Agama dan Gejala Supra-Normal (Bagian Pertama)
Oleh M. Siregar

Warta Parapsikologi No. 8 THN. 1

>> reposting <<

==============



Pengalaman spiritual hanya dapat diperoleh bilamana kita telah berhasil
membangun apa yang dalam sastra Hindu disebut "Antakarana".
Antakarana adalah semacam jembatan penghubung antara mind/pikiran/bathin
dengan Ruh/Nur Ilahi. Shiraathal mustaqiim dalam Al Fatihah sering
digambarkan sebagai jembatan yang tebalnya hanya setipis rambut, jalan
lurus menuju pada Tuhan, pada dasarnya jalan spiritual antara bathin dan
Nur Ilahi. Yoga dan tarekat adalah disiplin ruhaniah untuk membangun
antakarana. Pembangunan antakarana meliputi hidupnya semua cakra yaitu
cakra mahkota di ubun-ubun kepala, cakra cerebral di bagian muka, cakra
laryngeal di kerongkongan, cakra cardiac di solar plexus, cakra splenic
di hati, cakra gastric di pusar dan cakra genetic/cakra kundalini di
ujung tulang ekor.



Semua cakra tersebut hanya dapat berfungsi secara utuh apabila kedua
cabang urat syaraf otonom bagian bawah sudah bersambung. Bila sudah
bersambung, arus listrik yang syifatnya agak berbeda dengan arus yang
mengalir melalui urat syaraf sentral, akan berkeliling dari kepala turun
ke bawah dan naik kembali ke atas melalui nadi "pinggala" atau
"ananias" dan nadi "ida" atau "shaffira". Ini
adalah nama dua kodrat spiritual manusia, yang satu bersyifat
maskulin/laki/lingga/yang dan satunya lagi bersyifat
feminin/perempuan/yoni/yin.



Pertama kali kita mengalami mengalirnya energi di pinggala dan ida
adalah suatu rasa yang amat berkesan. Seluruh tubuh anda seolah-olah
diisi dengan suatu kodrat yang amat nikmat. Tak ada kenikmatan di dunia
ini yang dapat menggambarkan kenikmatan tsb. Rasanya tiap atom dan sel
anda diisi oleh kodrat spiritual ini. Seluruh keberadaan kita, bathin
kita, ruh kita hanya tertuju pada Tuhan YME semata. Perasaan nikmat ini
menimbulkan kesadaran yang agung, mulia, suci dan luhur. Dalam keadaan
ini kita terisi oleh kedamaian, kebahagiaan dan welas asih yang tak
terlukiskan intensitasnya. Walau mata kita melihat isi dunia yang
gemerlap & hiruk pikuk, tapi semua itu rasanya jauh di hati kita. Dunia
rasanya tak begitu penting, berkedudukan sekunder saja sedang yang
primer adalah Tuhan YME.  Pengalaman ini kiranya sukar saya jelaskan
kepada orang-orang yang tidak pernah mengalaminya sendiri. Jika mereka
pernah mengalaminya, dengan sendirinya mereka tidak akan bicara lagi
dari platform syariat. Mereka pasti sudah berbicara dari platform
hakekat.



Melakukan ibadah agama hanya berdasarkan patokan syariat belaka berarti
bahwa kita melakukannya secara harfiah dan secara lahiriah saja.
Kata-kata pemujaan pada Tuhan yang kita ucapkan itu hanya sampai di
bibir, tidak lahir dari lubuk hati yang paling dalam. Effeknya nol,
kosong dan tidak dapat merobah kesadaran manusia. Kalau kita selama ini
berdoa pada Sang Sumber dengan setengah hati, selama hidup pun tetap
saja demikian. Kita tidak akan pernah meningkat dari mahluk rendah
menjadi mahluk mulia. Keadaan bathin kita tetap statis. Maka Tuhan
berkata dalam Kitab Perjanjian Lama : "Â…umat ini mendekati KU
dengan mulutnya, dan dengan lidahnya memuja KU, tapi hatinya jauh
daripada KU, sedang takut mereka pada KU hanya berdasarkan buatan
manusia belaka (Yesaya 29 : 13)



Inilah yang disebut lipservice atau orang munafik. Mulutnya pandai
mengeluarkan kata-kata yang muluk-muluk tapi hanya untuk show, hanya
untuk pamer bahwa ia pandai dalam hal mengutip ayat-ayat dari kitab
suci. Bukan untuk dijalankan, hanya untuk dipertontonkan.



Sebagaimana diterangkan oleh mahluk luar Bumi, apa yang kita lakukan
tiap hari, malah tiap detik, akan membangun suatu substansi baru yang
disebut "morontial". Inilah yang memperkuat jiwa kita dan jiwa
bersyifat kekal. Jiwa inilah yang akan menjadi kendaraan kita di
akherat. Kita harus memelihara tiap tindakan kita agar jiwa ini mampu
memasuki kehidupan akherat/kehidupan yang vibrasi atomnya jauh lebih
tinggi. Untuk ini memang banyak syaratnya dan itu semua sudah
diterangkan dalam ajaran agama. Hanya dalam hal ini kita harus bedakan
antara ajaran dalam bentuk otentik sebagaimana yang dulu diajarkan oleh
utusan Tuhan dan apa yang diajarkan kini oleh para pemuka agama. Tentu
pemuka agama akan berusaha agar apa yang ia ucapkan benar-benar
menggambarkan apa yang dimaksud semula. Namun tidak dapat disangkal
bahwa dalam perkembangan agama telah terjadi penyusupan unsur-unsur
duniawi di dalam penafsiran, sehingga ajaran tsb menjadi steril alias
tidak lagi mempunyai daya spiritual guna mengangkat kesadaran manusia.



Bila ajaran agama tidak mampu lagi mengarahkan kehidupan manusia ke
jalan Tuhan, apakah Tuhan akan tinggal diam saja ? Dalam banyak
literatur Barat kita dapat temukan kata-kata yang kurang lebih berbunyi
"Look East for Human Salvation!". Berpalinglah ke Timur guna
penyelamatan umat. Dalam buku "A Gift of Prophecy" karangan Ruth
Montgomery (Bantam Books, 1970) dikatakan mengenai ramalan-ramalan
Jeanne Dixon bahwa dari Timur akan datang seorang yang akan membawa
manusia menuju kemajuan spiritual. Jeanne Dixon sendiri dalam bukunya
"My Life & Prophecies" mengatakan bahwa dalam suatu pengalaman
spiritual ia melihat seekor ular dan dari pancaran mata ular itu
kepadanya diperlihatkan untuk mencari ilmu-ilmu dari Timur untuk
mencapai perkembangan spiritual yang optimal.



(BERSAMBUNG)

Kirim email ke