Dear Pak Tony,

Terima kasih sekali atas kesediaan Pak Tony untuk ikut klarifikasi IBSAP
ini. Pada prinsipnya dapat dipahami scheme dari perencanaan tersebut.
Apalagi sudah menjadi standard baku World Bank.

Saya sedikit banyak telah mengikuti berjalannya IBSAP mulai penyusunan tahun
1991? atau 1992, sampai publikasinya tahun 1993.
Namun dalam perjalanan action plan ini, daya responsif dari pemerintah
sangat lemah. Jangankan untuk merespon kegiatan di grass root, untuk
menjalankan koordinasi lintas sektoralpun tidak ada hasilnya. Disinilah
kelemahan peran Bappenas yang sebenarnya mempunyai kapasitas untuk
koordinasi.
Jadi ada kesan bahwa, IBSAP ini terlalu "kecil" dibandingkan kapasitas
kelembagaan Bappenas. Sehingga koordinasi lintas sektoral hanya
diprioritaskan bagi kepentingan lain yang lebih besar pengaruhnya kepada
faktor ekonomi semata.

So, pertanyaannya, apakah tidak ada kemungkinan instansi pemerintah lain
yang lebih strategis untuk menjalankan peran tersebut ?, Kantor Menteri
Negara LH misalnya. Padahal Pak Effendy sebagai focal point GEF, juga secara
personal sudah memiliki kekuatan dalam perannya selama ini

Sekian terima kasih,

Yossa Istiadi

----- Original Message -----
From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: "Yossa Istiadi" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, March 06, 2001 11:48 PM
Subject: Re: mengenai IBSAP



Saya baru saja mengirim email kepada milis 'lingkungan' sebagai respons
terhadap
email Sdr dari minggu lalu.  Oleh karena saya melihat ada email baru dari
anda,
maka saya attach email saya tsb ke dalam email ini secara langsung, supaya
tidak
ada lag time bagi Sdr.

Seperti anda lihat di paragrap 4, IBSAP ini nanti akan memanfaatkan 'the
full
power of the internet' untuk sosialisasinya kepada masyarakat.





Sdr Yossa,

Terima kasih atas perhatian anda terhadap IBSAP. Perkenankanlah saya untuk
menjawab beberapa point anda mengenai IBSAP.

Sebenarnya IBSAP 93 itu merupakan inisiatif dari Bank Dunia yang telah
membiayai
berbagai BSAP pada tahun 1990 sebagai kegiatan panduan (pilot). Data dari
pengalaman yang diperoleh di BSAP-BSAP itu, dikumpulkan dan diolah oleh tim
UNEP/WRI/IUCN untuk membuat petunjuk-petunjuk untuk BSAP yang lebih lanjut.

Awal mula dari IBSAP baru adalah pertemuan kira-kira dua tahun yang lalu
yang
dihadiri oleh Ibu Kathy MacKinnon dan Pak Herman Haeruman. Pak Herman telah
menyebarkan hasil dari IBSAP 93 kepada peserta, dan Ibu Kathy telah
menjelaskan
bahwa negara-negara penandatangan dari Convention on Biological Diversity
berhak
menerima uang untuk menyusun/merevisi BSAP sebagai 'enabling activity' dari
GEF,
yaitu mekanisme pendanaan dari Convention tsb. Sampai sekarang sekitar 100
negara telah menerima uang GEF untuk BSAP dimana proposal harus mengikuti
standar-standar yang berlaku. Oleh karena Convention tsb ditandatangani atas
nama negara, maka hanya instansi pemerintah saja yang boleh meminta uang
bantuan
"enabling activity". Juga, menurut peraturan GEF, uang harus dialirkan
melalui
salah satu Implementing Agency GEF (UNEP, UNDP, Bank Dunia). Yang dipilih
ialah
Bank Dunia. Berdasakan informasi dari Ibu Kathy, dan dengan persetujuan dari
GEF Focal Point (yaitu Pak Effendi Sumardja) BAPPENAS telah masukkan
permintaan
kepada GEF melalui Bank Dunia.

Tahap pertama dari IBSAP baru (seperti diterangkan dalam lowongan pekerjaan)
ialah 'stocktaking exercise' (langkah standar dari BSAP yang didukung oleh
GEF)
dimana sukses dan/atau kegagalan akan dimonitor secara sistematik.
Berdasarkanreview/analisis tsb, team stocktaking itu akan memberi usulan
untuk
arah yang mungkin bisa diikuti dalam IBSAP yang baru. Stocktaking dan usulan
tsb
akan dibahas pada Lokakarya Nasional I, kira-kira dipertengahan tahun ini.
Kemudian Penulis, beberapa Kordinator Regional dan Kordinator Tematik
(tugasnya
nanti dijelaskan dalam lowongan pekerjaan kedua) akan mulai proses
konsultatif
lewat dedicated list-server dan website, meetings, lokakarya di
masing-masing
daerah dsb. Disamping itu 'konsortia' dari LSM/pemerintah/swasta akan diberi
kesempatan untuk menyusun BSAP lokal. Berdasarkan semua kesan, usulan,
masukan
dll., konsep final akan diserahkan lewat web ke 'komunitas keanekaragaman
Indonesia' untuk komentar final, dan Lokakarya Nasional II akan
diselenggarakan.
Oleh karena itu, proses penyusunan IBSAP yang baru berbeda sama sekali
dengan
IBSAP yang lama.

Fungsi BAPPENAS ini lebih bersifat koordinasi, sedangkan implementasi akan
dilaksakan oleh para stakeholders terkait yang berkiprah dibidang
biodiversity
dan lingkungan hidup.

Untuk mereka yang berminat, saya bisa mengirimkan file dari dokumen yang
disetutjui oleh GEF untuk IBSAP baru. Dan semoga Mas Yossa nanti akan ikut
serta proses IBSAP baru dan akan mempergunakan kesempatan untuk dialog
tentang
problema keanekaragaman hayati dan bagaimana cara mengatasinya.




__________________________________________________________
Tony Whitten
Senior Biodiversity Specialist
Environment and Social Development Sector
East Asia and Pacific Region
The World Bank
1818 H St NW, Washington DC, 20433, USA
fax: +1-202-522-1666
www.worldbank.org/biodiversity






----
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/





Kirim email ke