membaca sekilas uraian ini maka saya memilah dan berpikir .....
kemudian saya berusaha merangkum beberapa pendapat ....
silahkan di koreksi .. :
1. Memang benar jika uraian dari Pak Rusli ini, dengan catatan :
-bahwa dosen yg bersangkutan memang mempunyai minat yg jelas terhadap
pengajaran, bidang kajian ilmu dan berusaha dengan sungguh-sungguh ingin
memberikan sesuatu yang bermanfaat pada mahasiswanya.
sepertinya banyak dosen yg tidak perduli,terutama kepada mahasiswa yang
dianggap menjengkelkan dirinya..., padahal "Beliau dosen"....
2. Mempunyai waktu yang cukup untuk dibagikan kepada mahasiswanya baik
dalam kelas maupun diluar kelas.
3. Ada beberapa kecenderungan dosen untuk "memaksa" mahasiswa untuk
mempelajari bahan kuliah dengan memberikan tugas yang banyak. Hal ini baik
jika dengan secara ideal mahasiswa tersebut mau di "paksa" untuk
mengerjakan tugas; jika tidak maka akan muncul "plagiato-plagiator" yang
secara tidak langsung sang dosen ikut bertanggung jawab, biasanya dosen
tersebut tau tapi pura-pura tidak tau....
4. Lebih baik memberikan kuliah jelas, pembahasan detail, jadi dengan
demikian mahasiswa akan merasa "tidak rugi" untuk masuk dalam
kelas.Untuk mahasiswa yang malas atau sedikit waktu luang maka dengan
hadir dikuliah akan memberikan ilmu yg bermanfaat.
5. Jika ada tugas ada, baiknya diperiksa mendetail, dan memberikan solusi
tugas yang nantinya akan dipelajari kembali jika menghadapi uts / uas.
ini saja dulu .....
salam,
=jaws=
On Wed, 24 May 2000, A Rusli wrote:
} Dengan amat sedikit kekecualian, sang dosen tahu lebih banyak tentang
} bidang yang diajarkan dibanding para mahasiswanya. Dalam hal ini, dosen
} mengungguli para mahasiswa. Satu-satunya cara mahasiswa bertahan terhadap
} eksploitasi intelektual hanya melalui sikap acuh tidak acuh dan
} pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik. Dalam kebanyakan situasi, khususnya
} pada tahun-tahun pertama belajar di universitas, para mahasiswa tidak
} mempunyai cukup pengetahuan untuk mengoreksi sang dosen; oleh karena itu,
} dosen mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan para mahasiswa secara
} intelektual sehingga mengabaikan kewajiban tanpa sanksi apa pun. Memang
} para mahasiswa bisa saja menilai gurunya secara informal atau sebagai
} jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan kuesioner, namun pada kenyataannya
} mereka tidak sering berada dalam posisi untuk menilai kebenaran atau bobot
} intelektual dari apa yang diajarkan si dosen kepada mereka. Hali ini
} khususnya terjadi bila daftar kepustakaan yang dianjurkan dosen
} dipilih-pilih sedemikian rupa sehingga memberi kesan bahwa
} pandangan-pandangan dosen itu diterima secara universal. Pengakuan atas
} kewajiban yang muncul dari kenyataan bahwa pengetahuan dosen lebih unggul
} ini melebar hingga pada kewajiban untuk menganggap serius semua kesangsian
} dan kebingungan intelektual para mahasiswa. Seorang dosen wajib bersikap
} terbuka terhadap pertanyaan-pertanyaan para mahasiswa menyangkut kesahihan
} proposisi-proposisi yang diajukannya.
}
} Kejujuran intelektual seorang dosen di ruang kuliah dapat diperteguh oleh
} besarnya minat para mahasiswa. Baik telur maupun ayam yang mengeraminya
} serta yang menetas darinya satu sama lain sama-sama penting. Begitu juga
} dosen dan para mahasiswa, sejauh usaha memenuhi tuntutan standar
} intelektual diperhatikan. Ketekunan intelektual para mahasiswa meningkatkan
} kesungguhan-sungguhan dosen. Inilah satu-satunya arti yang tepat yang
} membuat guru dan murid membentuk sebuah masyarakat intelektual yang saling
} meneguhkan. Kewajiban seorang dosen bukan untuk membuat para muridnya
} senang. Upaya untuk menyenangkan para mahasiswa sering menyebabkan
} timbulnya sanjungan-sanjungan yang dangkal dan kosong tanpa isi
} intelektual. Usaha memenuhi tuntutan para mahasiswa yang memiliki
} kecermatan intelektual merupakan soal lain dan jauh lebih baik daripada
} hanya membuat mereka senang. Tingginya harapan para mahasiswa yang paling
} tekun dan yang paling siap merupakan dorongan bagi sang dosen untuk
} berusaha sekuat tenaga agar harapan itu terpenuhi. Pengajaran yang
} ditujukan kepada kelompok mahasiswa dengan kapasitas paling rendah akan
} membuat para mahasiswa lain menjadi apatis. Dan mahasiswa yang apatis akan
} menyebabkan pengajaran menjadi apatis. Para mahasiswa yang acuh tidak acuh
} tidak menggugah kualitas-kualitas terbaik pada diri dosen mereka. Namun
} demikian, mengajar "jauh di atas kemampuan" mayoritas mahasiswa yang ada di
} kelas dan hanya memperhitungkan para mahasiswa yang amat pandai saja juga
} dapat menimbulkan efek yang mematikan semangat. Bagaimanapun juga, para
} dosen harus berusaha agar para mahasiswa mereka berkembang secara intelektual.
} -----------------------------------------------------------
}
.
.
.. ..
.......
.........
............
............
...................