Setuju, asalkan ada dosen yang bersedia menemani sebagai tuan/nyonya/nona rumah di FMIPA, dan anggaran dapat menanggung. Anggaran : mohon saran bu Erni, untuk 1999/2000. Sasarannya, menurut saya, memang agar dia semoga memperoleh idea segar, tetapi juga agar mahasiswa dan dosen FMIPA bertambah pengalaman menemani dan bergaul dengan orang sederhana berbahasa sederhana tetapi cerdas. Dia dapat diminta memberi seminar tentang gagasan bujur sangkarnya, dll, dan diharapkan dosen dan mahasiswa FMIPA mencoba menanggapinya secara konstruktif, sehingga makin berkembang. Saya forward ke pak rekan-rekan di MA ITB, mungkin P4MT dapat juga memanfaatkan hal ini. Salam, A Rusli 10 Jun 99 At 02:57 PM 6/10/99 +0200, you wrote: >Apakah FMIPA berminat mengundang pak Sugeng ke Unpar untuk satu minggu, >sekedar melihat-lihat CD ROM atau video matematika dan fisika. >Siapa tahu dapat memberikan ide segar untuk lebih berkreasi dlm >pengajaran matematika di sekolahnya. > >---------------------------------------------------------------------------- >-------------------------------- >> Sugeng, Guru SD yang Ulet (2-Habis) >> Rumus Segi Lima Itu Hanya Dihargai 1 Kredit Poin >> >> SEDERHANA: Sugeng dan isteri serta anaknya, di depan rumah dinasnya yang >> sangat sederhana. (Foto: Suara Merdeka/F4-15) >> >> >> JAUH dari kemewahan. Itulah kesan pertama saat menjumpai rumah Sugeng >> (45), >> guru SDN Bangetayu Wetan 1-2, Genuk, Kodya Semarang. Tapi dari >> kesederhanaan >> itulah dia mampu melakukan berbagai eksperimen dan menciptakan >> temuan-temuan >> "aneh'', termasuk menciptakan bujur sangkar ajaib berisi 10.201 angka. >> >> Sebenarnya rumah yang ditinggali Sugeng, yang berada di belakang sekolah, >> itu jatah penjaga sekolah. Di rumah berlantai semen itu dia tinggal >> bersama >> Ny Trinurma Yulita, istrinya, dan lima anaknya. Dua anak masih balita. >> >> "Kalau Anda mau masuk ke gedung sekolah, rumah ini pasti tak terlihat dari >> jauh. Sebab, halaman depannya dipakai murid-murid untuk memarkir sepeda,'' >> kata lelaki kelahiran Purwodadi itu. >> >> Kendati menempati rumah dinas yang hanya memiliki dua kamar dan ruang tamu >> sempit, Sugeng bersyukur memiliki "kekayaan'' berpikir dan berkreasi. >> Bujur >> sangkar ajaib yang memuat 10.201 angka itu bukan bukti tunggal >> prestasinya. >> Dalam lemari kusam di ruang tamunya terpajang piala-piala. >> >> Sugeng juga memiliki bakat menulis. Dia menjadi juara II Lomba Karya Tulis >> Lingkungan Hidup Se-Kodya Semarang (1995). Kemudian juara II lomba guru SD >> untuk kategori lima mata pelajaran (1987). Setahun kemudian, dia menjuarai >> lomba serupa, meski peringkatnya turun ke posisi ketiga. >> >> Hobi berolahraga juga membuahkan prestasi, yakni juara III dalam Pekan >> Olahraga Warga Kodya Semarang (Porwakos) untuk nomor lompat jauh (1976). >> >> "Hanya piala-piala inilah barang berharga di rumah saya, selain televisi >> berwarna 12 inci,'' ujarnya tanpa keluh. >> >> Prestasi dia ternyata menurun pada anaknya, Madu Septa (16). Remaja itu >> pernah menjadi juara III Lomba Minat Baca Se-Jateng (1994) dan juara I >> Lomba >> Menulis Puisi Tingkat Nasional yang diadakan Majalah Bobo pada 1993. Salah >> satu hadiahnya adalah jam dinding, yang menghiasi ruang tamu sempit itu. >> >> "Mungkin inilah jalan hidup saya, hanya menjadi guru. Mungkin kalau jadi >> atlet, hidup saya bisa lebih berkecukupan daripada sekarang,'' kata pria >> yang oleh rekan-rekan guru dikenal dengan sebutan Sugeng Bangetayu itu. >> >> Nilai Sembilan >> >> Ketika menimba ilmu di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Demak, dia mendapat >> nilai sembilan untuk mata pelajaran olahraga. Cabang olahraga yang dia >> sukai >> adalah sepakbola dan atletik. >> >> Dia menuturkan penghargaan masyarakat dan Pemerintah terhadap pemain bola >> sangat tinggi. Tak heran kalau pemain berkelas seperti Kurniawan Dwi >> Yulianto atau Tugiyo kini berlimpah uang. >> >> Tanpa rasa iri pada keduanya, Sugeng membandingkan dengan penghargaan yang >> diterimanya sebagai guru sewaktu menemukan rumus untuk menghitung luas >> segi >> lima, dalam berbagai bentuk, pada 1993. Dia memublikasikan rumus temuan di >> Majalah Suara Guru, 30 Juni 1993, dan hanya memperoleh satu nilai kredit >> poin. >> >> "Honor dari majalah pun tak seberapa. Satu nilai kredit poin itu >> sebenarnya >> hanya pantas sebagai 'upah menulis' artikel. Sedangkan temuan baru sama >> sekali tak dihargai,'' tandas dia. >> >> Padahal, lanjut dia, rumus itu juga berguna untuk menunjang perkembangan >> ilmu matematika, sepanjang belum ditemukan rumus yang lebih baru. "Ya, >> okol >> ternyata masih lebih dihargai daripada akal,'' tambah pegawai negeri >> golongan III/d itu, yang menerima gaji Rp 600.000/bulan setelah dipotong >> untuk beberapa keperluan. >> >> Bujur Sangkar Ajaib >> >> Segala kendala dan keterbatasan yang dia hadapi tak membuatnya menyerah. >> Dia >> tetap bertekad menciptakan penemuan baru. Tekad itu akhirnya dia wujudkan >> dengan membuat bujur sangkar ajaib yang sangat fenomenal, terdiri atas 101 >> kotak pada lajur mendatar dan 101 kotak pada lajur menurun, yang berisi >> 10.201 angka. >> >> Selama 15 hari dia membuat bujur sangkar berukuran 4 x 4 m2, dan >> menghabiskan 24 lembar karton manila putih, 10 spidol, serta sembilan >> botol >> lem. Untuk merealisasi ide "gila'' itu, dia mengurangi belanja istrinya Rp >> 50.000. Anak-anak pun dia libatkan untuk membantu. >> >> "Tujuh hari saya gunakan untuk menyambung karton dan membuat sketsa dengan >> pensil. Satu hari istirahat, saya lanjutkan untuk menebalkan hasilnya >> dengan >> spidol agar tahan lama dan jelas dibaca,'' tutur lelaki kalem itu. >> >> Selain ingin mencantumkan karyanya di Museum Rekor Indonesia (Muri), >> bahkan >> kalau bisa Guinness Books of Record, Sugeng juga punya obsesi lain dengan >> temuan itu. >> >> "Ini tidak untuk saya pribadi. Tetapi saya ingin memperjuangkan agar >> penemuan yang dilakukan orang-orang Indonesia perlu mendapat penghargaan >> secara layak. Sehingga dapat memacu etos kerja dan kreativitas orang-orang >> lain, dan ini akan berdampak positif bagi pengembangan iptek di >> Indonesia.'' >> >> Sugeng optimistis obsesi itu suatu saat kelak dapat terwujud. Tidak harus >> dia yang menjadi "pahlawan''. Orang lain pun perlu mencoba. >> >> Tekad dan ikhtiar dia untuk terus bereksperimen memang tak sanggup >> dibendung >> siapa pun. >> >> Kesadaran bahwa knowledge is power menyebabkan keterbatasan di bidang >> ekonomi seakan dia lupakan. Untuk menyiapkan beberapa eksperimen yang >> masih >> direncanakan dan membiayai kuliah anak sulungnya, Wahyu Hidayat (20), di >> Fakultas Teknik Universitas Semarang, dia rela melego motor kesayangannya. >> (Hartono Harimurti-50g) >> >> >> -------------------------------------------------------------------------- >> -- >> ---- >> Berita Utama | Semarang | Sala & DIY | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga >> Internasional | Opini | Ekonomi | Fokus | English | Prakiraan Cuaca | Menu >> Utama >> -------------------------------------------------------------------------- >> -- >> ---- >> >
