Rekan yth, 29 Mar 99 Mendengar diskusi di Ruang 1201 FI pk 11 - 12 tadi pagi, dengan prof Samaun Samadikun, EL ITB yang pernah Ketua LIPI dan kini anggota Dewan Riset Nasional komisi Industrialisasi, ingin saya komentarkan : 1) Boleh juga gagasan yang berkembang di EL, agar ITB mendefinisikan dirinya bukan lembaga pendidikan SAJA, melainkan lebih suatu lembaga ilmu dan teknologi, yang juga melaksanakan kegiatan pendidikan, penelitian, pengabdian. Di samping merupakan langkah cerdik (maunya) untuk dapat mengakses dana MenRisTek yang selama ini hanya dipakai LIPI dan BPPT (100 milyar rp pada 98/99, sama dengan seluruh dana yang diperoleh ITB dari Pemerintah), ini kiranya juga menekankan bahwa kita mau berorientasi pada ilmu, dan bukannya pada sibuk mengajari mahasiswa secara rutin. 2) Artinya, menurut saya, adalah bahwa dalam segi pendidikan, mahasiswa lebih dapat diajak untuk menjadi orang berpikir, mencari solusi, mencari ilmu, dan bukannya sekedar terbosan-bosan mendengarkan dosen dan membaca diktat. Kalau ini diyakini para dosen, maka mahasiswa kiranya dapat dirangsang untuk menjadi aktif dalam meraih ilmu, bersama dengan dosennya, menangani tantangan-tantangan ilmu, sambil juga belajar sejumlah basis ilmiah pada masing-masing kuliah. 3) Satu konsekuensi yang saya simpulkan, adalah bahwa kuliah terutama berisi presentasi kerangka-kerangka ilmu, disusul diskusi eksploratif bersama mahasiswa. Ujian cukup sederhana-sederhana saja, kalau dosennya dapat mengenali kerajinan setiap mahasiswanya, sehingga pemerisksaan ujian juga lebih mudah, dan penilaian personal (BUKAN KKN!) lebih berperan, dalam memberi nilai selaras dengan prestasi meraih ilmu dan upaya si mahasiswa. 4) Maka keluhan yang saya baca di mailing list himafi bahwa 'kuliah membuat mengantuk dan tidak menarik' dapat menjadi 'kuliah yang sulit tetapi menunjukkan situasi di agak garis depan' dengan 'harus belajar sendiri, dan giat bertanya'. 5) Saya kira, ini memang idealis, dan sulit terlaksana, tetapi saya kira, kalau dosennya mau, kita dapat berbuat cukup banyak di kelas kita masing-masing. 6) Di samping itu, budaya 'nrimo' mahasiswa, sungkannya bertanya, takutnya dipandang 'tidak sopan', dapat terus dikikis. Juga penghargaan akan perbedaan pendapat, perelaan ketidakseragaman, sikap melayani yang muda (oleh dosen, oleh mahasiswa lama terhadap mahasiswa baru) dapat mulai dipupuk. 7) Yang tadi pagi ingin saya tanyakan pendapatnya, tapi tidak sempat diberi waktu, adalah : Menurut saya, dalam budaya 'menghafal' dan 'tak biasa berpikir kritis konstruktif - memecahkan masalah' masa kini, terobosan yang dapat diambil adalah 'mengajarkan hanya beberapa konsep dasar, lalu mengajak mahasiswa mencernakannya, dengan tugas membaca buku, membuat makalah sehalaman beberapa kali, dsb. Ilmu formal akan sedikit saja diperoleh, tetapi kemampuan berpikir kritis - memechkan masalah' akan membuat mahasiswa lebih berani membaca sendiri buku teks selanjutnya, belajar sendiri, makin merdeka dari dosennya. 8) Satu ucapan prof Samaun yang menarik hati adalah 'kami di Elektro saat ini cuma mendidik teknisi, sedangkan kalian di FI sedang mendidik engineer', dan 'mestinya kami kelak kembali mendidik engineer, dan kalian di FI mendidik applied scientists'. Saya artikan bahwa dengan belajar ilmu dasar, mahasiswa FMIPA akan lebih mampu menghadapi variabilitas tempat kerja kelak, dibandingkan dengan mahasisa teknik yang lebih dilatih keterampilan teknis 'saja'. 9) Ucapan di atas memang dapat diencerkan sebagai 'suatu pujian kecil dan sedikit basa basi', dan ditimpali bahwa 'tapi teknisi Elektro, karena manusianya cerdas-cerdas, menjadi teknisi yang cukup mampu menghadapi variabilitas juga', sedangkan 'mahasiswa FMIPA, karena mayoritasnya sekedar asal sekolah, sering rendah motivasinya, sehingga daya belajarnya, lalu daya saingnya juga cenderung lebih rendah'. Akan tetapi, kalau kita dapat menyadarkan mahasiswa kita bahwa kemampuan belajar yang kuat akan membuka banyak jalan di masa depan, dan membuat mereka terbiasa bekerja keras (dan bukannya terutama idealis tanpa kekuatan kuantitatif), maka kurang pintarnya dapat cukup diimbangi dengan kuatnya konsep dan kemampuan memecahkan masalahnya. Semoga ada komentar terhadap ini. Salam, A Rusli
