Halo Sesep,
Saya menyampaikan duka yang sedalam-dalamnya. Sedih sekali rasanya
mendengar sikap-sikap tentara/polisi yang tidak berubah di tengah-tengah
situasi yang makin runyam ini. Berbagai kasus terjadi dan berbagai upaya
telah juga dilakukan oleh banyak teman-teman agar tindakan-tindakan brutal
itu jangan terulang lagi, dimanapun pada siapapun. Tetapi kenyataannya hal
yang seringkali dilakukan pada waktu yang sudah-sudah masih saja terjadi.
Sedih sekali. Ada orang-orang yang dengan gigih ingin membangun rumah kita
ini, tapi pada saat yang bersamaan ada juga orang-orang yang dengan
kegigihan yang sama ingin merobohkan rumah kita.
Aku mungkin terlalu naif, terlalu merengek. Biarlah. Kenyataannya kita
seperti orang-orang yang tidak ada artinya. Seperti cecunguk busuk yang
perlu dienyahkan. Meski begitu, kita, saya yakin, masih mempunyai kekuatan
untuk bertahan. Masih mempunyai kekuatan untuk bisa berteriak dengan cara
yang kita bisa--meskipun tidak ada yang mendengar. Ah, tidak ada yang akan
mendengarkan suara kita. Orang yang tidak berdaya senantiasa ada yang
mendengarkan. Meski sayup sayup suaranya, suatu saat akan menjadi gelegar
yang tak terduga.
Saya kira apa yang dituliskan dengan susah payah oleh Sesep adalah upaya
untuk bersuara; uapay untuk berteriak. Dan kita semua mendengar apa yang
terjadi. Meskipun sulit untuk menyampaikan langkah-langkah apa yang bisa
dilakukan, sebenarnya apapun yang kali ini dilakukan baik oleh Rektor
maupun teman-teman di sana sepenuhnya aku dukung. Menuntut
pertanggungjawaban pihak keamanan adalah hal yang tepat. Selebihnya
biarlah publik yang menilai, biar sejarah yang mencatat.
Semoga sukses. Tetaplah bersuara, tetaplah bergerak!
Salam,
Dwi Rahmad Muhtaman,
LATIN
============================================
At 11:04 PM 11/9/00 +0700, castari wrote:
>Teman-teman aktivis
>
>Satu kasus menimpa Saya (Sesep Zainuddin) Ketua Yayasan Cassia Lestari
>Pontianak.
>
>Kronologis
>Kamis, 9 November 2000
>Kurang lebih pukul 13.00 wib, saya pulang dari Unit KSDA Kalbar di Jl.
>Abdurahman Saleh dan singgah di NRM/EPIQ. Sewaktu memasuki Jl.
>Abdurahman Saleh I, terlihat di Jl. Ahmad Yani, tepatnya di depan Kantor
>Gubernur Kalimantan Barat iring-iringan mahasiswa yang sedang berdemo...
>dan menurut informasi yang diterima akan ke DPRD untuk menyatakan aksi
>damai menuntut diturunkannya Gubernur Kalbar H. Aspar Aswin.
>Dari NRM/EPIQ, Saya melanjutkan perjalanan dengan tujuan Kampus
>Pertanian, Universitas Tanjungpura. Tampak Jalan sudah diblokir oleh
>mahasiswa yang sudah tampak emosional, yang konon kabarnya memuncaknya
>emosi mahasiswa ini dipicu oleh di "ambil"nya beberapa teman mereka oleh
>PHH dan beberapa Petugas dari PEMDA.
>Begitu melintas satu mobil Dinas berplat Merah yang ditumpangi oleh dua
>orang (Satu Pegawai Kantor Pajak, dan Satu Lagi seorang Petugas Polisi
>berpangkat Letnan Kolonel) yang baru habis melaksanakan penyuluhan Hukum
>Perpajakan. Mobil ini kemudian di tahan oleh Mahasiswa, dan kedua orang
>tersebut digebuki, si Pegawai Kantor Pajak kemudian diamankan oleh
>teman-teman Mahasiswa Kehutanan yang tidak terlibat sama sekali dengan
>Aksi demo tersebut. Sedangkan si Petugas Polisi di "sandera" oleh
>mahasiswa yang beraksi demo di Rektorat Universitas Tanjungpura.
>Karena jalan yang menuju bundaran UNTAN macet hampir seluruh kendaran
>mengambil jalan kembali, hanya tinggal saya yang mengendarai mobil
>kijang dan bus sekolah gembala baik yang meneruskan perjalanan,.. saya
>sempat diinterogasi oleh Mahasiswa pendemo tapi saya katakan bahwa saya
>seorang aktivis LSM yang mempunyai urusan di Kampus Pertanian.. sehingga
>teman-teman mahasiswa mengijinkan saya untuk masuk wilayah kampus.
>Rencana untuk menemui Bapak Ir. Bachrun Nurdjali (Ketua Juruan
>Kehutanan) di kampus pertanian batal, karena beliau sudah pulang. Mobil
>saya yang awalnya diparkir didepan Camp Sylva, kemudian dipindahkan
>kelapangan parkir Kampus Pertanian yang jaraknya kira-kira 100 meter
>dari Jalan Umum Jend. Ahmad Yani.
>Karena keadaan terlihat semakin memanas dengan hadirnya PHH dan Pasukan
>Brimob. Cuma yang cukup diherankan adalah bahwa PHH dan Brimob yang
>hadir Kok justru pasukan droping dari Jakarta, yang sebenarnya mempunyai
>tugas untuk mengamankan kerusuhan antar etnis yang terjadi di Kalbar
>beberapa waktu yang lalu.
>Kemalangan pertama yang saya alami adalah ketika terlihat seorang
>mahasiswi yang akan memasuki wilayah kampus dari bundaran UNTAN yang
>saat itu sudah dikuasai PHH. Saat mahasiswi yang mengendarai sepeda
>motor tersebut melintas tanpa ba..bi..bu .. sepeda motor tersebut
>langsung ditendang olehPHH.hingga terpelanting dari motornya,
>selanjutnya mahasiswi tersebut dipukuli beramai-ramai seperti seekor
>anjing. Padahal saya yakin mahasiswi tersebut datang kekampus untuk
>mengikuti MID TEST yang sedang dilaksanakan dan tidak tahu-menahu dengan
>segala persoalan aksi demo tersebut. Melihat keganasan tersebut, saya
>langsung mendatangi 2 orang yang saya yakini sebagai "Komandan"
>pengambil Keputusan, melihat dari pangkatnya yang satu KOLONEL dan satu
>lagi LETNAN KOLONEL. Kepada dua Petinggi ini saya memohon agar mahasiswa
>yang memang datang kekampus untuk mengikuti mid test dapat
>diamankan.Namun dengan arogannya malah kedua Petinggi tersebut tidak mau
>tahu dan berdebat dengan saya. Melihat perdebatan ini Prajurit PHH
>mendatangi saya dan langsung memukuli saya, yang ironis justru pemukulan
>ini dilakukan didepan "Sang Petinggi" yang justru kelihatan tidak
>memiliki niat untuk menghentikannya. Bayangkan...! Saya akhirnya
>diamankan oleh beberapa petugas berpakaian Preman dan dijauhkan dari PHH
>setelah mengalami cedera.
>Setelah kejadian pertama ini kemudian saya berkumpul dengan Mahasiswa
>Kehutanan di CAMP SYLVA, dan mengobati beberapa cedera yang saya alami.
>Namun saya tidak tahu secara pasti kenapa akhirnya petugas PHH kemudian
>mendesak dan menembaki mahasiswa yang sudah berada dalam lingkungan
>kampus. Aksi itu dilanjutkan dengan mengejar sambil menembaki mahasiswa
>pendemo memasuki lingkungan Kampus Pertanian, merangsek mahasiswa yang
>sedang MID TEST didalam kelas, mahasiswa dipukuli, dosen di todong
>dengan moncong M-16, mulai kantin hingga mushola di satroni, dan
>beberapa mahasiswa yang sampai saat ini di identifikasi menjadi korban
>adalah, 3 korban tembak (2 mahasiswa, 1 tidak teridentifikasi dengan
>jelas), kurang lebih 200 sepeda motor dirusak,1 Mobil (milik saya)
>dihacurkan seluruh kaca dengan popor senapan dan beberapa tembakan. 5
>mahasiswa Kehutanan (3 cewek, 2 cowok) di "ambil" dari dalam kelas
>sewaktu mengikuti mid test dan digebuki di Jl. Sepakat, padahal salah
>seorang mahasiswi tersebut baru sembuh dari sakit, ruangan kuliah yang
>bolong-bolong oleh peluru yang dilepaskan oleh PHH..
>Setelah penyerbuan dan pembantaian yang dilakukan hadir beberapa anggota
>Komnas HAM daerah, saya kemudian berdiskusi dengan mereka untuk
>menentukan langkah selanjutnya... dan hal prinsip yang disepakati adalah
>"MENUNTUT KAPOLDA" atas peristiwa yang terjadi. Pihak Petugas kemudian
>kembali mencari saya menjadi Negosiator antara PHH, Brimob dengan
>Mahasiswa. Namun permintaan ini oleh Saya dan Komnas HAM tolak
>mentah-mentah, karena seluruh kepercayaan terhadap pihak Aparat Keamanan
>sudah hilang sama sekali pada saat itu, dan ini betul-betul terlepas
>dari status saya sebagai korban langsung. Yang tertanam dalam diri saya
>saat ini adalah "Aparat Keamanan" adalah "Aparat Pembantai Keamanan dan
>Rasa Aman" yang bisa berbuat apa saja dan dimana saja apakah itu
>melanggar Hak-hak masyarakat, HAM, Otoritas Kampus, dan segalanya.
>Saat ini saya dalam kondisi bingung . . . apa yang harus diperbuat?
>Sudah cukup banyak perhatian dari teman-teman, mulai dari yang prihatin
>hingga yang emosional, dan mengajak untuk mengadakan balas dendam.
>Saya perlu masukan dari teman-teman semua. Bagaimana dan apa yang harus
>dilakukan?
>
>Sep'z, Cassia Lestari
>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/