Kepada saudara Hardi Setiawan,

Sebelumnya, terima kasih atas komentar Anda. Sebagai salam perkenalan, nama
saya Erwin, Pemimpin Redaksi Majalah ParaHyangan saat ini.  Sebagai pemimpin
redaksi sebuah media kampus, saya sadar bahwa reaksi macam kritikan dan
masukan akan sangat sering muncul, terutama mengenai isi pemberitaan dari
media. Itu semua menunjukkan adanya perhatian yang besar dari mahasiswa akan
keberadaan dari Majalah ParaHyangan di Unpar.

Mengenai tulisan ParaHyangan Stop Press tentang Konser Amal Teknik Industri,
kami dari ParaHyangan hanya hendak memaparkan suatu kejadian tentang konser
amal. Sebagai acara yang diberi nama konser amal, maka jelas bahwa tujuan
utama dari panitia menyelenggarakan konser tersebut adalah menggalang dana
untuk tujuan amal. Dan dana tersebut hendak diraih panitia melalui penjualan
tiket konser. Namun, dalam kenyataannya, konser amal tersebut tidak
mendatangkan keuntungan. Padahal keuntungan dari konser tersebut hendak
digunakan untuk mendukung acara selanjutnya, yaitu Hari Amal. Otomatis,
panitia Hari Amal harus bekerja lebih keras lagi, guna mendapatkan dana
lebih untuk mensukseskan penyelenggaraan acara tersebut.

Kami tidak mengatakan bahwa kegiatan mahasiswa identik dengan badan usaha.
Itu semua bergantung dari tujuan kegiatan mahasiswa tersebut. Dan kebetulan,
untuk kegiatan mahasiswa yang kami liput kali ini, mungkin bisa dikatakan
sama/mirip dengan badan usaha, yaitu mencari keuntungan.

Namun, pendapat saya pribadi, apakah mahasiswa tidak boleh melakukan
kegiatan guna mencari keuntungan, untuk disumbangkan pada kegiatan amal?
Bagi saya, sah tidaknya kegiatan mahasiswa menjadi sama/mirip dengan badan
usaha, ditentukan oleh tujuan kegiatan, dan bukan hanya dari kesan menjurus
ke badan usaha-nya saja.

Mengenai minimnya laporan tentang jalannya acara itu sendiri, hal itu
semata-mata hanyalah karena sudut pandang yang hendak ditonjolkan oleh
penulis dalam beritanya. Agas, sang penulis (yang juga Mahasiswa TI'98 yang
terlibat pada panitia Hari Amal), mencoba memberikan sekilas gambaran akan
masalah yang ada dalam Konser Amal TI'99, yaitu masalah dana. Fokus besar
diberikan pada masalah tersebut, sehingga masalah pelaksanaan konser
tersebut sendiri akhirnya hanya diberikan pada paragraf awal. Dan hal itu,
memang sah-sah saja sebenarnya dalam jurnalistik, apabila sang penulis
memang hendak memberikan tekanan kuat pada topik tertentu.

Perlu juga diberitahukan bahwa Majalah ParaHyangan (sebagaimana kebanyakan
pers mahasiswa lainnya di Indonesia) bukanlah badan usaha profit. Tidak ada
satupun anggota ParaHyangan yang mendapat keuntungan finansial akibat
keikutsertaannya dalam geliat jurnalistik kampus di Unpar.

Sekali lagi, terima kasih atas komentar dan kritik Anda.

Salam,
Erwin
Pemimpin Redaksi Majalah ParaHyangan
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]


-----Original Message-----
From: Hardi Setiawan <[EMAIL PROTECTED]>
To: ParaHyangan Stop Press <[EMAIL PROTECTED]>; Parahyangan
<[EMAIL PROTECTED]>; Arsitek Unpar
<[EMAIL PROTECTED]>; Fisip Unpar <[EMAIL PROTECTED]>; FTI
Unpar <[EMAIL PROTECTED]>; Kampus Unpar <[EMAIL PROTECTED]>;
Matematika Unpar <[EMAIL PROTECTED]>; Sipil Unpar
<[EMAIL PROTECTED]>
Cc: TI Unpar'95 - List <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wednesday, March 10, 1999 11:22 PM
Subject: [KAMPUS] Re: Konser Amal Teknik Industri, 28 Februari 1999


>KEGIATAN MAHASISWA = BADAN USAHA ?
>
>Membaca tulisan anda, saya merasa bahwa sekarang ini yang namanya kegiatan
>mahasiswa telah menjelma menjadi badan usaha yang harus selalu mendatangkan
>keuntungan. Saya tidak tahu apakah paradigma seperti ini yang telah
>tertanam di benak setiap aktivis mahasiswa atau hanya di redaktur Majalah
>Parahyangan saja (tentunya kemungkinan terakhir yang saya harapkan).
>
>Menurut saya kegiatan mahasiswa mulai dari lingkup Himpunan, Senat sampai
>Unit Kegiatan Mahasiswa adalah suatu wadah untuk mahasiswa berkreasi,
>berorganisasi dan bersosialisasi.
>
>Semasa saya aktif di lingkungan kampus, tekanan-tekanan yang saya rasakan
>sewaktu melaksanakan suatu kegiatan adalah bagaimana agar kegiatan itu
>dapat berjalan dengan baik, tidak ada kekacauan, dapat memuaskan semua
>pihak yang terlibat dan tentunya tidak meninggalkan hutang pada pihak luar.
>Tapi tidak pernah sekalipun saya merasakan adanya suatu keharusan dari
>pihak universitas bahwa kegiatan ini harus mendatangkan laba sekian persen
>atau sekian rupiah.
>
>Sepertinya kita semua tahu bahwa setiap tahun Himpunan, Senat dan juga UKM
>selalu mendapatkan jatah dana dari pos Dana Kegiatan Mahasiswa dan diakhir
>tahun nanti tidak ada kewajiban dari mereka untuk mengembalikan dana
>tersebut ditambah profit, paling-paling hanya Laporan Pertanggung-jawaban.
>Dana Kegiatan Mahasiswa adalah dana untuk membiayai mahasiswa belajar
>berorganisasi dan bersosialisasi tentunya untuk mewujudkan Tri Dharma
>Perguruan Tinggi dan BUKANNYA DANA PINJAMAN UNTUK MAHASISWA BELAJAR DAGANG.
>Paling tidak DAGANG tidak termasuk dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi.
>
>Buat Majalah Parahyangan, cara anda menulis laporan tentang Konser Amal TI
>terkesan seperti laporan tentang sebuah perusahaan yang bangkrut karena
>salah dalam menerapkan program marketingnya. Yang saya tangkap adalah
>bagaimana Saudara Agas dengan tangkas menganalisa konser tersebut layaknya
>Hermawan Kertajaya menganalisa aspek-aspek marketing suatu produk di
>majalah SWA. Tapi tidak ada sedikitpun laporan tentang jalannya acara,
>keamanan selama acara, persiapan panitia atau tanggapan dari si pengisi
>acara.
>
>Saya sangat menyayangkan bahwa Majalah Parahyangan dengan disadari atau
>tidak telah menyebarkan virus paradigma KEGIATAN MAHASISWA = BADAN USAHA
>kepada mahasiswa lain melalui pemberitaan tersebut.
>
>Salam,
>
>Hardi
>eks 4192146
>
>
>P.S.
>Apakah Majalah Parahyangan sekarang telah berubah menjadi badan usaha yang
>profit? Harusnya anda sudah tidak lagi menerima jatah DKM dan tentunya ada
>uang sewa ruang yang harus disetor ke pihak Universitas.
>Buat Saudara Agas yang lugas, saya rasa anda bisa mulai mencoba membuka
>kolom "Konsultasi Pemasaran" tentunya untuk mensejajarkan diri anda dengan
>jagoan pemasaran lainnya.
>
>===========================================================================
>> Konser Amal Teknik Industri'99, 28 Februari 1999
>> Tuntutan Sang "Burung Gereja"
>>
>===========================================================================
>>
>===========================================================================
>> "Waaaaaa!!!" Eldorado Dome dihiasi teriakan histeris semenjak Nugie
>> menanggalkan kaosnya. Suasana menjadi heboh tatkala Nugie turun ke bawah
>> panggung, menaiki pagar pemisah antara dia dengan penonton di hadapannya.
>> Suaranya menggaung keras dengan alunan lagu "Burung Gereja"-nya yang
>> terkenal. Di atas pagar pembatas itu, Nugie mulai dikerubuti fans yang
>> berusaha menariknya. Pembauran antara hentakan lagu, cucuran keringat,
>dan
>> orang yang melompat-lompat menjadi hidangan utama pada acara Konser Amal
>> Teknik Industri (TI)'99 yang digelar 28 Februari lalu. Namun, masalah
>timbul
>> di balik keceriaan malam tersebut.
>>
>===========================================================================
>>
>> Beberapa minggu sebelum konser, tiket sudah mulai dijual. Publikasi
>> besar-besaran dilakukan. Papan besar di BIP, spanduk di depan Aquarius
>> Bandung, serta penyebaran pamflet di mana-mana menjadi kehebatan
>publikasi
>> konser amal tersebut. Tetapi nampaknya semua ini tidaklah bisa memberi
>> kenyataan indah. Seluruh panitia mendapat goncangan hebat 4 hari sebelum
>> pelaksanaan, ketika mengetahui bahwa tiket yang terjual baru sekitar
>150-an
>> saja. Dari rencana semula penjualan 3000 tiket, hanya sekitar 5% saja
>yang
>> laku saat itu. Rumor segera merebak bahwa bila dana untuk konser tidak
>> didapat, seluruh panitia akan menanggung beban per orang sekitar empat
>ratus
>> ribu rupiah.
>>
>> Untuk mempercepat lakunya tiket, para panitia yang tak mau tekor
>melakukan
>> berbagai pengurangan harga dan pemberian bonus. Langkah pertama adalah
>> dengan bonus satu tiket untuk pembelian sepuluh tiket, yang disusul
>dengan
>> penurunan hingga lima tiket. Hal itu didukung dengan penurunan harga
>tiket
>> yang semula Rp 20.000,- menjadi Rp 15.000,- bahkan Rp 10.000,-. Usaha ini
>> cukup berhasil, namun jumlah pengunjung tetap tidak mencapai target yang
>> ditentukan (hanya sekitar 1000-an pengunjung). Kemungkinan terburuk dari
>> kerugian tersebut adalah, tiap panitia harus "nombok" sekitar dua ratus
>ribu
>> rupiah.
>>
>> Beragam pendapat muncul mengenai tidak lakunya tiket konser ini. Penyebab
>> utama yang paling banyak diungkapkan adalah pemilihan penyanyi/band yang
>> salah. Nugie, Warna, Base Jam, dan Nayaga dinilai bukanlah penyanyi/band
>> yang memiliki banyak penggemar. Lain halnya bila panitia memilih
>band-band
>> seperti Slank, Dewa 19, dan GIGI. Ini sangat terlihat pada saat jumpa
>fans
>> Nugie di Arby's, 27 Maret 1999 lalu. Memang, ada beberapa orang yang
>menjadi
>> fans berat Nugie. Namun, secara keseluruhan Arby's hanya terisi oleh
>panitia
>> dan sebagian besar mahasiswa TI.
>>
>> Dan ternyata kebetulan pula event konser ini berdekatan harinya dengan
>> pagelaran musik lainnya, yaitu Slank. Ada diantara penjual tiket yang
>geram
>> karena remaja-remaja yang ditawari justru menanyakan tentang konser
>Slank.
>>
>> Masalah tempat pun menjadi salah satu dari sekian pendapat mengapa konser
>> kali ini gagalnya penjualan tiket. Eldorado Dome dinilai terlalu jauh dan
>> mewah di mata sebagian pemberi pendapat.
>>
>> Banyak juga pendapat akan pelaksanaan konser dalam suasana yang tidak
>tepat.
>> Istilah seperti "Nggak punya duit, euy!" atau "Sorry, mahal!" banyak
>> didengar para penjual tiket. Situasi krisis moneter menjadi salah satu
>batu
>> sandungan. Seorang mahasiswa TI mengatakan bahwa untuk beramal seharusnya
>> bisa dengan cara lain. Pengadaan konser amal macam ini dinilainya terlalu
>> mewah dan glamour sehingga justru mengaburkan unsur amalnya.
>>
>> Protes seorang nenek pun turut mewarnai konser ini. Satu hari, seorang
>nenek
>> datang berminat membeli karcis. Mulanya, penjual tiket tertegun, merasa
>aneh
>> melihat seorang manula hendak melihat Base Jam ataupun Nugie. Ternyata,
>> nenek itu salah persepsi. Nenek tersebut mengira konser ini serupa dengan
>> konser-konser klasik jaman 60-an. Akhirnya, sang nenek memprotes, bahwa
>> seharusnya judulnya jangan konser melainkan band, terlepas dari arti
>konser
>> itu sendiri yang sebenarnya adalah pertunjukan musik.
>>
>> Kendala-kendala tersebut menyebabkan panitia mengalami kerugian.
>Parahnya,
>> acara konser amal ini memiliki terusan, yaitu Hari Amal. Kerugian konser
>> menyebabkan panitia Hari Amal sangat kekurangan dana. Ironisnya, acara
>Hari
>> Amal mau tak mau harus diadakan. Selain pertanggungjawaban kegiatan,
>> tuntutan artis pun menjadi pertimbangan. Hal ini diakibatkan biaya artis
>> pendukung konser yang telah berhasil ditekan sedemikian rupa dengan
>alasan
>> amal. Bila Hari Amal tidak berjalan, maka ada kemungkinan artis pendukung
>> akan memprotes serta menuntut. Oleh karenanya, panitia mencoba mencari
>> dananya sendiri melalui kegiatan Garage Sale dan Car Wash. Walau hasilnya
>> tak dapat terlalu diharapkan, mereka tetap mencoba mengadakan acara
>> tersebut. Mereka tak mau penyanyi "Burung Gereja" menuntut mereka.
>Berhasil
>> atau tidaknya, lihat saja tanggal 14 Maret nanti. (agas)
>>
>
>============== MILIS KAMPUS UNPAR ===================================
>Untuk [un]subscribe, kirimkan mail ke [EMAIL PROTECTED]
>dengan isi "subscribe kampus" atau "unsubscribe kampus".
>=====================================================================

Kirim email ke