--- In [EMAIL PROTECTED], "nugroho_dp" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Indigo Si Anak Old Soul 
Getaran bumi yang sedemikian kuat membawa banyak perubahan. Salah 
satunya adalah makin banyaknya terlahir anak berjiwa matang (old 
soul) yang memiliki bakat khusus. 
Bagaimana mendidik agar mereka tidak merasa tertekan dan aneh karena 
berbeda dengan teman-temannya? 

Gejala alam rupanya tidak sedikit mempengaruhi hal-hal lain. Waktu 
yang berjalan demikian cepat menjadi satu indikasi perubahan yang 
terjadi di bumi. Selain itu, munculnya anak-anak berbakat dengan jiwa 
tua atau old soul, juga menjadi tanda perubahan bumi yang begitu 
cepat. 

Akhir-akhir ini kita sering disentakkan oleh begitu banyaknya anak 
yang memiliki pola pikir berbeda dengan anak seusianya. Daya nalar 
mereka cenderung dewasa, padahal usianya belum mencapai belasan. Kali 
lain kita dikejutkan oleh anak-anak yang memiliki indra keenam luar 
biasa tajam, sehingga si anak sampai merasa dirinya tidak normal 
karena tidak sama dengan teman-temannya. 

Fenomena lahirnya anak-anak berkemampuan lebih ini sebenarnya sudah 
sejak lama ada. Sebastian Bach dan Albert Einstein bisa dikategorikan 
sebagai anak indigo. Musik yang diciptakan Bach disebut sebagai tipe 
musik anak indigo. Ia menciptakan musik sambil melamun, sama seperti 
Einstein yang mendapat rumus saat sedang bengong. 

Keberadaan anak-anak berbakat ini memang baru disadari sejak tahun 
1990-an. Para ahli menyebut mereka indigo. Nama indigo diambil karena 
warna yang dipancarkan dari cakra ajna anak-anak berbakat itu 
berwarna biru nila (indigo). Cakra ajna terletak di tengah dahi, 
antara kedua alis mata. 

Meski demikian, keindigoan seseorang tidak semata-mata hanya 
ditunjukkan oleh warna indigo dari cakra ajna. Itu sebabnya, 
penggalian informasi oleh para psikolog maupun psikiater lewat 
wawancara, tetap penting dilakukan. Melalui obrotan dan tanya jawab, 
akan diketahui tipe serta pola pikir anak tersebut. 

Tidak Lazim 

* Warna aura indigo pada seorang anak memang bisa mengindikasikan 
banyak hal. Sebab, dikatakan Tom Suhalim, ahli aura dan fengsui, aura 
berkaitan dengan warna kepribadian. 

Suatu alat yang disebut aura video station berfungsi hanya untuk 
melihat keseimbangan aura pada seseorang. Pada anak indigo, selain 
ditunjukkan oleh warna aura, juga dibarengi dengan pola pikir dewasa. 
Diperkirakan di masa ini banyak jiwa yang sudah matang atau tua, tapi 
hidup dalam badan anak-anak. 

"Sifat tubuhnya memang anak-anak, tapi soul-nya sudah kuat. Makanya 
kalau dia nyeletuk bukan seperti anak-anak lagi. Ada yang 
bicara, "Nenek dulu 'kan adik saya!' Ada yang merasa selalu melihat 
sesuatu yang oleh awam disebut makhluk halus," papar Dr. Tb. Erwin 
Kusuma, Sp.KJ, psikiater anak. 

Banyak orangtua yang khawatir dengan kondisi anak seperti itu. Anak 
indigo memang kerap memperlihatkan tanda-tanda kejiwaan yang tidak 
lazim. Satu hal yang terlihat nyata dari anak indigo, tambah Dr. 
Erwin, adalah selalu bentrok dengan orangtua. 

Hal ini juga pernah dialami Victor Chandrawira (39) yang juga 
memiliki sifat indigo. Saat kecil ia dicap sebagai pemberontak. 
Menurutnya, sikapnya itu bukan pemberontakan, melainkan melihat 
sesuatu dari sisi yang lain. Selain itu, Victor yang kini menjadi 
presiden direktur sebuah perusahaan konsultan untuk pengembangan 
sumber daya manusia ini juga memiliki berbagai pengalaman unik. Kala 
berada di Italia misalnya, ia disapa oleh seorang gipsi yang mengaku 
mengenal Victor sebagai seniman keliling yang hidup beberapa tahun 
lampau di sana. 

Jiwa tua yang hadir dalam anak indigo juga kerap disebut oleh Tom dan 
Dr. Erwin sebagai bukti reinkarnasi atau jiwa yang terlahir kembali. 
Mereka memperkirakan, anak yang lahir dengan tipe jiwa tua akan 
bertambah banyak dalam periode mendatang. 

Getaran Berubah 

* Munculnya anak indigo, menurut Tom, tak lepas dari pengaruh 
perubahan getaran bumi. 

Pada tahun 1970 sampai 1980-an, resonansi bumi sekitar 7,83 Hz. Di 
tahun 2000 menjadi 8,5-9 Hz, sedangkan di tahun 2004 sudah mencapai 
13,5 Hz. 

Secara metafisik, getaran bumi yang semakin cepat akan menimbulkan 
satu fase, yang menyebabkan terjadinya kenaikan tingkat ke dimensi 
yang lebih tinggi. 

Secara teoretis, getaran bumi yang semakin cepat akan membuat bumi 
semakin panas dan suhu ikut meningkat. "Kenaikan ini juga 
mengakibatkan perubahan yang cukup signifikan, sehingga membutuhkan 
orang tertentu untuk menyeimbangkannya," lanjut konsultan fengsui dan 
aura ini. 

Kelahiran anak-anak berbakat inilah yang akan membantu getaran bumi 
berjalan lebih smooth, lebih muLus. Kelahiran mereka ditujukan untuk 
mengubah tatanan dunia supaya menjadi lebih nyaman. 

Anak indigo datang ke dunia dengan berbagai misi. Cara yang diambil 
pun beraneka ragam. Bisa lewat kesenian, pendidikan, ilmu 
pengetahuan, olahraga, bahkan menjadi paranormal. "Semua itu 
tergantung misi mereka," katanya. Anak indigo kebanyakan merupakan 
pendobrak suatu tatanan yang salah. Karena bertugas meluruskan 
ketidakbenaran itu, mereka umumnya lahir dengan tipe bijaksana. 
Memang dibutuhkan manusia dengan prinsip kuat untuk bisa membuat 
getaran bumi berjalan lebih lembut. 

Menurut Tom, dalam beberapa kasus, saat ini juga bermunculan "anak 
kristal". "Mereka lebih berbeda lagi. Anak kristal umumnya lebih 
kalem. Tapi, secara fisik mereka kurang begitu kuat karena lebih 
rapuh dan rentan. Warna auranya lavender, ungu muda," tuturnya. 

Karakteristik anak indigo bermacam-macam. Kemampuan indra keenam 
tidak hanya dalam hal penglihatan, tapi juga pendengaran dan lainnya. 
Mereka bisa melihat permasalahan lebih mendalam. Intuisi anak seperti 
itu juga kuat. 

Bisa Amburadul 

* Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dibandingkan dengan anak 
lain ini, jelas memerlukan peran pendidikan yang khusus pula. 

Misalnya anak indigo yang bisa berbahasa Inggris walau usianya masih 
balita dan tidak dibesarkan dalam kultur berbahasa Inggris, harus 
tetap disekolahkan. 

"Sekalipun indigo mereka tetap anak-anak yang harus mendapat 
pengarahan. Orangtua tetap harus mendidik mereka," ucap Tom. 

Bagaimanapun, mereka adalah anak-anak yang masih dalam tahap 
berkembang. Terlebih lagi, emosi mereka belum seimbang. Hal itu 
tampak dari warna kepribadiannya yang masih berganti-ganti. 

Tom pun mewanti-wanti agar orangtua selalu mengawasi dan tetap 
mendidik anak-anaknya yang tergolong indigo sebagaimana mereka 
mendidik anak lain. Jangan sampai orangtua mendewa-dewakan anak 
indigo. 

"Kalau mereka berlaku kurang ajar, tetap harus diajarkan disiplin. 
Kalau salah, ya perlu dihukum. Kematangan mereka harus lengkap. Tidak 
hanya fisik, pikiran dan emosi harus seimbang. Kalau salah satu tidak 
bagus, mereka bisa amburadul," kata Tom lugas. 

Oleh karena itu, menurut Tom, perlu dipertimbangkan kembali oleh para 
orangtua yang mengizinkan anak indigo memberi pengajaran (misalnya 
reiki, meditasi, penyembuhan, dan lain-lain) kepada orang dewasa. 
Untuk menjadi pengajar, mereka harus mempunyai kematangan fisik, 
emosi, mental, pola pikir, dan lain-lainnya. 

Talenta yang dimiliki anak-anak itu semestinya memang bisa 
dimanfaatkan. Namun, untuk dapat menyalurkan kelebihan itu dengan 
baik dan benar, harus didukung keseimbangan atau kematangan dari 
segala aspek. 

10 Karakteristik anak Indigo 

Dalam bukunya, The Indigo Children, Lee Carroll dan Jan Tober 
mengemukakan 10 karakteristik anak indigo, yaitu: * Mereka datang ke 
dunia dengan perasaan serta perilaku yang menyiratkan kebesaran. * 
Mereka mempunyai perasaan patut atau layak untuk berada di sini dan 
heran bila orang lain tidak merasakannya. * Penghargaan terhadap diri 
sendiri bukan merupakan masalah besar. Mereka justru menyampaikan 
kepada orangtua, siapa mereka sebenarnya. * Mereka mempunyai 
kesulitan dengan kekuasaan absolut, terlebih kekuasaan tanpa 
penjelasan atau pilihan. * Mereka terkadang tidak mau melakukan 
beberapa hal, seperti mengantre. Itu merupakan sesuatu hal yang 
menyulitkan bagi mereka. * Mereka kerap merasa frustrasi dengan 
sistem yang berorientasi ritual dan tidak membutuhkan pemikiran 
kreatif. * Mereka kerap melihat sesuatu atau mengerjakan sesuatu 
dengan cara yang lebih baik, baik di rumah maupun sekolah. * Mereka 
sepertinya terlihat antisosial, kecuali dalam kalangannya sendiri. * 
Mereka tidak akan merespon atas disiplin yang kaku. * Mereka tidak 
malu untuk membiarkan orang mengetahui apa yang mereka butuhkan. 
Selain itu, dalam buku The Indigo Children, Doreen Virtue, Ph.D, 
menyebutkan pula beberapa karakteristik untuk mengidentifikasi anak-
anak berbakat khusus itu, yaitu: * Sangat sensitif. * Energinya 
sangat berlebihan. * Mudah bosan. * Perlu orang dengan kondisi emosi 
yang lebih stabil dan nyaman untuk berada di sekelilingnya. * 
Mempunyai pilihan sendiri untuk belajar, terutama untuk membaca dan 
matematika. * Mudah frustrasi. Sebab, umumnya mereka mempunyai banyak 
ide, namun kurang sumber daya atau orang-orang yang dapat membantu 
mereka. * Belajar lewat cara eksplorasi. * Tidak bisa diam kecuali 
mereka menyatu dalam sesuatu hal yang sesuai dengan minatnya. * 
Mempunyai ketakutan seperti kehilangan atau ditinggal meninggal oleh 
orang yang dicintainya. * Jika pengalaman pertamanya mengalami 
kegagalan, mereka mungkin akan menyerah dan membuat blok pembelajaran 
secara permanen. 

"Saya Bukan Indigo!" 

* Benarkah ada anak indigo? Kalau pertanyaan itu dilontarkan kepada 
Vincent Christian Liong, jawabannya, "Tidak!" 

Remaja berusia 19 tahun ini dikategorikan sebagai indigo, tapi ia 
merasa dirinya bukan indigo. Baginya, indigo hanyalah jenis warna. 

Tak ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Ia sama seperti anak lain 
seusianya. Itu sebabnya saat ditanya tentang kondisinya yang 
dinyatakan sebagai anak indigo, wajah Vincent berubah. Ia tidak 
suka! "Saya hanya difoto aura. Itu pun baru beberapa bulan lalu," 
ujarnya kesal. 

Sejauh ini, tidak ada dokter yang mewawancarai atau pun memeriksa 
dirinya, terkait dengan indigonya. Menurutnya, para dokter hanya 
mengasumsikan keindigoannya berdasarkan 10 tipe. "Katanya sih ada 
tujuh atau delapan tipe yang cocok," ucapnya enteng. 

Namun, kemudian ia menambahkan, "Sekarang lihat saja deh anak-anak. 
Kayaknya banyak juga yang masuk dalam tipe itu. Jadi nggak ada 
bedanya kan antara anak indigo dan tidak?" 

Urusan indigo ini menjadi sangat sensitif bagi Vincent. Jauh sebelum 
masalah ini terangkat, ia bisa menjalani kehidupannya dengan normal. 
Namun, begitu wajahnya terpublikasi di media cetak dan televisi 
sebagai anak indigo, banyak yang berubah. 

"Saya tidak suka dengan kondisi itu. Efeknya jadi tidak baik bagi 
perkembangan anak. Saya dianggap aneh, padahal tidak. Untung saja, 
teman-teman saya tidak mengganggap demikian," tutur pelajar kelas 12 
di Gandhi Memorial International School, Jakarta ini. 

Indigo, menurut Vincent, tidak ada dalam kamus kedokteran. Sebab, 
kedokteran Barat tidak memasukkan unsur reinkarnasi yang kerap 
dihubungkan dengan kasus indigo. Nah, inilah yang membuat 
kontroversi. "Lalu, bagaimana mau ditangani dengan dunia kedokteran?" 
tanyanya dengan nada kritis. 

Hal ini semata-mata diutarakan karena dalam beberapa hal, anak yang 
diduga indigo harus menjalani terapi. "Kalau sudah berbakat, kenapa 
harus diterapi? So what kalau berbakat?" tanyanya dengan nada 
meninggi. 

Sebagal gambaran, sosok pelajar kelahiran Jakarta, 20 Mei 1985 ini 
sangat berbakat. Bukan dalam bidang pelajaran, tapi di luar urusan 
sekolah. Anak pertama dari dua bersaudara ini sangat rajin menulis, 
tidak hanya di milis yang dibuatnya, tapi juga menyebarkan ke 
berbagai milis lain. 

Tulisannya sangat tajam untuk ukuran anak seusianya, dan berbau 
filsafat yang kuat. Bahkan, tulisannya itu sudah dibukukan. Buku 
pertamanya berjudul "Berlindung di Bawah Payung" diterbitkan oleh 
Grasindo pada tahun 2001. 

Sebenarnya masih ada dua kumpulan tulisannya yang belum sempat 
dibukukan. "Masih berantakan," begitu alasannya. Ia juga pernah 
memenangi lomba penulisan Analisis Karya Sastra Tingkat SMU. Ia 
menganalisis karya Pramoedya. Tulisan berjudul Tentang Manusia dalam 
Bumi Manusia tersebut muncul dalam buku Pramoedya Ananta Toer dan 
Manifestasi Karya Sastra. 

Vincent memang berbakat. Selain menulis, ia juga aktif memberikan 
pelatihan spiritualitas. Yang ia ajarkan adalah soal pemanfaatan 
otak, reiki tumo, dan kundalini. 
Kompas, 17/06/2005

--- End forwarded message ---






Have constructive thoughts, consoling words, compassionate acts.
Peace & enlightenment be yours!

- from guys at Mayapada Prana 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://asia.docs.yahoo.com/info/terms
 




Kirim email ke