Sekiranya bermanfaat bagi kita semua. Salam, Nico >----- Original Message ----- > > From: <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[EMAIL PROTECTED]> > Sent: Wednesday, August 29, 2001 10:50 PM > Subject: [HFI] Re: Pendidikan (info: tulisan pak Andi Hakim) > > > > Bandung Raya - Edisi 21 April 2001 > > > > Ketekunan yang Langka > > Oleh: Prof.Dr.Ir.Andi Hakim Nasoetion * > > > > SEORANG dosen kembali dari Tokyo membawa gelar Magister > > Sains Genetika Ikan. Ia melapor akan keberhasilannya itu. Yang >ditanyakan > > rektornya ialah apa yang membuatnya terkesan dengan program >pendidikan > > pascasarjana di Jepang. > > Maka ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya, > > seumur-umurnya baru pada ketika itu ia selama bangun hanya memikirkan >dan > > bericara tentang atau tentang genetika atau tentang genetika ikan. > > > > Pagi hari ketika sarapan ia berbincang dengan kawan > > sekerjanya tentang perilaku ikan. Di dalam laboratorium ia diajak >berdiskusi > > mengenai DNA oleh dosennya, dan sewaktu makan siang di sela-sela > > memotong-motong filet tongkol, ia berbincang tentang daerah >penangkapan tongkol > > di daerah Kepulauan Aru. Malam harinya sewaktu tidur, ia bermimpi > > tentang ikan. Tidak diceritakannya apakah sebelum bermimpi mengenai >ikan itu > > keesokan harinya ia menang undian berhadian (karena ada satu mitos >jika mimpi > > mendapatkan ikan akan ketiban rejeki). > > > > Kemudian lagi rektornya bertanya kepadanya peristiwa apa > > yang paling mengagetkan yang dihadapinya di kampus asalnya sewaktu >ia > > kembali mengajar. Ternyata ia terkejut sekali ketika melihat warga >kampus > > sewaktu sedang beristirahat tidak berbincang mengenai ilmu yang harus > > ditekuninya, melainkan mengenai upaya mengokohkan iman dan bagaimana > > caranya berperilaku sesuai dengan iman mereka masing-masing. > > > > Tidak ada lagi yang mereka perbincangkan selain bagaimana > > caranya mendukung perjuangan umat yang seiman. Kalau pun ada bedah >buku di > > antara sesama mahasiswa, maka pokok bahasan bedah buku itu menyangkut > > masalah yang ada di luar jangkauan, seperti misalnya di Palestina >atau Bosnia. > > Masalah yang kalau hanya dibicarakan tidak ada selesai-selesainya. > > > > Ini mengingatkan rektornya akan peristiwa seorang anggota > > tim olimpiade matematika internasional asal Denmark >berbincang-bincang > > dengan anggota tim dari Norwegia tentang penyelesaian sebuah masalah > > matematika yang memerlukan pengetahuan tentang teori medan Galois. >Percakapan itu > > mereka lakukan ketika sedang berpesiar dengan kapal di Laut Bosporus. > > > > Apa yang dilakukan di Jepang dan Laut Bosporus itu adalah > > teladan tentang ketekunan yang diungkapkan ilmuwan biologi dan calon > > ilmuwan matematika ketika mereka sudah bertekad memilih bidang ilmu >itu > > sebagai perhatian pokok dalam perjalanan hidup mereka. Hasilnya >adalah bahwa > > mereka akhirnya mendalami benar bidang ilmu genetika atau matematika >itu > > dan bukan hanya sekadar pengetahuan tipe-tipe sosial. > > > > Beberapa waktu lalu biologiawan IPB mendapatkan > > penghargaan akademik dari suatu yayasan. Untuk itu ia diberi >tunjangan penelitian > > kira-kira 40.000 dolar AS. Orang ini dikenal sangat menekuni bidang > > ilmunya. Demikian pula ada seorang dosen yang mendapat hadiah >penelitian dalam > > bidang ilmu serangga dan lingkungan. Ia juga selalu tekun bekerja >dalam bidang > > ilmunya sendiri. Sama halnya dengan dosen Fakultas Peternakan Unsoed >yang > > di Australia menemukan cara penyimpanan mani beku sapi di dalam >tabung > > sedotan yang terbuat dari plastik setelah usahanya berkali-kali >gagal. > > Untuk itu ia menerima hadiah medali emas penelitian Yayasan >Hewlett-Packard. > > > > Ketekunan ketiganya itu tentu saja didampingi oleh >kalayak > > akademik yang tinggi. Namun kalayak akademik yang tinggi saja belum > > cukup untuk membuahkan hasil penelitian yang cemerlang. Diperlukan >kreativitas > > dan ketekunan melakukan tugas yang tinggi. Ketiga ciri ini yang > > seharusnya dimiliki oleh orang berbakat yang pekerjaannya adalah >menciptakan > > pengetahuan baru dan atau memperbaiki manfaat suatu pengetahuan. > > > > Apakah di masyarakat akademik perguruan tinggi kita > > suasana ketekuan dan kesetiaan menangani tugas itu ada atau tidak >ada, dapat > > dirangkum dari poster-poster yang ditempelkan di mana saja di dalam > > kampus yang dapat dilekati kertas. Sayang sekali, pengumuman yang >memenuhi > > dinding kampus bukan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kemajuan >ilmu > > yang ditekuninya, melainkan mengenai siraman rohani, bedah buku >tentang > > solidaritas Palestina dan berbagai diskusi mengenai berbagai >kebobrokan yang > > terjadi di tanah air. > > > > Tidak ada gagasan-gagasan ilmiah dalam bidang ilmu > > tertentu yang diperbicangkan. Tentu saja kita harus peduli mengenai > > pemeliharaan iman, solidaritas keimanan hingga aplikasi keimanan >dalam > > kehidupan sehari-hari. Namun kalau yang ditangani hanya itu saja, >tidak perlu > > susah-susah belajar di perguruan tinggi, kecuali kalau kita hanya >bermaksud > > mendapatkan gelar dan ijasah saja, bukan kemampuan dan keahliannya. >Jika > > hanya itu yang kita inginkan, lebih baik mengikuti ujian persamaan >B.Sc, M.Sc, > > Ph.D dan MBA di berbagai yayasan "gombal". > > > > Bagaimana lulusan perguruan tinggi di Indonesia dapat > > mengimbangi kemampuan akademik lulusan perguruan tinggi yang sudah >mapan di > > negara maju kalau yang ditekuninya selama belajar di perguruan tinggi >bukanlah > > bidang ilmunya sendiri. Apakah dengan "kematangan bermasyarakat" >dengan > > berkonsentrasi penuh ke kegiatan ekstra kurikuler kita mampu menjadi > > ilmuwan bertaraf internasional? > > > > Melalui media internet saya pernah diserang habis-habisan > > ketika yang menjadi pemenang medali perunggu pada olimpiade >matematika > > tingkat Asia Pasifik dan olimpiade matematika internasional hanyalah > > siswa SMU yang bertapak di Jawa. Ketika itu saya dituduh > > mendiskriminasikan mereka yang berasal dari Luar Jawa. Hujatan itu > > memang pantas muncul di zaman reformasi > > seperti sekarang. Namun seharusnya penghujat yang notabene mahasiswa > > pascasarjana matematika itu mesti menggunakan nalarnya dan > > bukan pemikiran dengkulnya. > > > > Peraih medali perunggu itu ternyata adalah siswa-siswa > > yang dengan kecintaan menekuni matematika dan kebanyakan dari mereka >berasal > > dari sekolah-sekolah yang diselenggarakan masyarakat (swasta), bukan >dari > > sekolah yang diselenggarakan negara (negeri). Atau kalau ia berasal > > dari sekolah yang diselenggarakan negara, lingkungan keluarganya >adalah > > lingkungan yang menghargai ketekunan kerja. Siapa mereka itu? Boleh > > ditebak sendiri, lingkungan keluarga yang mana yang dapat membedakan >kapan > > harus menekuni pelajaran tentang keimanan dan ilmu naqliah dan kapan >lagi > > harus tekun menuntut ilmu aqliah. > > > > Karena itu, hendaknya semua orang yang sedang belajar apa > > saja, untuk tekun mempelajari apa yang seharusnya dipelajarinya agar > > mendapatkan kelayakan profesional di dalam bidang yang diminatinya. >Jangan > > terjerumus ke zaman Firaun, ketika seleksi menjadi ahli bedah otak >dilakukan > > dengan cara berendam semalam suntuk di Sungai Nil. Jangan juga >terjerumus ke > > keadaan di Pakistan, ketika seorang Ph.D Fisika Nuklir lulusan MIT AS > > melamar menjadi tenaga akademik. Pertanyaan penguji bukan hal-hal >yang > > pelik mengenai dentuman besar (big bang). Sederhana saja, namun cukup > > mengejutkan karena Doktor Fisika itu diminta melafalkan Doa Qunut. >Jika ia > > tidak hafal doa Qunut, maka pastilah ia seorang Wahabi. > > > > Mari kita renungkan, apa saja yang dapat kita perbaiki > > mengenai kehidupan akademik di kampus, baik oleh tenaga akademik, >tenaga > > administrasi maupun mahasiswa. Jika mahasiswa berlaku seperti itu, >seharusnya > > tenaga akademiknya merasa bersalah, karena hal itu pertanda bahwa >tenaga > > akademik belum dapat membawakan suasana akademik ke dalam kampus, >termasuk > > membawa mahasiswanya ke suasana ingin mengetahui. > > > > Pernah seorang dewan penyantun suatu universitas besar di > > Jakarta yang diselenggarakan masyarakat bertanya pada saya, >universitas > > apa di Indonesia yang suasana akademiknya sudah menyamai suatu >universitas > > penelitian. Jawab saya dengan tegas, belum ada. Dan ketika ia >menanyakan > > alasannya, saya katakan bahwa di kampus saat ini banyak mahasiswa >termasuk > > juga mahasiswa pascasarjana serta dosen hanya menghadiri seminar >karena > > harus menandatangani daftar hadir. > > > > Kalau kurang tandatangan di daftar hadir, ada kemungkinan > > ia tidak boleh ikut ujian atau kredit kenaikan pangkatnya tidak >cukup. > > Kalau begitu halnya, di kampus kita orang hadir di seminar bukan >karena > > ingin tahu lebih banyak, melainkan karena takut tidak lulus ujian >atau > > tidak naik pangkat.*** > > > > Penulis adalah guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB) > > dan Ketua Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Telkom Dayeuhkolot Bandung. >
