http://budhiana.blogspot.com/  Pasar Tradisional       
PULUHAN tahun lamanya ibu, kakak perempuan, dan keluarga besar saya berbelanja 
di Pasar Palasari, Kota Bandung. Waktu kecil, saya sangat senang kalau diajak 
ke pasar. Biasanya, pulang dari pasar saya selalu membawa jajanan: candil, 
onggol-onggol atau apapun...
Karena hampir setiap hari ke pasar, para pedagang di sini umumnya kenal dengan 
ibu. Kalau pun nggak kenal nama, pasti kenal wajah. Para pedagang ini juga 
mengenali para pembeli lainnya.
Kalau si pembeli lama tidak muncul ke pasar, biasanya si pedagang langsung 
bertanya. "Ibu kamana wae. Mani tos lami teu balanja?" (Ibu ke mana saja. Sudah 
lama nggak belanja).
Biasanya kalau tidak ada uang kembalian, si pembeli dengan penuh percaya 
berkata,"Wios atuh teu aya mah, enjing we pan ka dieu deui." (Biarin saja kalau 
memang nggak ada. Besok kan ke sini lagi). Ya, kembalian itu baru dibayar esok 
harinya.
Atau kalau ibu tidak membawa cukup uang, si pedagang juga berkata 
sama."Kekurangannya besok saja bu!"
Memang selalu ada adu tawar. Sebagai pedagang, tentu si penjual ingin barangnya 
dihargai lebih. Tetapi kelebihan ini tidak pernah ekstrim. Pembeli biasanya 
sudah punya frame harga.
Nah...kalau harga sudah sepakat, ada ijab kabul atau serah terima. "Nyanggakeun 
barangna, ditampi artosna." (Silakan ambil barangnya, saya terima uangnya).
Kadang ibu saya lupa, barang yang baru dibeli lupa tidak terbawa. Jangan 
khawatir, si penjual selalu ingat siapa yang tadi membeli --misalnya-- kangkung 
tiga ikat, atau bawang 1/2 kilo. Besok barang itu masih ada. Kalau sudah layu 
biasanya diganti.
Yang lucu, kalau jongko baru buka dan kemudian pembeli pertama datang, maka si 
penjual selalu berceloteh "ngalarisan, ngalarisan!! (penglaris! penglaris). 
Uang yang didapat kemudian disapu-sapukan ke barang dagangan. Mereka berharap 
agar dagangan hari itu laris.
Tidak jarang keakraban penjual dan pembeli ini terjalin sampai ke luar pasar. 
Kalau si pedagang punya kenduri, mereka mengundang si pembeli. Juga sebaliknya.
Saya juga punya kawan. Bapaknya pedagang ikan asin di pasar ini. Kawan saya di 
SMP ini cerdas. Dia menjadi ketua OSIS, jadi tokoh pramuka bahkan ditunjuk 
mewakili gugus depan menjadi peserta Jambore di Sibolangit. Selesai SMP, dia 
masuk ke SMA favorit. Dari SMA itu, dia masuk Fakultas Kedokteran Unpad, hingga 
lulus jadi dokter.
Bayangkan betapa bangganya si ayah. Dan, semua pedagang dan pembeli memberikan 
ucapan selamat tanda ikut bahagia. Pokoknya pasar tradisional bagaikan keluarga 
besar.
Nah..bagaimana kalau belanjaan banyak sehingga si ibu tidak mampu mengangkutnya?
Nggak perlu khawatir. Mamang-mamang becak sudah siap membantu. Para mamang ini 
berkeliaran di dalam pasar. Mereka biasanya sudah mengenal para ibu yang 
berbelanja. Barang belanjaan, apakah itu sayur, ikan, tahu dan lain-lain 
dijinjing si mamang. Kalau jinjingan sudah penuh, si mamang membawanya ke 
becaknya. Kemudian dia masuk lagi ke pasar mendampingi si ibu.
Jangan takut, barang yang ada di becak tidak akan hilang karena mamang becak 
lain yang ada di tempat parkir becak, ikut menjaga.
Selesai belanja si ibu naik becak. Tak perlu lagi menceritakan kemana 
tujuannya. Sudah terjalin saling percaya antara mamang becak dan pembeli. 
Mamang becak sudah tahu di mana rumah si ibu, dan berapa tarif mengayuh becak 
sampai di rumah si ibu itu.
Entah mengapa, suasana riuh rendah di pasar tradisional ini selalu membekas 
dalam diri saya. Apalagi ternyata saya menikah dengan putri seorang pedagang 
beras di pasar Pangalengan, Bandung.
Hari Minggu, selalu saya ingin mengajak istri dan kedua anakku berbelanja di 
Pasar Palasari, pasar tradisional di mana ibu dan kakak perempuanku sampai 
sekarang masih berbelanja kesana.***

 
---------------------------------
Access over 1 million songs - Yahoo! Music Unlimited.

Kirim email ke