Pemberangusan Ormas Islam
Pesanan Asing
Kelompok yang menuntut pembubaran FPI, MMI, HTI, makin lantang
bersuara. Benarkah pihak asing terlibat?
Kamis (15/6) suasana di Desa Kalicilik, Demak Kota tampak tegang.
Ratusan kader Garda Bangsa terlihat mensweeping setiap kendaraan
luar kota yang menuju Desa Kalicik, Demak. Mereka tidak sudi Ketua
Umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab hadir dalam acara
tabligh akbar yang rencananya digelar malam harinya di Pondok
Pesantren an-Nuriyah Desa Gebang, Bonang, Demak. Bahkan terdengar
kabar, mereka akan membakar Pondok Pesantren an-Nuriyah jika Habib
Rizieq benar-benar datang.
Beruntung konflik tak kesampaian. Mendapat kabar ada sweeping yang
dilakukan para pendukung Gus Dur, Rizieq mengurungkan niatnya
menghadiri tabligh akbar di Ponpes an-Nuriyah. Pembatalan itu
disampaikan Rizieq usai bertemu Kapolda Jawa Tengah Irjen Dody
Sumantyawan sekitar pukul 15.30 WIB di Mapolda, Jalan Pahlawan,
Semarang.
"Ini untuk menjaga situasi yang kondusif dan menghindari hal-hal
yang tidak diinginkan," kata habib yang dikenal tegas terhadap
segala bentuk kemaksiatan itu, memberi alasan kegagalannya
mengunjungi Ponpes an-Nuriyah. Akhirnya, bersama rombongan, ia
berbelok menuju Yogya untuk mengunjungi korban gempa.
Roda kendaraan terus bergerak. Seakan tak kenal lelah, Habib Rizieq
meneruskan perjalanan ke Solo mengunjungi Ustadz Abu Bakar Ba'asyir
yang baru saja bebas.
Kasus yang menimpa Habib Rizieq di Desa Kalicilik, Demak, itu seakan
melengkapi ketegangan yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini.
Ketegangan sebelumnya adalah usulan pembubaran Ormas Islam dari
kelompok tertentu, pasca kasus Purwakarta.
Kasus ini bermula saat digelar sebuah dialog di Purwakarta yang
bertajuk "Dialog Lintas Agama dan Etnis, Merajut Cinta yang
Terserak", Selasa (23/5). Saat itu, Asep Hamdani, Koordinator FPI
Purwakarta, meminta klarifikasi Gus Dur, salah seorang pembicara
dialog. Klarifikasi dimaksud adalah mengenai ucapan Gus Dur yang
menyebut FPI dibiayai para jenderal dan al-Qur'an sebagai kitab suci
paling porno.
Tak ada caci-maki dan kalimat bernada kasar yang terlontar dari Asep
saat itu. Tidak juga ada kalimat pengusiran dari Asep Hamdani kepada
Gus Dur. Permintaannya hanya satu: Klarifikasi dari Gus Dur tentang
dua hal seperti tersebut di atas.
Namun entah dapat berita dari mana, keesokan harinya media massa
ramai-ramai memberitakan bahwa mantan ketua Tanfidziyah PBNU itu
mendapat perlakuan kasar dan pengusiran dari HTI, MMI dan FPI.
Berita yang kemudian dibantah sendiri oleh Gus Dur. "Siapa yang
diusir?" kata Durrahman.
Merasa sasarannya meleset, bidikan kemudian berbelok pada isu
pembubaran Ormas Islam. Entah siapa yang memasangnya, tiba-tiba
terlihat sejumlah spanduk besar di sejumlah sudut ibu kota, misalnya
di Jalan Kramat Raya dan di depan Polda Metro Jaya. Tulisan dalam
spanduk itu menuntut agar FPI, MMI dan HTI dibubarkan.
Entah direncanakan atau tidak. Ajaibnya, berbarengan dengan
pemasangan spanduk, muncul kelompok-kelompok yang membawa isu
serupa: menuntut agar FPI, MMI dan HTI dibubarkan. Salah satu
kelompok yang berada di garda terdepan menuntut pembubaran ketiga
Ormas Islam itu adalah Garda Kemerdekaan.
Seakan melengkapi tuntutan pembubaran ketiga Ormas Islam tersebut,
sejumlah kelompok lainnya unjuk gigi. Jumat (26/5), ratusan orang
dari kelompok Garda Bangsa, Garda Kemerdekaan dan kelompok lain yang
tergabung dalam Aliansi Masyarakat Anti Kekerasan (AMAK) bergerak
menuju markas Front Pembela Islam (FPI) di kawasan Petamburan,
Jakarta Pusat.
FPI ternyata tak kalah gertak. Di sekitar markas FPI Petamburan,
ratusan simpatisan FPI siap membela diri. Selain masyarakat sekitar
yang simpati dengan perjuangan Habib Rizieq selama ini, FPI juga
mendapat bantuan massa dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan
Forum Betawi Rempug (FBR), dua Ormas yang juga menjadi sasaran
tembak untuk dibubarkan.
Meski akhirnya kelompok-kelompok itu mengurungkan niatnya
menyambangi markas FPI, namun mereka mengeluarkan tiga petisi.
Pertama, menyebut FPI, MMI dan HTI sebagai "preman berjubah" yang
meresahkan masyarakat dan melanggar hukum. Kedua, menuntut aparat
untuk membubarkan FPI, MMI dan HTI. Atau meminta ketiga Ormas Islam
itu untuk membubarkan dirinya. Ketiga, jika aparat tak menjalankan
dua poin di atas, maka mereka akan melakukan tindakan perlawanan.
Tuntutan pembubaran ketiga Ormas Islam itu makin kencang bergulir.
Terlebih setelah muncul pernyataan Menkopolkam Widodo AS. Kamis
(8/6), Widodo mengeluarkan pernyataan akan membubarkan Ormas yang
anarkis, meski ia tidak menyebutkan secara tegas Ormas-ormas yang
dimaksud.
Pada kesempatan lain, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membantah
akan membubarkan Ormas-ormas. "Presiden menegaskan tidak akan ada
pembubaran Ormas," demikian Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin
mengutip pernyataan presiden usai bertemu SBY minggu lalu.
Spontan, tuntutan pembubaran FPI, MMI dan HTI itu mengundang
kemarahan sejumlah tokoh. Ketua Umum DDII Hussein Umar, Ketua
Tanfidziyah PBNU K.H. Hasyim Muzadi, Habib Rizieq, Ismail Yusanto,
Fauzan Al Anshari dan lainnya bersuara lantang. Mereka mengritik
keras tuntutan pembubaran Ormas-ormas Islam itu. Mereka meminta
pemerintah hati-hati dalam mengambil keputusan, apalagi membubarkan
Ormas Islam tanpa dasar yang jelas.
Jubir HTI Ismail Yusanto menyatakan, sesuatu yang tidak tepat, jika
tindakan anarkis berujung pada pembubaran Ormas. Ia
menambahkan, "Logikanya, jika setiap organisasi yang melakukan
anarkis dibubarkan, maka akibat ulah simpatisan PDIP dan PKB yang
melakukan anarkisme di Tuban beberapa waktu lalu, PDIP dan PKB juga
harus dibubarkan. Tapi, itu tidak mungkin kan."
Bukan rahasia lagi, sejumlah "laskar" parpol, juga terlibat dalam
tindak anarkisme. Beberapa partai besar "laskar"nya terlibat dalam
pembakaran dan perusakan pesantren, sekolah, kantor pemerintah,
tebang pohon di jalan, teror atas habib, kiai dan santri. Tanya,
kenapa tak disoal?
Tanda tanya serupa diungkapkan Ketua Departemen Data dan Informasi
MMI Fauzan Al Anshari. "Jika yang disebut anarkis adalah penyerbuan
kantor majalah Playboy lalu menyebabkan FPI harus dibubarkan,
adilkah? Sementara Playboy yang jelas-jelas mengakibatkan teror
moral tidak diapa-apakan. Lalu apa ukuran untuk menilai itu semua?"
kata Fauzan, penuh tanda tanya.
Tak sebatas melontarkan kemarahan. Sejumlah pihak malah mencurigai
ada keterlibatan pihak ketiga di balik ketegangan di Indonesia
belakangan ini. Benarkah pihak asing berada di belakang konflik di
Indonesia belakang ini? Kalau asing terlibat, lantas siapa dan apa
motifnya?
Pengamat intelijen yang bermukim di Bandung Herman Ibrahim angkat
bicara. Herman tidak yakin rencana pembubaran Ormas Islam murni
karena tindakan Ormas-ormas tersebut. "Jika rencana ini dilakukan,
maka akan merugikan Ormas Islam," katanya.
Herman berpendapat, tuntutan pembubaran FPI, MMI dan HTI adalah
konsekuensi yang harus dibayar pemerintah, karena Barat, terutama
Amerika Serikat, Australia dan lainnya tidak puas dengan kinerja
pemerintah. "Tidak ada tujuan lain dari Barat kepada dunia Islam,
kecuali dengan mempertaruhkan nama demokrasi, reformasi dan HAM
untuk melahirkan anti-Islam," ujarnya.
Ia menambahkan, "Selain menyebut Ormas Islam teroris dan garis
keras, Barat, terutama AS, berusaha mengotak-kotakkan kaum Muslimin
Indonesia antara Islam moderat dan pluralis dengan Islam radikal.
Ini dimaksudkan agar Barat, terutama AS, punya alasan kuat masuk ke
Indonesia dan menguasai kekayaan alamnya."
Kecurigaan adanya keterlibatan asing itu, makin nampak saat
kedatangan Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Donald Rumsfeld
ke Jakarta yang waktunya bertepatan dengan maraknya tuntutan
pembubaran FPI, MMI dan HTI.
Spekulasi pun beredar bahwa ada hubungan erat antara demo-demo
menuntut pembubaran Ormas Islam dengan kunjungan Rumsfeld.
Alasannya, asing, terutama AS dan Australia, merasa gerah dengan
kiprah ketiga Ormas tersebut, sehingga perlu ada upaya untuk
melibasnya. Tapi kecurigaan itu dibantah keras Wapres Jusuf
Kalla. "Tidak ada hubungan dengan kedatangan Rumsfeld dan siapa
saja," kata Kalla dalam keterangan persnya di Istana Wapres, Jumat
(9/6).
Kalla yang juga adalah Ketua Umum Partai Golkar ini menambahkan
bahwa penertiban yang akan dilakukan pemerintah karena selama ini
Ormas-ormas tersebut telah melakukan berbagai aksi yang meresahkan
masyarakat, seperti perusakan beberapa fasilitas publik.
Sinyalemen intervensi asing tak berhenti sebatas pada kedatangan
Rumsfeld. Aroma tak sedap itu lebih tercium lagi pada kelompok dan
LSM yang selama ini bergerak menuntut pembubaran FPI, MMI dan HTI.
Hampir semua kelompok dan LSM yang menuntut pembubaran ketiga Ormas
Islam tersebut terafiliasi dengan asing.
Selama ini, dana yang dipakai mereka untuk menjalankan berbagai
program dan aksi mereka berasal dari negara-negara Barat, seperti
United State Agency for International Development (USAID), Ford
Foundation, Asia Foundation dan lainnya.
Ada lagi sinyalemen yang menyatakan bahwa dana operasional dan
program para kelompok penentang FPI, MMI dan HTI tersebut berasal
dari Ahmadiyah yang berpusat di London. Mereka kecewa karena FPI dan
Ormas Islam lainnya telah menyerang markas Ahmadiyah di Parung
beberapa waktu lalu.
Namun sinyalemen itu dibantah pemrakarsa Garda Kemerdekaan Dawam
Rahardjo. "Itu fitnah. Kalau ada pihak asing yang terlibat, saya
tidak mau membantu Garda Kemerdekaan. Dana operasional, kita
dapatkan dari swadaya masyarakat," katanya.
Toh keterlibatan Barat di sebuah negara tidaklah aneh. AS, misalnya,
hampir dipastikan, selalu terlibat dalam berbagai konflik internal
negara-negara di dunia. "Di mana ada konflik, di situ dapat
dipastikan ada jejak AS," kata mantan petinggi angkatan darat saat
diwawancarai SABILI di kediamannya beberapa waktu lalu.
Melalui politik belah bambu, pemerintah AS kerap mendukung salah
satu kelompok untuk menghantam kelompok lainnya. Tujuan akhirnya, AS
menguasai secara keseluruhan, baik politik dan ekonomi negara
tersebut, seperti terjadi di Irak, Somalia, Afghanistan dan negara
lainnya. (Baca: Adu Domba Ala Cowboy).
Tuntutan pembubaran FPI, MMI dan HTI itu bukan barang baru. Itu
merupakan kelanjutan dari skenario asing selama ini. Majalah Times
pernah memuat berita bahwa pemerintah AS akan membubarkan sejumlah
Ormas dan gerakan Islam di Indonesia. Kala itu yang menjadi
sasarannya adalah FPI, Laskar Jihad (LJ) dan MMI.
Jelas, skenario penghancuran Islam tidak pernah berhenti. Musuh-
musuh Islam akan terus berupaya hingga gerakan dan Ormas Islam
hancur lebur. Jika tidak sendiri, mereka akan memakai tangan
kelompok Islam untuk menghancurkan kelompok Islam lainnya.
Karenanya, kaum Muslimin harus menyadari perihal adanya skenario
busuk tersebut. Untuk melawannya, umat Islam harus berpegang teguh
pada nilai-nilai Islam dan terus merapatkan barisan, jangan mudah
dipecah belah. Jika umat ini bersatu, niscaya akan membuat ciut para
penentang Islam.
Rivai Hutapea
Laporan: Apriadi Murwanto, Chairul Ahmad, Diyah Kusumawardhani,
Habibi Mahabbah.
Quotes :
" Spirituality is essentially a journey within. You need no preparations, no
luggage to carry - nothing absolutely. What you need is just : LOVE ! And this
Love, can only come as an after effect of self-actualization, achieved though
the practice of meditative way of life."
- Anand Krishna -
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://asia.docs.yahoo.com/info/terms