Kompas, Jumat, 13 Oktober 2000
Tolong Bantu Pertanian Kami

PERKENALKAN nama saya Ade Suharso. Saya di sini dipercaya pemerintah untuk
menjaga hutan Taman Nasional (TNK). Saya menjabat Kepala Seksi Konservasi
TN Kutai wilayah Tanjung Liman. Kedatangan saya bukan untuk bermusuhan,
tetapi mengajak Bapak-bapak untuk menjaga hutan. Kalau hutan itu terus
ditebangi akan habis, nanti Bapak bapak sendiri yang susah.Saya tidak
janji, tetapi mulai sekarang saya akan membantu apa yang menjadi kesusahan
Bapak-bapak di daerah ini. Setidaknya, kita bisa hidup berdampingan."

TULAH pertemuan antara beberapa jagawana yang dipimpin Ade Suharso, Kepala
Seksi Konservasi TN Kutai wilayah Tanjung Limau dengan beberapa tokoh
masyarakat di Kandolo, yang diikuti Kompas pertengahan September. Pertemuan
itu sangat menyejukkan.Tak ada kesan saling bermusuhan, bahkan ketika
dibuka dialog mereka pun dengan lancar mengungkapkan apaapa yang mereka alami.

Kepala Dusun Kandolo, Manap, mengungkapkan, kamitahu tugas Bapakbapak
menjaga hutan ini. Tetapi, kami sendiri terpaksa membuka hutan untuk
mempertahankan hidup. Umumnya rakyat di sini, bukan pencari kayu untuk
dijual tetapi untuk bikin kayu arang. Satu karung arang harganya Rp 5.000.

Pekerjaan membuat kayu arang ini dilakukan, karena warga daerah ini sudah
tidak bisa bersawah lagi karena dalam dua tahun terakhir dilanda kekeringan
dan diserang hama tikus. "Kami minta agar ada penyuluh pertanian membantu
mengatasi keadaan ini agar kami kembal ikesawah, "tuturnya.

Hal senada juga diungkapkan Andi Mappatolo, tokoh masyarakat Kandolo.Ia
mengatakan, petugas hendaknya tidak melarang warga yang memang benarbenar
hanya mencari kayu untuk bikin kayu arang. Sebab,  pekerjaan inilah
satusatunya untuk makan. "Kalau ada operasi chainsaw sebaiknya dilihat
dulu,mana yang betulbetul untuk mempertahankan hidup, mana yang memang cuma
jadi spekulan lahan atau jualan kayu sematamata. Ini perlu agar kita tidak
saling bermusuhan," tuturnya.

Usai pertemuan itu, Ade Suharso kepada Kompas mengatakan,untuk dusundusun
tertentu, warga masyarakat masih bisa diajak bicara dan berdialog. Tetapi,
ada juga dusun atau desa tertentu yang masyarakatnya sulit ditemui.
Sebaliknya, para petugas jagawana justru tidak berani berlamalama di daerah
itu karena dimusuhi.

Sebagai contoh, para petugas jagawana yang dipimpinnya saat mendatangi
Kepala Desa Sangkimah, pada awal September lalu,untuk meluruskan persoalan
temuan kayu oleh petugas jagawana justru dihadang puluhan massa, bahkan
diancam kendaraan mobil mereka akan dibakar.

Sebelumnya, kalangan pelajar, pramuka, pejabat, dan aparat keamanan yang
dipimpin Kepala Balai TN Kutai Tonny Suhartono juga dihadang masyarakat
Teluk Pandan ketika akan melakukan penghijauan dengan penanaman ribuan
bibit buahbuahan di daerah tersebut saat memperingati hari lingkungan
sedunia. Kegiatan itu terpaksa dipindahkan ke kawasan TN Kutai di Sangatta.
Perlawanan warga ini merupakan bentuk penolakan paling keras terhadap upaya
Balai TN Kutai melakukan penyelamatan kawasan hutan konservasi ini,
termasuk berulangkali memperingatkan agar mereka tidak lagi memperluas
lahan dan pemukiman di sana. Keadaannya memang sudah teramat kompleks.


Namun, menurut Ade Suharso, ketegangan yang terjadi antara petugas
dilapangan dengan warga masyarakat karena putusnya komunikasi kedua belah
pihak. "Mereka yang benarbenar sudah lama tinggal didalam kawasan ini tidak
bisa sepenuhnya disalahkan. Sebab, kemiskinan yang mereka alami selama ini
karena pemerintah daerah sendiri sangat minim memperhatikan mereka. Dan
mereka sendiri sebenarnya tahu betapa pentingnya kawasan ini dipertahankan,
namun keadaanlah yang membuat mereka harus mempertahankan hidup di daerah
ini," ucapnya.

Hal senadajuga diakuiTonny Suhartono. Menurut Tonny, pengelolaan TN Kutai
selama 20 tahun terakhir tidak pernah memperhatikan community development
terhadap para permukiman di dalam kawasan. Sementara bantuan dari mitra TN
Kutai untuk pembinaan masyarakat ternyata hanya dilakukan pada masyarakat
di daerah pinggiran atau buffer zone TN Kutai.

Kenapa terjadi demikian, pertimbangannya adalah dengan melakukan pembinaan
masyarakat pinggiran TN Kutai, maka akan dapat mengurangi orang yang masuk
dalam kawasan konservasi tersebut. Dengan cara ini warga yang ada di dalam
tidak betah hingga segera keluar karena tidak pernah diperhatikan.

Asumsi itu ternyata salah. Dan malah sebaliknya, sekarang yang sulit
dikendalikan justru masyarakat di dalam kawasan, bahkan orang luar pun
sudah banyak yang masuk."Keadaan masyarakat inilah yang paling berat
dihadapi karena selama ini mereka tidak tersentuh pembinaan. Tetapi, saya
tetap optimis, sepanjang kemauan semua pihak ada,  pasti ada jalan keluar
untuk mengatasi keadaan ini," tuturnya.

DI kawasan TN Kutai, yang bermukim itu bukan cuma ratusan orang. Tetapi,
sampai kini disebutsebut mencapai 15.000 orang atau mencapai 3.000 kepala
keluarga (KK). Permukiman mereka tersebar di beberapa tempat yakni Sangatta
Selatan,Teluk Pandan, Sangkima, Teluk Kaba, dan Singagaweh. Bisa
dibayangkan, kalau ribuan warga masuk dalarn hutan, apalagi para pendatang
juga datang dalam jumlah ratusan orang. Tak heran bila kawasan hutan yang
mereka rambah juga mencapai puluhan ribu hektar.

Kompas menyaksikan, warga yang disebutsebut mencari kayu arang seperti di
sepanjang jalan BontangSangatta, barangkali hanyalah bisa dihitung dengan
jari.Yang tampak di depan mata justru aktivitas perkebunan rakyat secara
besarbesaran, maraknya penebangan dan pengangkutan kayukayu ulin,
pengkaplingan lahan dan penguasaan tanah. Para pelaku di kawasan ini tidak
hanya rakyat kecil, tetapi juga orangorang bermodal dari Sangatta, Bontang,
bahkan  ada dari Balikpapan. Sementara beberapa oknum kepala desa atau
dusun, serta Babinsa setempat juga ikut membagibagi lahan di daerah ini. 

"Saya baru datang kesini seminggu. Saya mendapat surat pembagian lahan yang
bagibagi dari kepala desa Teluk Pandan untuk areal seluas satu hektar,"
kata Bahrudin, warga asal Bontang.

Diperkirakan, maraknya aksi pengambilalihan lahan ini bersamaan dengan
adanya proyek pengaspalan jalan Bontang-Sangatta dan pemasangan tiang
listrik yang menghubungkan kedua daerah tersebut. Kegiatan pengkaplingan
bertambah marak dengan adanya surat hibah dari kerajaan Kutai meliputi
areal seluas 17 x 35 kilometer antara daerah BontangSangatta.


Sasaran kelompok masyarakat ini adalah untuk mendapatkan ganti rugi. Di
samping itu,  ada juga beberapa kelompok masyarakat pendatang yang memang
ingin membeli lahan dikawasan itu. Sedangkan masyarakat yang bermukim di
dalamnya selain tetap mempertahankan lahannya, juga ikut  membuka hutan.
"Disinilah letak kesulitan kami,  tokohtokoh masyarakat yang sering
diundang  untuk mencarikan jalan keluar masalah ini, justru menjadi sumber
informasi warganya untuk terus merambah," tuturnya.

Menurut Tonny,  warga setempat dengan orang luar sudah ada saling kerjasama
dalam pembagian lahan di TN Kutai. Sebagai  contoh, pihaknya memergoki
seorang penduduk Bontang bernama AHI yang juga memiliki kartu tanda
penduduk Desa Sangkimah, dan Muh, warga Sangkimah mengaku menjadi
penyandang dana pembukaan
 lahan, pembagi lahan, sekaligus penadah kayu di daerah Teluk Kaba.

Sebenarnya, kata Tonny, kita sudah tahu siapasiapa yang menjadi pelaku
perambahan hutan ini, bahkan polisi juga tahu. Tetapi, apa artinya kalau
kita ungkapkan semuanya tapi penegakkan hukum tidak bisa dilakukan. "
Salahsalah, justru jiwa petugas saya yang terancam,"tuturnya.

SANGATTA dan Bontang, dua  kota penghasil "dollar", yakni  adanya PT Kaltim
Pima Coal (KPC), perusahaan pertambangan batu bara terbesar di Kaltim,
perusahaan pupuk PT. Pupuk Kaltim, dan perusahaan kilang pengolahan gas
alam cair PT. Badak NGL.Co, adalah magnet bagi para pencari kerja  untuk
terus berdatangan. Keadaan ini sudah barang tentu mendorong orang menguasai
lahan di kawasan TN Kutai yang terletak di antara dua kota tersebut.

Menurut Direktur Yayasan Bina Kelola Lingkungan (Bikal), Adief Mulyadi,
persoalan TN Kutai tidak bisa dilihat secara parsial. Kondisi yang terjadi
sekarang sebagai akumulasi persoalan sejak awal kawasan ini ditetapkan
sebagai kawasan konservasi. Beban terbesar yang diterima kawasan TN Kutai
sejak awal yakni tidak adanya sinkronisasi kebijakan soal hutan ini antara
pemerintah pusat, Pemda Kaltim dan Pemda Kutai.

Lihat saja, kata Adief, kebijakan penetapan tiga desa definitif, yakni
Teluk Pandan, Sangkimah dan Sangatta Selatan tidak disesuaikan dengan
kebijakan pengelolaan TN Kutai. Akibatmya, sampai kini tidak ada batas yang
jelas wilayahwilayah desa mereka dan kawasan TN Kutai sendiri. Keadaan ini
membuat hubungan antara jagawana dengan warga menjadi ada jarak, bahkan
tidak jarang saling berbenturan kepentingan. Di samping itu, kata Adief,
permasalahan yang timbul antara pengelola TN Kutai dengan masyarakat juga
tidak terlepas
dari kepetingan politik praktis para birokrat dan politisi daerah.
Masyarakat di desadesa itu kerap menjadi komoditas politik mereka seperti
saat kampanye Pemilu. "Penetapan tiga desa definitifitu salah satu janji
Golkar di masa lalu," tutur Adief

Demikian juga setelah terbentuknya Kabupaten Kutai Timor pada tahun 1999
lalu. Adief menyebutkan, maraknya pengambilalihan lahan di kawasan TN Kutai
justru setelah lontaran pelepasan 15.000 hektar kawasan TN Kutai oleh
Bupati Kutai Timur Awang Faroek Ishak.

Penunjukkan kota Sangatta sebagai ibukota Kabupaten Kutai Timur juga sangat
berdampak negatif terhadap TN Kutai. Sebagai contoh, Bupati Kutai Awang
Faroek Ishak hendak mengambil alih lapangan terbang milik Pertamina yang
berada di daerah Sangkimah, kendati kawasan itu statusnya masih pinjam pakai.


Hal lain yang perlu diperhatikan, kata Adief, pemerintah pusat, dalam hal
ini departemen kehutanan perlu mengubah visi pengelolaan taman nasional.
"Masyarakat juga melihat adanya dualisme.kebijakan pemerintah, kenapa untuk
keperluan Pertamina dan Pupuk Kaltim, kawasan ini bisa dikurangi.
Pemerintah seharusnya sadar bagaimana membuat kebijakan yang tidak
menyebabkan terjadi kucingkucingan antara petugas jagawana dengan warga di
sana," ucapnya. (ful)



## FREE DOMAIN [.COM|.NET|.ORG *] >> http://www.indoglobal.com << ##
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/





Kirim email ke