Maaf sebagai orang awam, saya tidak tahu tulisan ini memuji atau menyindir.
Saya cuman mau kasih komentar soal para investor yang menanamkan modal di
Indonesia, entah itu freeport, exxon dll.
Saya memang menyayangkan kenapa sebagian kecil saja yang didapat negara kita
dari sebegitu bsar keuntungan yang ada.
Tapi saya pikir bukan salah para investor itu kalo mereka mendapat keuntungan
besar, bukankah sudah menjadi prinsip ekonomi untuk membeli yang semurah
mungkin dan menjual yang semahal mungkin (modal kecil, untung gede), kesalahan
itu terjadi pada para pemimpin kita yang punya wewenang mengambil keputusan.
Sama seperti kita kalo nggak mampu mengolah tanah kita lalu kita suruh orang
lain yang menggarap, kalo kemudian orang yang kita suruh itu minta pembagian
yang lebih besar, ya pinter-pinter kitalah untuk nego, sekalipun kita ada
dibawah tekanan. Toh itu tanah kita sendiri ya to?
Salam Damai, mohon petunjuk kalo ada yang salah (maklum orang awam)
syamsi kusyanti <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
Lega, Tuan 'Kebon' Puas!
"LEGA aku, tuanku puas melihat kebon-nya!" ujar Temin.
"Jelas, menjelang kedatangannya usahamu keras untuk membuatnya puas!" sambut
Temon. "Majikan mana tak puas punya tukang kebon tahu apa maunya!"
"Jadi wajar kan, kalau penguasa negeri kita berusaha menyambut sebaik-baiknya
kedatangan Presiden Bush?" tegas Temin. "Apalagi ladang Bush di negeri kita
amat penting bagi kemajuan bangsa!"
"Jelas! Tanpa dukungan ladang Bush yang menguasai 70 persen eksplorasi migas
negeri kita, tak terbayang bagaimana gerak ekonomi negeri kita!" timpal Temon.
"Penanaman modal mereka di sini tak kepalang, di Blok D-Alpha Natuna, saham
ExxonMobil mutlak 100 persen, tanpa ada modal pemerintah kita!"
"Juga di pertambangan emas dan tembaga, seperti New Mont dan Freeport!" sambut
Temin. "Di Freeport, misalnya, saham pemerintah kita cuma 9,36 persen!"
"Kalau Freeport dan New Mont ikut dihitung, total penguasaan asing atas
pertambangan nasional kita 92 persen!" tegas Temon. "Maka itu, kedatangan tuan
majikan harus dibuat puas, agar menambah investasinya di sini!"
"Seperti kedatangan Tuan Kebonku untuk memastikan pemilikan mutlaknya atas
kebon ini baik-baik saja, Bush juga datang untuk memastikan liberalisasi
ekonomi yang menjamin pemilikan asing secara mutlak, aman di sini!" tukas
Temin. "Apalagi di sini masih banyak BUMN, dalam liberalisasi harus
diprivatisasi, saham pemerintah dijual dengan akuisisi--penjualan mayoritas
sahamnya!"
"Dan Bush, memberlakukan koersi ekonomi lewat liberalisasinya itu setara dengan
koersi militer!" sambut Temon. "Maka, kepuasan yang diperoleh dari kunjungannya
dapat diperkirakankan, berkat penguasa negeri yang dikunjungi benar-benar dapat
dipercaya akan melayani lebih baik para pemodal dari negerinya memperluas
investasi di sini!"
"Berarti investor bakal ramai!" timpal Temin.
"Tapi bisa jadi simalakama bagi penguasa kita!" tegas Temon. "Karena harus
selalu memprioritaskan pelayanan terhadap investor, hingga pelayanan kepada
rakyatnya malah terpaksa dikesampingkan! "
"Apa harus antagonis begitu?" kejar Temin.
"Kalau model pelayanan investor seperti pada ExxonMobil dengan saham 100 persen
itu, tanpa sepermil pun saham pemerintah?" tukas Temon. "Bukan saja pelayanan
kepada rakyat dikesampingkan, malah, kepentingan rakyat dikorbankan! "
"Bukti siap mengorbankan apa saja tampak pada pembabatan Kebun Raya Bogor untuk
landasan heli Bush!" timpal Temin. "Padahal heli Bush tak jadi mendarat di situ
karena tak muat untuk mendarat bersama empat heli pengawalnya! "
"Kalau heli Bush akhirnya mendarat di GOR Pajajaran karena agar sekaligus bisa
melihat pabrik Good Year--milik Amerika Serikat--yang terletak dekat situ!
Betapa Bush tak puas, salah satu ladangnya bahkan dekat Istana Bogor! Good bye,
Mister Bush!" **
--
Best Regards,
Syamsi Kusyanti,
Consumer Loan Group
PT. Bank Mandiri, tbk
Jl. Jend. Gatot Subroto Kav 36-38
Jakarta 12190
my profile :
http://syamsikusyanti.multiply.com/journal
http://www.friendster.com/syamsiku
---------------------------------
Sekarang dengan penyimpanan 1GB
http://id.mail.yahoo.com/