Bagus.
Mari kita masing-masing, guru resmi atau tidak resmi, memberi cercah-cercah
jernih optimis ke lingkungan kita, tanpa menjadi naif-simplistik mengira
bahwa belajar itu dapat dipaksakan dari luar. 
Semoga kita dapat membangkitkan semangat hidup merdeka kepada lingkungan
kita, tanpa memaksa seperti Allah juga tidak memaksa manusia.
Kiranya kemerdekaan dan perenungan serta keteladanan akan membuka mata
bahwa bekerja adalah mulia karena memuliakan manusia serta martabatnya
(lepas apakah dibayar atau tidak).

Salam,          A Rusli 28 Jan 99

At 12:57 AM 1/26/99 +0700, you wrote:
>Guru
>Goenawan Mohamad
>Catatan Pinggir 3, halaman 474 s/d 476
>
>       Seorang guru bisa punya jejak yang panjang. Hari itu, di ruang kuliah
kami yang tua, datang seorang dosen muda yang mengajar kami satu bagian
dari psikologi perkembangan. Dia kurus, pakaiannya putih-putih, tapi lebih
penting lagi: kalimat-kalimatnya ringan seperti tubuhnya dan terang seperti
bajunya. Ia mengutip Nietszche dan lain-lain tapi mahasiswa-mahasiswa
mengerti. Duapuluh tahun kemudian, saya, salah satu mahasiswa yang hadir,
masih ingat beberapa bagian kuliahnya, meskipun saya tak mencatat sepatah
kata pun di buku saya.
>       Dosen kurus berpakaian putih-putih itu bernama Fuad Hassan. Kini ia
menteri pendidikan dan kebudayaan. Saya tak tahu bagaimana kelak ia akan
dikenang sebagai seorang menteri dalam sejarah, tapi ia akan tetap saya
ingat sebagai seorang guru dari jenis yang mempunyai jejak panjang.
>       Guru jenis ini bisa menggugah minat. Ia bisa merangsang keasyikan
menalar, hingga kita pun jadi tekun menggunakan kapasitas pemikiran kita
untuk memecahkan soal. Ia menghidupkan generator dalam diri kita untuk
menjelajahi cakrawala pengetahuan - dan menjelajahi cakrawala adalah proses
yang tak habis-habisnya. Karena itu, jejaknya panjang.
>       Sayang, tak semua guru seperti Fuad Hassan. Saya ingat bagaimana dosen
ilmu embrio mengajar kami, di sebuah lab di fakultas kedokteran, di antara
mikroskop-mikroskop yang bengkok: ia mendikte tak putus-putusnya, atau
memberi diktat, dan sampai kuliah selesai saya tetap belum mengerti apa
yang dikatakan di sana. Untuk tiap tentamen, yang saya lakukan cuma
menghafal. Tapi semua tahu: menghafal hanyalah latihan ketekunan dan
stamina; tak ada hubungannya dengan pemahaman - sebab kita toh bisa
menghafal doa tanpa memahami isinya. Menghafal adalah cara yang susah payah
untuk mengoleksi informasi. Tapi dalam proses itu sesungguhnya kita tak
dilatih menggunakan informasi itu buat memecahkan persoalan.
>       Yang menakjubkan ialah di Indonesia pengajaran tampaknya memakai asas
susah payah yang seperti itu. Mungkin ini bermula dari kenangan kita
tentang nenek moyang yang belajar ngelmu di padepokan-padepokan, atau
ketika mereka mengaji di surau-surau. Susah payah dalam proses itu dianggap
sebagai kebajikan, bagian dari latihan diri yang perlu.
>       Tentu. Belajar tanpa susah payah adalah sebuah omong kosong. Suatu hari,
para pendidik Amerika Serikat terkejut. Dalam satu survei belum lama ini
tampak bahwa dua pertiga anak Amerika usia 17 tahun tak tahu bahwa Perang
Saudara terjadi antara 1650-1900. Dan ketika mereka harus memilih mana
hasil perkalian yang paling dekat dengan 3,04 X 5,3 - sebuah soal yang
gampang - cuma sepertiga yang anak-anak yang memilih 16. Lainnya menyangka
1,6 atau 160. 
>       Kesimpulan sebagian pendidik ialah bahwa anak-anak Amerika sudah
terlampau lama dibiarkan bersekolah dengan cara yang empuk: boleh pakai
kalkulator, tak usah mengingat fakta-fakta. Dan melihat bagaimana anak
mereka ketinggalan dari anak Jepang, orang Amerika pun tiba-tiba berpikir:
jangan-jangan banyak benarnya semangat keras pendidikan di negeri Asia itu,
yang konon cuma berdasar pada learning by rote, menghafal dan mengulang
kembali. Seorang pejabat tinggi Amerika di bidang pendidikan pun mulai
berkata: Kenapa anak Amerika tak dicekoki saja terus seperti anak Jepang?
>       Tapi benarkah anak Jepang hanya semacam disket komputer dan pita rekaman
- kelihatan piawai tetapi sebenarnya cuma sejenis mesin pengulang? Tidakkah
mereka unggul karena mereka terbiasa bekerja keras, dan bekerja keras itu
tak cuma buat mengoleksi informasi, tapi juga buat mengolahnya jadi bahan
untuk memecahkan persoalan?
>       Saya tak tahu. Yang saya tahu bila belajar berarti hanya mengumpulkan -
dan tidak mengolah - fakta dan data, hasilnya adalah seperti yang kini
tampak pada anak-anak di Indonesia. Mereka belum banyak berbeda dengan
nenek moyang mereka yang menghafal mantra. Mereka belajar olah raga dan
diharuskan ingat misalnya berapa meter panjang lapangan voli. Mereka
belajar bahasa Indonesia dan harus menghafal apa itu suara diftong dan
labial. Mereka belajar mengarang dan harus membaca buku Bapak Keraf yang
rumit. Mereka menghafal catatan Pendidikan Moral Pancasila dan Agama dan
akhirnya terbiasa menganggap bahwa soal moral dan agama adalah soal teks.
Mereka tahu hasil 2 + 2 = 4 tapi tak tahu mengapa 2 X 2 juga sama dengan 4.
>       Untunglah, di Hari Pendidikan, kita masih ingat ada guru-guru yang punya
jejak yang panjang.
>
>9 Mei 1987
>

Kirim email ke