Logika di bawah ini, bahwa orang perlu menderita dulu sebelum dapat
menghargai kemerdekaan, ada benarnya, tetapi tidak mutlak. Kalau mutlak,
itu bermakna bahwa manusia itu sejenis mesin, yang perlu mengalami sesuatu
sebelum menyadari sesuatu darinya.

Ada ungkapan pula, 'belajar dari pengalaman sendiri memang baik, tetapi
belajar dari pengalaman orang lain lebih baik lagi, dan malah lebih sesuai
dengan harkat seorang manusia'.

Juga, kalau logika sederhana tadi dipakai, maka kita takkan dapat
berkembang sambil 'berdiri atas karya orang lain', setiap kali kita perlu
mengalami setiap penderitaan terlebih dahulu.
Sebaliknya, mengapa tidak memberi kebahagiaan kepada orang lain terlebih
dulu, karena pengalaman positif itu akan menjadi modal  untuk dapat
mengalami penderitaan di masa depan?

Salam,          A Rusli         18 Agu 99

On Tue, 17 Aug 1999, Lionov wrote:

> Dan manusia yang sudah merdeka, masih merdeka, dan seharusnya di masa 
> depan hidup merdeka juga, perlu "dijajah" dahulu beberapa saat, untuk merasakan
> "kemerdekaan yang sesungguhnya"........................????????
> 
> mudah2-an logika yang agaknya keliru ini tidak pernah dipakai oleh siapapun,
> temasuk mahasiswa........
> 
> dan yang terpenting,.........
> Kita tentu tidak punya hak sama sekali untuk "menjajah" mereka yang kita anggap
> belum pernah merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya ..... bukan begitu ??
> 
> Lionov - 7397020
> 
> 
> ----- Original Message ----- 
> From: Erwin Elias <[EMAIL PROTECTED]>
> 
> > "manusia yang tidak pernah merasakan penderitaan tidak akan pernah merasakan
> > kelimpahan, manusia yang tidak pernah merasakan dijajah tidak akan pernah
> > merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya"
> > 
> > quoted from "the decameron", boccacio, 1458
> > 
> 
> 
> 

Kirim email ke