Menyambung tulisan Pak Rusli mengenai Hukuman, berikut saya kirimkan tulisan yang saya selesai saya buat pada Januari 1999. Semoga, pembaca mengerti apa yang sebenarnya saya ceritakan dalam tulisan ini. Salam, Erwin ---------------------------------------------------------------------------- Riasan Tebal Eyang Serat Oleh: Erwin "Kenapa kau tak beri tahu Ku terlebih dahulu!�, Eyang Serat menghentakku. Sekejap raut Eyang Serat berubah murka, setelah membaca warta keadaan padepokannya yang kutulis. Padahal, tak pernah Eyang Serat menampakkan kemurkaannya, setiap wartaku dibaca khalayak sebelumnya. Memang, ada sedikit perbedaan antara tulisan wartaku yang memurkakan Eyang Serat, dengan sebelumnya. Dulu, wartaku lebih menyoroti kondisi para petinggi kerajaan yang bobrok, dan perjuangan para didikan Eyang Serat bersatu dengan padepokan seluruh negeri, menentang dan merombak segala kebobrokan petinggi kerajaan. Dan khalayak pembaca warta mendukung dan memuji keberanian serta usaha para didikan padepokan tersebut, yang bersemboyankan �Berdasarkan Ketuhanan menuntut ilmu guna bakti masyarakat�. Akhirnya, julukan �pembaharu� pun turut dilekatkan oleh khalayak pada para didikan Eyang Serat, sebagaimana dilekatkan pada penghuni padepokan di seluruh negeri. Lalu, tentang apakah tulisan wartaku yang memurkakan Eyang Serat? Kutuliskan kejadian di padepokan tempat Eyang Serat membagi ilmu, ketika para didikan baru harus melewati ritual tertentu yang diselenggarakan para tetua didikan Eyang Serat. Ritual, ketika sang didikan baru diharuskan menuruti segala kehendak tetua. Ritual, ketika para tetua menjadi sosok yang senantiasa benar. Ritual, ketika para tetua sebagai Sang Kebenaran seakan memiliki kekuasaan tak terbatas � bahkan untuk melakukan kekerasan sekalipun � di benak didikan baru. Ritual, dengan dalih demi menciptakan persatuan dan kesatuan dalam padepokan tersebut. Namun kali ini, seorang tetua muda tak setuju akan ritual itu. Amus, nama sang tetua muda, tak setuju dengan penyertaan kekerasan dalam ritual tersebut. Akhirnya, Amus diam-diam mengajak didikan baru tidak ikut serta dalam ritual itu. Tapi, ajakan diam-diam Amus terdengar para tetua lainnya. Amus akhirnya digiring para tetua, karena dianggap sebagai pengkhianat. Jalan pikiran tak sepaham, Amus pun dipukul oleh sesama tetua muda. Dan akhirnya, Amus dikucilkan para tetua. Akhinya, kutuliskan warta tersebut. Ketika beredar, wartaku mendapat reaksi besar dari khalayak. Ritual guna menciptakan persatuan dan kesatuan dalam padepokan tersebut, dicerca sebagian khalayak. Para tetua penyelenggara ritual, dicerca, karena dianggap tak konsisten dengan perjuangan mereka sebelumnya menentang petinggi kerajaan yang bobrok. Tak suka dengan cercaan sebagian khalayak, akhirnya para tetua penyelenggara ritual mengarah padaku. Wartaku dicegah sedaya upaya agar tidak sampai pada khalayak lainnya. Wartaku dikatakan sebagai dusta belaka oleh para tetua penyelenggara. Bahkan, ucapan para tetua penyelenggara yang mereka sampaikan langsung padaku pun turut disangkal. Dan puncaknya terjadi, ketika para tetua penyelenggara bertemu aku. Para tetua penyelenggara, memaksaku untuk mengatakan wartaku dusta. Namun, bukankah dusta, bila aku mengatakan wartaku dusta? Ketakpatuhanku membuat para tetua penyelenggara semakin murka, terus memaksaku sedaya upaya untuk mengatakan wartaku dusta. Di tengah kekacauan itulah, aku berhadapan dengan Eyang Serat. Semula, aku mengharap Eyang Serat akan jadi penengah di antara kekacauan tersebut. Ketika itu, aku mengharap Eyang Serat sosok yang bijaksana. Tapi aku salah. Bukan menjadi penengah di antara kekacauan, Eyang Serat ternyata memicu kekacauan baru. Sebelum bertanya padaku, Eyang Serat membaca wartaku. �Benarkah kau berkata ini?�, tanya Eyang Serat kepada seorang tetua penyelenggara, sambil menunjuk pengakuan tetua tersebut yang tertulis di warta. �Iya, Eyang�, jawab sang tetua pelan. Eyang Serat pun terdiam sejenak, membaca kembali wartaku. Tiba-tiba, Eyang Serat menggebrak meja. �Kenapa kau tak beri tahu Ku terlebih dahulu!�, Eyang Serat menghentakku. Merasa dipermalukan dengan keadaan padepokannya, Eyang Serat menyentakku untuk memohon maaf di hadapan para tetua akan warta yang kutuliskan. Tapi, sekali lagi, bukankah dusta bila aku mengatakan wartaku dusta? Seakan diberi angin, para tetua penyelenggara kegirangan dan semakin bersemangat memojokkanku. Dan puncaknya, ketika aku meninggalkan tempat pertemuan dengan para tetua penyelenggara. Ternyata, �pesta� telah disiapkan menyambut kepergianku. Aku dihadang dan dipukuli beramai-ramai para tetua penyelenggara. Setelah puas, mereka membiarkanku pergi. Dan kutahu, Eyang Serat menyaksikan kejadian tersebut. Tak kusangka, ketakdustaanku dihadiahkan kekerasan oleh para tetua di hadapan Eyang Serat. Tak kusangka, Eyang Serat hanya berdiam diri melihat tindak-tanduk para tetua didikannya. Manakah semboyan �Berdasarkan Ketuhanan menuntut ilmu guna bakti masyarakat� yang didengungkan padepokan tersebut? Itukah dasar Ketuhanan yang mereka pegang? Ataukah, padepokan keasyikan �pesta� hingga lupa? Beberapa hari kemudian, aku bersua kembali dengan Eyang Serat. Bedanya, kini aku bertemu dengannya di tempat Eyang Arso, salah seorang petinggi di padepokan tersebut. Turut mendengar apa yang terjadi, Eyang Arso tergelitik, ingin tahu akar masalah. Karenanya, aku dan Eyang Serat diundang ke tempat Eyang Arso. �Mengapa kau tuliskan warta tersebut?� tanya Eyang Serat padaku di tempat Eyang Arso. �Karena apa yang terjadi di padepokan tersebut sangat menarik. Karena sebuah ritual, seorang tetua muda dipukul karena tak sepaham. Dan sudah tugasku sebagai pewarta menuliskannya pada khalayak,� ujarku menjelaskan. �Tahukah kau, wartamu bisa memalukan padepokan tempat ku membagi ilmu!�, ujar Eyang Serat selanjutnya. �Tapi, aku bisa pertanggungjawabkan bahwa wartaku benar,� jawabku padanya. �Sudahlah, aku tak mau mengungkit masalah itu lagi,� kata Eyang Serat. �Sebagai eyang, kini aku beri nasihat pada kau. Yang penting itu bukan berkata benar, tapi berkata tepat!�, jelas Eyang Serat. Melihat aku terdiam melongo mendengar �benar� dikalahkan �tepat�, Eyang Serat pun meneruskan ceritanya. �Tahukah kau, ada didikanku yang kini hilang di gunung?� Aku bingung, mengapa tiba-tiba Eyang Serat bercerita tentang didikannya yang hilang di gunung. Apa hubungannya dengan aku? Namun, aku diam saja, penasaran ingin tahu apa lagi yang hendak Eyang Serat katakan. �Aku sudah bilang samanya, jangan naik gunung. Pilih naik gunung, atau belajar di padepokan?� lanjut Eyang Serat meneruskan ceritanya. �Eh�, didikanku ngeweng, tetap naik gunung. Dan akibatnya, tahu sendiri kau, dia hilang. Itu akibatnya bila tak nurut sama yang tua. Tuhan marah bila didikan tak nurut sama yang tua,� paparnya. �Jadi saranku, ini kalau kau masih menganggapku eyang, kau berhenti menulis warta. Jangan pernah kau tulis warta lagi. Tapi, ini terserah kau. Terserah mana yang kau anggap eyang, Aku, atau Wartamu.� ujar Eyang Serat, mengakhiri ucapannya. Mendengar Eyang Serat mengatakan hal itu, aku kehilangan selera berkata dengannya. Dan tak berapa lama kemudian, Eyang Serat pun pergi. �Sudahlah, perkataan apapun tak mungkin meluluhkan Eyang Serat, bila pendapatnya seperti itu,� ujar Eyang Arso, setelah menunaikan tugasnya, menjadi penengah antara aku dengan Eyang Serat. Benar juga kata Eyang Arso. Bila pendapatnya sudah seperti itu, tak mungkin aku dapat meluluhkan Eyang Serat. Bagaimana mungkin, aku, yang muda ini, dapat lebih benar di hadapan Eyang? Bagaimana mungkin, aku, dapat lebih benar di hadapan �Sang Kebenaran� itu sendiri? Tapi, aku bingung. Bukankah didikan Eyang Serat pula, yang turut serta meruntuhkan petinggi kerajaan yang bobrok? Bukan petinggi kerajaan tersebut lebih tua sehingga harus dihormati didikan Eyang Serat? Bukankah, petinggi kerajaan tersebut adalah �Sang Kebenaran� dihadapan didikan Eyang Serat? Ah, ternyata kulit mengalahkan isi. Ternyata, julukan �pembaharu� hanyalah kulit belaka. Entah terbiasa bertahun-tahun dengan perilaku petinggi kerajaan yang bobrok atau kenapa, ternyata sang �pembaharu� tak beda dengan petinggi kerajaan yang mereka runtuhkan. Sama dengan petinggi kerajaan yang mereka runtuhkan, Eyang Serat dan para tetua padepokan pun merasa sebagai �Sang Kebenaran�. Sama dengan petinggi kerajaan yang mereka runtuhkan, Eyang Serat dan para tetua padepokan lebih menyukai keseragaman. Sama dengan petinggi kerajaan yang mereka runtuhkan, Eyang Serat dan para tetua padepokan lebih memilih untuk membungkam apapun yang tak seragam, bahkan dengan kekerasan, bila diyakini mengganggu �persatuan dan kesatuan� yang mereka ciptakan di padepokan tersebut. Sama dengan petinggi kerajaan yang mereka runtuhkan, Eyang Serat dan para tetua padepokan lebih memilih untuk bertindak �tepat� bagi kelangsungan mereka sendiri, dibandingkan bertindak �benar�. Eyang Serat, maaf saja aku memilih untuk ngeweng. Aku kini masih tetap menulis warta. Alasannya sederhana. Aku masih mau jujur-jujur saja, menulis apa-adanya. Aku tak mau mengingkari hati nurani. Mohon doa restu saja, agar aku tak sama nasibnya seperti didikanmu yang hilang di gunung. Itupun, kalau kau merestuiku agar tak �hilang di gunung�. Dan kutuliskan celoteh ini, dengan �riasan� sana-sini, untuk para �pembaharu� di manapun berada. Kutuliskan penuh �riasan�, bukan karena penggemar riasan. Tulisanku kini hanya coba ikuti pesanan mereka yang terbiasa dengan �riasan� saja. Tapi, kalau �riasan�-ku tetap tak indah, mohon maklum, karena sekali lagi, aku bukan penggemar �riasan� sebenarnya. Harapanku, semoga lekatan �pembaharu� yang dipasangkan pada Anda, bukan sekedar riasan, sebagaimana yang kulihat melekat tebal di wajah Eyang Serat dan para tetua padepokan. ---------------------------------------------------------------------------- -
