>From: arief muLya <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: [love] Menikah Dengan Pacaran ? Bad Idea ....


Menikah dengan pacaran ide buruk? Wah saya jelas nggak setuju!

Banyak orang yang sudah menikah lalu terjerat pada rutinitas hidup rumah 
tangga dan nggak sempat pacaran lagi. Malah panggilannya pun berganti jadi 
bapak-ibu, mama-papa, mami-papi, abah-mamak dsb. dsb. ngikutin panggilan 
anaknya.

Padahal di waktu sudah menikah inilah kegiatan pacaran sangatlah penting 
dilakukan untuk memupuk kasih sayang antara suami dan istri. Jadi kita nggak 
usah pacaran dulu sebelum menikah  untuk kemudian pacaranlah sepuas-puasnya, 
seseru-serunya setelah menikah.

Setelah menikah pacaran itu menjadi wajib hukumnya.

Jadi menikah dan kemudian pacaran? Itu harus!

*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=
Lanjutan yang kemarin-kemarin:

Agama [Mestinya] Jadi Pertimbangan Utama


Budi Darmawan
Pemerhati Keluarga

Menuju gerbang pernikahan bukanlah perkara gampang. Pacaran sudah menjadi 
sebuah ritual yang dianggap lumrah dan bagian dari proses menuju pernikahan. 
Gaya pacaran juga macam-macam, mulai dari surat-suratan, jalan bareng di 
mall, nonton di bioskop bahkan sampai ada yang melakukan hubungan seks. 
Maka, gonta ganti pacar atau pacaran menahun sudah umum berlaku.

Budaya pacaran yang demikian jelas tidak mencerminkan nilai dan norma budaya 
maupun agama. Dalam Islam, aspek nilai agama haruslah menjadi pertimbangan 
utama dalam memilih pasangan. Kecantikan dan kekayaan itu urusan belakangan.

Proses cinta sendiri dimulai dari saling kenal, diikuti pencarian 
'informasi'pribadi. Seterusnya akan meningkat menjadi rasa simpati. Kemudian 
menggelinding menjadi curahan hati. Selanjutnya timbul rindu dan berlanjut 
ke cinta. Idealnya pacaran itu cukup berhenti sampai tahap simpati saja.

Menurut Islam sendiri, pacaran itu justru setelah akad nikah. Sayangnya, 
sebagian umat Islam belum memiliki pemahaman yang utuh terhadap nilai-nilai 
keislaman. Mereka baru sebatas memahami Islam secara sektoral. Memulai satu 
keluarga hendaknya dengan cara yang baik serta tujuan yang jelas yakni guna 
membangun satu keluarga yang tidak semata untuk memenuhi kebutuhan biologis, 
tetapi lebih merupakan ibadah. n yus

Dr Arief Rahman
Tokoh Pendidik

Esensi pernikahan adalah mensucikan pergaulan. Kalau esensi ini telah 
dilaksanakan, maka itulah pergaulan yang bisa dipertanggungjawabkan kepada 
Allah.

Pacaran pada hakikatnya adalah proses untuk saling kenal dan saling tahu. 
Tapi kemudian, perkembangannya justru melenceng jauh dari ajaran agama, 
seperti yang terjadi sekarang ini. Banyak remaja yang tak tahu batas-batas 
mana yang tidak boleh, dan mana yang tidak.

Menikah tanpa pacaran merupakan pilihan lebih baik karena akan lebih terjaga 
kesuciannya. Hanya saja banyak orang khawatir bahwa ketidak-kenalan 
masing-masing pasangan bisa menimbulkan kekecewaan di kemudian hari.

Sekadar mengenal siapa dan bagaimana calon pasangan sebetulnya dapat 
dilakukan tanpa harus melalui proses pacaran. Kalau memang banyak 
mudlarat-nya, pacaran lebih baik ditinggalkan saja.n nar

Dicky Chandra
Artis Sinetron

Merebaknya budaya pacaran yang serba bebas sungguh memprihatinkan. Apalagi 
bila dilakukan oleh orang yang mengaku muslim. Pasalnya, Islam tidak 
mengenal istilah pacaran.

Banyak dalih dikemukakan oleh mereka yang suka pacaran. Umumnya konon untuk 
lebih mengenal karakter masing-masing. Tapi, akibat lamanya masa berpacaran, 
banyak yang kemudian terlena dan lantas melakukan perbuatan zina. Apalagi 
ada pengaruh dari buku-buku porno dan tayangan yang banyak mengumbar aurat 
di media massa.

Untuk meredam kecenderungan ini, peran orangtua dalam mengarahkan dan 
mengontrol perilaku anak perlu lebih diintensifkan. Terutama untuk 
menanamkan akidah dan nilai-nilai agama sejak dini.

Bagi anak muda kuat imannya, dalam hal apapun ia akan selalu berpegang pada 
ajaran agama. Dia bakal selektif untuk menentukan pasangan hidupnya kelak 
dan tahu apa tujuannya berpacaran. Tanpa berpacaran dengan waktu lama pun 
dia sudah yakin pada pilihannya.

Saya sendiri mengalami model pacaran singkat itu. Awalnya, hati ini 
tiba-tiba tergetar menyaksikan Rani [Permata] shalat Maghrib. Mulanya aku 
sama sekali cuek terhadap Rani.

Terus terang saya heran, di tengah kehidupan selebritis yang serba glamour, 
masih ada artis yang tetap teguh menjalankan perintah agama.

Singkat cerita saya merasa dekat, kemudian berusaha mengetahui bagaimana 
karakter dia, cara dia marah, minta sesuatu, menghormati orang tua dan 
sebagainya. Setelah yakin, tiga minggu kemudian memberanikan diri melamar 
Rani. Karena kesibukan kerja saja, kami baru menikah tiga bulan kemudian.n 
yus

Erry Soekresno
Psikolog Remaja

Munculnya 'trend' menikah tanpa pacaran oleh sebagian orang ditanggapi 
dengan nada sinis. Bagi mereka yang sok modernis, konsep ini justru dinilai 
melawan arus. Bahkan dianggap sesuatu utopia dan aneh. Timbulnya pemikiran 
miring seperti ini adalah karena mereka baru dalam tahap tahu mengenai 
ajaran agama, namun belum memahami secara mendalam. Maka, di sinilah 
pentingnya peran ulama dan tokoh untuk mengingatkan mereka terhadap berbagai 
dampak dan ekses negatif yang mungkin timbul akibat maraknya gaya pacaran 
serba permisif tersebut.

Adalah bukan pekerjaan untuk mudah mengubah sudut pandang anak muda. Ini 
butuh proses panjang dan terus-menerus. Yang terpenting, proses tersebut 
harus terjadi secara alami. Jangan paksakan mereka untuk menerima konsep 
ini, namun biarkan mereka menilai sendiri kebaikan.

Kepada mereka mesti dijelaskan bahwa menikah tanpa pacaran adalah sebuah 
alternatif. Untuk itu diperlukan bukti-bukti konkret bilamana alternatif ini 
sesungguhnya dapat mencegah perbuatan zina dan sanggup pula mewujudkan 
kebahagiaan berumah tangga.

Menikah tanpa pacaran sesungguhnya dapat mengembalikan harkat kewanitaan. 
Sebab, dalam berpacaran pihak yang paling dirugikan adalah wanita. Hingga 
muncullah beragam istilah berkonotasi negatif seperti 'piala bergilir.' 
Selain merendahkan, hal itu juga bisa dikategorikan melecehkan.

Seorang wanita yang menempuh konsep ini berarti dia sudah memuliakan 
dirinya. Ini adalah kemajuan berpikir. Islam sudah memberikan jalan terbaik. 
Kini terserah apakah mereka mau menerimanya atau tidak.

Irwan M Hudayana
Antropolog UI

Gencarnya arus globalisasi, lewat film, diskotik, bar, internet, televisi 
dll, telah membuat remaja cenderung permisif. Perilaku yang ada dalam lakon 
film, di bar-bar atau di diskotik, kerap dibawa ke dalam keseharian.

Beberapa tahun lalu, tim antropologi UI telah melakukan penelitian perilaku 
seks remaja di Kalimantan Selatan dan Sumatera Utara. Hasilnya ternyata, 
mengejutkan, perilaku remaja desa dan kota sama saja. Ada kecenderungan seks 
bebas di sana. Jangan kira desa bebas dari soal seks bebas. Melalui TV, 
mereka bisa menonton acara-acara seperti film-film telenovela yang 
'mengajarkan' keserbabolehan itu.

Menikah tanpa pacaran bisa saja menjadi alternatif untuk menghindari 
perzinaan. Namun dalam pelaksanaannya harus dipikirkan banyak hal. Misalnya, 
Jika pasangan remaja itu harus menikah, sementara mereka masih sekolah, 
harus ada kesepakatan sejumlah pihak, mulai dari pasangan itu sendiri, orang 
tua, dan sosial/lingkungan. Di antara pasangan itu harus ada kesepakatan, 
misalnya soal anak, ekonomi, masa depan, atau masalah lainnya.n nar

Mien Uno
Pakar Kepribadian

Pacaran sebenarnya, menurut kaidah pergaulan, merupakan sarana untuk saling 
mengenal. Tetapi, sekarang, makna itu cenderung melenceng. Pacaran diperluas 
dengan interpretasi masing-masing. Bahkan cenderung menjurus ke pergaulan 
bebas. Saya kira itu bukan pacaran.

Dipacari itu, intinya, bukan dalam arti untuk di'apa-apakan'. Bahkan jika 
pun sudah bertunangan --meski tidak ada dalam Islam-- seseorang tetap saja 
terlarang untuk melakukan 'ini-itu' yang sebenarnya hanya boleh dilakukan 
setelah nikah.

Saya sering melihat orangtua memperbolehkan anaknya pergi berdua-duaan. Itu 
kan, sama saja dengan memberikan peluang kepada mereka untuk berbuat yang 
tidak-tidak. Padahal kita kan tahu, kalau pergi berdua itu harus disertai 
oleh muhrimnya. Paling tidak jadi orang ketiga untuk mengawasinya.

Mengenai perjodohan atau pernikahan instan, orang jaman dulu sering 
melakukannya. Mereka dijodohkan bisa melalui foto, pertemuan keluarga, dan 
lain-lain. Pada kenyataannya, mereka dapat menjalani kehidupan berkeluarga 
dengan bahagia. Sedangkan pada masa kini, nampaknya jarang sekali pernikahan 
dilakukan tanpa menjalani proses pacaran.

Republika Online edisi:
08 Aug 1999




______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Betawi Indonesian Web Directory - http://senayan.betawi.net/

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail   : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]
UNLIMITED POP3 Account @ http://www.indoglobal.com

Kirim email ke