Semoga Om Sobron bisa istirahat dg tenang dan damai.
Buat Wita dan Nita, ( kita pernah ketemu waktu msh remaja )
semoga ikhlas dg kepergian ayahanda.
Kertapati
semar alit <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Jika benar om Sobron telah berpulang, saya turut
berdoa
smoga perbuatan almarhum semasa hidup mendapat
ganjaran
yang layak dari Allah. Saya percaya pada akhirnya
orang lebih dinilai dari perbuatan dan kepedulian pada
sesama, bukan semata karena ideologi, agamanya apa,
apalagi karena cuma stempel yang diberikan
pemerintah era Orde Baru.
Jujur saya tak mengenal Om Sobron dengan baik, namun
dari berbagai cerpen yang ditulisnya dalam dua buku
yang pernah saya baca, yakni Kisah Intel dan sebuah
warung, serta Cerita Dari tanah Pengasingan. Ditambah
dua kali bertemu dengan almarhum, saya menilai bahwa
Om Sobron adalah orang yang humanis, terbuka dan
suka guyon, jauh dari pendendam..
Jika banyak tokoh PKI dan keluarganya, atau
kerabatnya (baik yang pernah jadi aktivis PKIt atau
hanya di-cap PKI) jadi marah dan benci pada
pemerintah Orde baru, akibat hidupnya menderita
setelah mereka dijadikan kambing hitam atas peristiwa
G 30S/PKI, tak demikian dengan Sobron.
Tak mudah menjalani hidup di jaman Orde Baru sebagai
adik DN Aidit, pentolan PKI, yang dituduh salah satu
orang yang paling bertanggung jawab dalam tragedi 65.
Namun dengan keuletan dan kesabaran, sobron yang
sempat terlunta-lunta di Eropa setelah jatuhnya
Soekarno di akhir th 60-an, ia berhasil merintis
sebuah restauran di Paris untuk menyambung hidup.
restauran yang berada di jantung kota Paris, itu
pelahan berkembang, selain menawarkan masakan khas
Indonesia, spt gado-gado dan nasi goreng. Uniknya
resto tersebut juga menjadi "shelter", bagi para
pelarian politik (khususnya dari asia dan Afrika)
Mereka tak bisa hidup di negerinya, karena punya sikap
politik berbeda dgn penguasa atau krn melawan rejim
otoriter.
Entah karena solidaritas atau alasan lainnya, yang
jelas hingga awal 2000-an, resto yan bernama Indonesia
itu pernah membantu hampir 60-an pelarian politik
(exile)dari berbagai Negara, yang mencari suaka
politik ke Eropa,prancis khususnya. Biasanya, setelah
mereka dapat suaka atau pekerjaan yang lbh baik, para
exile
tersebut tak lagi jadi pelayan atau juru masak di
resto om sobron.
saya merasa berterimakasih pada Om Sobron, karena dari
almarhum saya tak hanya belajar tentang pentingnya
mempelajari sejarah, namun juga pentingnya sikap ulet
dan sabar dalam menjalani hidup.
saya bertemu almarhum pertama kali di Paris, awal
2000-an. Walau belum pernah bertemu dengannya, Om
Sobron menerima saya dan 2 teman, dengan hangat.
Padahal kami tak pernah bertemu sblmnya, kecuali lewat
email, saat mengabarkan bahwa kami ingin bertemu.
Ia mengajak kami ke ruang bawah di resto Indonesia dan
dijamu dengan gado-gado, ayam goreng dan wine...dalam
hati saya membatin, beginilah mungkin sajian kuliner
"kawin campur" ala Om Sobron. Saat itu hadir juga pak
Umar said dan seorang exile lain yg saya lupa namanya.
Saat itulah, kami bisa bertukar cerita dengan akrab,
dari soal kondisi sosial politik pasca jatuhnya
suharto, hingga soal remeh temeh, seperti keju Prancis
dr susu kambing, yg rasanya aneh & baunya ampunn...
(mirip kaus kaki basah yang disimpan 2 hari di sepatu)
Setelah itu, saya sempat bertemu Om Sobron saat ia
hadir dalam peluncuran kumpulan cerita pendeknya di
teater Utan Kayu, jakarta sekitar tahun 2002 atau
2003.
Tak banyak yang berubah dari dirinya, kecuali ubannya
yang makin banyak dan makin rendah hati. dalam
diskusi, ia juga mengakui bahwa ia geli jika ingat
akan pemikirannya waktu muda. Ia pnh menulis artikel
berjudul "Kepalaku Marxis, Jiwaku Leninis".
Namun setelah ditempa berbagai pengalaman hidup,
almarhum berubah. Ia tak lagi bermimpi Indonesia jadi
negara komunis, tapi berharap agar Indonesia menjadi
lebih demokratis, sehingga rakyat lebih punya peluang
untuk menentukan nasib dan masa depannya sendiri.
Entah kebetulan atau tidak, beberapa hari yang lalu
secara tak sengaja anak saya, yang baru berumur 5
tahun mengambil buku Om Sobron yang berjudul Kisah
intel dan sebuah Warung. Lantas ia tanya,"Buku ini
gambarnya (sampul buku) bagus, isinya apa sih?" Saya
cuma menjawab singkat,"nanti kalau kamu uda bisa baca,
boleh baca buku ini. Ini cerita tentang Om Sobron,
temen ayah yg tinggal jauuuh dari Indo".
Saya lantas teringat saat almarhum memberikan buku
tersebut pada saya, ia cuma bilang sambil tersenyum
,"Jangan diketawain kalo bahasa-nya jelek ya, maklum,
lama gak kepake." Namun buku tersebut isinya menarik,
sebagian pengalaman almarhum saat pulang ke Indo di
jaman OrdeBaru, bagaimana kesannya tentang kehidupan
sehari-hari. Alur ceritanya jelas, mudah dimengerti
dan yang paling terasa adalah rasa kangen atau
sayang Sobron terhadap negeri ini.
walau ia lama tinggal di paris, tak lantas mengubahnya
jadi org prancis. Di era Gus Dur, ia pernah bilang,
jika memungkinkan, ia lbh memilih kembali ke
indonesia, ketimbang paris. Jujur saya tak tahu
persis, apakah ia sempat mencoba balik ke Indonesia
atau tidak. Padahal, lebih banyak orang indo yang
bermimpi-mimpi untuk tinggal di eropa, khususnya kota
secantik paris, daripada pusing hidup di negeri yang
tgh terpuruk ini.
Kini, Om Sobrok telah Berpulang, melewati berbagai
"tanah asing" lainnya, untuk kembali pada Sang Khalik.
Ia pergi, di saat mayoritas rakyat tak punya banyak
pilihan bagi hidup dan masa depannya.
selamat jalan Om, smoga apa yang menjadi kegelisahanmu
tentang negeri ini, bisa menjadi energi bagi kami
untuk terus berbuat, bagi sesama, khususnya mereka
yang tak berdaya dan terpinggirkan.
teriring doa,
iwan
__________________________________________________________
Want to start your own business?
Learn how on Yahoo! Small Business.
http://smallbusiness.yahoo.com/r-index
---------------------------------
Food fight? Enjoy some healthy debate
in the Yahoo! Answers Food & Drink Q&A.