--- Begin Message ---
*/_Destiny_/* (El-Maseer) – “/Ideas have wings; they fly like birds/.”
Film in dimulai dengan cerita tentang dihukumnya seorang cendikiawan
Perancis yang dianggap bersalah atau sesat oleh Pengadilan Inkusisi
Gereja. Kejadian ini terjadi ketika peran Gereja dalam kehidupan
sehari-hari masyarakat Eropa masih sangat dominan. Pria ini dihukum mati
dengan cara dibakar hidup-hidup beserta seluruh karya tulisannya berupa
terjemahan buku-buku yang dikarang oleh Averroes (Nama latin dari
seorang filosof Muslim Ibn Rusd). Putera dari pria ini, Joseph, kemudian
berkelana ke Cordova, Andalusia, Spanyol untuk berguru kepada Ibn Rusd.
Di Andalusia inilah di mana film ini mulai berkisah tentang filosof
Arab-Spanyol Ibn Rusd yang pada masa itu berusaha menjelaskan bahwa Akal
dan Iman tidak perlu bertentangan satu sama lain. Tentu saja pendapat
Ibn Rush ini dianggap sesat baik oleh Kristen maupun Islam Fundamentalis.
Film arahan sutradara Mesir, Youssef Chanine ini berusaha menceritakan
perjuangan bagi kebebasan berpendapat, berekspresi dan berpikir secara
rasional dalam kehidupan masyarakat Spanyol di abad ke-12. Komitmen pada
peningkatan kesadaran sangat diperlukan untuk memproduksi film seni yang
anti fundamentalisme dan radikalisme dalam beragama. Apalagi film ini
dibuat di tahun 1997, di mana aksi-aksi radikal dalam beragama masih
dianggap relatif tidak berbahaya. /Destiny/ adalah film yang secara
eksplisit mengutuk segala jenis radikalisme dan fundamentalisme dalam
beragama dengan menyajikan bahwa Akal dan Iman itu tidak selalu
bertentangan satu dengan lainnya.
Andalusia, waktu itu, dikuasai oleh seorang Khalifah bernama El-Mansour
(Mahmoud Hemeida), yang sangat risau dengan perilaku ke-2 puteranya.
Putera sulungnya, Nasser (Khaled el-Nabaoui), adalah seorang pencinta
kuda dan wanita, sedangkan yang bungsu, Abdallah (Hani Salama) adalah
seorang pemuda yang sangat suka menari.
Abdallah kemudian berhasil dibujuk oleh sekelompok fundamentalis agama
untuk bergabung dengan kelompok mereka. Abdallah dilatih untuk membunuh
ayahnya sendiri di kemudian hari. Dalam film ini, diceritakan secara
detil bagaimana cara-cara kaum fundamentalis agama membujuk dan mencuci
otak seseorang untuk kemudian mau bergabung dengan kelompok mereka.
Mula-mula mereka memuji-muji keahlian Abdallah, dan mengajaknya
bersenang-senang. Setelah itu mereka mulai menyesali perbuatan mereka
karena menganggap kesenangan itu hanyalah tipu muslihat setan (perbuatan
dosa), dan mengajak Abdallah untuk “mencuci dosa-dosa” dengan melatih
diri untuk menderita. Padahal “latihan” itu hanyalah salah satu cara
sistematis untuk melemahkan pikiran seseorang sebelum kemudian “dicuci
otak” dan “dimasukan” paham-paham mereka.
Sementara itu, kelompok fundamentalis ini juga menyerang dan hampir saja
membunuh Marwan (Mohammed Munir), seorang penyanyi gipsi, yang sering
mendendangkan lagu-lagu yang mengkritik baik kelompok fundamentalis
maupun pemerintahan khalifah. Marwan pun yang selalu mendorong Abdallah
untuk menari dan bernyanyi. Marwan sendiri sudah menganggap Abdallah
sebagai anaknya sendiri. Untung saja, Nasser datang pada saat yang tepat
untuk menyelamatkan nyawa Marwan dan membawanya kepada Ibn Rushd untuk
dirawat.
Ibn Rushd (Nour el Cherif) saat itu adalah seorang hakim yang bijaksana,
dan juga guru yang sering berceramah di mesjid-mesjid.
Pemikiran-pemikiran Islam yang progresif dan sejuk malah sering
ditentang dan dikritik oleh sekelompok Islam fundamentalis yang dipimpin
oleh seorang Emir. Seorang Sheik yang kaya raya bersekongkol dengan Emir
dan kelompok fundamentalis itu untuk mengambil-alih dengan kekuasaan
dari Sang Khalifah El-Mansour.
Sang Sutradara, Chanine, sebenarnya sedang bertutur tentang sejarah
kehidupan politik dan beragama di Mesir. Adegan ketika penyanyi Marwan
ditikam lehernya dengan belati adalah parodi dari fatwa untuk membunuh
Novelis Mesir ternama & pemenang Nobel dalam bidang sastra, Naguib
Mahfouz. Demikian juga pembunuhan Marwan kemudian dengan menggunakan
tombak adalah parodi dari pembunuhan seorang intelektual liberal dan
pembela sekularisme di Mesir, Farag Fouda, yang baru saja memenangkan
sebuah perdebatan sengit terhadap Sheik Ghazali, seorang ulama
tradisional Mesir. Dalam kasus Mahfouz dan Fouda, para pembunuh mengaku
tidak pernah membaca karya-karya mereka. Persis seperti, dalam
pembunuhan Marwan di film ini, pembunuh juga tidak pernah mendengarkan
Marwan menyanyi. Para pembunuh hanya mendapat perintah dari “otoritas
yang lebih tinggi,” atas nama Tuhan.
Sejarah selalu bercerita tentang persekutuan politik antara, Khalifah
(penguasa) dan pemuka agama. Film ini pun bertutur tentang persekutuan
antara Khalifah El-Mansour dan kelompok fundamentalis agama. Para
fundamentalis ini, meskipun beraliansi dengan Khalifah, juga bekerja
sama dengan orang-orang Spanyol untuk menjatuhkan El-Mansour. Skenario
sama terjadi pada presiden Anwar Sadat di tahun 1970-an, yang
mengijinkan dan mendukung kelompok-kelompok fundamentalis beragama
berkembang untuk melawan kelompok kiri dan kelompok pendukung presiden
sebelumnya, Gamal Abdel Nasser. Tragisnya, Anwar Sadat sendiri akhirnya
mati terbunuh oleh kelompok yang sama di tahun 1981.
Apa yang dituturkan Chanine di Mesir tahun 1997 dalam film Destiny ini,
adalah hal yang mirip sedang terjadi di Indonesia sekarang ini.
Pemerintahan yang berkuasa sedang ditopang oleh kelompok-kelompok
fundamentalis agama dan pada saat yang bersama kelompok-kelompok ini
juga merongrong kekuasaan dengan cara menyebarkan teror, pembodohan,
ketidakteraturan dan kemelut-kemelut politik sehingga masyarakat akan
dengan mudah dihasut untuk ikut dalam pergerakan fundamentalisme dan
radikalisme beragama hanya menurut penafsiran ekslusif kelompok mereka
sendiri.
Akhirnya, Khalifah El-Mansour berhasil diyakinkan untuk memaksa Ibn
Rushd mengundurkan diri sebagai Hakim maupun Penceramah, sekaligus
melarang peredaran buku-buku karangannya, atas dasar “penghinaan
terhadap agama.” Untung saja, beberapa buku Ibn Rushd berhasil
diselamatkan Nasser ke Mesir.
Sementara itu, Abdallah berhasil disadarkan kembali oleh Ibn Rushd dan
kawan-kawan gipsi-nya dengan nyanyian dan tarian yang mengekspresikan
kecintaan pada kehidupan itu sendiri. Kultur dan seni akhirnya berhasil
menyentuh hati Abdallah yang sadar bahwa kelompok-kelompok itu hanya
berhasil mempermainkan pikirannya saja, tapi tak pernah berhasil merubah
hati (nurani)nya.
Abdallah sendiri kemudian berhasil meyakinkan ayahnya lewat
pengakuannya. Sang Khalifah pun baru menyadari konspirasi terhadap
dirinya ketika ancaman fisik terhadap dirinya begitu nyata. Hal ini juga
biasanya terjadi kepada diri kita. Kita baru menyadari sesuatu ketika
kejadian di sekitar kita merugikan diri kita sendiri secara fisik dan
nyata. Sang Khalifah, seperti dituturkan juga dalam film ini sendiri,
adalah representasi dari sikap /Ignorance/ (Ketidakacuhan) dan /Vanity/
(Keangkuhan) dalam diri kita.
Ibn Rushd sendiri adalah seorang filosof Muslim yang juga ahli dalam
hukum Islam, matematik dan juga pengobatan. Beliau dikenal sebagai salah
satu tokoh yang membawa Eropa kepada masa Pencerahan (/Rennaisance/).
Beliau juga berhasil menjembatani pemikiran-pemikiran Islam dengan
filsafat-filsafat Yunani. Thomas Aquinas, salah satu rohaniwan katholik,
sangat terpengaruh oleh karya-karya Ibn Rushd.
Menurut Ibn Rushd, Agama tidaklah bertentangan dengan Akal (/Reason/)
dan Rationalitas. Ini secara langsung akan berhadapan dengan pendapat
Al-Ghazali yang percaya bahwa Al-Quran hanya boleh ditafsirkan secara
literal dari teks-teks asli maupun hadist-hadist Nabi Muhammad. Ini
adalah debat antara pemahaman tekstual Al-Ghazali dalam bukunya /The
Incoherence of Philosophers/, dengan rationalitas yang diekspresikan Ibn
Rushd dalam bukunya : /The Incoherence of Incoherence/.
Hal lain yang menarik dalam film berjudul asli : /El-Maseer/ ini, bahwa
biarpun Joseph yang katholik berguru kepada Ibn Rushd yang muslim, tapi
Joseph tidak pernah pindah agama. Dia tetap beragama kristen katholik,
karena Ibn Rushd mengajarkan baik agama-agama dan filosofi hanyalah
jalan-jalan berbeda menuju satu Kebenaran sejati.
Film ini mendapat sambutan luar biasa pada pagelaran Festival Film
Internasional Cannes 1997 dan mendapatkan penghargaan pada pagelaran
ke-50 tahun festival ini. Film ini sendiri sudah ditayangkan 2 kali di
One Earth dan sedang di-roadtrip-kan oleh National Integration Movement
(NIM) ke kampus-kampus bersama 3 film lainnya sebagai bagian dari
program kampanye “Inspiring Movies” NIM untuk membangkitkan jiwa-jiwa
manusia Indonesia. (Anoop)
=======================================
RUU APP: Judul dan Isi tidak Terkait!
P0rn0grafi: NO! RUU APP: NO!! Indonesia BERSATU: YES!!!
=======================================
Yahoo! Groups Links
--- End Message ---