>From: "D.E.S." <[EMAIL PROTECTED]>

>harus gaul dulu deh... biar ketahuan lawannya bisa dipake tanpa dipacari 
>gak.
>abis itu ajak dinner, abis itu... your place, or my place. cowok sih 
> >banyak yang available untuk kayak ginian.
>tapi kata gue sih kagak ada bedanya dengan ke lokalisasi, ini kalo diniatin 
>loh nyarinya.palingan yang ngebedainnya itu cuman gratis >nya doang.tapi 
>kalo ml dengan temen sendiri kadang2 bisa juga tuh   >kejadiannya gak 
>sengaja. heh heh heh....

Maaf ya DES, aku kutip kalimat kamu, ...tapi itu kan tandanya dibaca...iya 
nggak?
*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*
Ketika Pergaulan Terbius Permisivisme


Namanya, sebut saja, Hana. Usianya baru 18 tahun dan mengaku masih duduk di 
SMA swasta di Surabaya. Namun. kecuali sebagai pelajar, dia juga berprofesi 
sebagai penjaja seks. Sudah hampir tiga tahun terdampar dunia hitam, dia 
biasa mangkal di Jl Tais Nasution, Surabaya.

Menjadi pemuas seks pria hidung belang, dia mengaku, bukan karena dorongan 
ekonomi semata-mata. Awalnya konon lebih karena terbius oleh kebebasan dan 
kepuasan bergaul. Seks bebas 'dinikmati' tak lama setelah merasa dikhianati 
kekasih yang telah merenggut kehormatannya saat masih di bangku SMP.

Hana tidak sendirian. Selain dia, masih ada ratusan [mungkin juga ribuan] 
Hana lain di Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Bandung dan kota-kota 
lain yang terjerumus ke lembah perzinaan. Sejumlah survey dan hasil 
penelitian menunjukkan, entah berapa banyaknya para ABG [laki-laki maupun 
perempuan] terlibat praktik seks pra-nikah. Latar belakang penyebabnya 
macam-macam. Mulai dari kasus pacaran, pergaulan di luar batas, perkosaan 
maupun keinginan menambah uang jajan.

Irwan M Hudayana, pengajar Antropologi UI, mensinyalir bahwa gencarnya 
pengaruh arus globalisasi berdampak pada perilaku remaja. Pengaruh budaya 
populer, seperti film, diskotik, bar, internet, telah menjadikan remaja 
cenderung lebih permisif. Perilaku para lakon dalam film, orang-orang di 
bar, dan diskotik dibawa ke dalam kesehariannya.

Menurutnya, sejak 1980-an, masyarakat (khususnya remaja) cenderung lebih 
permisif. Mereka lebih menganggap hal lumrah soal seks pra nikah, hamil 
sebelum menikah, hingga pengguguran kandungan (aborsi).

Prof Sarlito Wirawan, guru besar psikologi Universitas Indonesia (UI), pada 
satu kesempatan pernah mengatakan faktor lain: bahwa para remaja di 
Indonesia masih diisolir dari segala sesuatu yang berhubungan dengan seks, 
sementara dorongan seks mereka tidak mungkin dibendung begitu saja.

Selama belum menikah para remaja seolah diasingkan dari segala yang 
berhubungan dengan seks. Mereka tidak memiliki akses terhadap berbagai 
bentuk pelayanan, bantuan, sarana (pendidikan seks, konseling, pembelian 
alat kontrasepsi, pelayanan medik) yang dapat membantu mereka dengan 
kehidupan seksualnya. Jika mereka diberi pendidikan seks misalnya, ada 
semacam kekhawatiran remaja yang semula tidak tahu tentang seks justru akan 
mengetahuinya dan bahkan akan meniru atau mencoba-coba.

Namun, menurut Sarlito, di balik itu semua faktor yang lebih hakiki adalah 
adanya hasrat sangat besar atau bahkan mungkin berlebihan dari para orangtua 
melindungi anak-anaknya. Pada kalangan atas, kecenderungan itu muncul dalam 
wujud serba melarang, serba menghambat, serba memberi nasihat, serba 
mengharuskan, dan lain-lain. Karena itu lalu muncul konflik antara remaja 
dan orangtua. Remaja jadi berontak dan justru terdorong melakukan hal-hal 
yang tidak dikehendaki orangtua.

Hubungan seks pranikah telah menjadi gejala umum. Kehamilan di luar nikah 
dan aborsi pun kini bukan lagi berita luar biasa. Dr Wimpie Pangkahila, 
seksolog dan androlog, dalam satu penelitiannya (1990) mencatat, sekitar 53 
persen pasangan suami istri mengaku sudah berhubungan seksual sebelum 
menikah. Dari jumlah itu, 15 persen di antaranya pernah menggugurkan 
kandungan di usia remaja. Penelitian lain (ESCAP, 1992) juga mencatat, satu 
dari lima wanita Indonesia yang menikah di usia 20-24 tahun melahirkan anak 
pertamanya dari hubungan seks sebelum menikah.

Dr Achmad Fedyani Saifuddin, dari Laboratorium Antropologi Universitas 
Indonesia (UI), seperti dikutip satu sebuah media cetak, mengistilahkan 
bahwa para remaja itu bak dibiarkan bagai ''masyarakat terasing''. Segala 
yang berkaitan dengan persoalan seksual ditabukan. Pembicaraan seputar 
masalah seks selalu dianggap jorok, tidak etis, dan tidak sesuai dengan adat 
timur.

Seks lalu dipandang sebagai momok menakutkan. Komunikasi antara anak dan 
orangtua jadi macet. Sementara kebijakan dan program-program reproduksi 
sehat yang sesungguhnya sangat dibutuhkan remaja, dalam kenyataannya tidak 
pernah menyentuh kelompok usia ini.

Untuk memenuhi rasa ingin tahu, mereka lari ke kelompok teman sebaya, 
ketimbang mencari informasi akurat dari orangtua, guru, dan petugas 
kesehatan yang memang sejak awal sudah menutup diri. Kelompok teman sebaya 
alias peer group ini lalu menjadi tumpuan remaja dalam mengakses informasi 
seputar masalah seks. Peer group menjadi semacam dewa penolong, sekaligus 
sarana bagi mereka untuk mengenal lebih jauh, bahkan mempraktekkan 
pengetahuan yang mereka dapatkan.

Di tengah pengetahuan tentang seks yang sepotong-sepotong itu, kata Achmad, 
lalu masuklah informasi yang macam-macam seputar masalah pornografi. 
Perilaku coba-coba dan rasa ingin tahu yang lebih dalam pun muncul, sehingga 
tidak jarang menuju pada perilaku seks bebas.

Dari data statistik kasus HIV/AIDS di Indonesia yang dikeluarkan Ditjen PPM 
& PLP Departemen Kesehatan hingga Juni 1999, menunjukkan bahwa sebagian 
besar HIV/AIDS menjangkiti kalangan muda. Kendati penyakit tersebut tidak 
semata-mata akibat hubungan seksual yang berganti-ganti pasangan, tapi bisa 
menjadi indikasi awal karena hubungan seksual menjadi faktor dominan dalam 
masalah AIDS di Indonesia. Dari 908 total kasus HIV/AIDS, sebanyak 46 persen 
(420 orang) menjangkiti kelompok usia 20-29 tahun. Angka kejangkitan ini 
kemudian disusul pada usia 30-39 (27 persen), 40-49 (9,3 persen) dan 15-19 
(7,4 persen).

Jumlah Komulatif Kasus HIV/AIDS Berdasarkan Umur (Per Juni 1999)
Usia Jumlah
<1             3
1-4            2
5-14           1
15-19         68
20-29        420
30-39        251
40-49         85
50-69         14
>60            3
Tak diketahui 61
Total        908
Sumber: Dirjen PPM & PLP Depkes RI

Menurut Irwan, lebih dari 10 tahun BKKBN dan PKBI (Perkumpulan Keluarga 
Berencana Indonesia) membuat modul soal reproduksi sehat. Hanya saja, 
lantaran belum ada kurikulum seks di sekolahan, dua lembaga ini mengambil 
inisiatif untuk memberikan penyadaran di sekolahan melalui diskusi-diskusi.

''Sayang, upaya pencegahan melalui pendidikan ini belum berhasil. Masih 
banyak yang menganggap tabu berbicara masalah seks kepada kalangan remaja. 
Soal seks hanya boleh dibicarakan pasangan suami istri di tempat tidur 
saja.''

Masalah telah terbuka di depan kita semua. Kita semua bertanggung jawab atas 
akibat buruk dari kecenderungan perilaku permisif. Pemerintah, orang tua, 
masyarakat, media massa (baik cetak maupun televisi) memiliki peran yang 
sama pentingnya. Mau dibawa ke mana remaja Indonesia

Republika Online edisi:
08 Aug 1999



______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Betawi Indonesian Web Directory - http://senayan.betawi.net/

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail   : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]
UNLIMITED POP3 Account @ http://www.indoglobal.com

Kirim email ke