>From: "Paulus Vincentius" <[EMAIL PROTECTED]>
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Re: [KAMPUS] Ha - Ha - Ha - ... :)
>Date: Thu, 19 Aug 1999 11:00:32 +0700
>X-MSMail-Priority: Normal
>X-Mailer: Microsoft Outlook Express 4.72.3110.1
>X-MimeOLE: Produced By Microsoft MimeOLE V4.72.3110.3
>
>>ketika kita mendengar ada yang berdarah {kalau ngak salah ada yang cerita
>>di milis ini}.//////,..... langsung kita berpikiran negatif.......
>>Wah..wah...wah....... harus ada kambing hitam {saya mah tersenyum saja deh
>>disini}... soalnya yang satu ini juga saya tidak tahu latar belakangnya,
>>tidak mau terprovokasi akh... berhubung provokator sering memprovokasi
>>baik sadar maupun ngak sadar :)
>...
>>walaupun ada yang salah dan kita semua mungkin tahu apa yang salah tetapi
>>masih banyak dari kita yag tetap tidak mau cari tahu apa latar belakangnya
>>dan langsung menghujat, memaki mencari kambing hitam untuk menyelesaikan
>>masalah.... sesederhana...itukah........... ??
>
>Pendapat Anda saya setuju dengan benar. Apa latar belakang masalah tersebut,
>itu perlu kita tahu. Namun, (ambil kasus lain), walau hingga sekarang latar
>belakang masalah penembakan mahasiswa Trisakti masih misteri, apakah dengan
>hal tersebut masyarakat harus diam? Mungkin saja penembakan mahasiswa
>Trisakti tersebut untuk maksud mulia kan? Korban berjatuhan untuk maksud
>mulia apalah artinya? (Macam perwira gugur di medan perang namanya) Jadi,
>diam sajalah, bisa jadi kita berkoar-koar menuntut pemerintah menyelasaikan
>masalah Trisakti, padahal sebenarnya penembakan tersebut sudah semestinya
>untuk tujuan yang mulia. Benar ngga?
>
>Kalau Anda mengatakan bahwa ungkapan penuh keluguan yang diungkapkan tentang
>kejadian Trisakti diatas tidak benar, karena apapun yang terjadi masalah
>Trisakti harus diusut, maka hal yang sama kuminta juga tentang seorang
>mahasiswa baru yang mukanya berlumuran darah.
>
>Bagaimana mengusut hal tersebut? Pertama, butuh kejujuran kan? Sekarang,
>beranikah pihak penyelenggara melakukan pertanggungjawaban terbuka akan apa
>yang terjadi 17 Agustus 1999 lalu, sehingga muka seorang mahasiswa baru
>berlumuran darah? Apakah dalam pertanggungjawaban mereka berani mengakui
>bahwa kasus itu ada? Apakah itu tanggung jawab penyelenggara, atau tanggung
>jawab orang lain? Apakah muka mahasiswa baru tersebut memang sudah layak dan
>sepantasnya berlumuran darah?
>
>Tapi, hingga sekarang, yang ada hanyalah keheningan. Rektorat sepertinya
>diam. SMU sebagai organisasi yang "peduli dengan mahasiswa" pun sepertinya
>diam. (Setidaknya, aku belum mendengar pernyataan terbuka dari mereka.)
>Apakah keheningan tersebut merupakan bagian dari ketidaktahuan, atau bagian
>dari cara agar "tangan bersih dari lumuran darah"?
>
>Bahkan, sebenarnya kasus tersebut tidak terjadi hanya tahun ini saja kan?
>Kejadian kekerasan yang terjadi tahun lalu pun, (yang motifnya jelas karena
>disertai kesaksian-kesaksian baik dari pelaku maupun korban) pun
>dipetieskan, bahkan dibantah kebenarannya.
>
>>semakin sedih setelah mengingat kembali kondisi yang telah dialami oleh
>>kampus kita, bangsa kita dan paling sedih itu kalau kita sadar kalau kita
>>memikirkan... wah ternyata sebenarnya saya bisa saja berbuat sesuatu......
>>Mulailah dari dari diri kita dan orang disekitar kita :)
>>takutlah dan malulah untuk berbuat jahat {mungkin ini bisa menyelamatkan
>>dunia}.
>
>Benar perkataan Anda. Dengan menerapkan perasaan takut dan malu untuk
>berbuat jahat mulai dari Anda sendiri, maka setidaknya dunia akan sedikit
>lebih baik. Tapi, walaupun Anda sudah bertekad untuk tidak melakukan
>tindakan kekerasan pada siapapun juga, apakah hal tersebut membuat Anda
>merasa aman tinggal di lingkungan yang tidak pernah melakukan tindakan
>apapun akan kekerasan yang terjadi?
>
>Salam "peti es",
>Paulus Vincentius
>
>