innalillahi waina illaihi rojiun.....
 
bpk ws.rendra
 
moga amal ibadahnya ditrima ALLAH SWT
amin.
 
matursuwun-monggo

--- On Thu, 8/6/09, parsidi <[email protected]> wrote:


From: parsidi <[email protected]>
Subject: [madiunClub] WS Rendra 'Si Burung Merak' yang Vokal
To: [email protected]
Date: Thursday, August 6, 2009, 8:28 PM


  





Jakarta - Penyair ternama WS Rendra meninggal dunia pada usia 74 tahun di RS 
Mitra Keluarga, Depok, Jawa Barat, Kamis (7/8/2009) malam sekitar pukul 22.00 
WIB. Pria bernama lengkap Wahyu Sulaiman Rendra ini meninggalkan 10 orang anak 
dari 3 pernikahannya.

Rendra selama ini dikenal sebagai penyair bersuara lantang yang mahir memainkan 
irama serta tempo. Ia juga handal membakar emosi penonton. 

Pria yang akrab dipanggil Willy ini mencurahkan sebagian besar hidupnya dalam 
dunia sastra dan teater. Menggubah sajak maupun membacakannya, menulis naskah 
drama sekaligus melakoninya sendiri, dikuasainya dengan sangat matang. Sajak, 
puisi, maupun drama hasil karyanya sudah melegenda di kalangan pecinta seni 
sastra dan teater di dalam negeri, bahkan di luar negeri.

Ia bukanlah penyair biasa. Sajak dan puisinya tidak sedikit berisi nada protes. 
Tak heran ia dikenal sebagai penyair yang kritis terhadap pemerintah. 
Karya-karyanya yang berbau protes pada masa aksi para mahasiswa sangat aktif di 
tahun 1978, membuat suami Ken Zuraida ini pernah ditahan oleh pemerintah 
berkuasa saat itu. 

Tidak hanya sajak dan puisi yang sering mengalami tekanan kekuasaan, dramanya 
yang terkenal berjudul SEKDA dan Mastodon dan Burung Kondor juga pernah 
dilarang untuk dipentaskan di Taman Ismail Marzuki. Di samping karya berbau 
protes, dramawan kelahiran Solo, 7 Nopember 1935, ini juga sering menulis karya 
sastra yang menyuarakan kehidupan kelas bawah seperti puisinya yang berjudul 
'Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta' dan puisi 'Pesan Pencopet Kepada 
Pacarnya'.

Kepiawaian Rendra dalam membacakan syair maupun berteater bukan sesuatu yang 
gratis dari langit. Kemampuannya sudah dimulai diasah sejak ia kuliah di 
Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada. Rendra dikenal giat 
menulis cerpen dan essai di berbagai majalah sepeprti Mimbar Indonesia, Basis, 
Budaya Jaya, Siasat.

Selain memiliki bakat, ia terus mengelaborasi kemampuannya dalam dunia seni 
dengan menimba ilmu di American Academy of Dramatical Art, New York, USA. 
Sekembalinya dari Amerika pda tahun 1967, pria tinggi besar berambut gondrong 
ini mendirikan bengkel teater di Yogyakarta. Tak lama bengkel teater tersebut 
ia pindahkan ke Citayam, Cipayung, Depok, Jawa Barat.

Karena karya-karyanya yang begitu gemilang, Rendra beberapa kali pernah tampil 
di acara berskala Internasional . Sajaknya yang berjudul 'Mencari Bapak', 
pernah dibacakannya pada acara Peringatan Hari Ulang Tahun ke 118 Mahatma 
Gandhi pada tanggal 2 Oktober 1987, di depan para undangan The Gandhi Memorial 
International School Jakarta. Ia juga pernah ikut serta dalam acara penutupan 
Festival Ampel Internasional 2004 yang berlangsung di halaman Masjid Al Akbar, 
Surabaya, Jawa Timur, Selasa, 22 Juli 2004.

Kini, 'Si Burung Merak' itu telah terbang selamanya meninggalkan kita. Selamat 
Jalan Willy. Semoga tenang disisi-Nya.
(ape/mok)
 


.


















      

Kirim email ke