Informasi dari pak Wisok, menurut saya perlu kita simak, dan para PD-3
semoga dapat mengembangkan suatu pola orientasi studi yang diselenggarakan
pimpinan fakultas (sumber pembiayaan ada, yaitu dana yang telah ditarik
dari mhs baru).
Memang cukup beberapa jam saja, dan partisipasi beberapa mhs senior yang
mampu mengikuti jiwa dan sikap yang mendasarinya, tentu bagus. Akan tetapi
itu bukan berarti bahwa kendali lepas dari fakultas.

Apakah ini pengebirian kegiatan mhs lama? Tentu tidak; mereka tetap
independen, mereka dapat saja mengadakan kegiatan saingan, tentu dengan
bersaing sehat, yaitu dengan mengiklankan dan menjamin pelayanan yang
memuaskan.

Mhs lama yang mencoba mengacaukan acara yang positif, dicegah dengan secara
jelas-gencar menegaskan kepada mhs baru, di kelas dan di luar kelas, oleh
sebanyak mungkin dosen di kelas masing-masing, dsb, 
bahwa "sukarela ikut mhs lama dengan acara yang tidak jelas
pertanggungjawabannya, adalah atas risiko sendiri, dan Panitia jangan
diharapkan bersedia menanggung risiko biaya".
Tampaknya informasi faktual di sana sini bahwa "tidak banyak mhs baru ikut
acara negatif itu, hanya ~ 50 %" dapat menunjang keberanian mhs baru untuk
memboikot kegiatan negatif. Di ITB tampaknya ~ 50 % mhs baru tidak ikut
acara 'o.s.' (walau sedang menggencar upaya mhs lamanya untuk
mengintimidasi mhs baru - sedang saya coba cegah secara lokal).

Kalau dilihat ada mhs lama yang lalu jadi beringas, mereka dapat dilaporkan
ke pimpinan fakultasnya, atau malah kepada polisi karena mengganggu
kenyamanan anggota masyarakat.

Marilah kita berpartisipasi menegakkan ketertiban dan demokrasi di kampus ini.

Asisten praktikum tentu perlu diingatkan-tegas dan dipantau seperlunya,
bahwa mereka tidak tergoda oleh mhs lama untuk mendiskriminasi dari dalam
sistem akademis.

Dosen memang jadi sibuk, tetapi dengan cara itu mungkin kita dapat
berangsur mengecilkan pengaruh mhs lama yang negatif.

Imbauan bu Nunung adalah bagus, dan walau pun benar ucapan PR-3 bahwa kalau
mhs lama dilarang-tegas, mereka dapat menyusup ke bawah tanah dan lebih
sulit dikontrol, tetapi memang seharusnya pimpinan Universitas (Rektor,
P{R-3) dan PD-3, bukan hanya menguntiti mhs lama dalam bergiatnya untuk
meredam ekses (ini kiranya tanggapan yang reaktif), melainkan juga secara
proaktif melindungi mhs baru dari terganggunya hak azasi mereka akibat
kesungkanan dan terintimidasinya mereka oleh ancaman kosong "tak boleh
masuk UKM - unit kegiatan mhs, tak boleh jadi pengurus di himpunan, nilai
terpengaruh".
Tindakan mengancam itu sendiri justru perlu dibasmi, dengan menegaskan
berulangkali (lihat di atas) bahwa misalnya "UKM dan himpunan yang
mendiskriminasi berdasarkan 'tidak ikut perintah mhs lama' tidak patut
dimasuki, karena sedang terjangkiti virus budaya penindasan dan
intimidasi", "etika asisten akan dilanggar berat, jika asisten
mendiskriminasi seperti itu", dst.

Kita berlandaskan "preferential option for the poor", maka tidak patut
hanya mengurusi mhs lama dan berusaha meredamnya, melainkan kita perlu JUGA
mendampingi mhs baru yang relatif lemah dalam posisi sebagai orang baru di
kampus.

Seperti disebut dalam rapat pimpinan para dekan Kamis yl, citra Unpar yang
sampai malam dikeliari orangtua yang berusaha mengamati selamatnya anak
tercintanya, kiranya cukup ternodai, versus "Bakuning Hyang Mrih Santyaya
Bhakti'nya. Marilah kita berpihak pada mahasiswa baru!
Kalau kita sibuk tentang 'bagaimana menyelamatkan kesejahteraan warga
kampus', sebaiknya citra merosot itu kita usahakan serius untuk terangkat
kembali dengan sikpa proaktif dan mau agak berlelah-lelah membela yang
lemah (msh baru).

Salam,  A Rusli         24 Agu 2001

At 01:39 PM 8/16/01 +0700, Yohanes Peka Wisok wrote:
>
>Yang terhormat semua kita yang punya kepedulian,
>
>Menyambung tulisan ibu Nunung,  saya hanya mau numpang lewat untuk
>menceritakan pengalaman saya ketika saya menjadi mahasiswa di Kampus saya
>dulu, di Sekolah Tinggi Filsafat(STF)Ledalero. Saat saya menjadi
>mahasiswa baru, saya memang di-ospek/osgab atau apapun namanya, yang pasti
>mirip-mirip begitulah. Tetapi kegiatan seperti itu, lebih banyak bernuansa
>akademis. Misalnya, hari pertama senior memperkenalkan yuniornya;
>keseluruhan kampus dan membawa kami keliling, ruang kuliah, dan
>perpustakaan dan museumnya, serta tempat/kantor penerbiatan majalah
>kampus.
>
>Hari keduanya Yunior/panitia dan tenaga perpustakaan memperkenalkan
>kami kode-kode, dan nomor buku di perpustakaan Atau secara singkat
>bagaimana caranya mendapatkan judul buku yang kita perlukan di
>perpustakaan, dan disertai dengan penjalasan  bagaimana mengerjakan
>sebuah terjemahan dari bahasa asing ke bahasa Indonesia. Hari kedua
>ini biasanya disertai dengan tugas menerjemahkan satu s.d. dua/tiga alinea
>dari artikel tertentu dari bahasa Inggiris/asing ke Indonesia dengan
>tenggang waktu tertentu.
>
>Dan hari ketiga biasanya, penejelasan dari dosen, matakuliah yang
>berhubungan dengan karya tulis, disertai dengan para mahasiswa Senior yang
>mengelola majalah mahasiswa, lalu diberikan jugas tugas membuat karya
>tulis dengan ketentuan-ketentuannya.
>
>Dan seterusnya berupa kunjungan ke maseum, atau lainnya.
>
>Bila semua tugas itu tidak dipenuhi maka akan mengerjakan tugas itu
>berlipat dua, misalnya. Jadi bila dibilang ospek/osgab atau kegiatan
>serupa itu menyiksa, yah memang menyiksa, tapi siksaan itu masih dalam
>nuansa akademis. Mendidiklah.
>
>Mudah-mudahan kegiatan seperti itu di Unpar yang kita cintai ini masih mau
>berkembang ke arah yang lebih baik menurut kita semua.
>Semua tulisan saya ini hanya berupa sharing pengalaman saja.
>Siapa tahu berguna.
>
>Terimakasih, Wisok
>
>
>
>On Thu, 16 Aug 2001, Nunung Kusumawardhani wrote:
>
>> Yth. Bapak A. Rusli,
>>
>> Sejak tanggal 11 Agustus 2001, banyak sekali keluhan dari para orangtua
>> Mahasiswa baru Unpar angkatan 2001 yang antara lain menyesalkan hal-hal
>> sebagai berikut :
>> ~ Diminta kumpul lagi oleh Panitia Opsgab pada pukul 21.00 dan selesainya
>> pukul 01.00,
>> ~ Selama waktu tersebut, mereka mendapat tugas-tugas yg harus dikerjakan
>> bersama-sama didampingi oleh seorang Mentor,
>> ~ Setelah dilihat ternyata tugas mereka hanyalah membuat kotak-kotak
>> dari kardus dgn berbagai bentuk dan warna, yang mereka pun tidak
>> mengetahui kegunaan kotak-kotak itu (akan dimanfaatkan untuk apa ??),
>> ~ Memperoleh makanan basi (asem) yg mana di antara temannya hingga sakit
>> perut dan perlu obat dari Dokter, karena mungkin keracunan,
>> ~ Anaknya wanita dan kost di daerah jalan Sangkuriang,selama opsgab harus
>> menggunakan Angkutan Umum dan tidak boleh naik Motor selama satu bulan.
>> Padahal kalau naik Angkutan Umum, ia harus naik-turun sebanyak 3 kali
>> (walaupun jaraknya dekat)...hal ini membuat orangtua menjadi was-was
>> apabila anaknya setiap hari selalu pulang lewat tengah malam (pk.01.00).
>>
>> Sebenarnya masih banyak lagi keluhan sejenis yg disampaikan orang tua
>> mereka melalui telpon dan e-mail ke bagian Humas...yaa kami hanya bisa
>> menjawab bahwa Opsgab itu sifatnya sukarela, biasanya mereka menjawab...
>> namanya juga anak baru Bu, mereka kan takut kalau tidak hadir apalagi
>> diancam tidak boleh mengikuti kegiatan kemahasiswaan yang lain (UKM)
>> adalagi yang diancam tidak dapat nilai lah dan lain-lain lagi.
>>
>> Berdasarkan cerita di atas, kami menghimbau kepada pejabat yang terkait
>> dgn urusan Kemahasiswaan, kiranya dapat dibuat Ketentuan yang tegas
>> mengenai kegiatan ini, baik di tingkat Universitas (yg diberi nama Opsgab)
>> maupun kegiatan sejenis yg diselenggarakan di Fakultas (Ospek). Kalau
>> memang akan diselenggarakan silakan dengan mematuhi rambu-rambu yang
>> dibuat berdasarkan kesepakatan bersama antara Panitia mahasiswa dan
>> Pejabat struktural yg menangani bidang tersebut, tapi bila tidak akan
>> diselenggarakan...yaaa buatlah pula ketentuan tertulis dan lisan yang
>> tegas, shg. mahasiswa baru pun berani menolak bila dipaksa oleh mahasiswa
>> lama/senior-nya. Nampaknya tulisan saya sdh terlalu panjang, jadi saya
>> cukupkan saja dulu sampai di sini, semoga saja ada yg bisa menanggapi
>> secara positif. Terimakasih atas perhatiannya.
>>
>> Salam sejahtera,
>> Nunung
>>
>>
>
>

Kirim email ke