Spiritualitas Naguib Mahfouz
Oleh Muhammad Nugroho
------------------

Pengalaman Mahfouz yang berwarna itu barangkali tuntutan yang wajar 
dari gairah untuk menangkap nuansa hidup yang lebih hidup; bagian 
dari tuntutan alami seorang sastrawan. Karena itu keberagamaan 
Mahfouz tak bisa ditangkap secara hitam putih. Mahfouz sendiri 
mengakui bahwa agama sangat penting untuk kehidupan seseorang, namun 
juga mengandung potensi berbahaya.

Naguib Mahfouz (1911-2006), sastrawan Mesir yang meninggal 30 
Agustus lalu, pernah disebut wartawan majalah New Yorker sebagai 
seorang muslim sekuler. Secara harfiah, label sekuler yang menempel 
di belakang predikat muslim berarti orang yang berpaham pemisahan 
antara Islam dan negara. Fakta sejarah memang mengungkapkan bahwa 
Mahfouz pernah menjadi pengikut Saad Zaglul Pasha, pemimpin partai 
Wafd yang berhaluan nasionalis. Keterlibatan politik itu diakui 
dengan nada bangga oleh Mahfouz dalam wawancaranya dengan wartawan 
majalah Eropa, dan diakuinya juga sebagai langkah hidup yang sangat 
berarti.

Dalam perjalanan hidup berikut, Mahfouz pun belum pernah terlibat 
dalam organisasi-organisasi Islam seperti al-Ikhwan al-Muslimun, 
organisasi Islam yang didirikan Hasan al-Banna di tahun 1928, yang 
belakangan menjadi kekuatan politik besar di Mesir. Padahal 
organisasi ini termasuk gerakan nasionalis melawan penjajahan 
Kerajaan Inggris pada masa revolusi. Garis demarkasi antara Mahfouz 
dengan kalangan Islam sayap kanan menegas, setelah novelnya Children 
of Gebelawii (1959) dilarang Universitas al-Azhar—kampus yang 
dianggap mewakili otoritas penafsiran Islam—karena dinilai menghujat 
Tuhan dan kepercayaan agama, khususnya Islam.

Melalui sekitar 34 novel dan lebih dari 350 cerita pendek, Mahfouz 
yang menjadi sastrawan pertama dunia Arab dan Islam yang menerima 
hadiah Nobel bidang sastra (1998), tercitrakan sebagai seorang 
muslim liberal. Maklum, karya-karyanya lebih banyak mengangkat 
problema hidup masyarakat menengah ke bawah di perkotaan dengan 
pendekatan dan gaya realis. Pendekatan seperti ini, yang memotret 
realitas sosial apa adanya, tak pelak mengangkat juga tema-tema yang 
sensitif dan tabu bagi kalangan puritan. Dengan membaca karya 
Mahfouz, anda jangan berharap memperoleh cerita-cerita "pembangun 
jiwa", istilah untuk cerita dakwah.

Tokoh-tokoh yang diceritakan novel-novel Mahfouz adalah manusia-
manusia dengan huruf m kecil. Tokoh utama novel Midaq Alley (Lorong 
Midaq) yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan pernah 
diangkat ke layar lebar dengan bintang Salma Hayek, adalah seorang 
pelacur. Manusia-manusia dengan huruf m kecil bagi sastrawan sebesar 
Mahfouz, lebih menarik untuk dinovelkan dibandingkan manusia-manusia 
dengan huruf m besar. Bahkan dalam cerita pendek berjudul Zaabalawi 
(The Time and the Place, Anchor, 1991), tokoh utamanya adalah 
seorang manusia suci yang misterius—semestinya manusia dengan huruf 
m besar—yang sering masuk bar.

Memang, melongok keberagamaan seseorang tak semudah melirik telepon 
genggam di etalase toko. Keberagamaan seseorang sejatinya tak mudah 
dikotak-kotakkan dalam sebuah kanvas yang statis. Itu juga yang 
terjadi jika kita hendak melongok keberagamaan Mahfouz yang 
sebetulnya bisa diakses melalui karya-karyanya. Tapi, penafsiran 
terhadap karyanya bisa saja salah, seperti yang terjadi pada novel 
Children of Gebelawi yang dinilai melecehkan Islam. "Bagaimana 
mungkin saya melecehkan agama yang saya anut?" kata Mahfouz 
menanggapi hujatan terhadap dirinya.

Budayawan Nadine Gordimer dalam pengantar untuk buku Echoes of an 
Autobiography karya Naguib Mahfouz (Doubleday, 1997) telah mencoba 
menelisik keberagamaan Mahfouz. Kata Gordimer, kalau kita ingin 
mencari buku yang tepat untuk melacak posisi Mahfouz dalam kaitan 
dengan iman (agama), kita harus mengingat Kamal, tokoh yang secara 
brilian digambarkan dalam novel Trilogi Kairo. Di situ ia 
menyatakan: "Pilihan terhadap keimanan belum ditentukan. Hiburan 
menarik yang kumiliki, ya seperti ini, belum berlalu." ("The choice 
of a faith still has not been decided. The great consolation I have 
is that it is not over yet".)

Hal itu menggambarkan kehidupan Mahfouz sendiri merupakan sebuah 
pengembaraan tatkala seseorang harus mencari sendiri papan arahnya. 
Teks yang menunjukkan hal ini adalah cerita pendek Zaabalawi. Cerita 
ini mengisahkan seorang berpenyakit yang menjelajahi kawasan Kairo 
kuno demi mencari kesembuhan dari seorang tokoh suci bernama Syaikh 
Zaabalawi. Tokoh ini misterius. Setiap orang yang mengenal Zaabalawi 
menginformasikan tempat yang berbeda-beda untuk bisa menemuinya. 
Hingga akhirnya dia datang ke sebuah bar—Negma Bar—untuk menemui 
Hagg Wanas al-Damanhouri, seorang pemabuk yang diketahui paling 
sering bertemu Zaabalawi belakangan ini. 

Sebelum bisa menanyakan soal Zaabalawi, si tokoh aku dalam cerpen 
ini dipaksa menenggak minuman keras hingga mabuk. Setelah siuman, 
dia merasakan kepala dan bajunya basah. Siapa yang menyiraminya? Si 
Wanas mengatakan bahwa Syaikh Zaabalawi datang ke bar dan berusaha 
menyadarkannya dengan guyuran air. Setelah itu Syaikh Zaabalawi 
meninggalkan mereka entah ke mana. Si tokoh aku pun menyesal karena 
kehilangan kesempatan untuk bertemu Syaikh Zaabalawi, dan dia harus 
melanjutkan pengembaraan untuk mencari sang misterius. 

Pada akhirnya, pengalaman hidup Mahfouz juga tampak cukup berwarna. 
Dalam sebuah wawancara, Mahfouz mengatakan bahwa ketika berusia 
kanak-kanak, dia rajin salat dan selalu melaksanakan kewajiban salat 
Jumat bersama ayahnya. Ayahnya adalah seorang yang relijius, namun 
tak pernah memaksanya salat. Itulah masa yang menurut Mahfouz sangat 
relijius. Di usia remaja, Mahfouz mengaku menjalani hidup seperti 
sejumlah seniman Barat yang cenderung memilih kehidupan pribadi yang 
menyimpang, ya mabuk, pengalaman seks yang tak biasa, dan 
kecenderungan merusak diri. Namun kehidupan pribadi Mahfouz tak 
sejauh itu. "Saya melakukan semua itu di masa muda: mabuk, menikmati 
seks yang wajar (gentler sex), dan lain-lain," kata Mahfouz. Di usia 
tua, dia menjalankan kewajiban salat kadang-kadang, karena kendala 
fisik. Hingga wafat, Mahfouz belum menunaikan ibadah haji, konon, 
karena takut pada kerumunan.

Pengalaman Mahfouz yang berwarna itu barangkali tuntutan yang wajar 
dari gairah untuk menangkap nuansa hidup yang lebih hidup; bagian 
dari tuntutan alami seorang sastrawan. Karena itu keberagamaan 
Mahfouz tak bisa ditangkap secara hitam putih. Mahfouz sendiri 
mengakui bahwa agama sangat penting untuk kehidupan seseorang, namun 
juga mengandung potensi berbahaya. Sufisme? Menurut Gordimer, 
Mahfouz terpengaruh sufisme. Dalam cerita pendek dan catatan harian 
di buku Ehoes of an Autobiography, Mahfouz banyak menyebut dan 
mengisahkan tokoh bernama Syaikh Abd-Rabbih al-Ta'ih, tokoh sufi 
imajiner. Dialog-dialognya tentang hidup cenderung liberal. "Cinta 
pada dunia adalah salah satu tanda rasa syukur, dan bukti sebuah 
keinginan agar segalanya menjadi indah," kata Syaikh tentang hujatan 
orang padanya yang mencintai kehidupan dunia; sesuatu yang tak lazim 
untuk seorang sufi. Memang Sufisme, yang menurut Mahfouz adalah 
ibarat puisi, memiliki penafsiran tersendiri di benak 
Mahfouz. "Mahfouzf adalah Zaabalawi itu sendiri," kata Gordimer. *

*) Muhammad Nugroho adalah mahasiswa Islamic College for Advanced 
Studies, Paramadina, Jakarta. 

Referensi: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1137


Kirim email ke