--- In [EMAIL PROTECTED], Hudoyo Hupudio
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: "Agus Barlianto" <[EMAIL PROTECTED]>
Pak Hud yang baik
Saya minta penjelasan mengenai ajaran Sai Baba. Apakah ajarannya sama
dengan yang dipercaya Pak Hud sendiri atau Anand Khrisna? Saya pernah
mengikuti ritualnya sekali di sekitar Pasar Baru, ada berbagai agama
bersatu di sana.
Kalau ada orang yang menganggap keramat foto Sai Baba apakah itu
memang
diajarkan oleh Sai Baba sendiri atau itu justru penyimpangan darinya?
Ada yang mengaitkan Sai Baba dengan New Age Movement, bagaimana
tanggapan
Anda?
Terima kasih
Agbar
-------------------------
HUDOYO:
Mas Agus yg baik,
Ajaran Sai Baba berangkat dan berada dalam konteks Hinduisme (seperti
juga
ajaran Anand Krishna); oleh karena itu bersifat sangat akomodatif dan
sinkretistik. Ia tidak membeda-bedakan agama yang satu dengan yang
lain,
dan menganggap semua guru suci sama tinggi. Ini adalah satu ciri yang
amat
positif di zaman modern yang pluralistik ini.
Sesuai dengan ajaran Hinduisme, di kalangan para pengikut Sai Baba
dipercaya bahwa Sai Baba adalah seorang avatara lengkap (purna-
avatar),
seperti Krishna di zaman legenda. [avatar = inkarnasi Wisnu / Tuhan
ke
dunia untuk memberantas kejahatan dan menegakkan kebenaran di dunia
yang
sudah rusak; ini paralel dengan inkarnasi Tuhan ke dunia dalam diri
Yesus
menurut ajaran Kristen.] Ini diperkuat bahwa Sai Baba sering kali
melakukan
perbuatan-perbuatan yang dapat ditafsirkan sebagai mukjizat (seperti
"menciptakan" abu suci [vibhuti] dari tangan kosong, yang dapat
dipakai
sebagai obat), sebagai tanda dari seorang avatara; sekalipun beberapa
kalangan dengan sengit menyanggahnya dan menyebutnya sebagai
sulapan / tipuan.
Di setiap mandir (tempat ibadah pengikut Sai Baba), banyak orang
datang
dari berbagai agama (Buddhis, Kristen, Hindu, Islam dsb), dan
membentuk
suatu persaudaraan yang pluralistik, semuanya diikat oleh satu
kepercayaan
terhadap Sai Baba sebagai avatara ('penjelmaan Tuhan' atau setidak-
tidaknya
'insan kamil') di zaman ini. Banyak orang tampil bersaksi tentang
"kejadian-kejadian adikodrati" yang telah mereka alami, di mana
mereka
ditolong atau diselamatkan oleh Sai Baba dengan satu dan lain cara.
Pada akhir tahun 1980-an dan awal 1990-an, saya pun pernah masuk dan
mendalami ajaran Sai Baba. Saya tertarik terutama karena
pluralismenya.
Namun, kemudian saya melihat pemujaan kepada pribadi Sai Baba yang--
menurut
saya--berlebihan sampai mengalahkan kemandirian, dilakukan oleh para
pengikut Sai Baba. Tampaknya kelompok Sai Baba ini cocok untuk orang
yang
bersifat 'bhakta' (cenderung kepada pemujaan seseorang secara
spiritual,
bhakti). Pada kelompok itu terdapat semua kriteria dari suatu agama
baru,
agama yang bersifat inklusivistik (memasukkan semua ajaran lain ke
dalam
ajaran sendiri), tapi bukan pluralistik.
Karena saya melihat diri saya lebih merupakan seorang 'jnani'
(pejalan
spiritual melalui pencerahan dan kearifan) daripada seorang 'bhakta',
maka
akhirnya saya pun keluar dari kelompok itu, dan kembali menjalani
kehidupan
ini seorang diri, tanpa tuntunan siapa-siapa. Sekalipun demikian, di
kamar
meditasi saya masih terpasang sebuah foto Sai Baba satu badan penuh
setinggi 1,5 meter; foto itu tidak saya turunkan, karena mengingatkan
akan
perjalanan spiritual saya.
Ajaran Sai Baba lebih menitikberatkan pada kesadaran akan Tuhan
(dalam
segala wujud-Nya), dan kurang menekankan meditasi. Dalam
kebaktiannya,
dilakukan 'bhajan' (mengidungkan lagu-lagu pujaan terhadap berbagai
wujud
Tuhan) selama 1,5 jam; dan meditasinya cuma beberapa menit. Meditasi
yang
diajarkan adalah konsentrasi (pengulangan) mantra "so ham" ("Dia itu
aku"),
untuk mencapai keheningan. Sai Baba tidak mengajarkan orang untuk
memuja
fotonya, tetapi juga tidak melarang orang yang memujanya.
Memang fenomena Sai Baba baru muncul secara global mulai tahun 1960-
an,
bersamaan dengan tumbuhnya pemikiran "New Age". -- Sebetulnya, "New
Age"
ini bukan suatu 'movement' yang homogen, melainkan sangat heterogen,
dan
tidak semuanya positif. Yang "menyatukan" orang-orang dalam 'gerakan'
ini
adalah sikap yang kritis terhadap agama-agama yang mapan, yang
membuat
orang mencari pegangan spiritual baru, atau menafsirkan agama mapan
secara
baru sehingga bertentangan dengan ajaran para pemuka agama itu
sendiri.
Salam,
Hudoyo
--- End forwarded message ---
Have constructive thoughts, consoling words, compassionate acts.
Peace & enlightenment be yours!
- from guys at Mayapada Prana
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://asia.docs.yahoo.com/info/terms