Saran cukup baik. Dosen perlu cerdas (biasanya IP akan tinggi), cukup bijaksana (bukan sekedar patuh; berani membentukpendapat sendiri, tetapi juga perlu berani taat), berminat menjadi guru (berarti berempati kepada mahasiswa). Hal juga penting diingat : Menemukan calon dosen semacam itu tidak begitu mudah, karena gaji sulit dijanjikan segera terbit, harus cari rumah sendiri, dsb. Merelakan lowongan yang ada tetap lowong, demi menunggu calon ideal, merupakan langkah kurang bijak, menurut saya, dalam birokrasi yang masih kaku kini. Hidup nyata tidak mudah dijalankan secara idealis (kecuali kalau kita hidup sendiri dan cuma mengatur diri sendiri); di sini lalu kita perlu berkompromi dengan tetap jangan hilang arah yang benar; dan rela disalahpahami. Maka di samping mengingatkan semua pihak untuk terus berusaha sebaik mungkin tanpa sengaja subyektif-merugikan-kepentingan-umum, kita masing-masing sebaiknya tetap juga berintrospeksi diri dan mengingatkan diri dengan lebih ketat daripada mengingatkan orang lain. Mari kita bersama belajar mendalami fisika dan hidup. Salam, A Rusli 28 Jan 99 >Delivered-To: [EMAIL PROTECTED] >X-Mailer: Calypso Version 2.40.41.08 >Date: Tue, 26 Jan 1999 00:56:39 +0700 >From: "Andrianto Soekarnen" <[EMAIL PROTECTED]> >To: [EMAIL PROTECTED] >Subject: Re: [HIMAFI] Introspeksi Dosen >Sender: [EMAIL PROTECTED] >Reply-To: [EMAIL PROTECTED] > >25 Januari 1999 > >Saya punya usul lain untuk membuat mahasiswa rajin kuliah. Usul ini berdasarkan pengalaman dan rasanya lebih ampuh (dan lebih menyelesaikan persoalan) dibandingkan penerapan sistem absensi. > >Persoalan mahasiswa ITB tidak kuliah tidak terletak pada mahasiswanya melainkan pada kualitas dosennya. Mahasiswa ITB itu disaring secara ketat melalui UMPTN. Untuk lulus UMPTN seorang siswa perlu belajar keras. Tidak masuk akal kesimpulan yang menyatakan seorang siswa yang telah belajar keras agar bisa masuk ITB, ketika di ITB malah malas belajar. Dan saya lihat sendiri mahasiswa ITB itu sebenarnya punya keingintahuan dan tradisi belajar yang cukup baik. >Masalahnya dosen yang mengajar seringkali kurang menarik dan kurang inspirasi (kalau tidak mau dikatakan kualitasnya buruk).Untuk membuat mahasiswa rajin kuliah, diperlukan dosen yang betul-betul bisa mengajar dan penuh inspirasi. Dosen tersebut harus mampu menarik minat mahasiswanya, bukan untuk sekedar hadir di ruang kuliah saja, namun juga untuk lebih mendalami ilmu yang tengah diajarkan. Coba deh baca tulisan Goenawan Mohamad dalam kumpulan tulisan Catatan Pinggir III dengan judul "Guru" (halaman 474-476 ). Sebaiknya setiap dosen membaca tulisan tersebut sebagai bahan introspeksi diri! >Toh waktu saya kuliah dulu, matakuliah Gelombangnya Pak Tjia (misalnya) selalu dipenuhi mahasiswa meskipun tidak diberlakukan absensi maupun perjanjian di awal semester. Pak Tjia sangat pandai mengajar dan membangkitkan minat mahasiswa untuk belajar. Mahasiswa fisika kan itu-itu juga. Bagaimana bisa kuliah yang satu penuh sesak, sedangkan yang lain kosong melompong? Guru harus bisa menjadi sumber inspirasi. Dalam kata-kata Goenawan Mohamad guru yang demikian itu dinamakan guru yang mempunyai jejak yang panjang. Kalau sempat, coba simak kehebatan guru Keating dalam film Dead Poet Society karya Peter Weir. >Tentu jurusan (dan juga perguruan tinggi) harus benar-benar pandai memilih lulusan yang akan dijadikan dosen jurusan. Jangan memilih calon dosen hanya berdasarkan subjektivitas, nilai IP dan kepatuhan belaka. Banyak kakak angkatan saya yang berbakat tidak bisa jadi dosen karena dicap aktivis bengal oleh Rektorat dan Pejabat Jurusan karena terlibat peristiwa 5 Agustus 1989. Dan sekarang ini banyak adik kelas saya yang mengeluhkan kemampuan teman-teman generasi saya yang menjadi dosen. Mereka bilang dosen-dosen muda itu suka gugup dan ngajarnya nggak jelas. Tidak aneh jadinya apabila mereka menjadi malas kuliah. Masuk kuliah atau tidak toh tak ada bedanya. > >Akibat lebih lanjut dari pemilihan dosen yang tidak punya bakat, hanya bermodal IP saja dan "penurut", kita bicarakan pada kesempatan lain saja supaya teman-teman bisa mencerna yang satu ini dulu. >Jangan lupa untuk membaca dan menonton film yang saya sebutkan diatas. > >lemet > > >*********** REPLY SEPARATOR *********** > >A Rusli wrote: > >>Saya setuju bahwa dosen tidak patut menakut-nakuti mahasiswa dengan >>absensi, skorsing, DO. >>Masalahnya, rasa takut itu dapat muncul walau tak diitikadkan. Karena itu >>yang sedang 'berkuasa' (misalnya dosen, mahasiswa senior) perlu sering >>introspeksi, mengontrol nada suara, coba sering senyum ramah, dan yang >>menurut saya paling ampuh adalah 'belajar terus menerus mendengarkan pihak >>lain', misalnya dengan cara membaca hal di bawah ini dengan secermat >>mungkin, lalu coba menanggapi tulus (dengan ringkas, sedapatnya, agar agak >>tertangkap tanggapannya). Komunikasi yang lalu dapat terjadi, menumbuhkan >>lebih lanjut daya mendengarkan itu; dan selain itu, kalau kita berusaha, >>daya pemecahan masalah pun tumbuh. > >>Informasi sedikit : >>Aturan absensi menurut saya prinsipialnya tak perlu, karena mhs sudah >>dewasa, dan mestinya sadar manfaat berkuliah (yaitu dapat tanya jawab dan >>menemukan jalan yang tak mudah dibaca di buku teks). >>Akan tetapi yang saya temukan, cukup banyak mhs yang masih dapat tergoda >>untuk merasa 'kapan-kapan saja belajarnya, jadi kuliah tak penting'. Untuk >>membantu mhs sejenis itu mengatasi godaan-diri itulah, absensi lalu >>diberlakukan. >>Sebenarnya setiap awal semester, dosen dapat bersepakat dengan mhs, apakah >>masing-masing mau diperlakukan sebagai orang dewasa atau tidak. Himpunan >>dapat menjadi mediator juga, asal memang mampu memperhatikan kepentingan >>gelintir-gelintir minoritas di kalangan mahasiswa juga. > >>Skorsing merupakan tindakan keras, yang menurut saya perlu dimungkinkan >>pada komunitas yang sebesar ITB; untuk ukuran keluarga kecil tidak pantas. >>Ketika saya mengelola TPB dengan 2000an mhs, sudah mulai terasa perlunya >>keketatan pengelolaan, karena besarnya populasi. > >>DO aslinya bermakna 'keluar atas kehendak sendiri', tapi di kita jadi salah >>kaprah diartikan 'dikelaurkan oleh pimpinan ITB'. Ini serupa dengan >>skorsing : karena begitu banyak orang ingin studi di ITB, maka yang >>kepalang masuk perlu didorong segera lulus, jangan lambat-lambat; maka >>timbul aturan batas 1 th - 3 thn - 4 thn dan batas 7 thn. >>Bahwa dalam prakteknya ada pertimbangan, juga pantas, dengan mengusahakan >>kebijaksanaan yang selurus mungkin (bukan KKN). Peran himpunan mahasiswa >>sebagai mediator amat berguna di sini (bukan sama dengan pressure group >>politis). > >>Sudah panjang. Silakan dikomentari. Salam, A Rusli 18 Jan 99 > >>>Wah saya setuju banget, >>>Juga buat dosen-dosen, yang seringkali menakut-nakuti mahasiswanya untuk >>>masuk kuliah dengan absensi. >>>Tidak mendidik! Kalo dosen itu ngajarnya enak, pasti mahasiswa "yang >>>dewasa itu" akan masuk kuliah dengan sendirinya. >>>Tidak perlu ditakut-takuti lagi. >>>Apalagi kalo dosen itu menakut-nakuti mahasiswa dengan yang namanya >>>skorsing atau drop out segala! >>>Untung sudah reformasi ya. >>>Alhamdulillah mahasiswalah pelopor Reformasi di Indonesia. >>>Alhamdulillah > >>>lemet > > >>>>Pola serupa dapat diterapkan kepada mahasiswa baru FI; tanpa memaksa, tanpa >>>>intimidasi, sepenuhnya menghormati kemerdekaan pribadi. Sesuai dengan HAM >>>>dan reformasi. Lebih sulit, tetapi lebih layak bagi manusia dewasa. > >>>>Salam, A Rusli 15 Jan 99 >
