T I T I K   P A N D A N G
Oleh Sukidi

====================================================
(dikutip dari satunet.com -
http://satunet.com/artikel/isi/00/10/07/27527.html)
Sabtu, 07/10/2000 -
Titik temu agama-agama, polemik Anand vs pengkritiknya
====================================================

Polemik antara Anand Krishna dengan para pengkritiknya berkisar pada
kata-kata kunci: "samakah semua agama?", "absahkah setiap agama
sebagai jalan menuju Tuhan mengingat agama itu sendiri berwajah
plural?", "otentikkah hanya ada satu kebenaran dan satu
keselamatan?" dan "bagaimana kebenaran dan keselamatan di luar agama
kita?"

Dalam buku Islam Esoteris, Anand menegaskan bahwa "bagi para sufi,
para mistik, para yogi, agama tak lebih dari sekadar jalan menuju
tujuan akhir, yaitu Allah, Tuhan, Buddha, Bapa di Sorga, Ahura
Mazda, Satnaam. Sampai di tujuan, mereka saling bisa berpelukan.
Luar biasa ya? Kita lewat jalan berbeda-beda, tapi bertemu di sini!"

Lanjut Anand, "Yang mempermasalahkan jalan dan mengatakan bahwa
jalannya yang paling baik dan paling benar, sesungguhnya patut
dikasihani. Mereka belum sampai pada tujuan. Mereka masih dalam
perjalanan!"

Sementara para pengkritiknya, seperti Daud Rasyid (Republika, 23
Agustus 2000) menegaskan 'Hanya satu Kebenaran', dan menilai misi
tulisan Anand ingin bermuara pada titik kesimpulan 'semua agama itu
sama'.

Nah, saya tidak akan memperpanjang deretan polemik ini yang mungkin
tidak akan selesai. Tapi, saya akan berusaha mengulas tuntas polemik
itu dari sudut pandang saya sendiri, yang lebih mengedepankan
paradigma pemikiran inklusifistik dan bahkan pluralistik.

Jalan Menuju Tuhan

Anand berpendapat jalan menuju Tuhan itu plural, sementara
pengkritiknya, seperti Daud Rasyid berkeyakinan bahwa jalan itu
tunggal.

Sejauh pengamatan dan riset yang saya lakukan, dewasa ini ada
mainstream kuat di kalangan cendekiawan Muslim untuk menafsirkan
Islam tidak saja sebatas agama formal, tetapi justru ditafsirkan
sebagai jalan, sebagaimana dipahami dari berbagai istilah yang
digunakan kitab suci, seperti shirath, sabil, syari'ah, thariqah,
minhaj, dan mansakh. Kesemuanya itu, menurut cendekiawan Muslim yang
sangat fasih berbicara ke-Islaman dan ke-Indonesia-an, Prof
Nurcholish Madjid, mengandung makna `jalan', dan merupakan metafor-
metafor yang menunjukkan bahwa Islam adalah jalan menuju pada
perkenan Allah (lihat Nurcholish, Islam, Doktrin, dan Peradaban,
Paramadina, 1995, hal 9).

Di sinilah, perlu ditegaskan bahwa Islam itu hanyalah `jalan'
atau `sarana' menuju Tuhan sebagai the ultimate reality dalam hidup
ini. Sementara jalan menuju Tuhan itu amat lebar dan plural. "Satu
Tuhan, Banyak Jalan," meminjam istilah Prof. Nurcholish Madjid
("Dialog di Antara Ahli Kitab: Sebuah Pengantar" dalam George B
Grose & Benjamin J Hubbaard (ed), Tiga Agama Satu Tuhan, Mizan,
1998, hal xix), atau kalau di balik kalimatnya berbunyi "Ada banyak
jalan menuju Allah," dalam ungkapan Blu Greenberg (Ibid, hal xxxv).
Dipertegas lagi oleh Donald P Merrifield SJ bahwa, "Kita semua
menuju Allah yang sama, meski ditempuh melalui 'jalan' yang berbeda-
beda." (Ibid, hal xiiii) Bahkan, Al-Qur'an sendiri mengisyaratkan
bahwa pada setiap kaum, ada penunjuk jalan menuju kebenaran,
sebagaimana tersurat dalam Q.S. al-Ra'd/13:7 bahwa, "Dan pada setiap
golongan, ada seorang yang memberi bimbingan."

Huston Smith dalam karya terbaiknya, The Religions of Man (Agama-
agama Manusia) mengungkapkan pandangan keagamaan yang sangat liberal
dari seorang mistikus Hindu terkemuka, Sri Ramakrishna, yang
nantinya hanya semakin meneguhkan pandangan bahwa agama sekadar
jalan menuju Tuhan.

"Tuhan telah menciptakan berbagai agama untuk kepentingan berbagai
pemeluk, waktu dan negeri. Semua ajaran hanya merupakan berbagai
jalan, tetapi suatu jalan sama sekali bukanlah sama dengan Tuhan itu
sendiri. Sesungguhnya, seseorang akan mencapai Tuhan jika ia
mengikuti jalan mana pun juga, dengan pengabdian diri yang sepenuh-
penuhnya. Kita bisa memakan sepotong kue dengan lapisan gula, baik
secara lurus maupun miring. Rasanya akan tetap enak, dengan lapisan
apa pun juga. Sebagaimana zat yang satu dan sama, air, disebut
dengan berbagai nama oleh berbagai bangsa, yang satu menyebutnya
water, yang lain eau, yang ketiga aqua, yang lainnya lagi pani.
Begitulah Kebahagian-Kecerdasan-Yang Abadi itu disebut sebagian
orang sebagai God, oleh sebagian lagi sebagai Allah, oleh yang lain
sebagai Yehovah, dan oleh lainnya sebagai Brahman." (Huston Smith,
Agama-agama Manusia, Yayasan Obor Indonesia, 1991, hal 102-3).

Maka, di tengah pluralitas agama, jalan itu pun diekspresikan (umat
beragama) melalui berbagai bentuk (jalan yang berbeda). Misalnya,
dalam agama Hindu dikenal konsep Sanatana Dharma, dharma abadi,
yakni kebajikan yang harus menjadi dasar kontekstualisasi agama
dalam situasi apa pun, sehingga agama selalu memanifestasikan diri
dalam bentuk etis dan keluhuran hidup manusia. Dalam agama Buddha
pun, juga diperkenalkan konsep Dharma yang merupakan ajaran (jalan)
untuk sampai pada The Buddha-Nature.

Dalam analogi-komprehensifnya, Sanatana Dharma adalah apa yang
diwacanakan pemikir New Age Seyyed Hossein Nasr sebagai `Tradisi
Primordial', yakni tradisi yang telah dan akan tetap menghidupi
kemanusiaan yang ada. Baik sanatana dharma maupun Sophia perennis
(yang menjadi filsafatnya New Agers), sangat terkait dengan
konsep `Tradisi Primordial', yaitu asal eksistensi manusia.

Menurut Nasr, "Karena setiap yang dimulai dari Yang Asal, ia adalah
Yang Asal itu sendiri. Bentuk-bentuk pewahyuan seperti ini adalah
perwujudan Tradisi Primordial dalam dimensi manusiawi. Yakni, bentuk-
bentuk yang sesuai dengan lingkungan kontekstual tertentu dari
manusia yang menjadi tujuan pewahyuan tersebut. Ia adalah
manifestasi kemungkinan Ilahi (Divine Possibilities) dalam tataran
manusia." (Seyyed Hossein Nasr, "Tentang Tradisi" dalam AN Permata
[ed], Perennialisme, Melacak Jejak Filsafat Abadi, Tiara Wacana,
1996, hal 147).

Baik Sanatana Dharma ataupun `Tradisi Primordial' itu, tak lain
adalah apa yang dikenal dalam agama Islam sebagai al-din, yang
berarti `ikatan' (religere) pada Wujud Yang Absolut (Allah), yang
harus menjadi dasar (jalan) dalam beragama bagi seorang
Muslim. "Sesungguhnya ikatan (al-din) di sisi Allah adalah sikap
pasrah (islam)," demikian firman Tuhan dalam Q.s., Al-Imran/3:19).

Begitu pula, jalan dalam tradisi Taoisme lebih dikenal dengan
konsep `Tao', yang secara generik bermakna `jalan setapak'
atau `jalan' an sich, sebagai asas kehidupan manusia yang harus
diikuti, sekiranya ia (manusia) mau natural sebagai manusia. Terkait
dengan tafsiran `Tao' sebagai `jalan', menurut Huston Smith ada tiga
penafsiran untuk memahami `jalan' ini;

Pertama, Tao adalah jalan dari kenyataan terakhir. Tao ini tidak
dapat ditangkap, karena ia melampaui jangkauan pancaindera. Dalam
kitab Tao Te Ching ditegaskan bahwa, "Tao yang dapat dibayangkan
bukanlah Tao yang sesungguhnya". Dengan sifatnya yang mahabesar dan
transenden, Tao yang paling agung ini adalah dasar bagi semua yang
ada. Tao berada di belakang semuanya, dan di bawah semuanya, sebagai
rahim dari mana berasal semua yang ada dan ke mana semua yang ada
itu kembali. Ia adalah rahasia kehidupan yang paling besar, rahasia
dari segala rahasia, gerbang rahasia semua kehidupan. Dalam hal ini,
populer semboyan Tao yang sangat menggelitik: "Mereka yang
mengetahui tidak akan bicara, sedangkan mereka yang bicara tidak
mengetahui".

Kedua, meskipun Tao bersifat transenden, Ia juga imanen. Dalam hal
kedua inilah, Tao merupakan jalan alam semesta, sebagai kaidah,
irama, dan kekuatan pendorong dalam seluruh alam, serta asas pranata
yang berada di belakang semua yang ada. Pada arti inilah, para Taois
dikenal luas sebagai orang yang hidup dengan mengikuti 'jalan alam'.
Ketiga, Tao menunjuk pada jalan bagaimana seharusnya manusia menata
hidupnya, agar selaras dengan cara beroperasinya alam semesta ini
(Huston Smith, op cit, hal 233-4). Dalam arti terakhir ini, Tao
dipakai khususnya oleh kalangan New Agers sebagai way of life.
Karenanya, paradigma The Tao of... yang menjadi trend New Age,
begitu ekspresif mewarnai penerbitan judul-judul buku ilmiah dan
populer, sehingga menjadikan Tao sebagai jalan yang seharusnya
diikuti oleh generasi New Age.

Jalan Itu plural, tetapi juga lurus

Begitulah, jalan kehidupan itu luas dan plural. Ia bukan sebagai
tujuan, tetapi hanya sekedar 'jalan' menuju Tuhan. Meskipun secara
lahiriah, jalan itu amat beragam dan nampak sekali terjadinya
perbedaan, bahkan pertentangan sekalipun, tetapi secara 'esoterik'
(kata Huston Smith), atau 'esensial' (kata Bhagavan Das),
atau 'transenden' (kata Seyyed Hossein Nasr, kaum perennialis, dan
tentu saja menjadi jalan pilihan di kalangan New Agers), semua itu
akan mencapai 'kesatuan transendental (agama-agama) yang sama' (the
transcendent unity of religions). Meminjam istilah Paul F Knitter
dalam No Other Name? A Critical Survey of Christian Attitudes
towards the World Religions, (1985), bahwa semua agama
(sebagai 'jalan' menuju Tuhan) adalah relatif (all religions are
relative), -- yakni terbatas (limited), parsial (partial) dan
incomplete --, tetapi sekaligus all are essentially same, yakni sama-
sama sebagai 'jalan' penyelamatan kehidupan rohani manusia menuju
Tuhan, meskipun ditempuh melalui 'jalan' yang berbeda-beda.

Seperti Yesus Kristus sebagai bentuk perwujudan dari 'Kehadiran'
Yang Ilahi, merupakan jalan keselamatan bagi orang-orang Kristen,
atau Buddha bagi para pemeluk agama Buddha, atau Rama sebagai jalan
keselamatan bagi umat Hindu, atau juga Al-Qur'an yang oleh Frithjof
Schuon dinilai sebagai wujud dari 'Kebenaran dan kehadiran'
sekaligus, merupakan petunjuk keselamatan bagi umat Islam, dan
seterusnya. Maka, sangat wajar sekiranya 'jalan' itu luas, tetapi
juga lurus. Jalan itu 'luas', berarti dapat menampung semua pejalan
dan semua aliran (mazhab) yang berbeda-beda, tetapi juga 'lurus'
menuju Tuhan, selama bercirikan 'kedamaian, keamanan dan
keselamatan'. Semua jalan yang mencirikan hal tersebut pasti
bermuara pada jalan yang 'lurus', yang dalam bahasa al-Qur'an
diistilahkan Al-Shirath Al-Mustaqim (jalan yang 'luas',
lagi 'lurus'). Meskipun jalan yang ditempuh luas, beragam, sekaligus
plural, tetapi semuanya (umat beragama) akan sama-sama 'lurus' ke
arah vertikal menuju Tuhan 'Yang Maha Esa', 'Yang Kudus', yang dalam
bahasa teologis-Islam dinamakan Allah. Maka, Tuhan adalah 'sangkan
paran' (asal dan tujuan) hidup (hurip), bahkan seluruh makhluk
(dumadi).

Maka menarik sekali apa yang dikemukakan Bhagavan Das dalam The
Essential Unity of All Religions (1966, hal 604), bahwa kita semua
para penganut agama akan bertemu dalam the road of life (jalan
kehidupan) yang sama. Lanjut Bhagavan; "Yang datang dari jauh, yang
datang dari dekat, semua kelaparan dan kehausan. Semua membutuhkan
roti dan air kehidupan, yang hanya bisa diperoleh lewat kesatuan
dengan The Supreme Spirit."

Titik temu esoteris agama-agama

Seyyed Hossein Nasr sendiri, lewat karyanya Knowledge and the
Sacred, (New York, 1989), memaparkan wacana-wacana metafisik yang
mempertemukan agama-agama dan tradisi spiritual yang otentik pada
satu titik kesatuan transenden. Yakni, Tuhan, yang dicari (umat
beragama) melalui beragam agama (sebagai jalan-jalan menuju Tuhan).
Inilah inti dasar perspektif filsafat perennial. Maka, bila disebut
perennial religion (agama dan atau tradisi perennial), maksudnya
adalah ada hakikat yang sama dalam setiap agama. Rumusan
filosofisnya: the heart of religion or the religion of heart, yang
sudah pernah saya ulas tuntas di satunet.com.

Inilah wilayah terdalam dari setiap agama. Artinya, terdapat
substansi yang sama dalam agama-agama, meskipun terbungkus dalam
bentuk (wadah) yang berbeda. Maka, bisa dirumuskan secara filosofis
bahwa substansi agama itu satu, tetapi bentuknya beraneka ragam. Ada
(agama) Yahudi, Kristen, Islam dan seterusnya. Perumusan ini,
menjadikan filsafat perennial memasuki wilayah jantungnya agama-
agama, yang secara substantif hanya satu, tetapi terbungkus dalam
bentuk (wadah, jalan) yang berbeda. "Ada Satu Tuhan, tapi Banyak
Jalan," begitu kesepakatan Edward W Scott, Blu Greenberg, Donald
Merrifield, Seyyed Hossein Nasr, dan Nurcholish Madjid.

Untuk menguak misteri dari jantung agama yang menjadi titik temu
agama-agama, dapat diilustrasikan dengan air, yang substansinya
adalah satu. Tetapi, bisa saja kehadirannya mengambil bentuk berupa
sungai, danau, lautan, uap, mendung, hujan, kolam, embun dan
sebagainya. "...Ia sama dengan agama: kebenaran substansial hanyalah
satu, tetapi aspek-aspeknya berbeda," tegas sufi India terkemuka,
Hazrat Inayat Khan sambil menambahkan bahwa orang-orang yang
berkelahi karena bentuk luar akan selalu terus menerus berkelahi,
tetapi orang-orang yang mengakui kebenaran batini (esensial,
transenden, skd) tidak akan berselisih dan dengan demikian akan
mampu mengharmoniskan orang-orang semua agama (Hazrat Inayat Khan,
The Unity of Religious Ideals, London: Barrie dan Jenkins, 1980, hal
15).

Begitu pula perumpamaan cahaya, yang substansinya juga satu. Tapi,
spektrum cahaya itu punya 'daya terang' tersendiri -- terang sekali,
biasa, dan remang-remang --, juga tercermin dalam aneka warna
cahaya, -- ada merah, kuning, hijau, dan seterusnya. Tetapi, aneka
warna cahaya itu bukanlah signifikan, sebab semua itu tetap
dinamakan cahaya, dan semua cahaya pada hakikatnya dapat membawa
manusia ke arah Sumber Cahaya itu, yakni Tuhan (dalam wacana teologi
keagamaan).

Ilustrasi di atas, dengan demikian bisa diaplikasikan ke dalam
wacana pluralitas agama. Ibarat agama, yang secara substansial satu
sebagai jantung dari setiap agama, tetapi menjadi beragam dan plural
ketika diturunkan dalam 'atmosfir bumi', 'alam eksoterik',
atau 'alam nasut' dalam istilah Mulla Shadra. Tetapi, meskipun agama
itu plural, semua (agama) itu pada dasarnya dapat membawa manusia ke
Sumber Asalnya, yakni Tuhan.

Namun, sejauh manakah batas-batas diametral antara letak 'jantungnya
agama' dengan 'pluralitas agama'? Sehingga, bisa dikatakan bahwa
secara substantif (esoteris), semua agama pada hakikatnya 'satu',
karena diakui adanya titik temu esoteris agama-agama, seperti yang
dipresentasikan oleh Huston Smith.

Dalam kerangka inilah, Frithjof Schuon, genius terbesar metafisika
tradisional, memberikan sumbangan pemikiran yang sangat orisinal
dalam memberikan penekanan (secara diametral) antara eksoterisme
('wilayah pluralitas agama') dan esoterisme ('wilayah jantungnya
agama-agama').

Dalam kata pengantar buku The Transcendent Unity of Religions karya
Frithjof Schuon (1975), Huston Smith mengatakan bahwa, "...Bagi
Frithjof Schuon, hidup ini ada tingkat-tingkatannya ('the hierarchy
of existence' istilah EF Schumacher, atau 'the great chain of being'
dalam istilah Huston Smith). Hirarki eksistensi ini, mulai dari
Tuhan yang menempati peringkat tertinggi, sampai manusia dan atau
benda-benda mati pada peringkat terendah. Nah, dari segi metafisik,
hanya pada Tuhanlah -- yang berada pada peringkat tertinggi --
terdapat titik temu berbagai agama. Sedang di tingkat bawahnya,
agama-agama itu saling berbeda. Sehubungan dengan realitas metafisik
ini, dari segi epistemologis dapat pula dikatakan bahwa perbedaan
antara agama yang satu dengan agama yang lain, semakin mengecil dan
bersatu di tingkat tertinggi, sedangkan di tingkat bawahnya,
berbagai agama itu terpecah belah."

Itulah sebabnya, titik temu agama-agama ini tidak berada pada jalur
formal, kulit luar, eksoteris, fenomen, aksiden, dan seterusnya,
sehingga yang tampak di permukaan adalah realitas pluralitas agama,
seperti dipresentasikan oleh kehadiran agama Yahudi, Kristen, Islam,
dan seterusnya itu. Tetapi, titik temu agama-agama itu hanya mungkin
terealisasi pada level esoteris (kata Huston Smith), esensial (kata
Baghavan Das), atau transenden (kata Frithjof Schuon dan penganut
setia gerakan New Age).

Dalam perspektif historis, pertemuan ini kian menemukan keabsahannya
ketika seorang pemikir India terkemuka, Baghavan Das mulai
memperkenalkan ide kesatuan esensial agama-agama (Bhagavan Das, The
Essential Unity of All Religions, (Illinois: The Theosophical Press,
1966). Terlebih lagi, ide ini makin kuat secara epistemologis saat
Frithjof Schuon, filsuf perenialis yang menjadi kiblat gerakan New
Age, mematangkan tesis The Transcendent Unity of Religions (Kesatuan
Transenden Agama-agama).

Kesimpulannya, kesatuan agama-agama itu hanya terealisasi pada
tingkat tertinggi; esoteris, transenden dan batiniah. Tetapi, karena
yang esoteris, transenden dan batiniah itu, hanya bisa berada dalam
suatu `wadah' atau `bungkus' yang secara simbolis dinamakan `agama'
itu sendiri, maka ia bersifat rahasia dan tersembunyi, sebab
tertimbun dalam simbolisme agama. Maka seperti ungkapan
metafor: "Siapa yang hendak mendapatkan kacang, dia harus
mengupasnya...". Esoterisme justru baru `terlihat' jika eksoteris-
nya `dipecah'," begitu pesan arif senior saya di Paramadina, Budhy.

Sekadar ilustrasi lagi agar lebih jelas, "Ibaratkan agama pada roda
sepeda," kata Nurcholish Madjid (Nurcholish Madjid, "Kata Pengantar"
dalam Komaruddin Hidayat & Ahmad Gaus AF (ed), Passing Over,
Melintasi Batas Agama, Gramedia Pustaka Utama & Paramadina, 1998,
hal xxxix).

"Jari-jari sepeda itu semakin jauh dari `as' (`pusat')-nya, maka
akan semakin renggang." Sebaliknya, semakin dekat ke `as' (`pusat')-
nya, maka akan semakin dekat, bahkan bersatu. Secara filosofis, bisa
diungkapkan; "Barangsiapa hanya suka melihat perbedaan-perbedaan
sebagai sesuatu yang sangat penting, maka ibaratkan orang di
lingkaran itu, berada pada posisi pinggiran. Tetapi, barangsiapa
telah mampu membuka tabir the heart of religion atau the religion of
heart, maka semua agama (umat beragama) akan bertemu," demikian
ditegaskan Nurcholish.

Nah, pertemuan inilah yang dewasa ini banyak ditunjukkan oleh
generasi New Age, baik itu para mistikus maupun spiritualis yang
akrab dengan tradisi `spiritual adventure' gaya James Redfield. Dan
bahkan jauh lebih liberal lagi, mereka berani melakukan apa yang
dipopulerkan oleh John S Dunne sebagai passing over. Bayangkan,
betapa tidak liberal jika passing over ini ternyata bisa menjadi
suatu `Journey with God'.

Begitulah, apa yang saya paparkan -- dengan segala kerendahan hati --
, ternyata jauh lebih liberal dari apa yang disampaikan Anand
Krishna itu sendiri. Tanpa kepentingan apa pun dari paparan yang
liberal di atas, selain hanya untuk memperkaya wacana dan pengalaman
keagamaan kita. Semoga bermanfaat! ***

==================
Tentang author :
Sukidi yang sebelumnya bekerja sebagai staf di Kedutaan Besar RI di
Oslo, Norwegia, kini tengah berada di Jakarta untuk mempersiapkan
studi lanjutnya. Dilahirkan di Sragen, 2 Agustus 1976, lulusan
Fakultas Syari'ah IAIN Syarif Hidayatullah ini merupakan pengamat
masalah-masalah politik-keagamaan, editor buku-buku terbitan
Paramadina (1998-1999) dan kontributor artikel di berbagai buku
seperti Amien Rais dalam Sorotan Cendekiawan Muhammadiyah (Bandung,
Mizan, 1999) dan Otonomi versus Demokratisasi (Gramedia-Kompas,
1999). Tanggapan atas tulisan beliau bisa dikirim langsung ke alamat
[EMAIL PROTECTED]
=================


Source :
http://www.anandkrishna.org/media/satunet_titikpandang.php







Quotes :
" Spirituality is essentially a journey within. You need no preparations, no luggage to carry - nothing absolutely. What you need is just : LOVE ! And this Love, can only come as an after effect of self-actualization, achieved though the practice of meditative way of life."
- Anand Krishna -





Yahoo! Groups Links

Kirim email ke