Komentar saya :
Hidup bermasyarakat yang sehat memang mensyaratkan setiap unsur berkarya
sebaik mungkin, tanpa terlalu peduli apakah unsur lain berperan-rajin atau
tidak (jangan 'cemburu-sosial').
Dengan tekun bertahan dalam berkarya-baik begitu, lambat laun dapat
diharapkan masyarakatnya mulai tumbuh sesuai dengan etos karya itu. Lihat
Inggris yang pada abad ke 17 amat korup, tetapi lalu (memang juga dengan
munculnya tokoh seperti William Pitt) menjadi cukup bersih; dan Amerika
Serikat, yang setelah merajalelanya Wild West, sedikit demi sedikit
ditundukkan oleh hukum dan ketertiban dari Timur, dan setelah merdeka 120
tahunan, lambat laun menjadi lebih teratur. Mafia tetap ada, tetapi
demikian juga hukum dan ketertiban.
Maka sambil terus berkarya, berjuang sedapatnya ('berani mengubah yang
dapat diubah, berani menerima yang tidak dapat diubah, dan cukup jeli
membedakan keduanya'), penuh kepercayaan, harapan, dan kesabaran, kiranya
Allah beserta kita.
Kalau boleh berbagi sedikit pengalaman saya : Ketika saya th 1966 jadi
Sekretaris Himafi, lalu dipilih dalam rapat anggota (mungkin kuorumnya juga
tak sampai) menjadi senator MajPermusyMahasiswa (Himafi boleh mengutus dua
orang, rasanya), lalu memilih masuk Komisi Pendidikan, lalu dipilih jadi
ketuanya (karena yang hadir tinggal sekitar 7 orang), maka saya sempat
mengundang sekitar 5 rapat, sebelum libur semester lalu habis masa jabatan
senatornya. Yang saya peroleh adalah pengalaman 'turunnya minat hadir
kebanyakan orang secara berangsur', 'tetap bersemangatnya beberapa orang
seperti Wimar (Ketua MPM), Sarwono Kusumaatmadja (Ketua Komisi Organisasi),
Rachmat Witular (Ketua DM)', dan 'mengenali berbagai perangai dan tabiat
aktivis'. Ini semua kemudian bermanfaat bagi saya, dalam melintasi hidup
dan tugas. Jadi : keterlibatan tidaklah mubazir, asal dikerjakan dengan
tekun dan direfleksikan moral/pelajarannya. Jadi : jangan rela kecewa,
jangan sinis, tetap terbuka terhadap pandangan berbeda, dan tidak berhenti
berusaha.
Salam, A Rusli 31 Des 98
At 08:39 AM 12/31/98 +0700, you wrote:
>(sambungan dari yg pertama.....)
>
>Namun, ternyata kerja presiden dan kabinet lambatnya bukan main (lebih lambat
>dari mobil yg sedang mengalami kemacetan).
>
>Sementara negara2 lain, yg juga merasakan adanya kekuatan gaib, sudah
bergerak
>menyatakan perang terhadap kekuatan gaib, presiden negara ini masih sibuk
mencari
>dan merekrut orang2 agar mau (dan sudi) duduk di kabinet rancangannya.
>
>Tapi, toh, si presiden bergerak juga. Mereka segera mengumumkan kesediaan
mereka
>untuk berperang dg kekuatan gaib. Tapi pengumuman mereka hanya ditanggapi
oleh
>sedikit penduduk. Kenapa bisa begitu ? (kata Ebiet G Ade) Tanyalah pada
rumput yg
>bergoyang��
>
>Kini, marilah tengok majelis perwakilan penduduk. Waaoooowww�..ternyata
mereka
>tidak kalah��kacaunya.
>
>Rapat2 paripurna yg diselenggarakan majelis dirasakan oleh penduduk tidak
jelas
>maksud dan tujuannya. Tidak ada sosialisasi terhadap apa2 yg telah dicapai
oleh
>majelis. Penduduk makin bingung, ketika tiba2 muncul pengumuman hasil2
rapat yg
>disebar melalui ibukota2 masing2 daerah.
>
>Menyaksikan hal ini, mulai muncul kelompok2 yg tidak puas. Pertama kali
sebuah
>daerah seni menyatakan ketidakpuasannya. Merekalah yg pertama kali mengadakan
>aksi untuk menarik perhatian dan membangunkan daerah lain (dan presiden serta
>kabinet dan majelis, yg sayangnya bangunnya kesiangan).
>
>Suara2 sumbang terhadap presiden, kabinet dan majelis mulai bermunculan.
>Sementara si presiden sempat koar2 di sebuah surat kabar terkenal, keadaan
>penduduknya malah terbengkalai. Sebuah ironi yang harus dihadapi��
>
>Dan kini, menjelang akhir tahun, presiden, kabinet dan majelis membisu lagi.
>Entah kenapa�. Apakah karena gak ada uang lagi untuk hidup ataukah karena
hendak
>menyongsong bulan Ramadhan ? Atau� atau�.atau�.
>
>Kebisuan mereka ternyata KETIDAK HADIRAN MEREKA dalam kantor mereka. Para
wakil
>penduduk yg seharusnya memperhatikan nasib penduduk (yg telah memilih
mereka),
>malah banyak yg tak hadir ketika sidang dan rapat paripurna diadakan.
Akibatnya,
>kuorum tidak tercapai dan keputusan2 penting tidak bisa dihasilkan (padahal
>wakil2 ini, katanya, orang2nya pinter2, lhoo�.)
>
>Sama halnya dengan kabinet. Efektivitas kerja yg sangat keciiiiiiil, demikian
>pula dengan efisiennya (padahal presidennya ahli mesin, yg jelas mengerti
>pengertian dan bagaimana efektivitas dan efisiensi itu berpengaruh
terhadap hasil
>yg didapat).
>
>Menteri2 kabinet dirasakan tidak memiliki kemampuan dan lambat dalam
bertindak.
>
>Apa penyebabnya ? Mari kita dengar wawancara berikut antara reporter kami
dengan
>presiden, seorang anggota kabinet dan anggota majelis.
>
>Wartawan (W) ; Bapak2 sekalian, saya hendak menanyakan mengapa Bapak2 nampak
>lambat bertindak ?
>
>Presiden (P) : Wah, apakah benar ? Sebenarnya saya sudah secepat mungkin
dalam
>bertindak. Barangkali karena kondisi alam gaib juga yg mempengaruhi jiwa saya
>sehingga gerakan saya nampak lambat.
>
>Anggota Kabinet (AK) : Kalo saya, karena banyak permasalahan di antara
anggota
>kabinet. Diantaranya tidak terjalinnya kerjasama yg baik di antara kami.
>
>Anggota Majelis (AM) : Kami kesulitan bergerak, karena banyak senator yg
TIDAK
>HADIR ketika hendak dilakukan rapat, padahal undangan sudah disebar dan
agenda
>sudah disiapkan.
>
>W : Akhir2 ini banyak orang berkata anda2 sekalian tidak pernah berada di
kantor
>anda masing2. Apa penyebabnya ?
>
>P : Wah, saya lagi nyelesein TA, nih !!
>
>AK : zzz�..
>
>AM : Saya lagi ngeceng penduduk baru, nih !!
>
>W : (dalam hati) KEPARAT kelean !!
>
>Wassalam,
>
>Haiyaaa...kamsia yah !
>Engkoh Fahmi t�a lah !
> UIN : 1660558
>
>
>