Pada beberapa universitas massa yang amat besar berkembanglah keyakinan
umum di kalangan sementara dosen bahwa sebagian besar murid mereka hanya
mempunyai sedikit kapasitas saja untuk menguasai aspek-aspek yang lebih
rumit dalam mata kuliah yang diajarkan dan mereka itu tidak dapat didorong
untuk mencoba menguasainya. Para mahasiswa itu tidak diperlakukan cukup
serius oleh para dosen ini. Mereka itu teramat sering diperlakukan sebagai
kanak-kanak atau sebagai orang-orang bodoh. Salah satu kewajiban dosen
terhadap para muridnya ialah kewajiban untuk memperlakukan mereka penuh
hormat dan serius, seakan-akan mereka mampu dan berhasrat untuk mempelajari
soal-soal yang sulit. Para mahasiswa harus didorong untuk mencapai tingkat
pengetahuan tertinggi yang dimungkinkan oleh ketidakmatangan, kemampuan,
dan prestasi mereka sebelumnya. Dengan munculnya pendidikan tinggi yang
sebagian besar tertuju pada generasi di antara 18 dan 22 tahun, banyak
dosen di universitas-universitas Amerika dan Eropa, apapun pandangan
politik mereka, tergelincir pada anggapan bahwa hanya sedikit saja yang
dapat diharapkan dari para mahasiswa mereka. Hasilnya ialah pemiskinan
intelektual melalui silabus-silabus dan, dari situ, pemiskinan intelektual
pada diri para mahasiswa yang dididik berdasarkan silabus-silabus itu.
Kesetiaan seorang dosen terhadap kewajiban mengajarnya ditunjang oleh
kesungguhan para koleganya dalam melakukan pengajaran masing-masing. Inilah
sebabnya perumpamaan tentang Mark Hopkins dan seorang mahasiswa di atas
gelondongan kayu terlalu sederhana. Seorang guru, dalam dirinya sendiri,
jarang dapat memadai. Keseriusan guru itu ditunjang oleh pergaulan dengan
dosen-dosen lain yang serius, seperti halnya keseriusan seorang mahasiswa
ditumbuhkan oleh hadirnya para mahasiswa lain yang serius. Keseriusan
kolega atas pengajaran mereka sendiri mendorong seorang dosen untuk
memenuhi standar ketat menyangkut pengajaran para mahasiswa prasarjana.
Terpeliharanya integritas intelektual bukan hanya persoalan kekuatan watak
tetapi juga merupakan fungsi lingkungan pergaulan seorang dosen di
departemen dan universitas. Dalam soal-soal intelektual, sebagaimana di
bidang-bidang lain, kesadaran moral saling memperkuat satu sama lain.
Karena itu, komunitas akademis menunjang etika akademis dalam hal
pengajaran, namun dukungan itu tidak berlangsung melalui kewaspadaan yang
tercermin dalam penilaian atas karya-karya yang diterbitkan, seperti yang
terjadi dalam komunitas ilmiah, atau dengan cara pengumpulan pendapat di
antara para mahasiswa atau kunjungan sesekali para kolega ke ruang-ruang
kuliah.

Memang diakui, betapa sulit bagi seorang dosen atau para koleganya untuk
tahu seberapa baik ia mengajar. Beberapa dosen mempunyai efektivitas
berjangka pendek. Dosen-dosen lain mempunyai pengaruh lebih permanen atas
pikiran-pikiran para mahasiswa. Beberapa dosen mengajarkan pada para
mahasiswa informasi-informasi yang disusun secara baik. Dosen-dosen lain
membangkitkan keingintahuan mereka. Ada beberapa dosen yang membantu para
mahasiswa untuk menguasai metode-metode pengamatan dan pemikiran.
Ujian-ujian formal atas pengajaran efektif seperti dipahami oleh para ahli
pendidikan terbukti tidak memuaskan karena bentuk efektivitas begitu banyak
dan beberapa di antaranya tidak dapat diukur kecuali dalam jangka waktu
yang panjang. Penilaian atas pengajaran yang buruk pun sukar diperlihatkan
selain dalam kasus-kasus penyimpangan yang amat mencolok seperti seringnya
dosen tidak hadir di ruang kuliah. Kelalaian seorang dosen untuk
mempersiapkan kuliah dan jawaban asal-asalan terhadap pertanyaan-pertanyaan
yang dilontarkan oleh para mahasiswa tidak mudah dilihat oleh
penilai-penilai yang tidak secara sistematis mengamati kegiatan dosen di
depan kelas.  
Salah satu cara tidak langsung untuk menjaga agar para dosen tetap
mempunyai kepekaan tinggi dalam hal kewajiban terhadap para mahasiswa ialah
melalui sikap hati-hati dalam proses pengangkatan dosen baru, sehingga
dapat dihindari masuknya calon dosen yang tampaknya akan melalaikan
kewajiban mengajarnya. Disinipun, muncul lagi kesulitan-kesulitan yang sama
dalam menilai kegiatan pengajaran.
-----------------------------------------------------------

Kirim email ke