Terima kasih atas tanggapan kalian semua, Tanggapan kalian membuka wawasan
berpikir dan memberiku cara pandang lain yang lebih lebar dan luas yang
berasal dari berbagai sudut pandang. Seluruh tanggapannya, akan jadi bahan
pertimbangan dan pemikiran.
(Mencoba Berpikir dgn cara pikir orang lain. Mencoba berpikir apa yang orang
lain pikirkan ttg kita.)
**Untuk DES
Aku udah nonton forest gump, Pelajaran yang bisa diambil :
1. "Life is like a box of chocolate, you never know what you're gonna get."
2. Forest ketika tahu dia punya anak ia khawatir kalau anaknya idiot spt
dia. Tapi ternyata anaknya malah cerdas.
Forest berkata "Tuhan sungguh adil, anak orang idiot tetapi jadi anak yang
cerdas"
**Untuk Lilik Eko Pramono
< aku percaya hati dan pikiran kamu lagi jalan sendiri-sendiri
sekarang...:))
ME : Mungkin juga sih, Tapi aku juga nggak tahu kapan 2 hal itu jalan
bersama
**Untuk Musa Sebayang
<Kalo kamu hanya termenung memikirkan nasib kamu sendiri kamu akan
HANCUR.....
ME :Aku nggak separah itu, termenung seperti itu, palingan 6 bulan sekali
kalau pas pulang ke rumah Ortu.
< Kalau pilihan kamu untuk tidak menikah saya kira itu tergantung dari diri
kamu sendiri asal kamu bisa menahan nafsu kamu sendiri. Jangan justru hal
itu menjadikan kamu budak dosa
ME : Sampai sekarang sih aku bisa nahan nafsu, paling-paling dosa dalam
pikiran (ngeres)
**Untuk Karina Ningrum S
<Mudah2xan mama kamu terus baik2x aja dan bertambah baik, Karin doain deh
ME : Thanks atas doanya
<Kalau adik kamu mengalami seperti ini, berarti cowok itu memang bukan
jodohnya kan ? Makanya oleh Tuhan nggak dikasih adik kamu terus sama dia.
ME: Mengenai adikku, mereka berdua sih nekad, malah karena cowoknya itu anak
tunggal ia dilarang keras, bahkan katanya sampai dipukulin oleh ortunya.
Akhirnya papaku menasehati adikku dan menyadarkan bahwa hubungan itu
mustahil, adikku disuruh cari cowok yang lain yang luar kota. Karena barrier
dari ortu cowoknya sangat besar, akhirnya adikkulah yang putusin hubungan
itu. Jadi bukan cowoknya yang mutusin.
<Coba kamu pikirin lagi baik2x, banyak sekali hal2x yang kamu 'miss' kalau
kamu nggak menikah, sekarang sih saat masih muda kamu pikir kamu bisa dengan
mudah survive walau hanya sendirian. Tapi coba saat usia kamu nanti sekitar
50-60, kamu pikir kamu nggak akan kesepian ?
ME: Masalah itu memang sudah kupikir dan kuanalisa, soalnya ada contoh hidup
yang tinggal serumah dulu waktu SD-SMP, yaitu Pengalaman adik nenekku. Aku
sudah melihat sendiri baik buruk, untung ruginya living single. Tapi sih
memang banyak sekali kerugiaannya, keuntunganya cuma satu BEBAS. Adik
nenekku sangat sayang sekali sama aku dan my bro waktu kecil (mungkin karena
ia childless, perhatian dan kasih sayang dilimpahkan ke kami berdua)
Gua juga udah dapat renungan tentang Living single dari film LA doctor (good
film like ER, banyak mengangkat beberapa persoalan kemanusiaan,
kadang-kadang juga bisa memainkan emosi penonton)
*La doctor (26/4/99 indosiar senen 21.30) (para Lovers ada yang nonton ?)
Ceritanya ada dokter (namanya lupa, pokoknya yang paling gempal tubuhnya)
dia living single, tak kawin, nafsu besar (kalau pengin tinggal cari
pasangan one night stand).
Juga sudah pernah diceritakan di episode sebelumnya bahwa ia sudah komitmen
'not married' ingin bebas dan tak terikat, pernikahan banyak membawa
masalah.
Kemudian ada pasien negro yang jadi pasiennya, si negro itu sudah tahu bahwa
ia akan mati. Dokter tidak menemukan penyakit, dan si negro itu sering
datang ke klinik untuk datang bercerita tentang hidupnya. Si negro
menceritakan penyesalannya akan jalan hidup yang dipilihnya, yaitu memilih
hidup sendirian tak berkeluarga. Di masa tua ia menyesal karena banyak yang
HILANG dalam hidupnya karena ia tak menikah : kesepian, tak ada yang
mengurus di masa tua, tak ada yang bisa diajak berbagi (good and bad). Tak
ada keintiman Seks, fisik, emosi dan jiwa (body, mind and soul) dengan
pasangan. Tak ada tantangan hidup untuk memperjuangkan sesuatu, karena tak
ada anak-istri/keluarga yang harus diperjuangkan, dihidupi dan
dipertanggungjawabkan.
Ia menasehati doctor yang juga akan memilih Living single, tentang
pengalaman dan penyesalannya akan pilihannya. Sampai suatu saat dokter
merasa si negro itu mengunjunginya tengah malam dan menasehatinya lagi.
Ia bercerita pada perawat, tapi kata perawat si negro itu sudah meninggal
kemarin.
Nasihat roh si negro pada si dokter antara lain :
"Don't be alone, if you don't have to."
"It's easy to be alone, tetapi hidupmu akan kurang berarti"
"Selama kita masih bisa saling merubah dengan gerak tubuh, kata, nasihat,
we're not alone."
Kemudian dia dan si perawat mengadakan upacara pemakaman bagi si negro,
dengan menyewa pendeta pemakaman. Tidak ada yang datang waktu pemakaman,
tidak ada yang menangisi, tidak ada yang merasa kehilangan, tidak ada yang
memberikan penghormatan terakhir kecuali pendeta, dokter dan perawat.
Itu adalah hal yang HILANG lain jika tak menikah.
Si dokter seperti mendapat pelajaran berharga, beberapa hari ia terus
berpikir dan melamun, mungkin ia sedang mempertimbangkan pilihan hidup dan
komitmennya untuk living single.
Ada untung rugi untuk memilih gaya hidup (life style) : Alone (Living
single), Married, Maried no child, Widow, Divorced, Separated, Single
parent.
Sex : Straight, Bisex, gay, Lesbi
Apapun lifestyles yang dipilih yang penting anda bahagia dan merasa enjoy
dgn hidupmu
***Tambahan curhat lagi: (moga-moga nggak bosan)
Aku adalah 'anak ke-2' yang merantau ke Jakarta, bekerja di satu perusahaan
Broadcasting.
Keluargaku semuanya masih di Jawa.
Didalam keluarga besar ada SYNDROM ANAK KEDUA : anak kedua selalu superior.
Kakekku punya 4 anak, yaitu A,B,C,D
Keluarga A (pamanku) yang lulus S1 Pertama, S2 pertama, menikah pertama
kali, dan yang punya anak pertama adalah 'anak ke-2'.
Keluarga B (ayahku) yang lulus S1 Pertama kali, Paling cerdas dan disayang
adalah aku sebagai 'anak ke-2'.
Keluarga C (bibiku) yang lulus S1 Pertama kali, menikah pertama kali, dan
yang punya anak pertama adalah 'anak ke-2'.
Keluarga D (bibiku) Hanya punya satu anak, jadi tidak dihitung.
Jadi didalam keluarga besar anak kedua adalah yang superior, cerdas, lulus
s1 dulu, menikah dulu, punya anak dulu.
Itu yang menambah bebanku sebagai anak kedua, S1 sudah berhasil, kawin
pertama kali dan menghadiahkan cucu sepertinya tugasku. Itu termasuk
memberiku rasa kurang enak pada papaku
Satu lagi yang lupa kuutarakan, aku sangat suka sama anak kecil, pengin
sekali punya anak. Tapi takut Sifat parental jika tak menurun di F1
(Fillial-1/anak) bisa menurun di F2(cucu). (my first bro pernah juga
gangguan kecil) (Sedikit menyinggung masalah Genetika)
Selain itu aku takut suatu saat pasanganku tau-tau juga punya gangguan jiwa.
Aku takut masa lalu terulang, takut mengalami penderitaan spt papaku. Memang
sih awalnya pada waktu PDKT dan awal kawin tak kelihatan kelainan, tapi
setelah itu siapa tahu ?
Juga takut pengalaman kami berempat (me,my bro, my sis) sbg anak keluarga
kacau terulang pada calon anakku.
Sebagai orang yang percaya dan Mempunyai pengharapan padaNYA, Seharusnya sih
aku tak takut dan cemas mengenai masalah itu, seharusnya aku menyerahkan
segala kekhawatiranku kepadaNYA, Mestinya aku percaya, bahwa IA akan
memberikan yang terbaik padaku
Tapi untuk hal ini aku tetap belum dapat yakin dan masih selalu khawatir
I Wonder Why ??? Something Wrong happened to me ?
Mungkin Cewek yang kusukai dan kuisengi benar : I'm Coward
Aku tak berani memulai sesuatu yang belum tahu hasilnya, karena juga
bayang-bayang masa lalu
Betawi Indonesian Web Directory - http://senayan.betawi.net/
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]
UNLIMITED POP3 Account @ http://www.indoglobal.com