Sobron Aidit Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa
Indonesia.
Sobron Aidit (Belitung <http://id.wikipedia.org/wiki/Belitung> , 2 Juni
<http://id.wikipedia.org/wiki/2_Juni>  1934
<http://id.wikipedia.org/wiki/1934>  - Paris
<http://id.wikipedia.org/wiki/Paris> , 10 Februari
<http://id.wikipedia.org/wiki/10_Februari>  2007
<http://id.wikipedia.org/wiki/2007> ) adalah adik D.N. Aidit
<http://id.wikipedia.org/wiki/D.N._Aidit> . Pendidikannya ditempuhnya di
HIS <http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=HIS&action=edit>  di
Belitung, dan kemudian melanjutkan hingga ke Universitas Indonesia
<http://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_Indonesia>  di Jakarta
<http://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta> .
Daftar isi
    * 1 Menjadi pengarang
<http://id.wikipedia.org/wiki/Sobron_Aidit#Menjadi_pengarang>      * 2
Pekerjaan dan aktivitas
<http://id.wikipedia.org/wiki/Sobron_Aidit#Pekerjaan_dan_aktivitas>     
* 3 Revolusi Kebudayaan
<http://id.wikipedia.org/wiki/Sobron_Aidit#Revolusi_Kebudayaan>      * 4
Pindah ke Perancis
<http://id.wikipedia.org/wiki/Sobron_Aidit#Pindah_ke_Perancis>      * 5
Membuka restoran
<http://id.wikipedia.org/wiki/Sobron_Aidit#Membuka_restoran>      * 6
Kegiatan terakhir
<http://id.wikipedia.org/wiki/Sobron_Aidit#Kegiatan_terakhir>      * 7
Keluarga <http://id.wikipedia.org/wiki/Sobron_Aidit#Keluarga>      * 8
Karya tulis <http://id.wikipedia.org/wiki/Sobron_Aidit#Karya_tulis>     
* 9 Pranala luar
<http://id.wikipedia.org/wiki/Sobron_Aidit#Pranala_luar>


Menjadi pengarang
Sejak masa remajanya, Sobron telah aktif mengarang. Karangannya yang
pertama dibuatnya pada usia 13 tahun berupa cerita pendek, "Kedaung"
yang diterbitkan dalam Majalah Waktu
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Waktu_%28majalah%29&action=ed\
it>  di Medan <http://id.wikipedia.org/wiki/Medan> . Pindah ke Jakarta,
Sobron bertemu dengan Chairil Anwar
<http://id.wikipedia.org/wiki/Chairil_Anwar>  yang kebetulan tinggal
bersama kakaknya. Chairil banyak membimbingnya dalam penulisan dan
kreativitas Sobron pun kian berkembang. Puisi dan cerpennya terbit di
berbagai majalah, seperti Mimbar Indonesia
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mimbar_Indonesia&action=edit>
, Zenith
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Zenith_%28majalah%29&action=e\
dit> , Kisah
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kisah_%28majalah%29&action=ed\
it> , Sastra
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sastra_%28majalah%29&action=e\
dit> , yang semuanya diasuh oleh H.B. Jassin
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=H.B._Jassin&action=edit> .
Penerbitan lain yang memuat karya-karyanya adalah Harian Sunday Courier
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sunday_Courier&action=edit> ,
Republik
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Republik_%28harian%29&action=\
edit> , Bintang Timur
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bintang_Timur&action=edit> 
(Bintang Minggu), Harian Rakjat
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Harian_Rakjat&action=edit> ,
Zaman Baru
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Zaman_Baru&action=edit> ,
Kencana
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kencana_%28harian%29&action=e\
dit> , Siasat
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Siasat_%28majalah%29&action=e\
dit> , Mutiara
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mutiara_%28harian%29&action=e\
dit> , dll.

Sobron pernah memperoleh penghargaan Hadiah Sastra untuk karya-karyanya.
Cerpennya, "Buaja dan dukunnja" mendapatkan penghargaan dari Majalah
Kisah/Sastra pada 1955-1956, dan cerpennya "Basimah" mendapatkan
penghargaan dari Harian Rakjat
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Harian_Rakjat&action=edit> 
Kebudajaan pada 1961.


Pekerjaan dan aktivitas
Sobron Aidit bekerja sebagai guru di SMA Utama
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=SMA_Utama&action=edit>  di
Salemba, dan SMA <http://id.wikipedia.org/wiki/SMA>  Tiong Hoa Hwee Koan
<http://id.wikipedia.org/wiki/Tiong_Hoa_Hwee_Koan> , keduanya di Jakarta
(1954-1963). Ia juga menjadi dosen di Akademi Sastra Multatuli
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Akademi_Sastra_Multatuli&acti\
on=edit>  yang didirikannya bersama Prof. Bakri Siregar
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bakri_Siregar&action=edit> .
Sobron juga pernah menjadi wartawan untuk Harian Rakjat
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Harian_Rakjat&action=edit> 
dan Bintang Timur
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bintang_Timur&action=edit> ,
keduanya terkenal sebagai harian kiri
<http://id.wikipedia.org/wiki/Kiri>  pada akhir 1950-an
<http://id.wikipedia.org/wiki/1950-an>  dan awal 1960-an
<http://id.wikipedia.org/wiki/1960-an> . Selain itu, ia juga aktif
sebagai pengurus Lembaga Persahabatan Indonesia-Tiongkok
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Lembaga_Persahabatan_Indonesi\
a-Tiongkok&action=edit>  bersama Prof. Dr. Prijono
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Prijono&action=edit> , dan
kemudian bersama Djawoto <http://id.wikipedia.org/wiki/Djawoto>  dan
Henk Ngantung <http://id.wikipedia.org/wiki/Henk_Ngantung>  (1955-1958).

Pada 1960-1962, ia aktif sebagai pengurus Lembaga Persahabatan
Indonesia-Vietnam
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Lembaga_Persahabatan_Indonesi\
a-Vietnam&action=edit>  bersama K. Werdoyo
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=K._Werdoyo&action=edit>  dan
Nyak Diwan
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Nyak_Diwan&action=edit> , dan
pengurus Baperki <http://id.wikipedia.org/wiki/Baperki>  bersama Siauw
Giok Tjhan
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Siauw_Giok_Tjhan&action=edit>
dan Buyung Saleh
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Buyung_Saleh&action=edit> 
(1960-1961). Sebagai seniman, Sobron mendirikan kelompok "Seniman Senen
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Seniman_Senen&action=edit> "
bersama SM Ardan <http://id.wikipedia.org/wiki/SM_Ardan> , Wim Umboh
<http://id.wikipedia.org/wiki/Wim_Umboh>  dll.

Pada tahun 1963 ia mendapat undangan untuk menjadi Guru Besar Sastra dan
Bahasa Indonesia di Institut Bahasa Asing
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Institut_Bahasa_Asing&action=\
edit>  Beijing (1964). Di samping itu ia tetap menjadi wartawan, antara
lain untuk Peking Review
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Peking_Review&action=edit> .
Ketika peristiwa G30S <http://id.wikipedia.org/wiki/G30S>  meletus, ia
bersama keluarganya selamat dari pembantaian yang dialami oleh ratusan
ribu orang (sebagian sumber mengatakan hingga dua juta), yang dituduh
atau dicurigai sebagai komunis <http://id.wikipedia.org/wiki/Komunis> .
Sobron dan keluarganya terpaksa bermukim di Tiongkok, karena sadar bahwa
bila mereka kembali ke Indonesia, keselamatan mereka tidak dijamin.


Revolusi Kebudayaan
Pada tahun 1966 <http://id.wikipedia.org/wiki/1966>  - 1976
<http://id.wikipedia.org/wiki/1976>  Tiongkok dilanda Revolusi
Kebudayaan <http://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Kebudayaan>  yang
antara lain besifat anti kaum intelektual. Sobron pun terpaksa berhenti
bekerja dan diperintahkan pergi ke desa untuk hidup dan bekerja bersama
dengan para petani. Setelah Revolusi ini berakhir, pada 1979
<http://id.wikipedia.org/wiki/1979>  ia kembali ke Beijing
<http://id.wikipedia.org/wiki/Beijing>  dan bekerja di Radio Peking
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Radio_Peking&action=edit> 
sebagai penyiar dan redaktur.


Pindah ke Perancis <http://id.wikipedia.org/wiki/Perancis>
Setelah kontraknya dengan Radio Peking berakhir, Sobron berniat
meninggalkan Tiongkok, namun ia tidak tahu harus ke mana. Mulanya ia
ingin ke Hong Kong <http://id.wikipedia.org/wiki/Hong_Kong> , namun ia
khawatir akan diekstradisi <http://id.wikipedia.org/wiki/Ekstradisi>  ke
Indonesia. Akhirnya ia memutuskan untuk ke Paris
<http://id.wikipedia.org/wiki/Paris> , meskipun ia sama sekali tidak
paham tentang negara itu dan tidak mengenal bahasanya. Setibanya di
Perancis, ia diberikan pelajaran bahasa Perancis
<http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Perancis>  di pusat penampungan
pengungsi.


Membuka restoran
Setelah selesai mendapatkan pelajaran dasar bahasa Perancis, Sobron dan
teman-temannya dilepas oleh pemerintah Perancis untuk hidup mandiri.
Muncullah gagasan di antara mereka untuk membuka sebuah restoran
Indonesia secara kolektif, meskipun tak seorangpun dari mereka yang
punya pengalaman mengelola restoran. Selama enam bulan Sobron dan
temannya Umar Said
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Umar_Said&action=edit> 
berkeliling Paris untuk mencari lokasi dan mempelajari menu
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Menu&action=edit> 
restoran-restoran yang sudah ada.

Dana untuk membuka restoran mereka peroleh dari berbagai sumber,
terutama dari sejumlah pendukung di Belanda
<http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda> , dari Gereja Katolik
<http://id.wikipedia.org/wiki/Gereja_Katolik_Roma> , dan dari uang
tunjangan yang mereka terima selama dua tahun dari pemerintah Perancis.
Ada juga bantuan dari sejumlah teman orang Perancis yang bersimpati
dengan nasib mereka. Presiden Mitterand
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Fran%C3%A7ois_Mitterrand&acti\
on=edit>  bahkan sangat bersimpati, dan istrinya pernah beberapa singgah
dan makan di restoran mereka yang kecil itu, di kawasan Luxembourg,
pusat kota Paris.

Oleh pemerintah Indonesia sendiri kelompok ini diboikot dan dimusuhi.
Baru setelah Soeharto <http://id.wikipedia.org/wiki/Soeharto>  jatuh
dari kursi kekuasaannya, ada keterbukaan dari pihak perwakilan Indonesia
di Paris.


Kegiatan terakhir
Selama Orde Baru <http://id.wikipedia.org/wiki/Orde_Baru> , karya-karya
Sobron, termasuk karyanya bersama orang lain, dilarang beredar. Meskipun
demikian, tulisan-tulisannya tetap muncul di berbagai media di
Indonesia, semuanya dengan nama sambaran. "Saya punya 25 nama samaran
selama 32 tahun," Sobron mengaku.

Sobron menjadi salah seorang pendukung dan penulis yang aktif bagi usaha
terbitan pers alternatif, terutama sekali bagi majalah sastra dan seni
Kreasi
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kreasi_%28majalah%29&action=e\
dit> , majalah Mimbar
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mimbar_%28majalah%29&action=e\
dit> , dan majalah opini dan budaya pluralis Arena
<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Arena_%28majalah%29&action=ed\
it> .

Catatan kehidupan dan pengembaraannya muncul secara teratur di internet
<http://id.wikipedia.org/wiki/Internet> .

Sejumlah karya Sobron telah diterjemahkan ke dalam Rusia
<http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Rusia> , Tionghoa
<http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Tionghoa> , Inggris
<http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Inggris> , Bulgaria
<http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Bulgaria> , Belanda
<http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Belanda> , Jerman
<http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jerman> , Prancis
<http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Prancis> .

Sobron telah menjadi warga negara Perancis, dan dengan paspor Perancis
ia sudah beberapa kali berkunjung ke Indonesia. Ia juga menggunakan nama
"Simon".

Sobron Aidit terkena serangan jantung
<http://id.wikipedia.org/wiki/Serangan_jantung>  dua hari sebelum ia
meninggal di rumah sakit di Paris, Perancis pada tanggal 10 Februari
<http://id.wikipedia.org/wiki/10_Februari>  2007
<http://id.wikipedia.org/wiki/2007> .


Keluarga
Simon Sobron Aidit terakhir tinggal di Perancis, sementara anaknya
tinggal di Belanda <http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda> . Istrinya
telah lama meninggal ketika mereka masih tinggal di Tiongkok.


Karya tulis
Sebagian dari karangan dan kumpulan puisi Sobron Aidit:

    * Surat kepada Tuhan: memoar (2003)     * Gajah di pelupuk mata:
memoar Sobron Aidit (2002)     * Kisah intel dan sebuah warung (2000)
* Cerita dari tanah pengasingan (1999)     * Mencari langit: sebuah
kumpulan sajak (1999)     * Razia Agustus: kumpulan cerpen (1992)     *
Derap revolusi: kumpulan novelette and tjerpen (1962)     * Ketemu
didjalan: tiga kumpulan sadjak (1956) (bersama Ajip Rosidi)

http://id.wikipedia.org/wiki/Sobron_Aidit
<http://id.wikipedia.org/wiki/Sobron_Aidit>

Kirim email ke