bung Leo, persoalannya berpangkal pada keyakinan dan kepercayaan kita pada Allah. kalau kita menganggap Allah itu angan-angan, tidak real, ya sudah selesai sampai disini.
tapi, kalau kita sepakat atau sepaham bahwa Allah itu justru Maha Realitas, oke kita bisa teruskan diskusi ini. saya asumsikan bahwa kita sama dan yakin bahwa Allah itu justru Maha Realitas. Kita tidak perlu memperdebatkan perilaku dari penganut agama karena nanti kita akan terjebak pada perdebatan sosiologis, dan mungkin benar akan nampak kelucuan-kelucuan, meskipun itu bukanlah sesuatu untuk menjadi lucu-lucuan karena perilaku sosiologis penganut agama adalahs sesuatu yang boleh-boleh saja. karena itu untuk membahas sesuatu akan lebih baik kita masuk ke esensi. dengan masuk ke esensi, maka apapun agama kita atau apapun perilaku penganut agama tidak akan menjadi persoalan yang berarti. oke? nah, menjawab pertanyaan anda, apakah do'a itu? dengan yakin kepada Allah yang Maha Realitas itu maka kita bisa menjawab bahwa do'a itu adalah bentuk dari afirmasi (penegasan/pengakuan) bahwa dihadapan Allah, diri kita sebenarnya lemah, tidak berarti, tidak memiliki kekuatan/kebisaan. sebab semuanya ini adalah Allah yang punya. apa efeknya? dengan berdo'a itulah, maka apapun yang kemudian kita peroleh (dengan segala upaya kita) tidak akan menjadi sombong. dan kita tahu bersama bahwa kesombongan itu adalah penyakit yang justru akan membuat diri kita dibenci oleh sesama kita. dan itu adalah malapetaka. ya nggak. Sebuah keberhasilan itu kalau kita analisis sebenarnya bukan karena kemampuan kita sendiri, sebab kita pun, dakui atau tidak, sedikit atau banyak, membutuhkan bantuan orang lain. Dari segi ini saja, psikologi atau sosiologis ya (?), jelas sekali bahwa kita bukanlah manusia yang super yang segalanya bisa kita peroleh dengan kekuatan kita sendiri. kita masih membutuhkan orang lain. Nah, dengan berdoa itu, kita mengakui diri kita lemah, sementara kita menginginkan yang kita panjatkan dalam do'a, justru secara psikologis akan menguatkan diri kita sendiri. banyak penelitian ilmiah yang membuktikan kekuatan dan pengaruh do'a dalam hidup kita. ada beberapa literatur dan situs yang mengulas doa ini dari sudut ilmiah. Salaam Bagus TL On Sun, 18 Jun 2006 03:22:13 +0100 (BST) leonardo rimba <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Rekan-Rekan yang Berbahagia: > > Ternyata memang masyarakat Indonesia termasuk salah > satu yang paling spiritual atau rohaniah di dunia. > Segalanya dimulai dengan doa, baik Bismillah maupun > Atas Nama Bapa..., dan diakhiri dengan doa pula. Amin. > Tetapi apakah Doa itu? > > Om Shanti Shanti Om... seperti diucapkan di Bali > adalah Assalamualaikum menurut pengertian Arab. Yang > manakah yang benar karena menurut Yahudi, kata itu > seharusnya berbunyi Shalom, dan bukan Salam? > > Kita di Indonesia banyak mengambil kosa kata Arab > sehingga tradisi Yudeo-Kristen di Indonesia terlihat > ke-Arab-Araban... Seperti Arab, tetapi bukan. Apakah > itu salah? > > Hindu di Indonesia juga terhinggapi dan dihinggapi > oleh salah kaprah itu. Di SD kita banyak dijejali > tentang Monotheisme dan Politheisme. Dan Hindu > dibilang sebagai Politheistik, menyembah banyak Dewa. > Dulu saya menerima indoktrinasi itu begitu saja. > Sekarang saya tertawa kalau masih ada yang bilang > bahwa Hindu itu politheistik. > > Saya sekarang mengerti bahwa Hindu itu monotheistik. > Tuhan hanya satu, dan Dewa Dewi yang banyak itu > hanyalah manifestasi dari Tuhan yang satu. Sangat > sederhana sekali, dan tak perlu dibuat ribet. > > --- > > Masyarakat Indonesia memang pada dasarnya memiliki > bakat untuk mendalami kerohanian. Untuk menjadi > spiritual bahkan tanpa bersusah-payah menunjukkan > bukti seperti orang-orang Barat itu. Kita disini bisa > bilang bahwa kita beragama, walaupun buktinya secara > agregat sangat sedikit. Dan kita dengan bangga bisa > mengangkat kepala di hadapan masyarakat Barat yang > kita cap sebagai Atheis, walaupun buktinya banyak > bahwa mereka menerapkan ajaran agama-agama tanpa > banyak gembar-gembor seperti para petinggi agama > (tertentu) di masyarakat Indonesia. > > Inilah Paradoks Spiritualitas. Banyak dari mereka yang > menjalani praktek spiritualitas tidak mengklaim > dirinya sebagai spiritual. Dan banyak dari mereka yang > mengklaim dirinya (atau masyarakatnya, atau > kelompoknya) sebagai spiritual atau rohaniah, ternyata > berpraktek kebalikannya. Prakteknya ternyata tidak > spiritual, atau hanya semata-mata di keduniawian > semata, termasuk menghujat kelompok-kelompok lain dan > memonopoli Surga untuk kelompoknya sendiri. > > Paradoks Spiritualitas adalah normal. Saking normalnya > sehingga kita di Indonesia melihatnya sebagai > biasa-biasa saja. Biasalah...! > > --- > > Kali ini saya ingin mengajak rekan-rekan sekalian yang > berbahagia untuk sekedar berbagi pengalaman dan > pengertian tentang Doa. Apakah Doa Itu? > > Sebagian dari kita berdoa untuk mengumpulkan Pahala. > Supaya Pahala itu menumpuk sekian banyak sehingga > Tuhan akan melupakan segala Dosa. Supaya Pahala lebih > banyak dari Dosa sehingga Tuhan -yang disini > divisualkan sebagai Tukang Timbang, seperti pedagang > grosir yang menimbang berat barang- bisa memutuskan > bahwa si Pendoa layak masuk Surga. > > Sebagian dari kita berdoa untuk Menyembah. Sebagian > Menyembah Tuhan (atau Dewa, atau Dewi, atau Buddha, > atau Yesus, atau apalah...) demi penyembahan itu > sendiri. Tanpa pamrih, tanpa alih-alih mengumpulkan > Pahala. Sebagian lagi demi mengumpulkan Pahala di > Sorga... gak beda seperti mengumpulkan Bonus; seperti > Bonus terbang gratis promosi kredit card Citibank > atau... mungkin promosi Matahari Department Store. > Bonus Bo! > > Atau mungkin memohon-mohon kepada Tuhan supaya > rezekinya berlimpah-limpah. Mohon saja berkali-kali, > malah kalau dengan Puasa bisa lebih afdol. Tuhan akan > lembek hatinya dan mengabulkan permintaan si pendoa. > Permintaan bisa macam-macam, dan bukan soal kerejekian > saja. Bisa juga soal jabatan. Minta naik jabatan > kepada Tuhan, minta supaya disayang sama Boss, minta > supaya istri tidak nyeleweng, minta supaya suami setia > walaupun sudah diterjang proposal selingkuh kanan > kiri. Minta supaya anak-anak jadi Orang. > > --- > > Menjadi Orang atau Manusia itu susah ternyata. Banyak > maunya, dan banyak jalannya. Kalau metode tertentu > ternyata kurang sip, masih ada metode lainnya. Agama > satu kurang afdol, masih bisa pilih agama lain. Cuek > azzah, katanya. Yang penting Tuhan denger doa saya, > katanya. Itu katanya lho! > > Memang lucu. Yang lucu itu bukanlah ajarannya, tetapi > para pelakunya. Persis seperti pendukung tim > sepakbola. Saling berteriak menjagokan timnya (baca: > Agamanya). > > Buat saya dan sebagian orang, barangkali, perilaku > para pelaku agama yang mengaku sebagai orang yang > memiliki kerohanian atau spiritualitas tinggi itu > bukanlah hal aneh. Memang lucu, tetapi tidak aneh, dan > tidak mengagetkan. Sebagai Data, mereka valid. Valid > untuk penelitian Sosiologis (Sosiologi Agama) atau > Psikologis (Psikologi Agama). > > Yang menjadi tanda tanya bagi saya dan sebagian orang > adalah apa yang dilakukan para pelaku keagamaan itu > dengan kepercayaan agamanya itu. Apakah Tuhan yang > mereka akui sebagai sesembahan itu hanya Slogan > semata? Atau adakah suatu Iman tertentu yang diyakini > sedemikian rupa sehingga para pelaku keagamaan itu > bisa menjadi lebih manusiawi seperti dikehendaki oleh > sesuatu yang disebut sebagai Tuhan itu? > > Atau, apakah memang benar bahwa sebagian Tuhan dari > agama-agama memang tidak Bertuhan sehingga pelaku > keagamaan tertentu yang telah dikuasainya menjadi > begitu brutal, baik dalam kata-kata maupun perbuatan. > > Barangkali jawabnya cuma bisa ditemui dalam Doa yang > mereka lakukan. Para peneliti, lihatlah apa Doa > mereka? Dan lihatlah kaitan antara Doa dan Perbuatan. > > Adakah yang sinkron? Adakah yang menyambung antara Doa > yang dipanjatkan ke Atas dan perbuatan yang semata > horizontal ke Samping. Kalau ada, maka bisa > diasumsikan sebagai Sehat. Kalau tidak ada, maka itu > Sakit. > > Yang Sehat atau Sakit bukanlah agama-agama itu, > melainkan pelaku-pelakunya. Lihatlah pengertian > tentang Apakah Doa Itu dikalangan mereka yang > menjagokan Agama. Dan bandingkahlah dengan praktek > nyata di lapangan kemanusiaan. Apakah benar > dipraktekkan atau cuap-cuap belaka. > > Ada pendapat lain? > > Damai di Bumi, > Leo > HP: 0818-183-615 > > Send instant messages to your online friends >http://uk.messenger.yahoo.com ======================================================================================== TELKOM Group Peduli Jogja, ketik PEDULI, kirim SMS ke 5000 Dengan mengirim SMS berisi PEDULI ke nomor 5000, Anda telah menyumbang sebanyak Rp. 5.000,- per SMS bagi korban bencana gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Dana 100% akan disumbangkan TELKOM dan TELKOMSEL atas nama pelanggan ke Palang Merah Indonesia setiap minggu selama 1 bulan, mulai 30 Mei s/d 30 Juni 2006. Pengumpulan dan distribusi dana akan diaudit oleh auditor independen dan disaksikan oleh notaris. Bantuan via SMS ini dapat diikuti oleh pelanggan Flexi, kartuHalo, simPATI, dan Kartu As. Khusus untuk pelanggan Flexi, Anda juga dapat menyumbang dengan nilai sumbangan lebih besar dengan mengetik 10000 atau 25000 atau 50000 kirim ke 5000. Informasi lebih lanjut, klik www.telkomflexi.com. ======================================================================================== Quotes : " Spirituality is essentially a journey within. You need no preparations, no luggage to carry - nothing absolutely. What you need is just : LOVE ! And this Love, can only come as an after effect of self-actualization, achieved though the practice of meditative way of life." - Anand Krishna - Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://asia.docs.yahoo.com/info/terms

