At 08:47 AM 2/1/99 +0700, Eko Junaedi wrote:

>> Setuju. Gue nggak suka dengan generalisasi bahwa semua bule = haus sex.
>> Toh
>> Bule yang di sini nggak gitu kan, hehehe (udah sembuh belum?). Mengapa di
>> kita tumbuh semacam stereotype bahwa bule = bebas sex, itu karena mereka
>> konsep dasar orang bule, terutama Amerika, yang kita sendiri tidak pernah
>> bisa menghargainya: kebebasan menyatakan pendapat.
>> 
>       Gue setuju bahwa gak semua bule begitu ... :)
>       Tapi gue gak setuju k-lo kebebasan disalahartiin jadi 'super bebas'
>       karena sesuatu tetep ada batasnya

Terlihat anda sendiri pun masih belum mengerti apa yang saya ungkapkan di atas.

>       Burung yang sering dianggap bebas (dalam lagu) aja 
>       gak akan bisa ngelewatin batas langit yang udah ditetepin buat dia
>       pernah denger burung ke angkasa luar atau ikan tawar ke laut asin
>gak ? ... :)  

Anda _bebas_ memberi pernyataan di atas, namun saya tidak akan membahasnya,
karena apa yang anda tulis sama sekali tidak relevan dengan apa yang
disebut sebagai "bebas menyatakan pendapat". 

Dengan bebas menyatakan pendapat, ditambah dengan setiap kepala orang itu
tidak ada yang sama isinya, konsekuensinya adalah, akan ada perbedaan
pendapat. Nah, "bebas menyatakan pendapat" itu ekivalen dengan "menghargai
perbedaan pendapat". 

Masalahnya, karena para bule itu bebas membicarakan segala sesuatu,
bertabrakan dengan budaya kita yang masih banyak tabu yang diperhatikan
kalau sedang berbicara di mimbar bebas. Tabu membicarakan kejelekan atasan,
tabu membicarakan sex, tabu membicarakan masalah sara, dan lain sebagainya.
Padahal, karena berbagai tabu ini, kita justru memelihara apa yang namanya
takut akan perbedaan. Contoh, ada yang punya prinsip toleransi agama adalah
gue nggak peduli sama apa yang dilakukan agama lain, selama dia tidak
mengganggu gue. Konsep yang tidak terlalu salah, tapi kurang benar, karena
selamanya dia tidak akan mau tahu sebenarnya agama lain tuh seperti apa.
Sedangkan bagi gue (dan mungkin Xna), toleransi bagi gue termasuk memahami
mengapa agama lain berbuat seperti itu, dan _menghargai_ perbedaan itu,
bukannya tidak mau tahu. 

Nah, begitu bule2 itu dengan sedikit restraint bicara bebas tentang sex,
kita2 ini langsung beranggapan, wah, mereka ini bebas main sex. Hehe, itu
sih, anggapan tahun 1950-an (make love, not war). Ini namanya sikap
apriori. Berapa banyak sih bule yang ada di dunia? Berapa banyak yang sudah
anda kenal? Dan berapa banyak yang memang benar2 bebas dalam soal sex?

Atau kita punya image seperti itu karena menonton film/sinetron atau
membaca buku tentang orang bule? Nah, sekarang, berapa banyak
film/sinetron/buku tentang masyarakat kita yang telah kita baca? Apakah itu
mencerminkan keseluruhan masyarakat kita?

I want to live for love,
not to die for love - CiTyHuNTeR

  Layanan Informasi Iklan Baris Internet * http://www.iklan-25.co.id

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail   : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com 


Kirim email ke