hehehheeh kalo singkong emang lampung dah dari dulu terkenal mas ... lampung 
emang sentranya tepung tapioka

 Best Regrads
Bagoes




________________________________
From: "[email protected]" <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Mon, May 24, 2010 2:41:05 PM
Subject: Re: Bls: Bls: Bls: [MANCiNGiKANMaS]karya anak bangsa, menghemat bahan 
bakar fosil (Ke Khawatiran)

  
Ntah bener atu tidak sekarang di lampung berdiri banyak  pabrik pengolahan 
singkong, dan harga singkong di sana manjadi melambung, yang jelas sangat 
menguntungkan petani, termasuk saudra sy disana sekarang byk yg jadi milyader 
gara2 singkong 
Powered by Telkomsel BlackBerry® 

-----Original Message----- 
From: Bagoes <[email protected]> 
Sender: [email protected] 
Date: Mon, 24 May 2010 00:35:19 
To: <[email protected]> 
Reply-To: [email protected] 
Subject: Re: Bls: Bls: Bls: [MANCiNGiKANMaS]karya anak bangsa, menghemat bahan 
bakar fosil (Ke Khawatiran) 

ehheehhehhheh dulu waktu gua masih di konsultan pernah buat studi kelayakan 
proyek beginian ... tenaga ahli gua pake temen temen dari LIPI .... untuk 
produksi masal lebih besar dari investasi BBM sekarang dan biaya produksi juga 
belum bisa ekonomis ... kalo masalah lahan belunm begitu menjadi masalah ... 
masih ada 1 juta hektar yg dulu jaman suharto sudah di bersihkan tetapi belum 
dimanfaatkan ... dan lahan lain yg masih banyak ... 

Best Regrads 
Bagoes 




________________________________ 
From: mas bei <[email protected]> 
To: [email protected] 
Sent: Mon, May 24, 2010 2:13:17 PM 
Subject: Bls: Bls: Bls: [MANCiNGiKANMaS]karya anak bangsa, menghemat bahan 
bakar fosil (Ke Khawatiran) 


logika saya, jika biaya produksi per kilo 1000 perak, maka jika di produksi 
masal harusnya akan lebih efisien. untuk menghasilkan 1 juta liter biopremium, 
maka di butuhkan 4 juta kilogram singkong basah atau setara dengan 4000 ton, 
nah untuk kebutuhan kontinyu maka harus membuka lahan lagi, kalo membuka lahan 
tetep ada yg di korbankan, bisa produksi pertanian bisa juga hutan. 
sami mawon ya mas? dah naik kuda aja! 





________________________________ 
Dari: Bagoes <[email protected]> 
Kepada: [email protected] 
Terkirim: Sen, 24 Mei, 2010 13:55:01 
Judul: Re: Bls: Bls: [MANCiNGiKANMaS]karya anak bangsa, menghemat bahan bakar 
fosil (Ke Khawatiran) 


Masalahnya untuk produksi masal bagaimana ???? sepertinya teknologi ini dah 
lama gua denger ... tapi pabriknya ngga pernah ada ada ... jangan jangan untuk 
produksi masal biayanya nutup. 

Best Regrads 
Bagoes 




________________________________ 
From: M J Sanusi <[email protected]> 
To: [email protected] 
Sent: Mon, May 24, 2010 1:52:01 PM 
Subject: RE: Bls: Bls: [MANCiNGiKANMaS]karya anak bangsa, menghemat bahan bakar 
fosil (Ke Khawatiran) 


Bilamana hal ini sudah berjalan secara umum, maka perusahaan 
seperti yang saya tempatkan sekarang akan melorot 
Karya anak bangsa ini, suatu trobosan bagi dunia industry otomotif 
dimana kekhawatiran akan bahan bakar fosil yang cenderung mulai habis dapat 
tergantikan 

“SALUT dengan yang menciptakan/ mengembangkan hal ini” 



Melaju, Mobil 
Berbahan Bakar Singkong 
click to 
enlarge 
JAKARTA, KOMPAS.com —Komisi Nasional 
Masyarakat Indonesia (KNMI) bekerja sama dengan PT Energy Karya Madani berhasil 
menciptakan bioetanol yang kemudian disebut Biopremium ramah lingkungan. 
Uniknya, bahan bakar pengganti bensin tersebut diolah dari tanaman singkong. 

"Kami sudah uji coba ke 1.200 kendaraan selama beberapa bulan terakhir dan 
tidak ada kerusakan mesin, baik-baik saja," ujar sang penemu yang juga 
Dirut PT Energy Karya Madani S Adibrata, Senin (24/5/2010) di Jakarta. 

Menurut Kepala Bidang Ekonomi KNMI Endy Priyatna, kelebihan dari etanol 
berbahan singkong ini adalah kandungan alkohol atau etil etanolnya bisa 
mencapai 96 persen, bahkan bisa ditingkatkan hingga 99 persen. "Bisa 
dibandingkan dengan rata-rata kandungan alkohol pada bahan bakar yang ada 
sekarang, yang hanya sekitar 70 persen," ungkapnya kepada para wartawan. 

Meski dinamakan Biopremium, kualitas bioetanol ini setaraf dengan pertamax 
keluaran Pertamina. Hal ini sudah diuji pada mobil-mobil mewah yang memiliki cc 
besar. "Kemarin sudah juga dilakukan test drive dari Jakarta ke 
Subang dengan jarak sekitar 200 km, dan tidak ada masalah," ujar Endy. 

Selain kualitas yang tak kalah baik dengan yang dihasilkan bensin dari bahan 
bakar fosil, biopremium ini juga dinilai ekonomis. Menurut Endy, untuk 
menghasilkan satu liter etanol diperlukan enam kilogram singkong. 

Harga singkong Rp 400 per kilogram. Itu berarti, satu liter etanol hanya 
menghabiskan Rp 2.400 ditambah ongkos produksi Rp 1.000. Total harga satu liter 
etanol singkong menjadi Rp 3.400. Harga ini jauh lebih murah dengan yang ada di 
pasaran. 

Adapun siang ini sekitar pukul 11.00, tujuh mobil berbendera KNMI dilepas dari 
Sekretariat KNMI di Jalan Tebet Utara III menuju Surabaya. Ketujuh mobil 
tersebut sudah berbahan bakar singkong dengan persentase kandungan etanol dari 
25 hingga 100 persen. 

Perjalanan ini selain ditujukan untuk mengetes kemampuan Biopremium tersebut 
pada perjalanan jarak jauh, juga untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat 
tentang sumber daya alternatif ini. 




 


      

Kirim email ke