* 1 Struktur Hadits
o 1.1 Sanad
o 1.2 Matan
* 2 Klasifikasi Hadits
o 2.1 Berdasarkan ujung sanad
o 2.2 Berdasarkan keutuhan rantai/lapisan sanad
o 2.3 Berdasarkan jumlah penutur
o 2.4 Berdasarkan tingkat keaslian hadits
o 2.5 Jenis-jenis lain

* 1 Struktur Hadits
Struktur Hadits
Secara struktur hadits terdiri atas dua komponen utama yakni sanad/isnad 
(rantai penutur) dan matan (redaksi).
Contoh:Musaddad mengabari bahwa Yahyaa sebagaimana diberitakan oleh Syu'bah, 
dari Qatadah dari Anas dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda:"Tidak 
sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya 
apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri" (Hadits riwayat Bukhari)

o 1.1 Sanad
Sanad ialah rantai penutur/perawi (periwayat) hadits. Sanad terdiri atas 
seluruh penutur mulai dari orang yang mencatat hadits tersebut dalam bukunya 
(kitab hadits) hingga mencapai Rasulullah. Sanad, memberikan gambaran keaslian 
suatu riwayat. Jika diambil dari contoh sebelumnya maka sanad hadits 
bersangkutan adalah
Al-Bukhari -> Musaddad -> Yahyaa -> Syu'bah -> Qataadah -> Anas -> Nabi 
Muhammad SAW. 

Sebuah hadits dapat memiliki beberapa sanad dengan jumlah penutur/perawi 
bervariasi dalam lapisan sanadnya, lapisan dalam sanad disebut dengan thaqabah. 
Signifikansi jumlah sanad dan penutur dalam tiap thaqabah sanad akan menentukan 
derajat hadits tersebut, hal ini dijelaskan lebih jauh pada klasifikasi hadits.

Jadi yang perlu dicermati dalam memahami Al Hadits terkait dengan sanadnya 
ialah :
* Keutuhan sanadnya
* Jumlahnya
* Perawi akhirnya

o 1.2 Matan
Matan ialah redaksi dari hadits. Dari contoh sebelumnya maka matan hadits 
bersangkutan ialah:
"Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai untuk 
saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri"
Terkait dengan matan atau redaksi, maka yang perlu dicermati dalam mamahami Al 
Hadist ialah :
* ujung sanad sebagai sumber redaksi, apakah berujung pada Nabi Muhammad atau 
bukan
* matan hadist itu sendiri dalam hubungannya dengan hadist lain yang lebih kuat 
sanadnya (apakah ada yang melemahkan atau menguatkan) dan selanjutnya dengan 
ayat dalam Al Quran (apakah ada yang bertolak belakang).

* 2 Klasifikasi Hadits
Hadits dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria yakni bermulanya 
ujung sanad, keutuhan rantai sanad, jumlah penutur (periwayat) serta tingkat 
keaslian hadits (dapat diterima atau tidaknya hadits bersangkutan)

o 2.1 Berdasarkan ujung sanad
Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi menjadi 3 golongan yakni marfu' 
(terangkat), mauquf (terhenti) dan maqtu' :
* Hadits Marfu' adalah hadits yang sanadnya berujung langsung pada Nabi 
Muhammad SAW (contoh:hadits sebelumnya)
* Hadits Mauquf adalah hadits yang sanadnya terhenti pada para sahabat nabi 
tanpa ada tanda-tanda baik secara perkataan maupun perbuatan yang menunjukkan 
derajat marfu'. 
Contoh: Al Bukhari dalam kitab Al-Fara'id (hukum waris) menyampaikan bahwa Abu 
Bakar, Ibnu Abbas dan Ibnu Al-Zubair mengatakan: "Kakek adalah (diperlakukan 
seperti) ayah". 
Namun jika ekspresi yang digunakan sahabat seperti "Kami diperintahkan..", 
"Kami dilarang untuk...", "Kami terbiasa... jika sedang bersama rasulullah" 
maka derajat hadits tersebut tidak lagi mauquf melainkan setara dengan marfu'.
* Hadits Maqtu' adalah hadits yang sanadnya berujung pada para Tabi'in 
(penerus). 
Contoh hadits ini adalah: Imam Muslim meriwayatkan dalam pembukaan sahihnya 
bahwa Ibnu Sirin mengatakan: "Pengetahuan ini (hadits) adalah agama, maka 
berhati-hatilah kamu darimana kamu mengambil agamamu".

Keaslian hadits yang terbagi atas golongan ini sangat bergantung pada beberapa 
faktor lain seperti keadaan rantai sanad maupun penuturnya. Namun klasifikasi 
ini tetap sangat penting mengingat klasifikasi ini membedakan ucapan dan 
tindakan Rasulullah SAW dari ucapan para sahabat maupun tabi'in dimana hal ini 
sangat membantu dalam area perdebatan dalam fikih ( Suhaib Hasan, Science of 
Hadits).

o 2.2 Berdasarkan keutuhan rantai/lapisan sanad
Berdasarkan klasifikasi ini hadits terbagi menjadi beberapa golongan yakni 
Musnad, Munqati', Mu'allaq, Mu'dal dan Mursal. Keutuhan rantai sanad maksudnya 
ialah setiap penutur pada tiap tingkatan dimungkinkan secara waktu dan kondisi 
untuk mendengar dari penutur diatasnya.

Ilustrasi sanad : 
Pencatat Hadits -> penutur 4-> penutur 3-> penutur 2 (tabi'in)-> penutur 1(Para 
sahabat)-> Rasulullah SAW
* Hadits Musnad, sebuah hadits tergolong musnad apabila urutan sanad yang 
dimiliki hadits tersebut tidak terpotong pada bagian tertentu. Yakni urutan 
penutur memungkinkan terjadinya transfer hadits berdasarkan waktu dan kondisi.
* Hadits Mursal. Bila penutur 1 tidak dijumpai atau dengan kata lain seorang 
tabi'in menisbatkan langsung kepada Rasulullah SAW (contoh: seorang tabi'in
(penutur2) mengatakan "Rasulullah berkata" tanpa ia menjelaskan adanya sahabat 
yang menuturkan kepadanya).
* Hadits Munqati' . Bila sanad putus pada salah satu penutur yakni penutur 4 
atau 3
* Hadits Mu'dal bila sanad terputus pada dua generasi penutur berturut-turut.
* Hadits Mu'allaq bila sanad terputus pada penutur 4 hingga penutur 1
(Contoh: "Seorang pencatat hadits mengatakan, telah sampai kepadaku bahwa 
Rasulullah mengatakan...." tanpa ia menjelaskan sanad antara dirinya hingga
Rasulullah).

o 2.3 Berdasarkan jumlah penutur
Jumlah penutur yang dimaksud adalah jumlah penutur dalam tiap tingkatan dari 
sanad, atau ketersediaan beberapa jalur berbeda yang menjadi sanad hadits 
tersebut. Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi atas hadits Mutawatir dan 
hadits Ahad.
* Hadits mutawatir, adalah hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari 
beberapa sanad dan tidak terdapat kemungkinan bahwa mereka semua sepakat untuk 
berdusta bersama akan hal itu. Jadi hadits mutawatir memiliki beberapa sanad 
dan jumlah penutur pada tiap lapisan (thaqabah) berimbang. Para ulama berbeda 
pendapat mengenai jumlah sanad minimum hadits mutawatir (sebagian menetapkan 20 
dan 40 orang pada tiap lapisan sanad). Hadits mutawatir sendiri dapat dibedakan 
antara dua jenis yakni mutawatir lafzhy (redaksional sama pada tiap riwayat) 
dan ma'nawy (pada redaksional terdapat perbedaan namun makna sama pada tiap 
riwayat)
* Hadits ahad, hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang namun tidak 
mencapai tingkatan mutawatir. Hadits ahad kemudian dibedakan atas tiga jenis
antara lain :
o Gharib, bila hanya terdapat satu jalur sanad (pada salah satu lapisan 
terdapat hanya satu penutur, meski pada lapisan lain terdapat banyak penutur)
o Aziz, bila terdapat dua jalur sanad (dua penutur pada salah satu lapisan)
o Mashur, bila terdapat lebih dari dua jalur sanad (tiga atau lebih penutur 
pada salah satu lapisan) namun tidak mencapai derajat mutawatir.

o 2.4 Berdasarkan tingkat keaslian hadits
Kategorisasi tingkat keaslian hadits adalah klasifikasi yang paling penting dan 
merupakan kesimpulan terhadap tingkat penerimaan atau penolakan terhadap hadits 
tersebut. Tingkatan hadits pada klasifikasi ini terbagi menjadi 4 tingkat yakni 
shahih, hasan, da'if dan maudu'
* Hadits Shahih, yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits.Hadits 
shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Sanadnya bersambung;
2. Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil, memiliki sifat istiqomah, 
berakhlak baik, tidak fasik, terjaga muruah (kehormatan)-nya, dan kuat 
ingatannya.
3. Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan(syadz) serta tidak ada 
sebab tersembunyi atau tidak nyata yg mencacatkan hadits .
* Hadits Hasan, bila hadits yg tersebut sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh 
rawi yg adil namun tidak sempurna ingatannya, serta matannya tidak syadz serta 
cacat.
* Hadits Dhaif (lemah), ialah hadits yang sanadnya tidak bersambung (dapat 
berupa mursal, mu'allaq, mudallas, munqati' atau mu'dal)dan diriwayatkan oleh 
orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya, mengandung kejanggalan atau 
cacat.
* Hadits Maudu', bila hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalam sanadnya 
dijumpai penutur yang memiliki kemungkinan berdusta.

o 2.5 Jenis-jenis lain
Adapun beberapa jenis hadits lainnya yang tidak disebutkan dari klasifikasi di 
atas antara lain:
* Hadits Matruk, yang berarti hadits yang ditinggalkan yaitu Hadits yang hanya 
dirwayatkan oleh seorang perawi saja dan perawi itu dituduh berdusta.
* Hadits Mungkar, yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang 
lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi
yang terpercaya/jujur.
* Hadits Mu'allal, artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits 
yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. Menurut Ibnu Hajar Al 
Atsqalani bahwa hadis Mu'allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah 
diselidiki ternyata ada cacatnya. Hadits ini biasa juga disebut Hadits Ma'lul 
(yang dicacati) dan disebut Hadits Mu'tal (Hadits sakit atau cacat)
* Hadits Mudlthorib, artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan 
oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidaksama 
dan kontradiksi dengan yang dikompromikan
* Hadits Maqlub, yakni hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan oleh 
perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau
sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi)
* Hadits Munqalib, yaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga 
pengertiannya berubah
* Hadits Mudraj, yaitu hadits yang mengalami penambahan isi oleh perawinya 
* Hadits Syadz, Hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi 
orang yang terpercaya yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan 
dari perawi-perawi yang lain.
* Hadits Mudallas, disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya. Yaitu 
Hadits yang diriwayatkan oleh melalui sanad yang memberikan kesan seolah-olah 
tidak ada cacatnya, padahal sebenarnya ada, baik dalam sanad atau pada gurunya. 
Jadi Hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya.

Bagaimana dengan Injil yang Empat ?
Yang ada cuma matan, sama sekali tidak ada sanad, jadi sangat jauh kualitas 
keasliannya dibandingkan dengan Hadits yang paling rendah mutunya, lebih rendah 
dari Hadits Mudraj (mengalami perubahan isi) dan Hadits Mudallas (yang 
ditutup-tutupi kelemahannya).

HMNA 

Kirim email ke