Hallo semua ....
Di masyarakat barat konon ada yang disebut Dear John dan Dear Jane
letter. Maksudnya Dear John adalah surat yang dikirim cewek ke cowok
untuk memutuskan hubungan, sedangkan Dear Jane sebaliknya.
Saya waktu itu nulis ke cewek yang saya pikir kok kayaknya jadi
main-mainin saya. Saya nggak tahu apakah ini termasuk Dear Jane Letter.
Surat ini saya kirim ke sini dengan beberapa edit untuk menghilangkan
hal yang terlalu pribadi ... soalnya sampai sekarang doi belum bales
dan Bimbim ingin tahu kalau orang lain baca gimana reaksinya ...
FYI: karena Bim ngefans sama artis Jeri Ryan (7 of 9 di Star Trek),
maka nama ceweknya diganti jadi Jeri Ryan aja ... Ok ? ha, ha, .....
BimBim
<===== surat dimulai =======>
Jeri yang baik,
Ketika pertama kalinya kamu menelpon ke HP saya malam ini (yang lalu
saya balas dengan menelpon kamu), itu juga jadi saat pertama kalinya
kamu mengatakan kata �kita�. Barangkali nggak berarti apa-apa buat
kamu atau mungkin saya akan melebih-lebihkannya, tapi keseluruhan
nuansa telpon kamu itu bikin saya heran dan sekaligus bertanya-tanya
ke diri sendiri; apakah dugaan saya selama ini tentang kamu benar ?
Sebelum ini memang kamu sudah mengatakan atau menunjukkan
tanda-tanda yang mungkin kalau saya ini bukan Bimbim, akan jadi GR.
Tapi untung saya memang bukan Bimbim yang dulu. Saya sudah
belajar banyak hal dari hubungan-hubungan seperti ini. Lagipula
hubungan yang ada antara saya dan kamu sejauh ini nggak pernah
saya fantasikan ke arah yang enggak-enggak. Seperti saya selalu
bilang, saya ini hanya punya "niat" ke kamu. Saya nggak tahu apakah
kamu merespon baik niat saya itu. Yang jelas dari apa yang kamu
sampaikan ke saya, saya berpendapat hubungan di antara saya dan
kamu itu sampai sekarang netral aja. Maksud saya netral dalam
pengertian kita itu belum jadi lovers. Barangkali teman baik atau
teman akrab bisa jadi kata yang lebih tepat.
Tahu nggak Jeri ? kenapa saya bilangnya "niat" dan bukan kata-kata
seperti "sayang" atau bahkan "cinta" ? Soalnya saya nggak ingin ada
pemaksaan kehendak di sini. �Kan kejadiannya selalu begitu ... ada orang
yang suka sama seseorang, tapi seseorang itu nggak suka sama dia, lalu
bisa juga ada orang disukai seseorang, orang itu nggak suka sama orang
yang menyukainya. Nah, saya nggak ingin ada hal seperti itu antara saya
dengan kamu. Dengan punya sekedar niat, saya itu ingin memberikan
ruang kebebasan bagi saya dan kamu. Artinya, kalau saya akhirnya tahu
bahwa kamu itu terlalu banyak tidak cocoknya dengan saya dan
ketidakcocokan itu sama sekali nggak bisa dijembatani, ya sudah.
Saya nggak akan memaksakan diri. Saya akan mengurungkan niat saya.
Dan ini berlaku juga buat kamu. Bagaimana kamu bisa tahu kalau saya
ini orang yang tepat buat kamu ? Bagaimana kamu tahu kalau saya ini
nggak akan bikin sakit hati kamu lagi ? Bukankah kamu juga perlu
mempelajari saya ? Kalau akhirnya kamu tahu bahwa memang saya
bukan cowok yang tepat buat kamu, kamu HARUS meninggalkan saya
dan saya juga ingin meninggalkan kamu. Soalnya yang namanya cinta
yang sesungguhnya harus berasal dari kedua belah pihak. Saya nggak
mau memaksakan kehendak saya ke kamu sedemikian rupa sampai
mungkin saya nggak mau pisah dengan kamu, misalnya. Kalau kita
sudah bisa melewati tahap ini, baru bisa berkembang lebih jauh.
Segala yang seharusnya terjadi ya akan terjadi. Segala yang seharusnya
ada ya akan ada.
Hal lain yang bikin saya heran tentang kamu adalah ... di telpon itu kamu
menggertak saya bahwa kamu nggak akan nelpon lagi ke saya. Terus
terang waktu kamu ngomong begitu saya nggak sempat berpikir jernih,
baru sesudahnya saya mikir-mikir. Di balik kata-kata kamu itu pasti tersirat
bagaimana kamu menganggap saya selama ini. Kalau kamu mengancam
saya bahwa kamu nggak akan nelpon lagi ke saya jelas bahwa kamu
tentu berpikir bahwa saya itu begitu membutuhkan kamu, bahwa saya
pasti akan mengalami sesuatu kalau kamu nggak nelpon. Pertanyaannya ....
apa bener saya begitu ? Jawabannya mungkin iya mungkin enggak. Yang
jelas segala yang saya inginkan dari hidup ini dengan kesadaran baru
itu adalah .... perempuan yang mencintai (atau mau belajar mencintai) saya
(dan saya pun begitu). Saya nggak ingin ada permainan yang
enggak-enggak di sini.
Oke, barangkali apa yang saya tulis di atas itu mencerminkan ketidaktahuan
saya tentang kamu atau ketidaktahuan kamu tentang saya. Ya kan ?
Bagaimana mungkin kita bisa ngasih penilaian yang tepat tentang situasi
atau diri kita satu sama lain kalau kita belum saling kenal betul ? Karena
surat ini saya yang nulis, maka saya akan cerita sedikit tentang siapa saya.
Ini juga barangkali untuk mengganti pertemuan kita yang gagal waktu itu,
tapi bukan berarti pertemuan yang sebenarnya jadi nggak perlu. Saya kira
kita tetap perlu ketemu dan ngobrol banyak.
(alinea ini dihilangkan)
Itu saja sedikit ... dan jangan biarkan saya untuk cerita di sini semuanya
karena akan sangat lain kalau saya menyampaikannya secara langsung
ke kamu. Percaya lah Jeri, saya bermaksud baik. Kalau kita ketemu nanti
dan bisa ngobrol, itu bukan pertama-tama supaya saya bisa melepas
kangen ke kamu. Saya ingin kesempatan itu untuk menceritakan diri
saya .... atau mungkin kamu yang tanya ke saya ... tentang apa saja. Saya
bisa jadi buku yang terbuka untuk kapan aja kamu baca. Jelas kamu juga
bisa cerita ke saya tentang diri kamu ... apa saja. Barangkali nggak perlu
khusus kamu cerita a b c tentang diri kamu. Cukup dengan cerita tentang
apa yang kamu alami, atau apa aja yang ada hubungannya dengan kamu.
Dari situ saya bisa "membaca" kamu itu seperti apa.
(bagian ini dihilangkan)
Yang suka saya pikirkan adalah kenapa kadang-kadang begitu susah
buat dua orang untuk terbuka walaupun sebenarnya keduanya (bisa) saling
mencintai ? Saya tulis itu berdasarkan pengalaman saya sebelum ini. Apa
orang nggak merasa cukup dengan getirnya sepi dan segala perasaan tak
tertahankan karena tiadanya orang yang dengan kasih sayang mau bersama
dengan kita ? Kenapa setelah mereka dipertemukan oleh Tuhan dan
berpeluang untuk jadi bersama mereka malah melakukan hal-hal yang justru
menjauhkan kemungkinan itu menjadi nyata ? Apakah karena masalah harga
diri ? Ah, kadang-kadang orang melambungkan nilai harga diri sampai
sangat tidak realistis. Apakah pantas itu dibandingkan dengan segala
kesendirian yang menyakitkan ? Hari-hari yang hanya belalu tanpa kita
merasa pasti kita mau apa dan untuk apa ? Saya udah belajar untuk
menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan itu. Untuk sementara saya
bisa tenang, tapi saya sendiri ingin ada the ultimate answer to loneliness.
Kadang-kadang ada baiknya untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang
salah, soalnya dengan begitu yang bener bisa kelihatan lebih terang. Menurut
saya sih kita bisa anggap satu orang dengan orang lain itu seperti dua
monster ! Kita jadi melihat dan menilai segala sesuatu berdasarkan apa yang
kita alami, berdasarkan apa yang sudah kita pelajari dari hidup. Tapi sialnya
kita nggak pernah tahu apakah yang kita pelajari dari hidup itu adalah sesuatu
yang memang mengantarkan kita untuk betul-betul bisa melihat sesuatu dengan
sebenar-benarnya. Pengalaman hidup itu juga bisa membutakan seseorang.
Lalu dua orang bisa merasa punya dasar pembenaran. Ketika ada masalah
jadi ribut dan karena nggak mau ngalah lalu diputuskan untuk pisah aja.
Aduh .... padahal keduanya bermula dari perasaan cinta. Kenapa sih nggak
pernah cukup hanya dengan cinta aja ? By the way, kamu masih percaya sama
kata cinta nggak sih, Jeri ? Saya masih percaya !
Ya, saya masih percaya .... dan yang saya bayangkan adalah kalau dua orang
saling percaya sama maknanya .. maka dua orang itu saling menyerah satu
lama lain. Kalau saya sih .. saya ingin menyerah dengan mengakui bahwa apa
yang saya pertahankan, apa yang saya yakini sekarang ini belum tentu benar.
Saya ingin membuka diri pada sesuatu yang lain. Saya ingin memeriksa apakah
saya sudah jadi buta tentang sesuatu karena apa yang sudah saya alami. Ah,
coba bayangkan kalau dua orang, laki perempuan, bisa begitu .... apa sih yang
susah dalam hidup ini ?
Sorry jadi terlalu banyak bla bla bla di sini. I just couldn�t help it. Saya nggak
tahu
apa pikiran-pikiran seperti itu pernah melintas dalam benak seorang Jeri Ryan,
yang pernah bilang bahwa ia nggak ingin sakit hati lagi, bahwa kalau dapet cowok
pengen dapet yang bener dan yang terakhir.
(bagian ini dihilangkan)
Lainnya lagi tentang kamu yang saya duga adalah .... Hhmmm, dan ini mungkin
salah ... bahwa setiap ada laki-laki yang dekat ke kamu akhirnya ia "menginginkan"
kamu atau memanfaatkan kamu dengan satu dan lain cara. Kalau dihitung mungkin
udah banyak ya yang suka sama kamu, Jeri ? Dan ini bikin saya jadi rada ironis.
Soalnya saya cowok dan saya ... punya niat itu ke kamu (saya belum bilang "suka" lho
.. ).
Tapi karena itu mungkin kamu jadi bereaksi secara lain ke cowok. Pasti ada bedanya
�kan antara cewek yang sering banget disukai cowok dan yang enggak ? Wah, apalagi
kamu punya pengalaman bahwa cowok-cowok itu kalau nggak memaksakan kehendak
ya ujung-ujungnya juga nyakitin hati kamu. Asal tahu aja Jeri, kamu nggak sendirian.
Kalau kamu (mungkin) begitu ke cowok, saya ini sebenernya juga begitu ke cewek.
Nggak persis sama sih. Saya nggak pernah merasa saya ini cowok yang selalu
disukai cewek, tapi saya juga jadi bereaksi secara lain ke cewek kalau hubungannya
sudah "mengarah" ke sana. Ini emang karena apa yang pernah saya alami
sebelumnya dan ada hubungannya dengan telpon kamu malam ini yang
kedengarannya agak lain ... terus terang, itu jadi mengingatkan bagaimana saya
pernah diperlakukan.
(bagian ini dihilangkan)
Waktu saya hampir selesai nulis surat ini hujan deras sekali; hujan yang pertama
setelah hari-hari yang kering dan banyak debu. Hari-hari ke depan ini pasti akan
bercuaca dan bernuansa lain. Saya nggak selalu pintar dalam mengutarakan
perasaan, tapi mudah-mudahan surat ini - meskipun mungkin isinya masih menyisakan
banyak pertanyaan buat kamu - bisa jadi awal yang baik buat hubungan antara saya
dan kamu ke depan. Apapun dan bagaimanapun itu jangan sampai kita jadi musuh.
Di atas segalanya saya ingin selalu jadi teman baik kamu.
With or Without You,
Th. Bimantoro
Betawi Indonesian Web Directory - http://senayan.betawi.net/
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]
UNLIMITED POP3 Account @ http://www.indoglobal.com