Hi juga Rhin .... Banyak pasangan suami istri yang tidak lagi menyempatkan diri untuk berkencan di luar. Apalagi bila sudah ada anak, suami dan istri kadang tidak lagi bersikap romantis di rumah. Perhatian untuk anak lebih besar dari perhatian yang diberikan pada pasangannya. Pasangan suami istri banyak pula yang tidak lagi berdandan bila bertemu pasangannya. Daster atau kaos oblong menjadi seragam sehari-hari di rumah. Panggilan untuk suami dan istri pun sering berubah meniru panggilan anaknya. Hal-hal semacam itulah yang saya rasa tidak mendukung terpeliharanya kasih sayang antar suami istri dan menimbulkan kebosanan. Bukankah lebih baik bila setelah menikah kita menyempatkan diri sekali-sekali untuk sekedar berkencan berdua saja, bertemu di suatu tempat untuk makan bersama di rumah makan yang bersuasana tenang misalnya. Atau kalau ada waktu bisa juga berlibur berdua saja ke tempat liburan yang terjangkau atau melakukan hobi bersama. Bukankah juga akan lebih baik bila kita berusaha untuk tampil rapi dan enak dipandang di depan pasangan kita di rumah dengan berdandan lebih rapi dan wangi dibandingkan dengan bila kita keluar rumah? Juga sikap romantis walaupun tetap dalam batas kesopanan perlu juga diperlihatkan walaupun sedang bersama anak-anak. Panggilan sayang pun sebenarnya tak tabu untuk tetap dipakai semacam darling dalam bahasa Inggris atau habibi dalam bahasa Arab. Bahasa kita apa ya? Lain-lain tergantung daerahnya mungkin ya....... Maka berkencan dan perlakuan mesra pada pasangan kita justru harus intensif dilakukan setelah menikah untuk meningkatkan mutu hubungan suami istri dan mepererat kasih sayang dalam keluarga. Kalau belum menikah buat apa? Kan belum ada kepastian akan menikah juga. Orang berencana boleh saja...namun seperti pernah terjadi ada juga yang meninggal justru ketika hendak berangkat ke acara akad nikah. Kalau sebelumnya sudah bermesra-mesraan kan rugi tuh jadinya .......... Sekalian buat Ayu .... From: ayu putri <[EMAIL PROTECTED]> Nah, bagaimana kalau unsur agama dilepaskan? Apakah ada orang nikah tanpa pacaran tanpa ada pertimbangan agama? Ini pertanyaan buat Rhin atau saya sih? Tapi coba aja saya jawab toh Rhin dan yang lain bisa pula menambah dan mengomentari. Kalau unsur agama dilepaskan berarti kita tidak lagi beragama dan kalau kita orang beragama kita tentu tak ingin melepaskan pertimbangan ajaran agama kita kan? Bahkan seharusnya itu jadi pertimbangan utama. Saya tahu ada orang yang menikah tanpa pacaran tanpa pertimbangan agama bahkan mereka bisa dibilang atheis, tidak percaya Tuhan dan tidak beragama. Berbagai macam alasan mereka, namun biasanya karena ingin praktis, bisa menyalurkan hasrat seksual dengan aman seperti pada kasus-kasus pernikahan beberapa pekerja asing di negara kita dengan gadis-gadis di sekitar tempat mereka bekerja sementara sang wanitanya ingin mendapatkan suami yang punya penghasilan layak dan memberi nafkah yang cukup buat mereka. Ada juga yang ingin segera punya anak dan keluarga karena tidak mau disebut tidak laku dsb.dsb. Apapun juga alasan mereka bagi saya itu lebih aman terutama bagi perempuan dari pada hubungan tak resmi yang beresiko tidak terkontrolnya hubungan laki-laki dan perempuan. Secara rasional saja kalau ada yang tidak ingin menggunakan pertimbangan agama, harus diakui bahwa dengan pernikahan maka status hukum kedua belah pihak menjadi jelas. Bukankah pihak perempuanlah yang paling dirugikan bila hubungan di luar nikah terjadi, apalagi bila hamil dan kemudian tak jadi menikah? ______________________________________________________ Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com Betawi Indonesian Web Directory - http://senayan.betawi.net/ -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED] To subscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED] Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED] UNLIMITED POP3 Account @ http://www.indoglobal.com
