wah saya jadi rajin reply, mumpung ada waktu, mau komentar lagi ah hehe...
"Oleh karena itu, saya ingin menyampaikan kepada saudara2ku, bahwa tidak ada satupun scientist yang percaya agama atau Tuhan" kok ibu jadi mengeneralisasi begini? definisi scientist itu apa? apasih ukuran utk seseorang bisa dibilang menjadi scientist? punya gelar master? PhD atau Prof? publish paper ke Jurnal International? anggota perkumpulan scientist di America? atau bekerja di research institute? atau bagaimana? kalo ukuran scientist itu Einstein (tarolah ibu selevel Einstein), pasti tau dong kata2 mutiara Einstein yg terkenal itu : "I am convinced that He (God) does not play dice" (Tuhan tidak bermain dadu). Einstein memang atheist (tidak menganut agama apa2), tapi sampai pada satu hal dia tdk bisa bilang kalo semua yg terjadi di alam ini berjalan dengan sendirinya apa adanya, Tuhan yg mengatur semuanya. Terlalu akurat untuk terjadi begitu saja (Einstein adalah salah satu penggagas quantum mechanics dan tdk suka dengan asumsi randomness yg melandasi theory2 quantum mechanics ). Buat Einstein mungkin Tuhannya adalah kekuatan yg dia sendiri ngga tau, tp yang pasti mengatur Jagad Raya ajah... Intinya sih, ngga semua scientist ngga percaya Tuhan (agama mungkin iya) tapi balik lagi ke definisi scientist, siapakah scientist itu? dan lagi agama itu memang buat orang2 yg mau berpikir yg ngga2, semacam: siapa yg menciptakan alam siapa yg mengatur alam kenapa saya lahirkan untuk apa saya dilahirkan kenapa ada kematian ada apa setelah kematian bla bla bla memang yg paling nyaman adalah menjadi atheist, tak ada beban, mati ya mati saja, end of story. andaisaja benar, saya juga milih jadi atheist, bisa buat apa saja yg saya mau tanpa takut kena hukuman di alam baka nanti... cuma masalahnya, apa benar begitu? apa hidup ini sesimple itu, lahir dan mati ?? kalo Einstein saja bilang Jagad Raya ada yg ngatur, waah saya yg levelnya jauh 1 juta tahun cahaya dari Einsten ngga bisa bilang apa2, hehe dan lagi agama ngga dipaksakan kok Ibu, Islam ngga memaksa, kalo Tuhan mau semua orang didunia akan punya agama yg sama, menyembah yg satu, cuma khan kita diberi keleluasaan, untuk berpikir dan memilih, sampai nanti tiba waktunya pertanggung jawaban ummat manusia... kita akan tahu mana yg benar mana yg salah... ngga lama kok, kita hidup ngga sampe 100 tahun, kalo nanti kita mati, asumsi kita ttg hidup/agama/tuhan akan terjawab, sayangnya ngga ada orang mati yg balik lagi ke dunia, yg bisa cerita ada apa di alam kubur sana =) jadi ya santai2 saja Ibu, tdk perlu mendoktrin orang untuk tidak beragama atau tidak percaya Tuhan, saya yakin teman2 juga ndak ada yg memaksa Ibu untuk memeluk agama atau percaya dengan Tuhan.... salam, icha --- In [email protected], "muskitawati" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > --- In [email protected], ikra dinnata <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > > > > Saya baru bergabung di milist ini dan langsung disuguhi oleh > tulisan tulisan ny m binti mustikasapi. Nampaknya Ny (?) mustikawati > memanfaatkan betul milist ini untuk menyampaikan uneg unegnya yang > mungkin tak bisa disampaikan di forum lain karena mungkin tak ada > yang mau mendengar. Nampaknya anda kesepian ya...hidup ini indah Ny > mustikasapi karena itu terlalu dungu kalau kita hanya mengeluh. JIka > anda punya masalalu yang kelam...mungkin anda butuh > pertolongan.Sampaikan apa yang dirasa perlu anda sampaikan, kita > semua mendengar anda.... > > Ikra > > > > > > > Pendapat anda diatas sama sekali salah, karena semua tulisan2 saya > bukanlah uneg2 saya, saya sekedarnya menulis tentang bagaimana > pandangan masyarakat Amerika tentang agama maupun tentang Islam. > Saya sama seperti anda, namun tidaklah perlu saya menulis pandangan > saya karena pandangan yang sama akan anda temukan seperti umumnya > orang2 Indonesia. Namun saya sebagai seorang scientist berkewajiban > menyampaikan pandangan2 yang berbeda, yang sebelumnya juga membuat > saya berkerenyit kening, oleh karena itu saya yakin tulisan2 sayapun > mengundang response yang hebat dalam masyarakat Indonesia, dan > ternyata benar, response yang saya terima melebihi dari yang saya > duga, yang menarik adalah response umat Islamlah yang terbesar, > padahal kalo saya mengikuti caci-maki antar agama di Islam-Kristen > dan Istiqal, saya tidak banyak menemukan umat Islam yang tertarik > membacanya ataupun ikut berpartisipasi disana, semuanya hanyalah > penulis yang sama yang itu2 juga. Sangat berbeda reaksi pembaca > terhadap tulisan saya, banyak sekali umat Islam yang mulanya begitu > marah kepada saya, namun setelah beberapa tahun, malah terbalik, > mereka ikut2an membela isi tulisan saya padahal saya sendiripun tidak > terpengaruh atas response2 kebencian banyak pembaca lainnya. > > Masyarakat Indonesia seperti katak dalam tempurung terutama umat > Islamnya, mereka sudah biasa dinina bobokan oleh ulama dan imam > tentang kebesaran2 Islam yang sebetulnya sama sekali menyesatkan > karena kenyataannya Islam tidaklah sebesar seperti apa yang mereka > mimpikan. Oleh karena itu tulisan2 saya banyak menyadarkan mereka, > dan semua yang saya tulis merupakan pengalaman saya dan juga > merupakan kemampuan saya yang khusus dalam mengekspresikan kebiasaan > dan ciri2 masyarakat Amerika dalam bentuk kata2 tulisan. Tentu saja > salah kalo menganggap saya kesepian, terlalu banyak undangan yang > tidak bisa saya penuhi, bahkan dari Indonesia banyak sekali > organisasi2 Islam yang mengundang saya, mereka semuanya pernah > menerima sumbangan buku2 bekas yang saya kirimkan kesana, perasaan > berterima kasih mereka begitu meluap-luap sehingga mengharukan saya. > Terlepas dari ketidak percayaan saya kepada Islam, cobalah anda > bayangkan sendiri posisi saya yang cuma mengirimkan buku2 bekas yang > sudah dibuang dari berbagai perpustakaan di Amerika ini untuk > dimanfaatkan oleh banyak umat Islam di Indonesia, saya dihargai, saya > di-elu2kan, saya di-doakan khusus di mesjid2 disana, saya dijamu > dengan segala makanan Indonesia yang saya sukai. Apakah tidak senang > rasanya kalo kita bisa membahagiakan orang lain tanpa perlu kita > banyak berkorban keluar duit ???? Wah, saya sangat terharu, setiap > ke Indonesia, saya selalu menangis dihati saya. Disini, saya > bersikap professional, menceritakan apa yang saya lakukan, apa yang > saya pikirkan, dan apa yang harus saya katakan. Tentunya disini > bukanlah tempat kita berbasa basi dengan mengatakan "ya" untuk hal > yang ingin kita katakan "tidak". Oleh karena itu, disini saya > menegaskan "saya tidak percaya Allah, Muhammad, dll", tetapi hal ini > tidak akan saya katakan dimuka umum untuk melukai perasaan orang2 > yang saya kasihi seperti ayah bunda saya. Meskipun ayah bunda saya > pernah saya katakan terang2an bahwa semua itu kebohongan orang2 Arab, > mereka marah sekali waktu itu, namun akhirnya melihat betapa saya ini > memang bukan bermaksud jahat, bukan ingin menodai apa yang mereka > percaya, mereka tidak lagi marah kepada saya, mereka tahu saya tidak > percaya Allah dan Islam, namun mereka selalu mendoakan saya, > menganggap saya Islam, tidak pernah orang tua saya menganggap diri > saya kafir kepada siapapun juga. Semua sumbangan maupun pemberian > saya diterima dengan doa syukur mereka...... apakah tidak bahagia > kalo anda diposisi saya ???? Dihargai, dimuliakan, didoakan dan > dijamu tanpa perlu modal selain cuma ongkos kirim buku2 yang tidak > seberapa dibandingkan makanan enak hidup mewah di-elu2kan kayak raja > di Indonesia ?????????? Silahhak anda ikut merasakan kebanggaan dan > kebahagiaan saya ini. > > Agama memang merupakan bagian basa basi dalam kehidupan sosial di > Indonesia, tentu berbeda dengan di Amerika. Oleh karena itu, saya > ingin menyampaikan kepada saudara2ku, bahwa tidak ada satupun > scientist yang percaya agama atau Tuhan, namun mereka selalu hidup > diantara umat beragama yang percaya Tuhan, mereka dihargai dan di- > elu2kan sebagai umat mereka, namun siapa yang bisa tahu kalo > kenyataannya mereka adalah seperti juga saya, tidak percaya begituan > seperti yang anda semuanya percaya. Kita sebagai scientist hidup > dalam masyarakat untuk membantu mereka bukan menambah penderitaan > mereka hanya karena saya mengaku tidak percaya apa yang mereka > percaya. Lalu kenapa disini saya harus berjujur mengemukakan apa > yang sebenarnya pendirian saya, se-mata2 untuk menyadarkan semua umat > beragama untuk menghindarkan diri membuat petaka kepada yang lainnya > seperti membomb club, membakar gereja/mesjid, menjarah toko dan > rumah2, bahkan membunuh dan memperkosa amoy2. Apakah hal itu tidak > menyedihkan anda???? Semua kebiadaban ini dilakukan karena mereka > merasa mendapat pahala dari apa yang mereka percaya. Demikianlah, > tulisan2 saya bukan untuk menyakitkan anda semua yang percaya karena > sayapun merupakan bagian dari apa yang anda percaya, tugas saya > membahagiakan siapun bukan menciptakan petaka. Untuk menghindarkan > petaka akibat agama, maka perlu saya tunjukkan bagaimana seharusnya > anda memahami agama anda dizaman sekarang ini. > > Ny. Muslim binti Muskitawati. > > > > Quotes : "This is my simple religion. There is no need for temples; no need for complicated philosophy. Our own brain, our own heart is our temple; the philosophy is kindness" - Dalai Lama - Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://asia.docs.yahoo.com/info/terms

