kami sudah cukup prihatin dengan kerusakan yang dilakukan oleh orangorang yang kurang bertanggungjawab di Taman Nasional Kutai akhirakhir ini, janganlah kerusakan ini ditambah dengan mendatangkan debu yang belum tentu bermanfaat bagi kita," Faisal berharap. Ia mengingatkan, masa menjelang Otonomi Daerah memang seharusnya disikapi dengan arif dalam pengambilan keputusan. Tidak perlu terburu-buru. Ia juga mengingatkan semua pihak jangan sampai terpancing untuk bertindak tidak selayaknya, karena kekuasaan tadi adalah sebuah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. "Kami mohon rencana itu ditinjau ulang," pinta Faisal. Sedangkan Muhammad Firdaus, justru mempersoalkan pernyataan Wakil Ketua DPRD Kutai M Rusmin, yang mengatakan seharusnya kerjasama soal ini dengan Jepang dibicarakan dengan DPRD dulu. Menurut Fudaus, pernyataan Rusmin itu tidak sepenuhnya tepat karena kewenangan itu adalah sepenuhnya hak bupati, dan dalam hal ini bupati dinilainya tidak berkewajiban berkonsultasi dengan DPRD. Menurut Firdaus, hak DPRD sebenarnya adalah hanya menanyakan mengapa hal itu dilakukan, apa manfaatnya, dan lain-lain. "DPRD jangan terlalu mengekang pemerintah daerah (dalam hal ini Bupati) karena akan menghambat kreativitas pemerintah seperti halnya orangtua menghambat kreativitas sang anak. Apalagi impor itu akan menguntungkan daerah Kutai. Tetapi saya tidak menyalahkan kekritisan DPRD kutai hanya alangkah lebih baik apabila disalurkan pada tempatnya. Yaitu mengawasi bagaimana pelaksanaan proyek itu, apabila dalam hal ini bupati atau pemerintah melakukan kesalahan (KKN misalnya) barulah DPRD melakukan aksinya, "katanya. Firdaus berpendapat, yang perlu DPRD lakukan adalah menanyakan atau menyelidiki apakah impor debu tersebut betul-betul menguntungkan bagi daerah itu atau sebaliknya. "Saya setuju apabila Bupati melakukan kesalahan maka DPRD menegurnya dengan keras," ujarnya. Sedangkan Kepala Taman Nasional Kutai (TNK) Tony Soehartono, seperti dilansir harian Kompas Sabtu pekan lalu, menyatakan akan menolak rencana pemakaian 10 hektare lahan taman itu di sekitar Pantai Teluk Lombok, Sangkima, Sangatta, untuk keperluan menampung limbah asal Jepang itu." No way,"kata Tony. yat -- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
