Coba ciptain dong umpan pancing pake singkong yang ma'nyus... supaya ga boncos 
terus

--- On Mon, 5/24/10, Mustika J Sanusi <[email protected]> wrote:

From: Mustika J Sanusi <[email protected]>
Subject: Re: Bls: Bls: Bls: [MANCiNGiKANMaS]karya anak bangsa, menghemat bahan 
bakar fosil (Ke Khawatiran)
To: [email protected]
Date: Monday, May 24, 2010, 7:50 AM







 



  


    
      
      
      














Sebenernya sdh lama singkong jd komediti bahan bakar tp saat ini baru sampai ke 
pembuatan OKTAN bukan konsumsi langsung

OKTAN dibutuhkan utk pembakaran pada bahan bakar dimana hasil pengolahan kilang 
BELUM ada Oktannya

Skrg sdh ada 2 BIOFUEL yakni :
1. Minyak sawit
2. Singkong
Sebentar lagi akan muncul Minyak Jarak tp msh kendala dibahan baku

Perhatikan, hampir disetiap pomp bensin skrg bertuliskan BIOFUEL jadi pemakaian 
bahan bakar fosil sdh mulai menghilang dan nantinya hanya sebagai komoditi 
export

Sent from Albert Einstain Berry®From:  umpan_...@yahoo. co.id
Sender:  mancing_ikan@ yahoogroups. com
Date: Mon, 24 May 2010 07:41:05 +0000To: <mancing_ikan@ yahoogroups. 
com>ReplyTo:  mancing_ikan@ yahoogroups. com
Subject: Re: Bls: Bls: Bls: [MANCiNGiKANMaS] karya anak bangsa, menghemat bahan 
bakar fosil (Ke Khawatiran)

 



    
      
      
      Ntah bener atu tidak sekarang di lampung berdiri banyak  pabrik 
pengolahan singkong, dan harga singkong di sana manjadi melambung, yang jelas 
sangat menguntungkan petani, termasuk saudra sy disana sekarang byk yg jadi 
milyader gara2 singkong 


Powered by Telkomsel BlackBerry®





-----Original Message-----


From: Bagoes <must_bagoes2003@ yahoo.com>


Sender: mancing_ikan@ yahoogroups. com


Date: Mon, 24 May 2010 00:35:19 


To: <mancing_ikan@ yahoogroups. com>


Reply-To: mancing_ikan@ yahoogroups. com


Subject: Re: Bls: Bls: Bls: [MANCiNGiKANMaS] karya anak bangsa, menghemat bahan 
bakar fosil (Ke Khawatiran)





ehheehhehhheh dulu waktu gua masih di konsultan pernah buat studi kelayakan 
proyek beginian ... tenaga ahli gua pake temen temen dari LIPI .... untuk 
produksi masal lebih besar dari investasi BBM sekarang dan biaya produksi juga 
belum bisa ekonomis ... kalo masalah lahan belunm begitu menjadi masalah ... 
masih ada 1 juta hektar yg dulu jaman suharto sudah di bersihkan tetapi belum 
dimanfaatkan ... dan lahan lain yg masih banyak ...





 Best Regrads


Bagoes














____________ _________ _________ __


From: mas bei <masbei...@yahoo. co.id>


To: mancing_ikan@ yahoogroups. com


Sent: Mon, May 24, 2010 2:13:17 PM


Subject: Bls: Bls: Bls: [MANCiNGiKANMaS] karya anak bangsa, menghemat bahan 
bakar fosil (Ke Khawatiran)








logika saya, jika biaya produksi per kilo 1000 perak, maka jika di produksi 
masal harusnya akan lebih efisien. untuk menghasilkan 1 juta liter biopremium, 
maka di butuhkan 4 juta kilogram singkong basah atau setara dengan 4000 ton, 
nah untuk kebutuhan kontinyu maka harus membuka lahan lagi, kalo membuka lahan 
tetep ada yg di korbankan, bisa produksi pertanian bisa juga hutan.


sami mawon ya mas? dah naik kuda aja!

















____________ _________ _________ __


Dari: Bagoes <must_bagoes2003@ yahoo.com>


Kepada: mancing_ikan@ yahoogroups. com


Terkirim: Sen, 24 Mei, 2010 13:55:01


Judul: Re: Bls: Bls: [MANCiNGiKANMaS] karya anak bangsa, menghemat bahan bakar 
fosil (Ke Khawatiran)








Masalahnya untuk produksi masal bagaimana ???? sepertinya teknologi ini dah 
lama gua denger ... tapi pabriknya ngga pernah ada ada ... jangan jangan untuk 
produksi masal biayanya nutup.





 Best Regrads


Bagoes














____________ _________ _________ __


From: M J Sanusi <san...@amamesin. com>


To: mancing_ikan@ yahoogroups. com


Sent: Mon, May 24, 2010 1:52:01 PM


Subject: RE: Bls: Bls: [MANCiNGiKANMaS] karya anak bangsa, menghemat bahan 
bakar fosil (Ke Khawatiran)





  


Bilamana hal ini sudah berjalan secara umum, maka perusahaan


seperti yang saya tempatkan sekarang akan melorot


Karya anak bangsa ini, suatu trobosan bagi dunia industry otomotif


dimana kekhawatiran akan bahan bakar fosil yang cenderung mulai habis dapat


tergantikan


 


“SALUT dengan yang menciptakan/ mengembangkan hal ini”


 


 


 


Melaju, Mobil


Berbahan Bakar Singkong


click to


enlarge 


JAKARTA, KOMPAS.com —Komisi Nasional


Masyarakat Indonesia (KNMI) bekerja sama dengan PT Energy Karya Madani berhasil


menciptakan bioetanol yang kemudian disebut Biopremium ramah lingkungan.


Uniknya, bahan bakar pengganti bensin tersebut diolah dari tanaman singkong.





"Kami sudah uji coba ke 1.200 kendaraan selama beberapa bulan terakhir dan


tidak ada kerusakan mesin, baik-baik saja," ujar sang penemu yang juga


Dirut PT Energy Karya Madani S Adibrata, Senin (24/5/2010) di Jakarta.





Menurut Kepala Bidang Ekonomi KNMI Endy Priyatna, kelebihan dari etanol


berbahan singkong ini adalah kandungan alkohol atau etil etanolnya bisa


mencapai 96 persen, bahkan bisa ditingkatkan hingga 99 persen. "Bisa


dibandingkan dengan rata-rata kandungan alkohol pada bahan bakar yang ada


sekarang, yang hanya sekitar 70 persen," ungkapnya kepada para wartawan.





Meski dinamakan Biopremium, kualitas bioetanol ini setaraf dengan pertamax


keluaran Pertamina. Hal ini sudah diuji pada mobil-mobil mewah yang memiliki cc


besar. "Kemarin sudah juga dilakukan test drive dari Jakarta ke


Subang dengan jarak sekitar 200 km, dan tidak ada masalah," ujar Endy.





Selain kualitas yang tak kalah baik dengan yang dihasilkan bensin dari bahan


bakar fosil, biopremium ini juga dinilai ekonomis. Menurut Endy, untuk


menghasilkan satu liter etanol diperlukan enam kilogram singkong.





Harga singkong Rp 400 per kilogram. Itu berarti, satu liter etanol hanya


menghabiskan Rp 2.400 ditambah ongkos produksi Rp 1.000. Total harga satu liter


etanol singkong menjadi Rp 3.400. Harga ini jauh lebih murah dengan yang ada di


pasaran.





Adapun siang ini sekitar pukul 11.00, tujuh mobil berbendera KNMI dilepas dari


Sekretariat KNMI di Jalan Tebet Utara III menuju Surabaya. Ketujuh mobil


tersebut sudah berbahan bakar singkong dengan persentase kandungan etanol dari


25 hingga 100 persen.





Perjalanan ini selain ditujukan untuk mengetes kemampuan Biopremium tersebut


pada perjalanan jarak jauh, juga untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat


tentang sumber daya alternatif ini.








      




    
     

    










    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke