Masa Depan 'Hijau' untuk Agama dan Bumi 

"Ketika Menteri Kehutanan MS. Kaban, bertanya kepada penyandang 
gelar haji yang menjadi pelaku illegal loging: mengapa dia 
melakukannya? Dijawab, bahwa hutan yang Dia tebang merupakan karunia 
Tuhan, dan manusia harus dapat memanfaatkannya" (The Jakarta Post 
9/4/06)

Author: Fachruddin M. Mangunjaya
-----------------------------------

Kita tidak berdebat mengenai aspek pidana, bahwa Pak Haji memang 
melanggar undang-undang sehingga Dia dikenai hukuman sesuai UU yang 
berlaku di negara RI. Tetapi, dari sudut pandang agama –Islam sic—
sebenarnya ada kedangkalan pengetahuan yang diperoleh Pak Haji dalam 
menafsirkan `kekuasaannya' sebagai khalifah di muka bumi. Realitas 
inilah yang ingin diungkap oleh pakar agama dan lingkungan. 
Bahwasanya, agama-agama (termasuk Islam) sangat tertinggal dalam 
memberikan tafsir atas kekuasaan manusia terhadap alam. Hal yang 
sama terjadi pada agama samawi yang lain, baik Yahudi maupun 
Kristiani.

Agama-agama samawi menjadi tertuduh atas warisan dan cara pandang 
terhadap krisis lingkungan yang ada di bumi, karena memberikan 
tafsir antroposentris terhadap alam dan ciptaan Tuhan di bumi. Tesis 
inilah yang diangkat oleh Lynn White, Jr. dalam esai pendek 
bertajuk: The historical root of our ecologic crises, di jurnal 
Science pada tahun 1967, yang masih diingat betul oleh para aktifis 
hingga filosof yang terlibat memikirkan tentang lingkungan hidup. 
Kata White: krisis ekologi yang tengah terjadi sekarang ini adalah 
akibat kesalahan manusia menanggapi persoalan lingkungannya. Apa 
yang dilakukan oleh manusia terhadap lingkungannya bergantung dengan 
apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sediri dalam 
hubungannya dengan apa yang ada di sekitar mereka. Lebih lengkap 
dikatakannya, bahwa akar dari sumber krisis lingkugan ini dipengauhi 
oleh keyakinan tentang alam kita dan takdirnya—yaitu oleh agama.

Pertengahan April 2006 yang lalu, sekitar seratus empat puluh lima 
orang yang terdiri dari akademisi, ilmuwan dan agamawan berkumpul 
dalam konferensi inagurasi University of Florida bertajuk: Religion 
and Nature Conference. Bron Taylor, guru besar agama dari 
Departement of Religion University of Florida yang punya hajat atas 
konferensi yang mengundang pakar lingkungan dan agama di seluruh 
dunia itu, mengemukakan pendapat mengenai perkembangan dan prospek 
untuk "menghijaukan agama" yang sering sekali digembar gemborkan 
sebagai prasyarat bagi masyarakat dengan lingkungan berkelanjutan. 
Taylor mensinyalir bahwa gerakan kembali melihat agama sebagai 
prasyarat untuk memelihara lingkungan dan bumi merupakan salah satu 
kekuatan yang dapat membuahkan hasil disamping adanya etika 
biosentris yang mempengaruhi sub kultur serta budaya pop sebagaimana 
yang disuguhkan dalam banyak kegiatan atraksi budaya dan lingkungan.

Tentu saja ada harapan besar, agar para pemimpin agama untuk ikut 
terjun memikirkan kembali posisi agama dalam melihat ciptaan Tuhan. 
Kini kita melihat adanya kepunahan makhluk hidup dan ketergusuran 
ekosistem mereka akibat kerakusan manusia. Padahal kitab suci agama –
khususnya al-Qur'an— mengajarkan bahwa semua makhluk hidup dilangit 
dan di bumi senantiasa bertasbih kepada Ilahi (Q.s: 62:1). 
Bahwasanya, Tuhan telah menganggap burung yang terbang dengan kedua 
sayapnya serta binatang yang ada di bumi semuanya itu adalah umat 
juga, seperti halnya manusia (Q.s. 6:38). Lalu Bagaimana kemudian 
manusia dapat mempunyai hak, dengan arogannya memperluas kebun, 
mengeruk bumi, mencemari udara, menebang pohon-pohon alam (yang 
tidak pernah ditanam oleh tangannya), untuk keperluan hidupnya. 
Bahwa disanalah ada makhluk Tuhan, burung-burung dan sungai-sungai –
dimana ikan dan kodok bertasbih kepada Tuhan setiap saat? 


Pengaruh Terhadap Kebijakan

Gregory Hitzhusen dan James Skillen peserta dari Cornell University, 
mensinyalir bahwa tesis yang dikemukakan oleh White sebenarnya masih 
bergaung hingga kini. Ilmuwan Cornel itu menunjuk contoh pemikiran 
yang mengklaim bahwa administrasi Bush dan Reagen yang beroposisi 
kepada lingkungan –termasuk tidak mau menandatangani Protocol Kyoto, 
pen—sebagiannya adalah karena pengaruh penafsiran terhadap wahyu 
Kristiani tentang alam akhir dan berkesimpulan bahwa kiamat sudah 
dekat. Pengetahuan tentang hari akhir yang sempit ini ujungnya 
membuat usaha menyokong perlindungan lingkungan, semakin 
terpinggirkan dari arus kebijakan. Namun ini semuanya pada esensinya 
terdorong karena miskinnya sikap spiritual untuk mempunyai niat 
menyelamatkan bumi dan isinya. David Orr dalam Journal Conservation 
Biology (April 2005), memandang realitas diatas pula yang 
mengakibatkan sikap para politisi sayap kanan yang dikuasai oleh 
kaum Republikan dikongres Amerika—termasuk diantaranya pimpinan 
Kristen konservatif— yang kemudian cuek terhadap penyelamatan 
keanekaragaman hayati. 

Tetapi menurut pendapat Jay MC Daniel, pihak Kristiani menganggap 
dampak yang ada sekarang ini merupakan hasil dari sifat ambigu 
barat. Secara historis, kata Mc Daniel, pendekatan Kristen Barat 
terhadap alam sangatlah ambigu. Sementara pernyataan bahwa 
Kristianitas paling bertanggungjawab terhadap sikap-sikap negatif 
terhadap alam merupakan tuduhan yang berlebihan, juga berlebihan 
untuk menyatakan bahwa Kristianitas sangat tidak terlibat. 

Perdebatan tentang pengaruh spiritualitas yang melingkari pikiran 
dan persepsi manusia dalam mengambil kebijakan, sesungguhnya juga 
terjadi di dunia Muslim. Keinginan dan kajian terhadap lingkungan, 
penyelamatan makhluk hidup yang ada disisi manusia sangat sulit 
ditemukan. Banyak sekali kajian agama yang hanya memberikan pengaruh 
kepada moralitas antara sesama manusia, namun tidak 

banyak pengkajian dalam memberikan keputusan terhadap ciptaan Ilahi 
yang lain. Hingga sekarang sangat sulit mencari dana-dana filantropi 
di dunia muslim yang kaya raya untuk keperluan konservasi dan 
penyelamatan ciptaan Tuhan dimuka bumi. Hal ini barangkali karena 
kesadaran yang sedikit akibat ajaran moral dan penghormatan terhadap 
makhluk bukan manusia menjadi bukan prioritas.

Maka tidaklah asing apabila kita menjumpai keputusan yang menomor 
duakan persoalan penyelamatan satwa dan alam yang diambil oleh 
penguasa di Republik Indonesia—negara muslim terbesar di dunia—baik 
di pusat maupun di daerah. Kita menyaksikan ada puluhan makhluk 
hidup yang mati diracun, dijerat dan dibunuh beramai-ramai oleh 
penduduk, tanpa merasa berdosa atas tindakan yang `konyol' 
bahwasanya, manusia dapat memusnahkan spesies langka yang tidak akan 
kembali lagi ke bumi apabila mereka musnah.


Pandangan Biologi Konservasi

Studi agama dan ekologi kini menjadi muncul sebagai kajian menarik 
dikalangan akademisi. Beberapa pakar seperti Mary Evelyn Tucker dari 
Forum on Religion and Ecology, Graduate Theological Union, David 
Barnhill University of Wisconsin Oshkosh, Mark Wallace Swarthmore 
College dan David Haberman Indiana University, membahas mengenai 
fenomena munculnya studi agama dan alam sebagai pembahasan akademis. 
Akademisi adalah `akademisi' yang cenderung membahas segala 
sesuatunya secara teoritis. Tetapi kajian akademis tentu saja sangat 
penting untuk memberikan pemahaman yang luas tentang pandangan agama 
terhadap bumi dan ciptaan lainnya. Dalam hal ini studi agama 
mendapatkan suatu ruh baru guna meyakinkan pengambil keputusan: 
dengan memberikan tafsir rasional terhadap agama yang akan 
memperkuat argumen agar kebijakan mereka tidak bias dan mengorbankan 
lingkungan dan planet bumi tempat satu-satunya manusia dapat hidup 
beribu generasi.

Mark Wallace, mengingatkan akan wahyu yang terlampau kaku 
diterjemahkan kedalam bahasa teks yang terkadang tidak dapat 
diterima dan tidak rasional, misalnya dalam mendapatkan pemahaman 
tentang kitab Kejadian (1:1-30). Teks ini, kata Marks perlu 
dirumuskan dalam konteks biologi konservasi. Misalnya Tuhan 
menciptakan tanam-tanaman dengan begitu saja, difahami secara 
tekstual tetapi yang dimaksud tanam-tanam dalam teks, dapat dibaca 
oleh para ahli biologi konservasi yaitu dengan terbentuk adanya 
suatu keseimbangan sedemikian rupa, bahwa balance yang terjadi di 
bumi merupakan khasanah yang diciptakan berupa tumbuhan yang 
memberikan kemakmuran bagi semua makhluk di bumi. Maka teks harus 
dijelaskan bahwa makanan tersedia bila terciptanya rantai makanan 
yang utuh karena adanya jaminan terhadap ekosistem yang sehat 
sehingga mata rantai makanan bagi semua makhluk hidup tidak putus. 

Itulah jaminan Tuhan, dan manusia bisa mengintervensi, merusak 
rantai makanan tersebut misalnya, dengan memutus salah satu komponen 
ekosistem: merusak hutan atau memburu makhluk hidup tersebut tanpa 
pertimbangan keberlanjutan. Padahal fungsi universal ekosistem 
adalah menjaga keseimbangan –termasuk menyediakan makanan —rejeki 
pada makhluk lain: baik manusia dan makhluk bukan manusia. Proses 
inilah yang diistilahkan dalam disiplin ilmu ekologi dangan menyerap 
dan mentransfer energi atau menyediakan dan menyerap nutrisi. Selain 
itu kesatuan ekosistem yang asli juga mampu menjadi penjaga –baik 
tangkapan—maupun pelepasan air, dan tentu saja sebagai pengikat 
karbon yang dibuang oleh makhluk lain di bumi dan mengeluarkan 
oksigen untuk semua makhuk bernafas.


Surga yang Hilang

Masih ingat, ketika media menyebarkan sebuah "trik berita" untuk 
menarik perhatian masyarakat dunia, ketika mengekspose penemuan 
spesies baru oleh para ilmuwan Conservation International dan 
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Papua, beberapa bulan 
yang lalu? Media menyungguhkan judul kawasan Papua sebagai surga 
yang hilang, atau dunia yang hilang (the lost world) yang ditemukan 
kembali. Image, mencari sebagian dunia yang hilang, masih terpatri 
di benak manusia, yang nenek moyangnya—Adam dan Hawa — terusir dari 
surga. Dampak dari judul yang menarik tersebut, berbulan-bulan media 
barat mengekspos tentang kekayaan dan keindahan alam Mamberamo, 
Papua yang terkuak seperti sebuah misteri sehingga mendapatkan 
liputan ribuan media di seluruh dunia dan "memancing" kapal Green 
Peace, Rainbow Warrior, untuk singgah di dermaga Papua.

Mark Stoll dari Texas Tech University, mengungkapkan tentang tradisi 
Teologi Kristen Puritan dalam memandang Taman Nasional, 
sebagai "penggalan surga" yang hilang. Tradisi penghargaan dan 
kerinduan pada taman surga ini rupanya berpengaruh dalam nostalgia 
dan pikiran para seniman abad delapan belas, sehingga hasil lukisan 
para seniman – yang melukiskan kekaguman terhadap keindahan Taman 
Nasional Yosemite tahun 1890, dan Taman Nasional Sierra Nevada –
mendorong berdirinya Sierra Club tahun 1892 dan pembentukan 
pelayanan Taman Nasional tahun 1916. 

Pengaruh religiusitas dan keterkaitan manusia dan alam dibahas oleh 
Stephen Kellert, guru besar kehutanan dan lingkungan dari Yale 
University yang menjadi pembicara kunci untuk mengangkat tentang 
nostalgia agama dan sains dalam memberikan pencerahan akan adanya 
kekekalan hubungan antara manusia dengan alam atau ciptaan. 

Kellert bersama E.O. Wilson adalah guru besar yang sangat terkenal 
dengan risetnya tentang biophilia: yang meneliti tentang hubungan 
ikatan manusia dan alam, mengemukakan tentang hubungan antara 
ciptaan dan kesatuan antara: agama, sains dan budaya.

Bahwasanya dasar universal manusia yang terwariskan secara genetis 
(secara pribadi saya mengatakah ini adalah fitrah manusia-pen), 
adalah: keinginan manusia menghargai sains dan agama sebagai wahana 
untuk menghubungkannya dengan alam sebagai ciptaan. Namun, ada 
realitas yang mempengaruhi kehendak ini yaitu: variasi individual 
dan kontruksi budaya. Akal manusia memberikan peluang untuk melatih 
kecenderungan ini, apakah kita akan memupuk kebebasan berkehendak 
dalam merespon sifat genetis yang buruk yang bertendensi merusak, 
atau sebaliknya. Dalam arti, budaya manusia, kata Kellert juga 
berkontribusi mendorong kapasitas manusia untuk sekaligus menjadi 
bangsa religius dan saintifik. Namun dapat pula mendorong pada 
ekspresi untuk memilih pada hal yang merusak.

Kellert mengatakan, bahwa kehendak tersebut merupakan sifat 
universal biologi manusia yang merupakan produk evolusi: 
variabilitas berkait dengan ekspresi fungsional makhluk hidup. 
Implikasinya, berdasarkan persfektif ini, —yang sering membawa pada 
perdebatan— bahwa tidak semua kontruksi individual dan budaya sains 
dan agama adalah absah: bahwasanya hubungan keduanya ini tidak 
berfungsi dan merusak. Oleh karena itu, implikasi ini memang akan 
sangat berpengaruh hanya bila sains, agama, budaya dan alam dianggap 
sebagai landasan etika untuk merawat, menghargai dan melestarikan 
ciptaan tersebut.***


*) Fachruddin M. Mangunjaya 

Staff Conservation International Indonesia, Anggota International 
Society for the Study of Religion and Nature (ISSRN) dan Harvard 
Forum on Religion and Ecology. 

*)Tulisan ini merupakan ringkasan dari hasil diskusi dan sebagian 
makalah Inaugural Conference on Religion and Nature, University of 
Florida 6-9 April 2006, yang dihadiri oleh penulis.


Source: http://www.conservation.or.id


Kirim email ke