Komite Mahasiswa Unpar yth, 2 April 99 Selamat dengan edaran beberapa minggu yl dan edaran terakhir yang diberikan kepada saya kemarin. Hendaknya upaya itu diteruskan, dalam rangka menggugah lingkungan untuk lebih radikal menangani diri dan lingkungannya. Hal radikalitas, menurut saya terutama perlu diarahkan kepada diri sendiri dulu, demi meningkatkan disiplin diri, dan tekad kuat untuk bersiap menghadapi masa depan yang lebih jangka panjang JUGA. JUGA, karena masa depan memerlukan generasi muda yang lebih sadar dan peka akan derita masyarakat, tetapi juga memerlukan generasi muda yang berkeahlian khusus yang bermoralitas dan beretika agak baik. Adalah sayang, kalau cuma ada generasi muda yang pandai menuntut perbaikan, tetapi kurang mampu berpartisipasi dalam masyarakat abad ke 21 yang mau tidak mau bernuansa teknologi-canggih. Mengurusi pembuatan kertas adalah bagus, tetapi menurut saya terutama sebagai 'immersion phase' untuk lebih menyadari betapa sulit meraih teknologi yang agak canggih. Menurut saya, NKK tahun 1978 bagus tujuannya, tetapi seperti sering terjadi, dalam pelaksanaannya menyimpang menjadi agak seperti yang Anda ulas. Bagusnya adalah, karena pembatasan ruang gerak politik praktis mahasiswa SEBAGAI LEMBAGA, akan membuka peluang tumbuhnya keberanian untuk secara pribadi masuk dalam kancah politik praktis, bukannya berlindung di balik nama lembaga, atau mengatasnamakan lembaga yang (karena akademisnya) seringkali amat hererogen, sehingga sulit diatasnamakan. Penyimpangan terjadi, karena orang ternyata tetap ingin berlindung di balik nama lembaga, dan budaya 'tidak senang ditanyai' mendorong ke tumbuhnya sikap otoriter. Semoga kita sekarang tidak terlalu berlindung di balik istilah hebat, melainkan lebih mau praktis mengupayakan usaha konkret efektif dalam memperbaiki keadaan. Komentar tentang revolusionaritas vs evolusionaritas : Dengan menempuh risiko bahwa saya terpengaruh sedikit oleh kemapanan, tetapi pengalaman saya juga menunjukkan bahwa revolusi menimbulkan derita besar bagi rakyat kecil, dan hanya menguntungkan pada jangka panjang, dan menguntungkan-jangka-pendek bagi pimpinan saja. Sebabnya karena rakyat umum tidak dapat paham idealisme, rakyat biasa terutama ingin hidup tenteram-damai-berkecukupan. Maka kalau mau bijaksana, dan bukannya sekedar melihat jangka pendek, revolusionaritas terutama diarahkan kepada diri sendiri, agar diri sendiri menjadi makin murni, tetapi sebaliknya dengan penuh belas kasih kita melihat lingkungan, dan terus sabar mengingatkan (dengan radikal dan tajam tetapi benar!) akan kekeliruan yang ada. Menurut saya Presiden dst ke bawah memang perlu amat sering diingatkan, dengan menyodorkan data jelas (seperti saya baca di TEMPO baru-baru ini tentang harta-harta keluarga Cendana), bukannya hanya dengan tuduhan klise. Komentar satu lagi : Menurut saya, boleh saja mengancam non-kooperasi sebagai langkah politik praktis, tetapi abad ke 21 pasti bercirikan kooperasi, kerjasama di setiap tingkat dan bidang, karena dunia ini sudah menjadi terlalu sempit untuk dapat berjalan sendiri. Maka kemampuan untuk dapat bekerjasama (dan sering itu memerlukan rasa akrab, bagi non-pejuang) menjadi amat perlu dikuasai. Dapatkah Komite memberi teladan dalam hal ini? Terakhir : Saya bermaksud mulai menghangatkan upaya, agar mahasiswa baru angkatan 1999 disambut sebagaimana layaknya menyambut pelanggan baru, dan sebagaimana layaknya dalam suasana demokratis dan penuh kemerdekaan. Komite dapat berperan apa ? Saya senang jika memperoleh komentar dari Anda. Salam, A Rusli
