Pemilu udah selesai, kekawatiran adanya bom mulai meluntur, buktinya mal-mal
yang sempet sedikit sepi, sekarang sudah kembali ramai lagi. Para peronda
sudah beraktivitas seperti biasa. Tapi pos ronda ternyata masih sepi. Engkoh
Acing, Kang Bolot, Lik Bayan, Mas Hansip, dan para peronda lain yang kerap
meramaikan pos belum nongol juga.

Mbakyu Tien dan Yu Jum yang biasa mengirim jajan pasar pun sebetulnya tak
pernah absen menyetor. Tapi jajanan mereka sering masih utuh sampai pagi,
nyaris tak ada yang menyentuh. Ada apa gerangan?

Pak RT pusing sembilan keliling memikirkan nasib pos yang kian merana.
Jangan-jangan para peronda sedang sakit? Jangan-jangan mereka sudah pindah
rumah? Jangan-jangan …. Ah, mustahil. Kalau pindah kan mestinya mereka
memberi tahu.

“Mas Bayan, apa sampean tahu, anak-anak itu ke mana saja sih kok sudah lama
ndak nongkrong di pos? Apa mereka sakit?”

“Wah, embuh, Pak RT. Saya juga sudah lama tak bertemu. Tapi saya masih
sering melihat mereka kok. Tadi pagi saya juga masih melihat kang Marto
arumanis berangkat kerja naik sepeda bututnya itu. Mungkin mereka sibuk,
ndak sempat ke sini.”

“Oh, gitu ya. Saya cuma khawatir saja. Ya sudah. Mungkin mereka memang
sibuk. Moga-moga mereka masih mau ke sini lagi ya. Saya kangen je.”

“Iya Pak RT. Saya juga kangen.”

Dan Pak RT pun pulang ke rumah dengan hati gundah. Dalam hati ia
bertanya-tanya, kapan ya pos ronda ramai lagi….

Kirim email ke