=======================
Oleh Adnin Armas, MA
Penulis adalah sedang menyelesaikan program doktor bidang pemikiran
Islam di ISTAC, Malaysia
=======================
Tertarik dengan gagasan Olcott dan Blavatsky, Gérard Encausse,
seorang Freemason mendirikan cabang The Theosophical Society di
Perancis. Nama samarannya dikenal sebagai Papus.
Ia mendirikan Free School of Hermetic Sciences, sebuah sekolah yang
mengkaji tentang mistis. Encausse menghidupkan kembali ajaran
Martinist Order. Nama lengkap De Saint-Martin adalah Louis-Claude de
Saint-Martin, seorang Freemason dan bekas pegawai tentara yang punya
ketertarikan dengan mistis dan Hermes.
Sebagaimana dalam buku Against the Modern World: Traditionalism and
the Secret Intellectual History of the Twetieth Century (OOxford:
Oxford University Press, 2004), Martin meyakin, "Semua tradisi bumi
harus dilihat sebagai berasal dari tradisi-ibu yang fundamental
bahwa, dari awal, telah dipercayakan kepada laki-laki yang berdosa
dan kepada keturunannya yang pertama.
(All the traditions of the earth must be seen as deriving from a
fundamental mother-tradition that, from the beginning, was entrusted
to sinful man and to his offspring).
Pernyataan yang sama juga dikemukakan oleh Count Joseph de Maistre,
juga seorang Freemason dan teman dekat Saint-Martin bahwam "Agama
yang benar lahir pada hari ketika [semua] hari dilahirkan , Konsep
yang kabur [mengenai orang-orang kuno] tidak lain disebabkan
banyaknya dari sedikit kelemahan dari tradisi primitive yang
tinggal. (The True religion was born on the day that [all] days were
born , The vague conceptions [of the ancients] were no more than the
more of less feeble remains of the primitive tradition).
Pada tahun 1906, Rene Guénon (1886-1951), yang kelak menjadi pelopor
Filsafat Abadi, masuk ke sekolahnya Encausse. Disana, Guénon bukan
saja mulai mengenali kajian mistis (occult studies), namun juga
berkenalan dengan sejumlah tokoh Freemason, teosofi dan berbagai
gerakan spiritual yang lain.
Guénon aktif menggelar berbagai kongres, seminar, diskusi dan
aktifitas tentang mistis dan Freemason di Perancis. Ringkasnya,
Freemason merupakan ketertarikan Guénon yang paling besar sepanjang
hidupnya (it remained of Guénon's great interests throughout his
life).
Bagi Guénon, Freemason adalah wadah dari luasnya hikmah tradisional,
kaya khususnya dalam simbolisme dan ritual. Guénon juga yakin bahwa
Freemason adalah cara untuk menjaga banyak aspek dari Kristen yang
telah hilang dan terabaikan.
Guénon (m.1951) menghidupkan kembali nilai-nilai, hikmah, kebenaran
abadi yang ada pada Tradisi dan agama. Guénon (m. 1951), menyebutnya
sebagai Primordial Tradition (Tradisi Primordial). Guénon, yang
awalnya Katolik, selanjutnya "memeluk" Islam pada tahun 1912. (nama
Islamnya Abdul Wahid Yahya).
Bagaimanapun, selama kehidupannya di Perancis, Guénon tidak dikenal
telah mempraktekkan ritual Islam.
Guénon berpendapat bahwa ilmu yang utama sebenarnya adalah ilmu
tentang spiritual. Ilmu yang lain harus dicapai juga, namun ia hanya
akan bermakna dan bermanfaat jika dikaitkan dengan ilmu spiritual.
Menurut Guénon, substansi dari ilmu spiritual bersumber dari
supranatural dan transendent. Ilmu tersebut adalah universal. Oleh
sebab itu, ilmu tersebut tidak dibatasi oleh suatu kelompok agama
tertentu. Ia adalah milik bersama semua Tradisi Primordial
(Primordial Tradition).
Perbedaan teknis yang terjadi merupakan jalan dan cara yang berbeda
untuk merealisasikan Kebenaran. Perbedaan tersebut sah-sah saja
karena setiap agama memiliki kontribusinya yang unik untuk memahami
Realitas Akhir.
Pengalaman spiritual Rene Guénon (m.1951) dalam gerakan teosofi dan
Freemason mendorongnya untuk menyimpulkan bahwa semua agama memiliki
kebenaran dan bersatu pada pada level Kebenaran.
Salah seorang tokoh penerus pemikiran Guénon adalah Frithjof Schuon
(1907-1998).
Sejak berusia 16 tahun, ia telah membaca karya Guénon, Orient et
Occident. Kagum dengan pemikiran Guénon, Schuon saling berkirim
surat dengan Guénon selama 20 tahun.
Setelah berkorespodensi sekian lama, akhirnya, untuk pertama kalinya
Schuon bertemu dengan Guénon di Mesir pada tahun 1938.
Schuon "memeluk" Islam dan dikenal sebagai Isa Nuruddin Ahmad al-
Shadhili al-Darquwi al-Alawi al-Maryami. Ia adalah seorang tokoh
terkemuka dalam religio perennis (Agama Abadi).
Ia menegaskan prinsip-prinsip metafisika tradisional, mengeksplorasi
dimensi-dimensi esoteris agama, menembus bentuk-bentuk mitologis dan
agama serta mengkritik modernitas.
Ia mengangkat perbedaan antara dimensi-dimensi tradisi agama
eksoteris dan esoteris sekaligus menyingkap titik temu metafisik
antar semua agama-agama ortodoks. Ia mengungkap Satu-satunya
Realitas Akhir, Yang Mutlak, Yang Tidak Terbatas dan Maha Sempurna.
Ia menyeru supaya manusia dekat kepada-Nya.
Dalam pandangan Schuon, sekalipun dogma, hukum, moral, ritual agama
adalah berbeda, namun nun jauh di kedalaman masing-masing agama,
ada `a common ground'. Ia berpendapat agama-agama mengandung dimensi
eksoterik dan esoterik.
Kedua dimensi ini yang inheren dalam agama berasal dari dan
diketahui melalui Intelek (Intellect). Menurut Schuon, secara
psikologis, ego manusia terkait dengan badan (body), otak (brain)
dan hati (heart). Jika badan diasosiasikan dengan eksistensi fisik,
otak dengan fikiran (mind), maka hati (heart) dengan Intelek.
Jika dikaitkan dengan realitas, maka Intelek dapat diasosiasikan
dengan Esensi Tuhan (Yang Satu) dan langit (alam yang menjadi model
dasar) sedangkan fikiran dan badan meliputi dunia fisik,
terrestrial. Intelek sangat penting karena otak dan badan di bawah
kendali, dan berasal dari Intelek.
Intelek adalah pusat manusia (the centre of human being), yang
bersemayam di dalam hati. Kualifikasi intelektual harus didampingi
dengan kualifikasi moral. Jika tidak, maka secara spiritual, Intelek
tidak akan berfungsi. Hubungan antara `intelektualitas'
dan `spiritualitas' adalah bagaikan hubungan antara pusat dan
pinggiran. Intelektualitas menjadi spiritualitas ketika manusia
sepenuhnya, bukan Intelektualitasnya saja, hidup di dalam kebenaran.
Intelek lebih tinggi dari rasio karena jika rasio itu menyimpulkan
sesuatu berdasarkan kepada data, maka mental berfungsi karena
eksistensi intelek. Rasio hanyalah media untuk menunjukkan jalan
kepada orang buta, bukan untuk melihat. Sedangkan Intelek, dengan
bantuan rasio, terungkap dengan sendirinya secara pasti. Selain itu,
Intelek dapat menggunakan rasio untuk mendukung aktualisasinya.
Di dunia fisik, Intelek terbagi menjadi fikiran (mind) dan badan
(body). Namun, hanya di dunia fisik Intelek terbagi. Di alam langit
yang menjadi model dasar, atau di dalam Ide Plato, fikiran dan badan
merupakan makna yang tidak dibedakan: Fikiran adalah eksistensi dan
eksistensi adalah fikiran.
Manusia memahami kebenaran melalui intuisi. Sebagai sebuah daya,
Intelek adalah dasar bagi intuisi. Intuisi intelek membedakan antara
yang ril dan ilusi, antara wujud yang wajib dan wujud yang mungkin.
Implikasinya, ada realitas transenden diluar dunia bentuk.
Dengan Intelek, manusia mengetahui bahwa Realitas dapat dibagi
menjadi dua, Absolut dan relatif, Ril dan ilusi, Yang Harus dan
mungkin, yang esoteris dan eksoteris. Menurut Schuon, agama-agama
bertemu pada level yang esoteris, bukan eksoteris. Berikut
penjelasan lebih lanjut mengenai esoteris dan eksoteris dalam
pemikiran Schuon.
Eksoterisme dan Esoterisme
Menurut Schuon, eksoteris adalah aspek eksternal, formal, hukum,
dogmatis, ritual, etika dan moral sebuah agama. Eksoteris berada
sepenuhnya di dalam Maya, kosmos yang tercipta. Dalam pandangan
eksoteris, Tuhan dipersepsikan sebagai Pencipta dan Pembuat Hukum
bukan Tuhan sebagai Esensi karena eksoterisme berada di dalam Maya,
yang relatif dalam hubungannya dengan Atma. Pandangan eksoteris
bermakna pandangan yang eksklusif, absolut dan total, sekalipun dari
sudut pandang intelek adalah relatif.
Menurut Schuon, pandangan eksoteris, bukan saja benar dan sah bahkan
juga keharusan mutlak bagi keselamatan (salvation) individu.
Bagaimanapun, kebenaran eksoteris adalah relatif. Inti dari
eksoteris adalah `kepercayaan' kepada "huruf",--sebuah dogma
esklusifistik (formalistik)--dan kepatuhan terhadap hukum ritual dan
moral. Selain itu, eksoterisme tidak pernah akan melampaui individu.
Eksoterisme bukan muncul dari esoterisme, namun muncul dari Tuhan.
Schuon menyadari jika masing-masing "form" agama meyakini bahwa
sesuatu "form" itu lebih hebat dibanding dengan "form" yang lain.
Pemikiran seperti itu, lanjut Schuon, sangat wajar. Perpindahan
agama terjadi justru karena adanya superioritas sebuah "form"
terhadap yang lain. Bagaimanapun, superioritas tersebut sebenarnya
relatif.
Menurut Schuon, Islam misalnya, lebih baik dari Hindu karena memuat
bentuk terakhir dari Sanatana Dharma. Schuon mengatakan.: " Sama
halnya, bahwa Agama Hindu adalah form yang paling tua yang masih
hidup mengimplikasikan bahwa agama tersebut memiliki superioritas
tertentu atau sentralitas dibanding dengan bentuk yang terakhir
(Islam)".
Esoteris adalah aspek metafisis dan dimensi internal agama. Tanpa
esoterisme, agama akan teredusir menjadi sekedar aspek-aspek
eksternal dan dogmatis-formalistik. Esoterisme dan eksoterisme
saling melengkapi. Esoteris bagaikan "hati" dan eksoteris
bagaikan `badan'agama. Menurut Schuon, titik-temu agama bukan berada
pada level eksoteris. Sekalipun agama hidup di dalam dunia bentuk (a
world of forms), namun ia bersumber dari Esensi yang Tak Berbentuk
(the formless Essence). Agama memiliki dimensi esoteris yang berada
di atas dimensi eksoteris. Titik temu antar agama hanya ada pada
level esoteris.
Melalui esoterisme, manusia akan menemukan dirinya yang benar.
Pandangan esoteris akan menolak ego manusia dan mengganti ego
tersebut menjadi ego yang diwarnai dengan nilai-nilai ketuhanan.
Esoterisme menembus simbol-simbol eksoterisme. Sekalipun terkait
secara inheren kepada eksoterisme, esoterisme independen dari aspek
eksternal, bentuk, formal agama. Independensi tersebut karena
esensi dari esoterisme adalah kebenaran total. Kebenaran yang tidak
terbatas dan tidak teredusir kepada eksoterisme, yang memiliki
keterbatasan.
Pemaparan ringkas diatas menunjukkan gagasan Guenon dan Schuon yang
memformulasi kesamaan agama dalam level esoteris adalah hasil
interaksi mereka dengan para tokoh Freemason dan Teosof. Gagasan
pada intinya semua agama sama disebarkan pada awalnya oleh para
pengikut Freemason, yang ingin merelevansikan ajaran-ajaran Yahudi,
mistis, dan "hikmah kuno" (ancient wisdom) ke zaman modern.
source :
http://hidayatullah.com/content/view/2534/65/
Iklan :
Mari bergabung dengan Study Grup The Theosophical Society (TS) di
Sophia Lodge - Hotel Madju - Pada hari Minggu tanggal 14 Mei 2006,
Jl LLRE Martadinata 94 BANDUNG 40114 - Jawa Barat, (022)-4205423.
Studi grup dimulai pukul 10.00 s.d. 13.00 WIB. Mari membangun
persaudaraan Universal!
Namaste - Syalom - Shanti - Adonai
-Brewok-
Quotes :
" Spirituality is essentially a journey within. You need no preparations, no luggage to carry - nothing absolutely. What you need is just : LOVE ! And this Love, can only come as an after effect of self-actualization, achieved though the practice of meditative way of life."
- Anand Krishna -
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

