Dengan amat sedikit kekecualian, sang dosen tahu lebih banyak tentang
bidang yang diajarkan dibanding para mahasiswanya. Dalam hal ini, dosen
mengungguli para mahasiswa. Satu-satunya cara mahasiswa bertahan terhadap
eksploitasi intelektual hanya melalui sikap acuh tidak acuh dan
pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik. Dalam kebanyakan situasi, khususnya
pada tahun-tahun pertama belajar di universitas, para mahasiswa tidak
mempunyai cukup pengetahuan untuk mengoreksi sang dosen; oleh karena itu,
dosen mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan para mahasiswa secara
intelektual sehingga mengabaikan kewajiban tanpa sanksi apa pun. Memang
para mahasiswa bisa saja menilai gurunya secara informal atau sebagai
jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan kuesioner, namun pada kenyataannya
mereka tidak sering berada dalam posisi untuk menilai kebenaran atau bobot
intelektual dari apa yang diajarkan si dosen kepada mereka. Hali ini
khususnya terjadi bila daftar kepustakaan yang dianjurkan dosen
dipilih-pilih sedemikian rupa sehingga memberi kesan bahwa
pandangan-pandangan dosen itu diterima secara universal. Pengakuan atas
kewajiban yang muncul dari kenyataan bahwa pengetahuan dosen lebih unggul
ini melebar hingga pada kewajiban untuk menganggap serius semua kesangsian
dan kebingungan intelektual para mahasiswa. Seorang dosen wajib bersikap
terbuka terhadap pertanyaan-pertanyaan para mahasiswa menyangkut kesahihan
proposisi-proposisi yang diajukannya.

Kejujuran intelektual seorang dosen di ruang kuliah dapat diperteguh oleh
besarnya minat para mahasiswa. Baik telur maupun ayam yang mengeraminya
serta yang menetas darinya satu sama lain sama-sama penting. Begitu juga
dosen dan para mahasiswa, sejauh usaha memenuhi tuntutan standar
intelektual diperhatikan. Ketekunan intelektual para mahasiswa meningkatkan
kesungguhan-sungguhan dosen. Inilah satu-satunya arti yang tepat yang
membuat guru dan murid membentuk sebuah masyarakat intelektual yang saling
meneguhkan. Kewajiban seorang dosen bukan untuk membuat para muridnya
senang. Upaya untuk menyenangkan para mahasiswa sering menyebabkan
timbulnya sanjungan-sanjungan yang dangkal dan kosong tanpa isi
intelektual. Usaha memenuhi tuntutan para mahasiswa yang memiliki
kecermatan intelektual merupakan soal lain dan jauh lebih baik daripada
hanya membuat mereka senang. Tingginya harapan para mahasiswa yang paling
tekun dan yang paling siap merupakan dorongan bagi sang dosen untuk
berusaha sekuat tenaga agar harapan itu terpenuhi. Pengajaran yang
ditujukan kepada kelompok mahasiswa dengan kapasitas paling rendah akan
membuat para mahasiswa lain menjadi apatis. Dan mahasiswa yang apatis akan
menyebabkan pengajaran menjadi apatis. Para mahasiswa yang acuh tidak acuh
tidak menggugah kualitas-kualitas terbaik pada diri dosen mereka. Namun
demikian, mengajar "jauh di atas kemampuan" mayoritas mahasiswa yang ada di
kelas dan hanya memperhitungkan para mahasiswa yang amat pandai saja juga
dapat menimbulkan efek yang mematikan semangat. Bagaimanapun juga, para
dosen harus berusaha agar para mahasiswa mereka berkembang secara intelektual.
-----------------------------------------------------------

Kirim email ke