Sufisme yg mengesampingkan Syariat, berani bikin rumah tanpa pondasi..??
On 12/19/06, si Brewok [0_-] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Spiritualitas Naguib Mahfouz
Oleh Muhammad Nugroho
------------------
Pengalaman Mahfouz yang berwarna itu barangkali tuntutan yang wajar
dari gairah untuk menangkap nuansa hidup yang lebih hidup; bagian
dari tuntutan alami seorang sastrawan. Karena itu keberagamaan
Mahfouz tak bisa ditangkap secara hitam putih. Mahfouz sendiri
mengakui bahwa agama sangat penting untuk kehidupan seseorang, namun
juga mengandung potensi berbahaya.
Naguib Mahfouz (1911-2006), sastrawan Mesir yang meninggal 30
Agustus lalu, pernah disebut wartawan majalah New Yorker sebagai
seorang muslim sekuler. Secara harfiah, label sekuler yang menempel
di belakang predikat muslim berarti orang yang berpaham pemisahan
antara Islam dan negara. Fakta sejarah memang mengungkapkan bahwa
Mahfouz pernah menjadi pengikut Saad Zaglul Pasha, pemimpin partai
Wafd yang berhaluan nasionalis. Keterlibatan politik itu diakui
dengan nada bangga oleh Mahfouz dalam wawancaranya dengan wartawan
majalah Eropa, dan diakuinya juga sebagai langkah hidup yang sangat
berarti.
Dalam perjalanan hidup berikut, Mahfouz pun belum pernah terlibat
dalam organisasi-organisasi Islam seperti al-Ikhwan al-Muslimun,
organisasi Islam yang didirikan Hasan al-Banna di tahun 1928, yang
belakangan menjadi kekuatan politik besar di Mesir. Padahal
organisasi ini termasuk gerakan nasionalis melawan penjajahan
Kerajaan Inggris pada masa revolusi. Garis demarkasi antara Mahfouz
dengan kalangan Islam sayap kanan menegas, setelah novelnya Children
of Gebelawii (1959) dilarang Universitas al-Azhar—kampus yang
dianggap mewakili otoritas penafsiran Islam—karena dinilai menghujat
Tuhan dan kepercayaan agama, khususnya Islam.
Melalui sekitar 34 novel dan lebih dari 350 cerita pendek, Mahfouz
yang menjadi sastrawan pertama dunia Arab dan Islam yang menerima
hadiah Nobel bidang sastra (1998), tercitrakan sebagai seorang
muslim liberal. Maklum, karya-karyanya lebih banyak mengangkat
problema hidup masyarakat menengah ke bawah di perkotaan dengan
pendekatan dan gaya realis. Pendekatan seperti ini, yang memotret
realitas sosial apa adanya, tak pelak mengangkat juga tema-tema yang
sensitif dan tabu bagi kalangan puritan. Dengan membaca karya
Mahfouz, anda jangan berharap memperoleh cerita-cerita "pembangun
jiwa", istilah untuk cerita dakwah.
Tokoh-tokoh yang diceritakan novel-novel Mahfouz adalah manusia-
manusia dengan huruf m kecil. Tokoh utama novel Midaq Alley (Lorong
Midaq) yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan pernah
diangkat ke layar lebar dengan bintang Salma Hayek, adalah seorang
pelacur. Manusia-manusia dengan huruf m kecil bagi sastrawan sebesar
Mahfouz, lebih menarik untuk dinovelkan dibandingkan manusia-manusia
dengan huruf m besar. Bahkan dalam cerita pendek berjudul Zaabalawi
(The Time and the Place, Anchor, 1991), tokoh utamanya adalah
seorang manusia suci yang misterius—semestinya manusia dengan huruf
m besar—yang sering masuk bar.
Memang, melongok keberagamaan seseorang tak semudah melirik telepon
genggam di etalase toko. Keberagamaan seseorang sejatinya tak mudah
dikotak-kotakkan dalam sebuah kanvas yang statis. Itu juga yang
terjadi jika kita hendak melongok keberagamaan Mahfouz yang
sebetulnya bisa diakses melalui karya-karyanya. Tapi, penafsiran
terhadap karyanya bisa saja salah, seperti yang terjadi pada novel
Children of Gebelawi yang dinilai melecehkan Islam. "Bagaimana
mungkin saya melecehkan agama yang saya anut?" kata Mahfouz
menanggapi hujatan terhadap dirinya.
Budayawan Nadine Gordimer dalam pengantar untuk buku Echoes of an
Autobiography karya Naguib Mahfouz (Doubleday, 1997) telah mencoba
menelisik keberagamaan Mahfouz. Kata Gordimer, kalau kita ingin
mencari buku yang tepat untuk melacak posisi Mahfouz dalam kaitan
dengan iman (agama), kita harus mengingat Kamal, tokoh yang secara
brilian digambarkan dalam novel Trilogi Kairo. Di situ ia
menyatakan: "Pilihan terhadap keimanan belum ditentukan. Hiburan
menarik yang kumiliki, ya seperti ini, belum berlalu." ("The choice
of a faith still has not been decided. The great consolation I have
is that it is not over yet".)
Hal itu menggambarkan kehidupan Mahfouz sendiri merupakan sebuah
pengembaraan tatkala seseorang harus mencari sendiri papan arahnya.
Teks yang menunjukkan hal ini adalah cerita pendek Zaabalawi. Cerita
ini mengisahkan seorang berpenyakit yang menjelajahi kawasan Kairo
kuno demi mencari kesembuhan dari seorang tokoh suci bernama Syaikh
Zaabalawi. Tokoh ini misterius. Setiap orang yang mengenal Zaabalawi
menginformasikan tempat yang berbeda-beda untuk bisa menemuinya.
Hingga akhirnya dia datang ke sebuah bar—Negma Bar—untuk menemui
Hagg Wanas al-Damanhouri, seorang pemabuk yang diketahui paling
sering bertemu Zaabalawi belakangan ini.
Sebelum bisa menanyakan soal Zaabalawi, si tokoh aku dalam cerpen
ini dipaksa menenggak minuman keras hingga mabuk. Setelah siuman,
dia merasakan kepala dan bajunya basah. Siapa yang menyiraminya? Si
Wanas mengatakan bahwa Syaikh Zaabalawi datang ke bar dan berusaha
menyadarkannya dengan guyuran air. Setelah itu Syaikh Zaabalawi
meninggalkan mereka entah ke mana. Si tokoh aku pun menyesal karena
kehilangan kesempatan untuk bertemu Syaikh Zaabalawi, dan dia harus
melanjutkan pengembaraan untuk mencari sang misterius.
Pada akhirnya, pengalaman hidup Mahfouz juga tampak cukup berwarna.
Dalam sebuah wawancara, Mahfouz mengatakan bahwa ketika berusia
kanak-kanak, dia rajin salat dan selalu melaksanakan kewajiban salat
Jumat bersama ayahnya. Ayahnya adalah seorang yang relijius, namun
tak pernah memaksanya salat. Itulah masa yang menurut Mahfouz sangat
relijius. Di usia remaja, Mahfouz mengaku menjalani hidup seperti
sejumlah seniman Barat yang cenderung memilih kehidupan pribadi yang
menyimpang, ya mabuk, pengalaman seks yang tak biasa, dan
kecenderungan merusak diri. Namun kehidupan pribadi Mahfouz tak
sejauh itu. "Saya melakukan semua itu di masa muda: mabuk, menikmati
seks yang wajar (gentler sex), dan lain-lain," kata Mahfouz. Di usia
tua, dia menjalankan kewajiban salat kadang-kadang, karena kendala
fisik. Hingga wafat, Mahfouz belum menunaikan ibadah haji, konon,
karena takut pada kerumunan.
Pengalaman Mahfouz yang berwarna itu barangkali tuntutan yang wajar
dari gairah untuk menangkap nuansa hidup yang lebih hidup; bagian
dari tuntutan alami seorang sastrawan. Karena itu keberagamaan
Mahfouz tak bisa ditangkap secara hitam putih. Mahfouz sendiri
mengakui bahwa agama sangat penting untuk kehidupan seseorang, namun
juga mengandung potensi berbahaya. Sufisme? Menurut Gordimer,
Mahfouz terpengaruh sufisme. Dalam cerita pendek dan catatan harian
di buku Ehoes of an Autobiography, Mahfouz banyak menyebut dan
mengisahkan tokoh bernama Syaikh Abd-Rabbih al-Ta'ih, tokoh sufi
imajiner. Dialog-dialognya tentang hidup cenderung liberal. "Cinta
pada dunia adalah salah satu tanda rasa syukur, dan bukti sebuah
keinginan agar segalanya menjadi indah," kata Syaikh tentang hujatan
orang padanya yang mencintai kehidupan dunia; sesuatu yang tak lazim
untuk seorang sufi. Memang Sufisme, yang menurut Mahfouz adalah
ibarat puisi, memiliki penafsiran tersendiri di benak
Mahfouz. "Mahfouzf adalah Zaabalawi itu sendiri," kata Gordimer. *
*) Muhammad Nugroho adalah mahasiswa Islamic College for Advanced
Studies, Paramadina, Jakarta.
Referensi: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1137
--
http://funkyblog.org/mimin/2/Mie+Atjeh+alias+Nasi+Goreng+Aceh+juga+boleh.html