BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
112. Mazmur 104:24 - 27 dari Nabi Daud AS vs Akhenaton's Hymns to the Aton
 
 Telah berulang kali baik dalam media cetak, maupun dalam forum seminar, 
simposium, diskusi dan da'wah, saya tampilkan bahwa sains itu tidak polos, 
melainkan memihak kepada faham atheist, agnostik, sekuler, yaitu faham yang 
bersikap tidak percaya, tidak mau tahu, dan tidak mengindahkan wahyu. Tidak 
terkecuali ilmu sejarah dan kebudayaan yang menempatkan agama dalam posisi 
menjadi bagian dari kebudayaan. Adapun yang percaya kepada wahyu membagi agama 
itu dalam dua jenis, yaitu agama wahyu yang akarnya non-historis yang bersumber 
dari wahyu Allah SWT dan jenis agama kebudayaan yang akarnya historis. Agama 
wahyu bukanlah bagian dari kebudayaan, agama wahyu memberikan warna dan nuansa 
pada kebudayaan. Contohnya kebudayaan Islam adalah kebudayaan yang bernuansa 
dan diwarnai oleh nilai-nilai al Furqan dalam Syari'at Islam. Sedangkan jenis 
agama kebudayaan yang akarnya historis adalah produk kebudayaan suatu bangsa. 
Agama kebudayaan adalah bagian dari kebudayaan. Contohnya agama Mesir Kuno 
adalah produk budaya Mesir Kuno.

 Dalam seri 112 ini akan ditunjukkan perbedaan antara hasil analisis pendekatan 
sejarah (historical approach) antara orang yang tidak percaya, tidak mau tahu, 
tidak mengindahkan wahyu dengan hasil analisis orang yang percaya kepada wahyu 
yang mempergunakan pendekatan konprehensif (sejarah dan kitabiyah, historical 
and scriptural). Akan saya kemukakan illustrasi kasus seperti dalam judul di 
atas, yaitu antara Mazmur Nabi Daud AS yang sekaligus juga seorang Raja(1) 
dengan syair pujaan Fir'aun Akhenaton, yang menyangkut visi tentang matahari.  

 Para pakar sejarah dan budaya yang diikat oleh disiplin ilmu sejarah dan 
budaya yang tidak mengindahkan wahyu, berpendapat karena zaman Akhenaton lebih 
tua dari zaman Daud,  dengan sangat mudahnya berkesimpulan, bahwa Mazmur 104 
itu mendapatkan inspirasi bahkan ada yang berpendapat hasil "plagiat" dari hymn 
Akhenaton kepada Aton.(2)  

 Analisis saya ini yang memakai pendekatan konprehensif dapat diikuti seperti 
berikut. Firman Allah: 
-- Wa a-ta-hu Lla-hu lmulka wa lhikmata (s. Al Baqarah, 2:251), artinya:
-- Dan Allah memberikan kerajaan dan hikmah kepadanya (Daud). 

Raja/Nabi Daud AS yang semula hanya menjadi raja di Israel bahagian selatan 
yaitu kerajaan Yahuza, kemudian menjadi raja seluruh Israel, setelah 
menaklukkan Jeruzalem (DaarusSalaam) yang terletak di tengah-tengah antara 
kerajaan selatan dengan utara. Sebagai seorang Nabi, Allah SWT menurunkan Kitab 
Suci Zabur (Mazmur) kepada Nabi Daud AS.

 Akhenaton adalah salah seorang Fir'aun ke-9 di antara 11 Fir'aun dari dinasti 
XVIII. Akhenaton, yang sebelumnya bernama Amun Hotep (Amenophis) IV, adalah 
seorang Fir'aun yang mengadakan pembaharuan (modernisme) dalam agama Mesir 
Kuno, seorang monotheist. Dia memperkenalkan Tuhan yang satu-satunya harus 
disembah, bernama Aton. Untuk itulah mengapa ia mengubah namanya dari Amun 
Hotep, yang bermakna dewa Amun puas, menjadi Akhenaton, yang artinya bersama di 
dalam Aton. Dewa Amun adalah bagian tiga-serangkai Amun - Ra - Osiris, 
pencipta, pemelihara, pembinasa. Ajaran monotheist Akhenaton melebur Amun - Ra 
- Osiris ke dalam Aton yang menjelma menjadi Ra atau matahari. Sedangkan dalam 
agama lama, Ra yang hanya oknum kedua dari tiga serangkai Amun - Ra - Osiris 
itu menitis ke dalam setiap Fir'aun yang memerintah Mesir.(3)

 Agar jelas mengapa para pakar sejarah dan kebudayaan itu berpendapat bahwa 
Mazmur 104:24-27 dari Nabi Daud AS itu berasal dari dari akhenaton's Hymns to 
the Aton, maka berikut ini akan dipaparkan ikhtisar secara khronologis 
tahun-tahun kejadian sebelum Miladiyah(4), yang erat hubungannya dengan 
substansi ini.
 3000 - 2700, Dinasti Fir'aun di Mesir
 2000 - 1500, Emigrasi besar-besaran ke seluruh daerah subur bulan sabit.
 1700 - 1550, Dinasti Hyksos (Raja Gembala), dari Kan'an (turunan kaum 'Aad 
Jadid ummat Nabi Shalih AS yang beremigrasi dari Hijaz ke Kan'an, yang luput 
dari hukuman Allah berupa hujan deras disertai angin topan puting beliung) yang 
menguasai Mesir, setelah menyingkirkan dinasti Fir'aun. Insya-Allah akan 
ditulis nanti kaum 'Aad Qadim dan Jadid ini. Raja Gembala menerima kedatangan 
Nabi Ibrahim AS, mengawinkannya dengan Hajar puteri Istana (jadi bukan budak 
seperti termaktub dalam Bijbel). Tiga generasi kemudian dinasti Hyksos memberi 
izin menetap kepada orang-orang Ibrani (Habiru, = 'Ibriyyah) di delta s. Nil 
(Goschen) atas upaya Nabi Yusuf AS, Raja Muda Mesir.
 1500 - 1200, Dominasi Mesir atas tetangga-tetangganya, setelah mendesak Hyksos 
keluar Mesir (1550). Orang-orang Ibrani mulai ditekan, kemudian diperbudak.
 1337 - 1360, Periode pemerintahan Fir'aun Akhenaton.
 1370, Hymn dari Akhenaton ditulis di atas kepingan (lahwah, tablet) dari tanah 
liat, didapatkan di Tell el Amarna (Tell = sejenis bukit yang terjadi dari 
reruntuhan bangunan).
 1232 - 1224, Periode pemerintahan Fir'aun Merne Ptah, Fir'aun terakhir dari 
dinasti Fir'aun XIX. Bangsa Ibrani keluar dari Mesir dipimpin oleh Nabi Musa 
AS. Merne Ptah yang mengejar robongan bangsa Ibrani itu ditenggelamkan Allah 
SWT di Laut Merah. Mayatnya terdampar kembali di daerah sebelah barat Laut 
Merah, kemudian dimummikan. Sepeninggal Merne Ptah, Mesir kacau, yakni terjadi 
anarkhi selama 24 tahun.(5)

 Sekitar 1004 Nabi Daud AS menjadi raja bagian selatan dari Palestina, yaitu 
Kerajaan Jahuza.
 998 Nabi Daud AS menjadi raja atas seluruh Palestina, setelah menaklukkan 
Jerusalem dan menjadikannya ibu-kota kerajaan.

*** 
 
 Dengan pendekatan historis para pakar sejarah dan budaya yang tidak percaya 
wahyu (deist, agnostik, atheist) dengan enaknya secara gampangan berceroboh 
menyimpulkan, karena Nabi Daud AS hidup 4 abad sesudah Akhenaton, maka Mazmur 
Daud adalah hasil plagiat dari hymn Akhenaton ini. Bangsa Ibrani meninggalkan 
Mesir dengan dikejar-kejar oleh Fir'aun, tidak mungkin membawa dokumen 
ke-fir'aunan Mesir. Artinya Nabi Daud AS mempunyai jarak space and time yang 
tidak memungkinkan berkomunikasi dengan kebudayaan ke-fir'aunan Mesir. Dokumen 
ke-fir'aunan Mesir termasuk yang menyangkut hymn Akhenaton, secara historis 
tidak mungkin sampai kepada Nabi Daud AS. Maka menjadi fakta sejarah lahwah 
hieroglyph Akhenaton tempat hymn itu dituliskan terpendam dalam reruntuhan yang 
menjadi bukit dan baru didapatkan pada abad ke-20 ini. Maka kesimpulan para 
pakar sejarah dan budaya itu bahwa Mazmur Daud adalah hasil plagiat dari hymn 
Akhenaton ini, adalah sungguh-sungguh kecerobohan, sama sekali tidak ilmiyah, 
itu adalah hasil imajinasi yang bernuansa fitnah. Demikanlah dengan semata-mata 
pendekatan historis tidaklah mungkin dapat menjelaskan mengapa terdapat 
kemiripan antara Zabur dengan hymn itu.

 Namun dengan pendekatan historis yang mengindahkan wahyu perkara itu dapat 
dicerahkan. Nabi Daud AS adalah seorang Nabi, sehingga terjauh dari sifat 
tercela memplagiat. Lalu mengapa terdapat kemiripan Zabur dengan hymn itu? 
Itulah gunanya pendekatan historis dengan mengindahkan wahyu. 

 Kita mulai dahulu dengan pendekatan historis. Dari mana Akhenaton mendapatkan 
konsep monotheist itu? Coba lihat catatan khronologi persitiwa di atas itu. 
Tiga abad sebelum Akhenaton, Nabi Yusuf AS menjabat Raja Muda Mesir dalam 
dinasti Hyksos. Pastilah Akhenaton mendapatkan ajaran monotheist itu dalam 
dokumen ke-firaunan Mesir yang berasal dari dokumen ke-hyksosan, yang di 
antaranya terdapat pula catatan ajaran Nabi Yusuf AS dalam gaya puisi. Dasar 
Akhenaton yang ditempa dalam alam agama Mesir Kuno, maka Akhenaton mencoba 
menyatukan ketiga oknum Amun - Ra - Osiris, menjadi satu di dalam Aton. Ajaran 
Nabi Yusuf AS yang dituliskan dalam gaya puisi sempat pula dibaca oleh 
Akhenaton, sehingga terjadi kemiripan di antara keduanya.

 Dengan pendekatan wahyu dapat pula dijelaskan bahwa gaya puisi dari ajaran 
Nabi Tusuf AS yang bersumberkan wahyu, mengapa terdapat kemiripan dengan Zabur 
Nabi Daud AS, ialah karena bersumber dari Sumber yang sama yaitu dari wahyu 
yang diturunkan kepada Nabi Yusuf dan Nabi Daud 'AlayhimasSalaam.

 Alhasil kemiripan itu secara historis dari Nabi Yusuf AS ke Akhenaton dan 
secara pendekatan wahyu ialah Nabi Yusuf AS dan Nabi Daud AS masing-masing 
memperolehnya dari Sumber yang sama melalui wahyu. Jadi sama sekali tidak ada 
hubungan historis antara Fir'aun Akhenaton dengan Nabi Daud AS.

 Marilah kita lihat isi Zabur dan hymn itu (dalam terjemahan Inggris) yang 
mengandung kata MATAHARI. Dalam hymn Akhenaton tertulis:
 "Thou risest beautifully in the horizon. Thou art Ra and bringest them all."
 Dalam Mazmur 104: Thou hast made the moon to mark the season; (and made) the 
sun knows its time for setting.
 Di sini kelihatan perbedaan asasi antara hymn Akhenaton dengan Zabur (Mazmur) 
Nabi Daud AS. Akhenaton menganggap tuhan yang bernama Aton itu memanifestasikan 
dirinya sebagai matahari (Ra). Sedangkan Mazmur karena berasal dari wahyu Allah 
SWT, maka bersih dari syirk. Matahari itu tak lain adalah makhluq ciptaan 
Allah. WaLlahu a'lamu bishshawab.

*** Makassar, 16 Januari 1994
    [H.Muh.Nur Abdurrahman]
------------------------------
(1) Ummat Kristian berkeyakinan bahwa Daud cuma seorang Raja, bukan Nabi, namun 
yang dipertanyakan mengapa Mazmurnya Daud mengambil tempat juga dalam Bible ?
(2) Lihat misalnya: A.Powell Davis. "The Ten Commandements", The New American 
Library, New York, 1956, halaman 40.
(3) Kalau Ra yang oknum kedua dari tiga serangkai Amun-Ra-Osiris mewujud 
sebagai manusia, yaitu berupa setiap Fir'aun, maka agama trinitarian Christian 
juga oknum kedua dari trinitas Bapak-Anak-Roh Suci menjelma menjadi manusia 
Jesus. Agama Hindu juga memiliki trimurti dengan Brahma-Wishnu-Syiwa, dimana 
oknum kedua menjelma sebagai manusia yaitu Krishna.
(4) Walter A.Fairservis, Jr. The Ancient Kingdoms of the Nile, THE new American 
Library, New YORK, 1962, pg.124
(5) Ramose II reigned for sixty-six years (1298 - 1232) B.C.- another 
phenomenally long reign , during which the capital was changed from Thebes in 
the Upper Egypt to Tanis in the delta.
After Ramose II death his son Merne Ptah ruled for a time (1232-1224) B.C.  and 
sustained the heritage bequeathed him, but after his death chaos issued 
(1224-1200), until Setinekth , founder of the Twentieth Dynastiy (1200 - 1085) 
BC, smashed rebellion and unified Egypt again.
Walter A.Fairservis, ibid, pg. 162


 

Kirim email ke